Disarankan untuk membaca "Pengantin Pengganti untuk Tuan Muda" dan "Remember Me, Baby" lebih dulu agar bisa memahami alur ceritanya. Terima kasih.
Raymond Dawson: "Jangan menangis lagi ... aku yang salah ... tolong maafkan aku. Kali ini, izinkan aku untuk mencintai dan menjagamu dengan benar."
Lorie: "Aku hanya ingin kehidupan yang biasa saja. Ingin mencintai pria yang sederhana, yang bisa membantuku mencuci piring dan mengurus anak."
Setelah melewati masalah yang rumit, akhirnya Raymond dan Lorie berkencan. Akankah hubungan itu mulus hingga ke jenjang pernikahan?
Lalu, bagaimana dengan Daniel Hill yang menginginkan cinta Dokter Ana? Apakah dia akan berhasil mematahkan teori cinta wanita itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Setelah makan malam, Lorie pergi membuat cinamon rolls seperti yang dijanjikannya sebelumnya, sedangkan Raymond mencuci piring dan gelas kotor. Sesekali Lorie melirik ekspresi serius pria di sampingnya dan tidak bisa menahan senyum. Ia merasa seperti sedang menjalankan kehidupan rumah tangga yang harmonis: menunggu suami pulang kerja, memasak dan makan malam bersama. Mungkin suasana dalam rumah akan lebih semarak jika terdengar suara tangis bayi, atau teriakan anak-anak yang bertengkar.
Aroma kayu manis menguar memenuhi udara. Raymond yang sudah selesai membereskan meja makan dan piring kotor segera menghampiri Lorie dan berdiri di sampingnya.
“Ada yang bisa aku bantu?” tanyanya, mengintip dengan penuh rasa ingin tahu ke loyang yang berisi empat potong roti bertabur kayu manis.
Suara Raymond membuyarkan lamunan Lorie. Ia mendongak. Matanya bersibobrok dengan tatapan teduh milik Raymond yang selama bertahun-tahun bersemayam di dalam hatinya.
“Hey, kenapa melamun?” tegur Raymond sambil mencubit ujung hidung Lorie dengan gemas.
“Aduh!”
Lorie memekik dan mengulurkan tangan untuk membalas cubitan itu, tapi Raymond berkelit dengan cepat dan berhasil menghindar tepat waktu. Pria itu terbahak karena merasa sudah menang. Siapa sangka saat tawanya masih bergema, tangan Lorie dengan cepat menyumpal mulutnya dengan sepotong cinamon rolls.
Sekarang giliran Lorie yang tertawa keras ketika melihat ekspresi terkejut Raymond. Wajah pria itu tampak konyol saat mengunyah potongan kue di mulutnya.
Sekejap kemudian, dia berdecap puas sambil berkata, “Ini sangat enak. Aku mau lagi.”
Lorie menyeringai lebar. Ia memindahkan cinamon rolls ke dalam piring, lalu menyodorkannya kepada Raymond sambil berkata, “Bawa ke balkon. Aku segera menyusul.”
“Siap, Kapten!”
Raymond segera melarikan diri sambil terkekeh melihat Lorie melotot ke arahnya. Ia meletakkan piring di atas meja, kemudian berdiri di dekat pagar pembatas. Meski terletak di pinggir kota, apartemen yang ditempati Lorie masih terbilang ramai. Ada dua blok perumahan elite sekitar lima kilometer di sisi timur, taman seluas dua hektar di sebelah barat, dan jalan raya yang padat sekitar sepuluh kilometer di bagian utara.
Malam itu langit sangat cerah. Bintang-bintang bersinar terang di langit, tidak ada awan sama sekali. Raymond menghela napas dalam-dalam dan memejamkan mata. Ia tidak pernah merasa sebahagia ini. Saat bersama Alice, ia tidak tidak pernah menjadi dirinya sendiri. Ia selalu berusaha menjadi seorang pria dewasa yang menuruti semua keinginan dan permintaan mantan tunangannya itu.
Akan tetapi, saat bersama Lorie, ia bisa menunjukkan sisi lain yang selama ini tidak pernah ditampilkannya kepada siapa pun. Dan hal itu terjadi bahkan saat mereka baru pertama kali bertemu kembali di Venice. Padahal bisa dikatakan saat itu hubungan mereka tak ubahnya seperti sepasang orang asing, tapi saat itu tidak ada kecanggungan sama sekali.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tegur Lorie sambil meletakkan dua cangkir cokelat hangat bersisian dengan piring cinamon rolls.
“Hm ....” Raymond membalikkan tubuh dan tersenyum menatap Lorie.
“Memikirkan kamu,” jawabnya seraya menghampiri wanita itu.
Lorie mendesah panjang dan memutar bola matanya dengan dramatis. Ia lalu berkacak pinggang dan membalas, “Semakin pandai bersilat lidah. Pantas saja membuat para wanita tergila-gila dan rela melakukan apa pun untuk mendapatkanmu.”
“Bersilat lidah?” ulang Raymond seraya mengangkat alis dan meraih pinggang Lorie. “Kamu sangat mengenalku, Sayang ....”
“Dasar pria bermuka tebal!”
Lorie memilih untuk mengabaikan Raymond dan mengambil gelas cokelat. Ia menyesap minuman itu dengan nikmat, lalu mengambil sepotong cinamon rolls dan memasukkannya ke mulut.
“Kalau tidak bermuka tebal, bagaimana aku bisa mendapatkanmu?” balas Raymond dengan tidak tahu malu. Ia sudah belajar dari pengalaman sebelumnya, menghadapi Lorie tidak bisa dengan menggunakan tata krama dan etika, harus bermuka tebal dan tidak tahu malu.
“A-apa? K-kamu ... me-menyingkir!” Lorie tergagap-gagap dan menjauhkan wajahnya saat Raymond semakin mendekat.
“Hm ...?” Raymond mengendusi leher Lorie, sengaja menggodanya dengan meniupkan napasnya yang panas sehingga tubuh wanita itu menegang dalam dekapannya.
“Raymond ....” Lorie hampir gemetaran.
Tidak baik. Raymond Dawson sungguh memiliki pengaruh yang tidak baik untuk dirinya.
***
ayolaaaaah..akhiri ini semua😭😭😭
dengan Keiko. ingat cerita tentang Kinara Lee
dari judul cerita yg sebelum-sebelumnya sama ...sangat menarik.
dah berapa tahun yaa...? aku cari di sebelah gak ada. sampai akhirnya kangen kembali ke sini langsung cari lagi judul ini. eh..ketemu.