Kisah seorang cucu yang relah mengorbankan mahkotanya demi menyelamatkan nyawa sang nenek.
Rindu nama gadis itu, dia harus bertemu dengan seorang pria yang sangat kejam dan juga di takuti di kota itu.
Apa yang akan terjadi berikutnya yuk mari ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon akos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22.MENCARI SEKRETARIS BARU
Setelah selesai sarapan pagi, ketiganya bergegas keluar dan masuk ke dalam mobil.
Fathur menyetir mobil sedangkan Rindu dan Akos duduk di belakang kursi penumpang.
Hanya beberapa menit saja kini mobil yang mereka tumpangi berbelok memasuki pekarangan sekolah elit untuk anak-anak kalangan bangsawan.
"Akos masuk dulu ya Mom, Dad," salim Akos pada tangan Fathur dan Rindu secara bergantian.
"Iya sayang, kamu belajar yang rajin, agar kelak dapat berguna bagi nusa dan bangsa," Rindu membelai lembut rambut bocah itu.
"Dan jangan nakal," sambung Fathur.
"Oke bos" Akos berlari kecil meninggalkan mereka berdua dan hilang di balik pintu utama bangunan megah itu.
"Cepat keluar," Fathur tanpa memandang Rindu.
"Sekalian diluar saja, soalnya di sini gak ada angkutan umum,"
"Keluar kataku," Fathur sedikit meninggikan suaranya.
"Iya..iya," Rindu mendorong pintu mobil dan keluar dari dalam sana.
"Kenapa hanya diam disitu, ayo masuk," kembali Fathur membentaki Rindu.
"Apaan sih!, tadi menyuruh keluar sekarang menyuruh masuk lagi. Apa Tuan salah makan obat," protes Rindu.
"Tadi Aku menyuruhmu keluar dan duduk di depan. Aku ini bosmu bukan supirmu paham,"
"Iya paham bangat," Rindu kembali membuka pintu mobil tapi kali ini pintu di bagian depan.
Rindu kemudian mendudukkan tubuhnya diatas job mobil.
"Pake sabut pengamanya," perintah Fathur.
"Yang mana?,"
"Hiii...dasar katro!," Fathur mengucak-ucak rambutnya lalu memasang sabut pengaman buat Rindu.
Tanpa sengaja, mata Fathur berhenti sejenak tepat di depan dada Rindu hingga perempuan cantik itu sedikit bergeser.
"Apa lihat-lihat!,"
Seketika Fathur tersadar dan kembali keposisinya semula.
"Siapa juga yang mau melihatnya. Benda rata begitu gak ada seni-seninya," balas Fathur santai sembari menghidupkan kembali mesin mobil.
"Hiii...sangat menyebalkan," gerutu Rindu dan membuang pandanganya keluar Jendela.
Fathur hanya bisa menyunggingkan bibirnya melihat ulah Rindu yang seakan-akan ngambek padanya.
Fathur kemudian melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang menuju ke perusahaan miliknya.
Tak ada sepata katapun keluar dari mulut keduanya hingga kendaraan yang mereka tumpangi berbelok masuk kedalam perusahan raksasa itu.
"Cepat turun, jangan sampai ada yang melihatmu kalau Aku dan kamu dalam satu mobil," ujar Fathur setelah memarkirkan kendaraannya di tempat parkir.
Rindu tidak menjawab dan segera keluar dari dalam mobil.
Tanpa mereka sadari dua pasang bola mata terus mengawasi mereka berdua.
Setelah keluar dari dalam mobil Rindu segera menjauh dari mobil Fathur untuk menghindari para karyawan lain melihatnya.
Belum juga beberapa langkah kakinya diayun, seseorang menarik tanganya dengan sangat kasar dan membawanya bersembunyi di badan mobil pegawai lain.
"Oh ..ternyata kamu kerja di sini setelah di pecat dari perusahaan sebelumnya," Rianty menyandarkan tubuh Rindu di badan mobil.
"Kenapa kamu seperti hantu Rianty, di setiap tempat kamu bergentayangan mengikutiku," balas Rindu.
"Apa katamu, kamu mengataiku hantu!, ( Rianty membunyikan rahangnya sebelum melanjutkan ucapanya).
Cepat katakan ada hubungan apa kamu dengan Tuan Fathur?,"
"Kamu tidak perlu tahu, dan lagian kenapa kamu selalu kepo dengan urusanku. Sudalah Aku mau masuk, banyak pekerjaan yang harus Aku selesaikan di dalam sana," Rindu mencoba melangkah tapi lagi-lagi Rianty menghalanginya.
"Tidak semudah itu kamu pergi, jawab dulu pertanyaanku yang tadi, baru Aku akan melepaskanmu," Rianty membentangkan kedua buah tanganya menghalangi Rindu.
"Tuan Fathur itu adalah Ayah dari anakku, puas!. Cepat menyingkir dari hadapanku," Rindu mendorong tubuh Rianty yang masih terbengong mendengar ucapan Rindu barusan.
Rindu terus melangkah menuju pintu utama perusahaan itu. Ada rasa puas dalam hatinya bisa mengerjai Rianty yang tidak pernah berhenti untuk mengusiknya.
Setelah berganti baju, Rindu segera melakukan aktifitasnya seperti biasa, belum juga dia menyelesaikan pekerjaanya seorang perempuan parubaya memanggil namanya.
"Rindu kemari sebentar,"
Seketika Rindu berhenti dari kegiatanya dan berjalan kecil mendekati perempuan tersebut.
"Iya, ada apa Ibu kepala memanggil saya?," tanya Rindu sembari melap keringatnya.
"Mulai sekarang, ruangan tuan Fathur kamu yang bersiin soalnya beliau tidak suka dengan pekerja sebelumnya," ucap ibu Hera sang kepala cleaning service.
"Hah..... saya?," tanya Rindu sembari menunjuki dirinya.
"Iya kamu, Apa kamu ada masalah?,"
"Bu...kan...begitu bu maksud saya," suara Rindu terbata-bata.
"Mulai sekarang kamu bekerja di sana. Dan tempatmu di sini biar Rianty pekerja baru itu yang menggantikanmu,"
"Paham Bu kepala, kalau begitu Saya permisi dulu," Rindu sedikit menundukkan kepalanya dan melangkah meninggalkan Ibu Hera.
"Kalau Aku bekerja di ruangan Es batu itu, berarti setiap hari kami akan bertemu..Hiii sangat menyebalkan," gerutu Rindu sembari berjalan menuju ke ruangan Fathur.
Tidak berapa lama kemudian Rindu sudah berdiri di depan ruangan Fathur.
Sebelum masuk dia tidak lupa mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
"Masuklah," balas orang dalam sana yang tak lain adalah Fathur.
Pelan-pelan sekali Rindu membuka daun pintu dan mendapati Fathur duduk di kursi kerjanya sedangkan David sang ajudan berdiri di sampingnya.
"Ada apa kamu kemari?," tanya Fathur.
"Aku disuruh ibu kepala untuk membersihkan ruangan Tuan," balas Rindu.
"Cepat masuk!, Awas saja kalau kamu sampai merusak satu pun barang-barang yang ada dalam ruanganku ini.Paham!,"
"Paham Tuan," balas Rindu dan melangkah masuk kedalam ruangan.
Tidak lama kemudian Rindu pun mulai melakukan aktifitasnya membersikan ruangan Fathur.
"Tuan!, apa kita akan ikut dalam tender raksasa itu!, sedangkan Tuan sendiri tahu kalau tujuan Nyonya Tania datang kemari selain untuk menemui Anda dan Tuan muda Akos,
beliau juga sangat ingin memenangkan tender raksasa itu. karena itu adalah impianya selama ini. Ingin menata kota dan mengukir namanya dalam kota ini," ujar David.
"Tentu saja Aku akan ikut, ini adalah kesempatan satu-satunya untuk menghancurkan impian serta membalaskan sakit hatiku dan putraku pada perempuan itu," Fathur menatap tajam kedepan.
Matanya memerah menahan amarah yang begitu besar mengingat masa-masa silamnya yang begitu kelam.
"Baiklah kalau begitu, Saya permisi dulu Tuan, Soalnya Saya mau mengurus semua persyaratan dalam mengikuti tender tersebut," David sedikit menunduk dan mencoba melangkah keluar.
"Tunggu dulu. Carikan Aku sekretaris baru untuk menemani Aku nanti disana," cegah Fathur menghentikan langkah kaki David.
"Maaf Tuan, bukanya Aku tidak mau tapi waktunya sangat mepet. Menyeleksi Linda saja waktu itu membutuhkan waktu 20 hari baru kami bisa menetapkan Linda sebagai sekertaris baru untuk menggantikan sekertaris lama.
Sedangkan Tuan sendiri tahu bukan kalau tender raksasa itu akan segera di mulai dalam 3 hari ini. Jadi mana sempat Saya melakukan semua itu," balas David.
"Terus, apa Linda yang akan mendampingiku disana. Kalau Linda sampai ikut terus denganku, maka posisi sekertaris di perusahan ini akan kosong dan terbengkalai," balas Fathur menatap David.
Lama mereka terdiam disana hingga sebuah benda kecil terjatuh tak jauh dari mereka berdua.
Fathur dan David menatap kearah benda yang jatuh tersebut.
"Maaf, Saya tidak sengaja melakukanya," ujar Rindu menunduk dan mengambil kemoceng dari atas lantai.
Fathur dan David seketika saling menatap.
"Tuan sudah menemukannya!, kalau begitu Saya permisi," David mempercepat langkah kakinya keluar dari ruangan itu dan hilang di balik tembok.
"Tun..ggu dulu, dasar ajudan tak becus. Seenaknya saja pergi tanpa mendengarkanku terlebih dulu," gerutuh Fathur.
Terus beri dukungan dengan cara like, coment dan vote. Terima kasih.
gak cocoklah jadi pemeran utama wanita