Serra gadis yang masih berusia 19 tahun mempertaruhkan kehormatannya karena hanya sakit hati atas perbuatan sang tunangan yang berselingkuh dengan sahabatnya.
kata-kata sang kekasih yang menyakitinya membuatnya berpikir pendek, tidur dengan pria yang baru dikenalnya malam itu.
Arkan yang menerima tawaran wanita yang sangat menyedihkan itu. Memenuhi permintaan wanita itu karena sebuah persyaratan. Mereka menghabiskan malam bersama tanpa mengenal satu sama lain.
Beberapa tahun kemudian takdir mempertemukan mereka dalam keadaan berbeda. Serra yang mengalami kecelakaan dan membuatnya kehilangan penglihatan.
Harus sering berurusan dengan Arkan karena sebuah kasus.
Bagaimana Arkan harus menghadapi wanita yang pernah tidur dengannya namun wanita itu tidak bisa melihat dan mengenalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Aneh.
Arkan keluar dari kamar mandi dan membiarkan Serra mandi. Arkan mengganti pakaiannya dengan pakaian santainya.
Arkan melihat kearah jendela yang sedari tadi menjadi masalah untuk Serra. Arkan menatap kebawah jendela.
" jadi dari sini bajingan itu masuk," desis Arkan sinis masih emosi pada Damar.
Setelah melihat di sekitarnya Arkan pun, menutup jendela, Arkan meraih remote Ace mengecilkan suhu Ace yang menurutnya juga terlalu dingin di tambah lagi dengan cuaca hujan hujan yang masih deras.
Serra sudah selesai mandi dan meraba pakaian yang di maksud Arkan. Wajah Serra mengkerut ketika meraba pakaianya.
" Arkan tidak menyiapkan **********, bagaimana ini," gumam Serra.
Mungkin itu juga kesalahannya karena tidak memintanya pada Arkan, dan tidak mungkin juga Serra memintanya lagi. Arkan sok-soka sih ingin membantunya, terakhirnya dia yang menjadi kesulitan.
Terpaksa Serra memakai piyamanya tanpa dalaman, ini hal yang pertama kali di lakukannya, rasanya sangat risih, tetapi mau tidak mau Serra harus melakukannya.
Menurutnya bajunya juga tidak terlalu tipis, karena dia tidak memiliki piyama yang tipis atau tembus pandang.
Tidak berapa lama Serra pun keluar dari kamar mandi, dengan piyama berwarna silvernya di atas lututnya tanpa dalaman sama sekali.
Serra memang merasa lumayan segar, Serra meraba jalan, menuju meja rias, saat Serra berjalan, Serra melewati Arkan yang terdiam yang terus memandanginya.
Apa Arkan sadar jika dirinya tidak memakai dalaman, Serra juga tidak tau jika suaminya terus melihatnya.
Arkan menarik napasnya melihat keadaan Serra. Serra memang selalu terlihat santai meski hal buruk baru saja menimpanya.
Arkan masih tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada Serra. Jika, dia terlambat datang terlambat sedikit saja.
Serra duduk di meja riasnya, meraba meja riasnya mencari sisir, setelah menemukannya, Serra langsung menyisir rambutnya yang masih basah tanpa mengeringkannya.
" Apa, kamu ada di sini," tanya Serra yang merasa kamar tidak ada orang.
" Iya, Arkan mendekati Serra, dan mengambil sisir dari tangan Serra, Serra bingung apa yang akan di lakukan Arkan.
" Rambutmu belum kering, keringkan dulu," ucap Arkan mengambil handuk kecil dan berdiri di belakang Serra, membantu Serra mengeringkannya.
Serra pun bergetar saat mendapat perlakuan dari Arkan.
" Bi-biar aku yang melakukannya," ucap Serra gugup.
" Biar aku saja," jawab Arkan melihat Serra dari cermin, Arkan tau jika Serra mulai gugup.
"Apa yang dia tahu kalau aku tidak memakai bagian dalamnya," batin Serra panik.
Arkan menghentikan pekerjaannya ketika merasa rambut Serra sudah kering, Arkan memberikan sisir kepada Serra, agar Serra melanjutkan pekerjaannya.
" Sisir lah," ucap Arkan duduk di pinggir ranjang di dekat Serra. Serra pun meraih sisir dan langsung menyisir rambutnya di depan cermin.
Setelah Serra menyisir rambutnya seperti biasa Serra akan mengolesi lotion pada kulit dan tangannya dan menyemprotkan farfum.
Semua kegiatan Serra menjadi pemandangan bagi Arkan yang duduk di sampingnya, bahkan semprotan farfum Serra mengenai wajahnya, dan Arkan harus memejamkan matanya.
Serra yang tidak sadar Arkan di sampingnya, tiba-tibah tubuhnya berbalik kearah Arkan, Arkan kaget seketika wanita itu sudah ada dihadapannya, sangat dekat, tepat di depannya.
Arkan melihat wajah Serra yang tampak fress terganggu dengan luka di ujung bibir Serra akibat tamparan dari Damar.
Perlahan Arkan memegang lembut ujung bibir Serra membuat Serra terkejut, sepontan memegang tangan Arkan yang ada di ujung bibirnya.
" Apa masih sakit?" tanya Arkan serak.
" Iya," jawab Serra tidak bisa bohong, bahkan saat mandi tadi Serra harus menahan perih pada kulitnya.
Arkan membuka laci yang ada di meja rias dan mengambil kotak obat, Arkan meletakkan kotak obat di atas ranjang.
" Aku akan mengobatinya," ucap Arkan, " tahan sebentar, ini akan perih," lanjut Arkan, Serra mengangguk pelan.
Arkan meneteskan berupa cairan alkohol pada kapas, dan dengan perlahan Arkan mengoleskannya ke ujung bibir Serra.
" Ahhhh," Serra bedesah, memegang kuat tangan Arkan, saat merasa cairan itu menyentuh lukanya, memang benar kata Arkan sangat perih.
" Apa, sangat sakit?" tanya Arkan merasa iba, Serra hanya mengangguk.
" Tahanlah, jika tidak di obati, ini akan infeksi," ucap Arkan mengingatkan resikonya.
" Iya, terima kasih sudah menolongku," ucap Serra, Arkan tidak menjawab dan dengan lembut Arkan melanjutkan pekerjaannya mengobati luka Serra.
Tangan Arkan memang bekerja mengobati luka Serra, tetapi matanya juga bekerja memandangi wajah Serra dengan penuh arti. Wajah mungil itu mampu membuat mata Arkan tidak berkedip sama sekali.
" Sudah selesai," ucap Arkan menyelesaikan pekerjaannya.
" Terimah kasih, oh iya Arkan aku tau yang membunuh rekan bisnis papaku...."
" Aku tau," ucap Arkan memotong kalimat Serra. Arkan sudah tau arah mana lanjutan kalimat tersebut.
" Kamu sudah tau,? tanya Serra memastikan.
" Hmm, lupakanlah dia, dia tidak akan mengganggumu lagi, polisi akan menghukumnya," ucap Arkan.
" Baiklah, aku lega mendengarnya akhirnya kasusku selesai dan aku terbukti tidak bersalah," sahut Serra.
" Iya, istirahatlah, ini sudah sangat larut," ucap Arkan melihat jam ding-ding sudah jam 1 malam.
" Arkan, boleh aku minta sesuatu," ucap Serra, ragu dengan permintaannya.
" Iya, apa," jawab Arkan tanpa berpikir lama.
" Izinkan aku, menyentuh wajahmu, aku ingin melihatmu, dengan hati ku," ucap Serra yakin dengan ucapannya.
Arkan kaget mendengar ucapan Serra, Serra memang sangat penasaran dengan wajah Arkan, dia selalu ingin menyentuhnya tetapi belum punya keberanian.
" Bisakan," tanya lagi Serra memastikan dan penuh harapan. Arkan bisa melihat wajah Serra yang penuh keinginan.
" Hmm, baiklah, lakukan," sahut Arkan tanpa menolak.
Serra tersenyum tipis mendapat izin dari Arkan.
Arkan meraih tangan Serra dan mengantarkannya pada wajah Arkan. Jarak keduanya yang sangat dekat justru menambah kegugupan pada Serra.
Tetapi itu adalah keinginannya, dia harus mengambil resiko, semoga Arkan tidak mendengar detak jantungnya.
Serra mulai meraba wajah Arkan, Arkan memejamkan matanya saat tangan mulus itu meraba wajahnya.
Serra meraba pipinya, hidungnya, matanya, bibirnya, dengan perlahan Serra merabanya sambil mengamati, jantung Serra terus berdetak tidak beraturan, perasaan yang aneh selalu muncul saat dekat dengan Arkan.
Bukan hanya Serra, Arkan merasakan aliran listrik pada kulitnya, sebuah gairah laki-laki normal yang muncul saat tangan itu menyentuh kulitnya.
Entahlah apa maksudnya, Arkan merasa aneh pada hatinya atau hanya sekedar gairah atau ada hal lain yang lebih mendominan.
Serra yang menyentuh wajah Arkan mulai merasa aneh, lintasan bayangan lewat seketika dalam pikirannya.
Ingatan wajah seseorang melintasi pikiran Serra. Wanita itu masih tidak bisa menyimpulkan siapa pria yang ada di depannya, Arkan bisa jelas melihat wajah Serra yang sedang berpikir.
Justru Arkan sekarang merasa bersalah pada wanita yang menjadi istrinya itu, kenapa tidak memberitahukan Serra, siapa dirinya sebenarnya. Kenapa harus membiarkan Serra terus menebak.
" Kita pernah bertemu," ucap pelan Serra suara berat memastikan bahwa dia tidak salah tebak.
Arkan yang mendengarnya kaget, tidak bisa menjawab pertanyaan Serra, Arkan melihat wajah cantik itu penuh dengan keyakinannya atas ucpannya mengenai dirinya.
" Siapa kamu, kita pasti pernah bertemu kan," tanya Serra yang sangat penasaran, ingin langsung menebak tetapi di juga tidak tau siapa.
Arkan tidak menjawab pertanyaan Serra, dengan perlahan Arkan memegang ke-2 pipi Serra dengan tangannya, arakan mendekatkan wajahnya kewajah Serra yang masih penuh pertanyaan.
Serra kaget merasa hangat di bibirnya, Arkan mencium bibir Serra sekilas. Arkan menatap mata Serra dengan penuh arti, tubuhnya tiba-tiba menjadi panas, Serra yang tidak menolak ciuman darinya kembali memegang ke-2 pipi Serra.
" Arka....."
Belum sempat Serra mengeluarkan perkataanya, Arkan kembali meraih bibir kecil itu dan kali ini tidak sekilas, Arkan bahkan meminta lebih untuk bisa menguasai mulut istrinya.
Serra tidak memberontak sama sekali, Serra b memejamkan matanya, saat ciuman dari suaminya semakin dalam dan lidah suaminya sudah bermain di mulutnya, Serra memegang erat baju Arkan.
Serra membiarkan Arkan melakukan sesuai dengan kemauannya, Serra hanya merasakan perasaan aneh kembali saat kedua bibir itu menyatu, seperti pernah merasakannya sebelumnya.