Kisah cinta tak akan selalu mulus jalannya, seperti yang Ayesha rasakan. Setelah lama hatinya kosong, tiba-tiba ada seseorang yang datang mengisi hari-harinya. Berpetualang bersama, mereka berdua memiliki mimpi membangun rumah tangga yang harmonis, tapi nasib berkata lain, setelah menikah sesuatu terjadi pada rumah tangga mereka. Ayesha harus melupakan mimpi-mimpi tersebut dengan mimpi yang lain yang belum pernah terfikirkan sebelumnya. Akankah Ayesha bisa melewati semuanya atau ia harus menyerah dengan semua yang terjadi di kehidupannya?
Angkasa sudah berhenti mencari tahu di mana keberadaan perempuan yang ia cintai sejak lama bahkan perempuan itu adalah cinta pertamanya. Semenjak gadis itu menghilang Angkasa selalu mencari di mana keberadaannya, namun selalu nihil hasilnya. Di saat sudah berhenti mencari informasi tentang gadis itu, saat itu ia justru mendapatkan alamat dimana gadis itu tinggal, tapi kenyataan membuatnya kecewa dan memilih untuk melupakan gadis pujaan hatinya. Tapi takdir berkehendak lain, saat ia sudah berhasil melupakannya. Takdir apakah itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALY 22
Seperti yang Rangga katakan semalam, istrinya itu terkejut saat mendapati dirinya berada di dalam kamar itu.
"Kak, sejak kapan di sini? Kok bisa masuk?" pertanyaan Yesha, saat pertama kali membuka mata dan mendapati Rangga berada di sisi nya.
"Tadi malam, Elsa yang ngasih tahu pin pintunya," jawab Rangga.
Pin pintu apartemen dan pintu kamar memang sama, dan Yesha belum sempat memberikan pin itu pada Rangga, alhasil Rangga di beri tahu oleh Elsa.
Rangga melaksanakan sholat subuh sendirian, karena Yesha sedang berhalangan. Setelah sholat, pemuda itu memilih untuk pulang ke apartemen, tentu saja di ikuti oleh Yesha. Karena ingin membuat sarapan untuk mereka berdua.
Seperti rutinitas biasanya, setelah memasak Yesha menyiapkan pakaian untuk Rangga, lalu dirinya mandi bergantian dengan Rangga, baru setelah itu mereka sarapan bersama sebelum berangkat ke rumah sakit.
"Kak, Kak Nevan ngajakin aku makan siang bersama, nanti. Boleh kan?" ucap Yesha saat mereka sudah berada di dalam mobil, menuju rumah sakit.
Rangga menoleh sekilas, "Sama temennya juga? Aku ikut ya," ia seakan tak rela jika Yesha hanya makan siang bertiga dengan sepupu dan temannya itu. Entah kenapa ia merasa jika temannya Nevan memiliki tujuan lain.
"Boleh, biar rame,"
Sebenarnya Nevan mengirim pesan supaya tidak mengajak Rangga, karena Angkasa ingin berbicara dengannya. Tapi jika melarang Rangga untuk ikut sudah pasti suaminya itu akan marah dan makin curiga.
*****
Siang hari saat istirahat makan siang, ternyata Rangga tak bisa ikut makan bersama Nevan, karena ia harus mendampingi dokter senior operasi. Alhasil Rangga menyuruh Laura untuk ikut serta dalam makan siang tersebut, masih tak rela jika Yesha hanya bertiga dengan dua pemuda itu.
"Maaf telat, kalian udah nunggu lama ya?" Yesha dan Laura duduk di kursi yang masih kosong, ada Nevan dan Angkasa yang sudah lebih dulu datang.
"Baru aja kok, santai aja. Kita bukan orang sibuk kaya kalian berdua," Nevan sengaja mengedipkan sebelah matanya pada Laura. Entah kenapa pemuda itu jadi lebih genit, mungkin tertular virusnya Rian sang sahabat yang kini berada di Indonesia.
Tanpa banyak bicara, Nevan langsung memesan makan siang untuk mereka, tentu saja mereka memilih makanan yang di inginkan. Setelah makan siang tersaji, mereka segera menyantapnya dalam keadaan hening, dengan pikiran masing-masing.
"Ay, boleh kita bicara sebentar," ucap Angkasa setelah mereka semua menyelesaikan makan siangnya.
Yesha terkejut dengan panggilan Angkasa, merasa kurang enak di dengar karena biasanya Rangga yang memanggilnya dengan nama itu. Tak mau ambil pusing ia pun langsung mengangguk, karena Nevan sebelumnya sudah mengatakan hal tersebut.
"Di sini aja bisa kan Kak?" ia tak enak jika harus bicara berdua dengan Angkasa, apalagi ada Laura di sana, ia tak mau sepupu suaminya itu berfikir yang tidak-tidak.
"Gue ke sana," Nevan beranjak dari duduknya, sebelum Angkasa menjawab pertanyaan Yesha.
"Gue ikut," ternyata Laura juga mengerti, ia seperti bisa membaca jika Angkasa hanya ingin berbicara berdua saja dengan Yesha.
Selepas kepergian Laura dan Nevan, Angkasa meletakkan sebuah paper bag di atas meja.
"Terima ini ya, anggap aja sebagai kenang-kenangan, mau kamu pakai apa kamu buang terserah, yang penting di terima," ucapnya, menyodorkan paperbag tersebut ke hadapan Yesha.
"Apa ini Kak?" tanya Yesha.
"Kamu bisa buka nanti kalau udah di rumah,"
Yesha mengangguk, "Makasih Kak," ucapnya.
Keduanya terlihat canggung, mereka berbicara hanya sepatah dua patah kata saja. Yesha merasa tidak enak dengan Angkasa, dan lagi ia merasa seperti sedang berselingkuh, takut jika Rangga melihatnya hanya duduk berdua saja. Meskipun di dalam kafe tersebut ramai pengunjung.
"Kamu tahu, tujuan ku ke sini? Ya, aku ingin meminta jawaban dari kamu, dan tanpa kamu jawab pun aku sudah tahu jawabannya. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu, aku juga ikut bahagia kalau kamu bahagia," ucap Angkasa sambil menatap Yesha dan gadis itu menunduk, entah apa yang sedang di pikirkan.
"Jangan pernah menyalahkan diri kamu sendiri, aku juga salah di sini, karena terlalu berharap. Harusnya aku tahu jika sejak dulu kamu memang ingin mengatakan tidak, tapi kamu tak mampu mengatakannya mungkin? Lebih memilih menghindar, iya kan? Dan aku terlalu percaya diri jika kamu akan mengatakan iya, bahkan setelah beberapa tahun berlalu," tambahnya.
"Maaf Kak," Yesha bisa merasakan kekecewaan yang mendalam dari semua kata-kata yang keluar dari bibir pemuda itu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa pun selain kata maaf.
"Maaf, karena telah membuat Kakak berharap, aku juga salah karena tidak memberi kepastian." Yesha menatap Angkasa sebentar karena ia tak mampu berlama-lama menatap wajah tampan dengan sorot mata penuh luka tersebut.
"Semoga Kak Angkasa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku," tambahnya.
"Iya makasih, semoga kamu juga selalu bahagia dengan dia," timpal Angkasa, rasanya enggan menyebut nama Rangga. Entahlah.
"Entah aku bisa melupakanmu dan mencintai wanita lain atau tidak? Aku tidak tahu, karena sepertinya sangat sulit," ucap Angkasa dalam hati.
"Maaf Kak, aku harus segera kembali, karena jam makan siang hampir selesai," celetuk Yesha, karena Angkasa yang tiba-tiba membisu. Entah sedang memikirkan apa.
"Iya, aku juga harus segera ke bandara. Kami akan pulang hari ini juga," timpal Angkasa.
Yesha kembali merasa bersalah, merasa tidak enak hati dengan Angkasa. Pemuda itu sudah jauh-jauh datang ke Jerman hanya untuk dirinya, tapi justru harus menelan kekecewaan. Kenapa hatinya tiba-tiba nyeri? Ia seakan merasakan kekecewaan yang Angkasa rasakan.
"Maaf sekali lagi Kak, aku benar-benar minta maaf sama Kakak," ucapnya sambil menunduk.
"Jika saja Kak Angkasa datang sebelum aku bersama Rangga, mungkin akan aku pertimbangkan. Dia begitu baik, bahkan cintanya masih untukku, setelah beberapa lama aku abaikan, semoga Kakak dapat jodoh yang lebih segalanya dariku," ucap Yesha dalam hati.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Yesha terdiam. Pikirannya melayang entah kemana. Ia masih tidak tega dengan Angkasa, tapi mau bagaimana lagi? Karena memang mereka tidak berjodoh.
"Kia! Lo ngelamun?" teriak Laura. Ia sudah memanggil Yesha beberapa kali, tapi gadis itu bergeming.
"Apa Lau? Brisik ih,"
"Dari tadi gue panggil enggak nyaut, ngelamunin apa sih? Cowok tadi? Dia siapa sih? Mantan Lo?" tanya Laura bertubi-tubi.
Yesha menggeleng, "Bukan, dia teman sepupu ku," jawab Yesha.
"Tapi dia kayaknya suka deh sama Lo, tapi keliatan banget dia kecewa dan matanya memancarkan kesedihan, apa dia tahu Lo udah punya Rangga? Makanya mukanya sedih gitu,"
Akhirnya Yesha menceritakan tentang dirinya dan Angkasa. Laura seakan tak percaya dengan apa yang di ceritakan oleh Yesha. Ternyata masih ada lelaki yang begitu mencintai seseorang, bahkan setelah di ghosting selama bertahun-tahun. Karena ia tak pernah bertemu dengan lelaki yang benar-benar mencintainya. Yang ia tahu selama pacaran, semua lelaki yang pernah menjadi pacarnya hanya mengedepankan ***** saja. Dan itu alasan ia selaku berganti pacar, karena menolak jika pacarnya meminta kehormatannya.
"Angkasa buat gue aja ya Ki, mau banget gue. Cowok langka, mungkin seribu satu. Kali ini gue ikhlas menyerahkan kehormatan gue sama dia, kalau cintanya seperti itu, yakin gue...."
Plak
Yesha memukul kepala Laura dengan tasnya, "Sembarangan kalo ngomong," ucapnya.
"Becanda kali Ki, gue masih waras, enggak akan ngasih ke sembarang orang, ya meskipun Lo tahu, bibir gue udah enggak perawan lagi," ucap Laura cekikikan, sambil menyentuh bibirnya.
"Hati-hati Lau, jangan sampai kebablasan. Gue sama Rangga yang udah sah aja belum...." Yesha menutup mulutnya saat sadar hampir saja keceplosan.
"Belum apa? Enggak mungkin kan kalau belum pernah ciuman? Atau jangan-jangan Lo belum di unboxing lagi? Parah, si Rangga ngapain aja sih? Sampai-sampai istrinya di anggurin, ntar gue omelin dia," sungut Laura. Tak habis pikir dengan mereka berdua, padahal yang di tunggu-tunggu saat sudah sah ya itu.
"Udah enggak usah di bahas Lau," Yesha tak mau jika pembahasan ini akan merembet kemana-mana.
.
.
.