"Tolong jaga putriku, dia tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini."
Kata yang terucap dari bibir pria tua renta yang menjadi korban kecelakaan karena dirinya.
Keenan Pradipta seorang pria yang baru saja menyandang gelar dari studi yang di gelutinya harus rela menikah dengan seorang gadis sebatang kara karena kecelakaan yang menewaskan sang ayah.
Kecelakaan yang bukan hanya merenggut nyawa tetapi juga kebahagiaan dan ingatan seorang gadis cantik dan lembut membuatnya harus bertanggung jawab sepenuhnya pada Kinanti Aurelia yang kini mengalami amnesia permanen.
Pernikahan yang tidak berdasarkan cinta tetapi kebohongan dan tanggungjawab, menjadikan Keenan tidak pernah menganggap Kinanti sebagai istrinya.
Akankah Kinanti memaafkan Keenan jika dirinya tahu bahwa suaminya lah yang menjadi alasan kepergian sang ayah dan hilang ingatan yang dialami oleh nya?
Tidak update setiap hari tapi di usahakan ✨
Follow Instagram aku Alfianaaa05_
Happy Reading Everyone 🐙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Kinanti ingin beranjak dari sana, namun tiba tiba Keenan menarik tangan nya hingga ia jatuh menimpa tubuh pria itu.
"Maafkan aku." Ucap Keenan dengan masih memejamkan matanya.
Kinanti terdiam, ia berusaha melepaskan pelukan Ken di tubuhnya teyapi Ken justru semakin mempererat nya.
Keenan membuka mata, ia memang belum tidur dan ketika mendengar suara kunci di putar ia pura pura tidur untuk melihat apa yang di lakukan sang istri.
"Maafkan aku, Kinan." Ulang Ken menatap Kinanti yang enggan menatap nya.
"Lepaskan aku," pinta Kinanti pelan seraya masih berusaha memberontak.
"Kau masih marah?" tanya Keenan mengangkat dagu Kinan agar mau menatap nya.
"Lepaskan aku!" bukan nya menjawab, Kinanti justru semakin memberontak.
"Masih marah?" ulang Keenan masih sabar.
"Lapaskan aku!" pinta Kinanti meninggikkan suaranya.
"Kinanti." Panggil Keenan tegas.
"Hiks...hiks...kamu jahat sama aku, Ken! sangat jahat!" gerutu Kinanti sambil memukuli Ken.
Ken diam membiarkan Kinanti memukuli nya, ia akan melihat sejauh mana Kinanti bisa marah. Nama nya wanita, jika sedih pasti akan marah sebelum menangis tersedu-sedu.
Benar saja, setelah puas memukuli Ken, ia menangis tersedu-sedu di dada Ken bahkan membuat baju Ken menjadi basah.
"Kamu jahat, Ken!" lirih Kinanti lemah.
Ken tersenyum, ia mengusap punggung Kinanti lembut agar istrinya itu bisa lebih tenang.
Perlahan suara isak Kinanti tak terdengar, digantikan oleh suara dengkuran halus yang menerpa pendengaran Keenan.
Pelan pelan Keenan ia bangkit, dengan kuat ia menggendong Kinanti kemudian membawa nya ke dalam kamar. Ken merebahkan Kinanti di ranjang dengan lembut.
"Selamat bobok." Bisik Keenan seraya mengusap kening Kinanti lembut.
Keenan memeluk Kinanti pelan, ia memejamkan matanya dan menyusul Kinanti ke alam mimpi indah.
Keesokan harinya, Kinanti terbangun karena merasakan hawa panas di sekujur tubuhnya, kepala nya juga terasa sakit dan dada nya terasa begitu sesak.
"Huftt…." Kinanti membuang nafas nya kasar, ia segera bangkit dari tempat tidur dan menemukan Keenan masih tidur di sebelahnya.
"Dia?" tunjuk Kinanti merasa aneh melihat Ken di sebelahnya.
Kinanti sempat lola, ia lupa jika semalam sudah marah dan memukuli Ken tetapi berakhir tidur dalam pelukan suaminya.
"Aduhh….kenapa sakit sekali." Gumam Kinanti turun dari ranjang sambil memegangi kepalanya.
Kinanti melangkahkan kakinya perlahan ke kamar mandi, namun baru beberapa langkah ia jatuh terduduk dan tanpa sengaja menjatuhkan lampu tidur di sana.
"Akhhh….." Kinanti sedikit berteriak ketika rasa sakit nya semakin terasa.
Teriakan Kinanti berhasil membangunkan Keenan dari tidurnya, pria itu menoleh ke asal suara dan terkejut melihat Kinanti duduk di lantai sambil memegangi kepalanya.
"Kinan!" panggil Ken.
Ken menghampiri Kinanti dan menggendong istrinya lalu merebahkan nya di ranjang.
"Kinan ada apa?" tanya Keenan menatap raut wajah kesakitan Kinanti.
"Kepalaku pusing, Ken." Jawab Kinanti meremat rambut nya sendiri.
"Kita ke dokter ya," ajak Keenan ingin beranjak untuk bersiap-siap.
Kinanti menggelengkan kepalanya. "Engga, Ken. Aku gak apa apa, mungkin cuma pusing aja." Tolak Kinanti seraya memegang tangan Keenan.
"Ya udah, hari ini aku libur ke kantor aja. Aku takut terjadi sesuatu," ujar Ken dengan lembut.
"Tidak, Ken. Aku tidak apa apa, lebih baik kamu bekerja," tolak Kinanti yang enggan merepotkan suaminya.
Keenan mengusap surai panjang milik Kinanti, ia menggeleng pelan.
"Aku akan buat sarapan, tunggu ya." Tutur Ken kemudian pergi ke dapur untuk membuat sarapan.