Bagaimana jika tujuan yang harusnya sudah kamu tetapkan nyatanya harus berubah? Ya tentu saja bisa karena tujuan bukan berarti takdir, itu tidak bisa kita rubah.
Dan bagaimana jika takdir itu membawa kamu pada kehidupan kamu yang sebelumnya? Kehidupan yang ingin kamu tinggalkan, karena kamu merasa tak pantas dalam kehidupan seperti itu.
Tetapi nyatanya nasib baik selalu tetap milikmu. Seberapapun kamu merasa kurang pantas, tetapi takdir memang memantaskan kamu untuk itu.
Felisha Claire yang ingin membuang keberuntungan hidupnya namun terus saja mendapatkan keberuntungan yang lebih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Strawberry Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Butuh Waktu
Tidak mencari bukan berarti tidak merindukan, sebab yang jauh itu hanyalah pijakan dan yang berjarak hanyalah raga, dibalik diamnya Feli ternyata ada rindu yang tidak bisa diungkapkan, dia hanya selalu menitipkan kesehatan orang tuanya kepada Tuhan lewat doa dan sekarang rasa syukur di panjatkan ketika bisa menikmati waktu bersama sang papi.
Felisha tau urusan pekerjaan yang sang papi berikan sebagai alasan keberadaan mereka di Swiss hanya untuk membuat dia tetap merasa nyaman, dia tau tidak mungkin papinya memiliki waktu sangat luang jika jauh-jauh keluar negeri untuk urusan pekerjaan, dia paham papinya sengajah datang menemuinya dan sekuat apapun untuk menolak ternyata hatinya juga memang sudah sangat rindu, dia memilih menghabiskan waktu dengan sang papi, pinjam waktu sebentar itu pikiran Feli.
Setelah makan siang bersama dan berbelanja berbagai macam keperluan Feli tentunya atas paksaan Febian, disinilah mereka sekarang memilih menghabiskan sore hari di Danau Jenewa untuk bercakap panjang lebar.
"Sayang.." panggil Febian setelah mereka terdiam hanya menikmati pemandang indah danau jenewa dengan angsa-angsa yang bermain di danau juga merpati yang beterbangan diatasnya.
"Iya pih," Feli menjawab sembari menoleh.
"Kuliahmu kapan selesai?" tanya Febian.
"Hanya tinggal revisi pih, aku sudah menyelesaikan mata kuliah yang lain semester ini."
"Papi bangga, kamu bahkan akan selesai lebih cepat," ucap Febian membuat Feli sedikit tersenyum meski dengan perasaan yang sudah begitu haru. Ada kebanggaan dari papinya, Feli tentu sangat bahagia tetapi dia bisa sedikit membaca arah tujuan percakapan sang papi.
"Terima kasih pih,"
"Ketika kamu wisuda papi dan mami bisa kesini kan?" pertanyaan Febian membuat Feli merasa sangat bersalah, anak seperti apa dia yang bahkan orang tuanya harus meminta ijin untuk datang ketika dia akan diwisuda dan yang lebih parah dia masih berniat untuk menolak permintaan Febian.
"Sayang, kenapa kamu diam?" tanya Febian kembali ketika tidak ada jawaban dari Feli, dia hanya memalingkan pandangan ke arah danau.
"Pih, terlalu jauh untuk papi dan mami harus kesini," jawab Feli dengan penolakan halus dan tidak ingin menatap papinya.
"Sayang, alasan kamu kurang tepat," Febian tersenyum menarik tangan Feli, "hey lihat papi, bahkan untuk beberapa kali pulang pergi Indonesia Swiss papi dan mami masih sangat kuat."
"Kami akan datang saat kamu wisuda dan kita akan pulang bersama ke Indonesia." Lanjut Febian membuat alasannya datang kesini semakin terbaca oleh Feli.
"Pih, papi dan mami sudah berjanji kan," sekuat apapun berpikir, Feli tidak menemukan alasan tepat yang bisa digunakan untuk menolak keinginan papinya, dia terpaksa mengungkit kebebasan yang sudah Febian dan Lisiana berikan padanya.
"Sayang, papi dan mami memang memberikan kamu kebebasan, kami memberikan kamu waktu tapi sampai kapan sayang?" tanya Febian membuat putrinya kembali mengalihkan pandangan, dia yakin inilah tujuan papinya kesini membawa dia untuk kembali pulang.
"Feli, kamu sudah terlalu lama meninggalkan tempatmu sayang, tempat kamu di Jakarta atau dimanapun asal itu bersama mami papi dan adik kamu. Kami semua begitu merindukanmu." Ucap Febian senduh.
"Feli belum bisa kembali pih," ucap Feli singkat, setidaknya kalimat belum bisa menandakan suatu saat dia mungkin akan kembali tetapi kapan dia bahkan belum tau.
"Kenapa? Apa kamu akan selalu merasa kurang pantas?" Feli kembali diam, raut kesedihan sudah mengisi wajahnya saat ini, sedikit saja hatinya tersentuh air mata sudah siap untuk menetes.
"Felisha lihat papi," tegas Febian. "Kamu itu putri papi dan mami, kami merindukan kehadiranmu dirumah, mami kamu setiap hari bersedih dia hanya menyibukan diri dalam setiap kegiatannya, setiap saat memikirkan sedang apa kamu dan apa yang kamu lakukan, berbeda jika kamu hanya menempuh pendidikan disini dan kita tetap memiliki waktu, tetapi kamu juga meminta waktu untuk sendiri dan tidak menghabiskannya bersama kami, iya kami sudah memberikannya, tetapi sampai kapan sayang? Kami bahkan sudah sangat terpaksa menerima keputusan kamu itu,"
"Usian papi dan mami semakin bertambah, kamu dan adik kamu semakin dewasa, sudah berapa tahun kamu pergi dan Farrel yang menemani kami dirumah, nanti dia juga harus menempuh pendidikan, bisakah kamu sedikit saja mengalah kali ini? Tidak membuat dirimu seperti orang luar, gantian dengan Farrel temani mami dan papi dirumah," pinta Febian dengan suara pelan.
Perkataan Febian begitu menusuk hati putrinya. Iya Feli tau kesalahan saat ini memang ada pada dirinya, dia yang begitu egois, tetapi sesadar-sadarnya Feli dia tetaplah seorang Felisha Claire Richard yang keras kepala dia berniat kembali menolak.
"Maaf pih, Feli belum bisa kembali," ucap Feli tegas dengan air mata yang sudah keluar dari tempatnya, rasanya dia tidak akan pernah bisa menemukan alasan penolakan yang tepat untuk tidak kembali ke tempat yang sebenarnya begitu dia rindukan, hanya kata maaf yang bisa dia sampaikan.
Febian menghelah nafas dengan raut kekecewaan yang sangat dalam tidak habis pikir dengan sifat keras kepala putrinya itu, putrinya itu bahkan sudah menjadi wanita mandiri yang tidak pernah dia dan istrinya bayangkan sebelumnya tetapi masih saja dengan sifat kerasnya. Apakah dia harus kembali mengalah atau dia harus memaksakan kehendaknya, Febian sendiri bingung apa yang harus dia lakukan, dia juga bingung bagaimana dia akan menyampaikan keputusan putrinya itu kepada sang istri.
"Pih.." Feli yang melihat rona kekecewaan dari sang papi kemudian meraih tangannya, ini yang tidak Feli suka ketika harus bertatap langsung dengan keluarganya, dia akan begitu susah menjauh. "Kasih Feli waktu untuk mikirin itu, Feli masih ingin melanjutkan pendidikan pasca sarjana disini, dan Feli juga baru melamar pekerjaan agar memiliki pengalaman yang bagus sebagai awal karir Feli," jelas Feli dengan tenang berharap papinya akan mengerti dan tidak begitu kecewa.
"Apa papi juga bisa minta waktu untuk mengizinkan kamu atau tidak? Bahkan kamu minta diizinkan untuk melakukan apa yang tidak perlu kamu lakukan," Febian menjawab.
"Kasih Feli waktu pih,"
"Bahkan waktu yang papi berikan rasanya sudah lebih dari cukup sayang, papi dan mami sudah menyiapkan tempat untuk kamu memulai karirmu sendiri," ucap Febian yang akan memberitahukan tentang hotel yang sudah berjalan dan harus diteruskan oleh Feli
"Feli mohon pih," pinta Feli masih menggenggam tangan sang papi.
"Yasudah jangan bahas ini lagi, hanya merusak waktu papi disini yang tersisa dua hari lagi," akhir Febian mengambil keputusan sembari mengelus rambut putri keras kepalanya itu, meski masih ada kekecewaan yang terlihat dari raut wajahnya tetapi dia berusaha tersenyum.
"Ya Tuhan semoga hati putriku yang keras ini bisa sedikit luluh, kemungkinan kecil untuk dia berubah pikiran tetapi aku sangat berharap itu," batin Febian.
****
mau minta THR udah telat ya..💃💃
met mlm ka bery sehat selalu dan makin sukses..cepetan up donggg kangen ma bang Althernya😘😘😘😘
Yuk mampir di novel perdanaku
" 100 hari pertama menjadi janda"
Kisah novel yang diadaptasi dari pengalaman pribadi. Perjuangan mempertahankan kewarasan dari cengkraman kesulitan ekonomi pasca diceraikan oleh suami. mendapatkan tekanan mental dari keluarga mantan dan masyarakat.
100 hari pertama harus dilalui seorang janda agar ia dapat benar-benar bangkit menjadi pribadi yang baru dan siap menjalani hari berikutnya.
Ikuti kisahnya ya🤗 jangan lupa like dan comment untuk mendukung penulis❤️ terimakasih