Naya dan Brama terjebak dalam perjodohan, mau menikahi Naya hanya karena sebuah perjanjian.
Brama : "Aku tidak mengijinkanmu untuk menyukaiku, karena itulah aku menikahimu."
Naya : "Tapi aku sudah menyukaimu."
Brama : " Hapuslah!"
AKU TIDAK MUNGKIN MENYUKAI BOCAH SMA SEPERTIMU, SUNGGUH BUKAN TIPEKU. - Brama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanyakan Hati
"Filmnya langsung diputar, nih?" tanya Naya, yang sudah duduk siap didepan televisi di rumah temannya, Rika.
Rika mengangguk. "Tapi bentar, aku ambil camilan dulu biar mirip di bioskop he he."
"Oke."
Akhirnya merekapun duduk dengan santai namun antusias ketika film itu mulai diputar.
Film yang mereka tonton adalah film bergenre romance dan tentu membuat Naya yang melihatnya jadi berkhayal.
Apalagi ketika adegan segala masa dimulai, Dimana ketika hujan tiba, mereka berada didalam satu payung bersama. Lebih lagi saling merapatkan diri agar tidak terkena tetesan hujan yang mengguyur. Lalu tiba-tiba ada seseorang tak sengaja menabrak perempuan itu, hingga si perempuan hendak terjatuh tetapi dengan sigap, sang pria menangkapnya hingga terjadilah adegan segala masa. Mereka pun saling menatap sebelum kemudian saling berciuman hangat.
"Aaaaaaa." jerit mereka, ketika menemukan adegan yang membuat mereka malu sendiri. "Mereka yang ciuman, kenapa aku yang jadi deg-degan. Anjiirrr." ucap Naya sembari terkekeh geli.
"Adegan ini wajib dicoba! Mumpung sebentar lagi bakal hujan!" saran Rika pada Naya.
Naya jadi menoleh dan menganga gembira. "Ya! Kamu bener banget, tapi gimana caranya kita ada dalam satu payung bersama?"
"Minta jemput kan bisa, suruh Oppa bawakan payung untukmu." sahutnya dengan enteng.
"Ah, gak semudah itu. Dia gak akan mau, paling-paling nanti akan nyuruh pak Umang buat jemput aku." Naya menunduk sedih.
"Ya berdoa saja, siapa tahu hatinya berubah untukmu. Hal sekecil apapun kalo dia cinta, pasti akan datang buat jemput kamu."
Naya mengangguk, menelaah. "Oke deh! Nanti aku coba hubungi mas Bram."
****
Selena tiba-tiba datang, masuk keruang kerja Brama seperti biasa.
"Sayang." sapa Selena memasuki ruangannya.
Brama menoleh. "Hei." sahutnya tersenyum.
Selena berdiri bersindakap. "Sayang, kamu gimana sih kemarin kok gak jemput aku? Aku udah nungguin kamu tahu. Sebel deh." menebalkan bibir bawahnya.
Brama beranjak berdiri, mengelus rambut kekasihnya. "Maaf, kemarin ada hal yang sangat mendesak sehingga aku tidak bisa meninggalkannya."
"Ah, begitu. Baiklah aku mengerti." memeluk Brama lalu mendongak padanya, memainkan dasinya untuk menggoda.
Seketika Brama menoleh pada asistennya Ilham, yang berdiri tak jauh darinya. Meminta dirinya keluar memakai isyarat hanya dari lirikan matanya.
"Sayang, kita kan sudah lama menjadi sepasang kekasih tetapi kamu belum sekalipun menyentuhku. Bisakah hari ini kamu memberikan tubuhmu ini padaku?" pintanya nyaris berbisik manja ditelinga Brama.
Brama kemudian memegang kedua sisi wajah kekasihnya. "Selena, aku memang sangat menyukaimu tetapi aku tidak bisa melakukan hal itu jika bukan dengan istriku. Aku memegang prinsip teguh dalam hal itu."
"Jadi hanya istrimu? Lalu kapan kamu akan menceriakannya dan menikahiku?"
"Bersabarlah untuk beberapa bulan lagi, aku akan menceraikannya segera setelah saham itu diberikan padaku."
"Tapi aku hanya ingin mengikatmu, menjadikan kamu seutuhnya milikku dan lebih lagi aku ingin punya anak darimu, agar kamu tidak mampu meninggalkanku dan beralih mencintai wanita itu."
"Tidak Selena! Percayalah aku tidak akan pernah menyukainya. Aku hanya menyukaimu seorang."
Selena langsung memeluk kekasihnya begitu eratnya. "Terimakasih sayang, aku mencintaimu." ucapnya penuh haru.
Lalu mendongak kembali ingin menyatukan bibirnya dengan bibir milik Brama.
Ketika hendak saling memagut, dan Brama sudah mendekat. Tiba-tiba saja wajah yang dipandangnya langsung berubah menjadi gadis yang selalu membuatnya jengkel dan tertawa.
Sontak Brama langsung menjauh bahkan terhenyak kaget, pikirannya sudah mulai tak karuan.
"Ada apa, sayang?" tanya Selena, heran.
"Aku tidak apa-apa." sahutnya, lalu membalikkan tubuh Selena dan menuntunnya keluar ruangan. "Sebaiknya kamu pulang saja ya sekarang! Nanti aku akan menghubungimu."
"Tapi sayang...."
"Sampai jumpa." ucapnya lalu menutup pintu.
Selena menghentakkan kakinya, merasa teramat kesal. "Huh, nyebelin!"
Sedangkan Brama mengusap kasar wajahnya. "Astaga, ada apa denganku?!"
Brama duduk di meja kerjanya, menyandarkan kepalanya di meja dengan pemah membuat Ilham yang kembali masuk keruangannya jadi bertanya-tanya.
"Tuan kenapa? Apa ada masalah?"
"Iya, sepertinya aku sedang sakit. Tolong hubungi seorang dokter untukku!" sahutnya, masih menatap kosong.
Ilham memperhatikan. "Tapi sepertinya Anda bukan sakit fisik. Apa terjadi masalah?"
"Ya! Kamu benar." kembali duduk tegap, antusias. "Akhir-akhir ini perasaanku sangat aneh, bahkan baru saja ketika aku ingin berciuman dengan Selena tiba-tiba wajahnya berubah jadi Bocah itu."
"Bocah? Nona Naya?"
Brama mengangguk. "Benar, aku harus bagaimana ya? Kenapa pikiranku jadi rusak seperti ini?"
Ilham menahan tawa, dan tentu mendengus kesal karenanya.
"Anda hanya perlu tanyakan pada hati Anda Tuan."
"Hati?" mengulang kata, bingung.
Ilham mengangguk. " Iya, karena hati Anda yang mempu menjawabnya."
Bramapun memegangi dadanya tapi ia malah tambah bingung memikirkannya. "Argh!"
****