Butuh waktu lima tahun lamanya bagi Mer untuk siap bertemu lagi dengan cinta pertamanya. Teman masa kecilnya yang begitu ramah dan ceria itu seketika berubah menjadi sesosok pria misterius nan dingin. Akan tetapi, kepribadian Vallen yang berubah tetap tak melunturkan perasaan yang telah lama bersinggah di hatinya. Mer tetap mencintai Vallen meski pria itu tak menganggap Mer ada.
Perjuangan terus Mer lakukan untuk mendapatkan perhatian Vallen. Ia terus mendekati Vallen walau pria itu selalu melontarkan kata yang menyakitkan. Meski sering tak diacuhkan olehnya, bukanlah sebuah alasan bagi Mer untuk menyerah. Semua itu dilakukannya untuk mendapatkan cinta Vallen kembali.
Hanya soal waktu saja Mer dapat meluluhkan hati Vallen. Merubah kepribadiannya kembali menjadi sosok yang hangat. Menjadikan hal yang mustahil dapat diraihnya. Meski begitu, Vallen tetap menolak cintanya dengan alasan takdir yang selalu ia katakan. Akankah alasan takdir itu suatu saat akan menenggelamkan cinta mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIFA IFTITA RAHMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKHIR SEBUAH KISAH
Selasa, 18 Desember 2018
Mer tidak berangkat hari ini. Kudengar ia sakit. Aku begitu mengkhawatirkaannya, tapi aku ragu untuk mendatangi rumahnya. Disamping Mer yang membenciku saat ini, aku tak ingin bertemu dengan mama. Seorang wanita yang kupikir telah tiada namun kenyataannya hanya lari dari kenyataan. Seorang mama yang melupakan anak laki-lakinya. Mama yang membenciku. Apakah aku dibuang?
Dari cerita yang kudengar, mama dan papa bercerai tepat setelah kelahiranku. Entah alasan apa, mama enggan merawatku. Karena papa kerepotan merawatku seorang diri, ia memutuskan untuk menikah lagi. Semua kebenaran ditutupi dengan sempurna hingga akhirnya Mer lahir dengan papa yang berbeda. Namun, beberapa hari kemudian, papa Mer meningagal dunia.
Aku dan Mer ialah kakak adik kandung yang sama ibu namun beda ayah. Setidaknya, itulah yang kudengar dari ucapan papa sebelum kepergiannya. Karena itu pula, mama bersikeras untuk memisahkan kami. Mama yang entah kenapa membenci papa, turut serta membenci diriku.
Aku sudah berada tepat di depan pintu rumah Mer. Walau aku belum siap, aku harus tetap kesana. Aku ingin memastikan kebenaran ucapannya. Apakah ia menyatakannya dengan kesungguhan ataukah ia hanya lari dari kenyataan?
Hari sudah petang dan aku masih menggunakan seragam putih abu-abu. Aku tak pulang terlebih dahulu. Sepulang sekolah, pikiranku hanya tertuju pada Mer. Kuharap ia mau berbaikan denganku lagi.
Tok tok.
Aku mengetuk pintu. Tak heran jika yang membukakan pintu ialah mama. Aku hanya bisa tersenyum. Lebih tepatnya, pura-pura tersenyum agar mama mengizinkanku bertemu Mer.
“Ada apa kesini?”
“Sore, Mer nya ada?” senyumku berusaha seramah mungkin.
“Jangan ganggu, anak itu butuh istirahat!”
Mama hendak menutup pintunya. Akan tetapi, gerakan tanganku lebih dulu menghambat itu terjadi.
“Ehmm, saya bawakan bubur, mumpung masih hangat,”
“Anak saya sudah makan tadi. Jadi kamu sebaiknya pergi saja,”
Anak saya. Tentu saja mama tidak pernah mengakuiku sebagai anaknya. Aku terdiam. Sulit rasanya berpura-pura seolah tak tahu apa-apa. Aku tak bisa tenang lagi. Titikan air mata mengalir ke pipiku. Sungguh sakit rasanya melihat ibu kandungnya sendiri di depan mata namun bertingkah seolah bukan siapa-siapa.
“Lalu, aku dianggap apa olehmu, ma?”
“MA?”
Aku mendengar suara yang berbeda dari arah belakang. Tentu saja itu bukan suara mama. Suara seorang gadis muda yang ingin kutemui.
“Siapa yang kau panggil ma?”
Mama mencoba untuk membujuk Mer agar kembali ke tempat tidurnya. Akan tetapi, Mer bersikeras menolak.
“Ma, Mer ingin bicara empat mata sama Vallen. Mama bisa masuk sebentar?”
Mama menghembuskan napas berat. Akan tetapi, ia menuruti permintaan anak tercintanya. Ia kemudian masuk meninggalkan kami berdua.
Aku tak tahu hendak berbicara apa. Aku belum siap memberitahukan Mer yang sebenarnya. Meski diam selamanya juga bukanlah hal yang tepat, tapi aku belum cukup keberanian untuk menganggap Mer sebagai adikku.
“Selama kita pacaran, lo nggak pernah panggil mama gue sebagai mama lo juga. Terus kenapa sekarang lo panggil mama gue sebagai ma? Inget Len, kita udah putus, jadi lo udah nggak berhak!”
Syukur jika Mer tidak curiga. Untuk saat ini, aku tak ingin memberitahukannya. Aku tak ingin ia semakin marah padaku. Aku hanya perlu membuatnya tenang terlebih dahulu untuk mengungkap kebenarannya.
“Ow, jangan-jangan lo mau baikan sama gue dengan bujuk mama gue lebih dulu? Mencuri perhatian mama gue gitu?”
Apa-apaan ini. Mengapa Mer jadi semakin salah sangka?
“Oh tidak! Kurasa Vallen yang pandai ini sedang menyogok mama supaya mau jadi anaknya ya? Kan Vallen anak yatim piatu!” ucap Mer dengan menekankan kata ‘piatu’
Aku masih terdiam. Akan tetapi, perasaanku sedang membara. Rasanya sakit mendengar ucapan berbisa dari mulut seseorang yang kucintai. Jika saja ejekan itu keluar dari mulut orang lain, tentu tidak masalah bagiku. Tapi kenapa? Kenapa harus dari mulut seseorang yang amat kucintai?
“Bener kan Len? Lo deketin gue supaya lo bisa ngerebut mama gue?”
“Cukup!”
Aku sudah tak tahan dengan semua ini. Cukup mama saja yang membenciku. Aku tak ingin adikku sekaligus wanitaku ikut membenci diriku. Aku tak masalah jika dunia mengasingkanku. Aku hanya perlu Mer.
Sejurus kemudian Mer tertawa terbahak-bahak. Tawa itu bukan tulus dari hatinya, melainkan menertawakanku untuk mengejek diriku.
“Akhirnya gue dibentak sama kakak gue, kenapa kak? Adik bandel ya?” senyumnya sinis.
Deg. Aku tak menyangka Mer mengatakan hal itu. Apakah Mer sudah mengetahui kebenarannya?
“L,lo?”
“Kenapa kak? Kaget gue tau lebih awal?”
Aku tak sanggup berucap lagi. Bibirku amatlah kelu. Apakah setelah tahu ini Mer akan semakin membenciku? Tentu saja. Jantungku berdetak teramat kencang. Aku tak mau kehilangan dirinya. Aku ingin memeluknya, mendekapnya bukan sebagai adik.
“M, mer, gu, gue...”
“Udah, lo nggak perlu jelasin. Tenang aja, gue nggak pernah mau jadi adik lo jadi lo nggak usah nutupin alasan takdir itu lagi!”
Entah sampai kapan aku hanya akan terdiam mendengarnya yang berbicara sedari tadi. Aku bingung haruskah aku bahagia atau sedih mendengarnya tidak mau menganggapku sebagai kakaknya.
“Kalo kekasih? Tambah nggak sudi gue. Jadi mendingan sekarang lo pergi aja dan jangan pernah tunjukin wajah lo lagi di depan gue!”
Mer menutup pintunya dengan sempurna. Aku tak sempat menahan itu. Hatiku masih tergores. Jika tahu situasinya akan seperti ini, akan lebih baik jika aku tak berkunjung. Aku benar-benar kehilangan Mer. Bukan sebagai kekasih saja, aku juga kehilangan ia sebagai adikku sendiri.
---
MERIKA POV
Rabu, 19 Desember 2018
Hari telah berganti, tapi bayangan akan dirinya masih saja mengganggu pikiranku. Aku tak bisa tidur sedari malam. Semua berputar mengingat momen kebersamaan. Aku sungguh tak menyangka, semua berakhir mengenaskan. Mati-matian kujuangkan cinta ini, namun yang ada hanyalah fakta yang tidak diharapkan. Aku tak ingin Vallen menjadi kakakku, bagaimana pun juga, aku masih sangat mencintainya. Akan tetapi, aku bisa apa? Yang sedari dulu masih ada setitik harapan, kali ini fakta bahwa kita memiliki ikatan darah itu menghancurkan harapan yang setitik. Aku tak bisa mencintainya, tak boleh. Itu akan menjadi cinta terlarang yang tidak senonoh. Mencintai kakaknya sendiri? Huh, apakah Vallen tidak merasa jijik saat kami berpacaran mesti sudah mengetahui kebenarannya?
Silaunya mentari terik sungguh menyakitkan mataku yang mulai berkantung. Kukucek mata itu sekilas agar bisa terima kenyataan pagi sudah mendatang. Aku bersiap kembali ke sekolah, syukurnya, pusing sudah tak menggelayuti benakku. Yang kuperlukan saat ini hanyalah belajar. Soal cinta, aku sudah tak memikirkannya lagi. Aku menyerah memperjuangkannya. Cukup sampai disini saja aku tersiksa karena cinta terlarang.
Aku berpamitan pada mama. Entah mengapa, aku tak bisa membenci mama walau ia juga ikut menyembunyikannya dariku. Jelas saja, sesibuk apapun mama, aku tak bisa membencinya. Sebersalah apapun yang mama lakukan, aku tetap tak bisa membencinya. Karena hanya mama lah seorang yang sudah membesarkanku dari kecil. Papa? Aku sudah menganggap ia tiada meski kenyataannya ia tinggal di sebelah rumahku.
Setelah siap, aku berjalan kecil menuju sekolah. Waktu masih sangat pagi sehingga aku tak perlu buru-buru ke sana. Tatapanku masih saja kosong membayangkan apa yang akan terjadi. Sudah kutepiskan berulang kali, tapi masih saja kupikirkan hal-hal yang tak perlu.
Saat tatapanku masih kosong, aku merasakan seseorang mendekap mulutku. Aku tak bisa bernapas. Kucoba teriak berkali-kali untuk meminta pertolongan tapi tak seorang pun melihatku. Jalanan masih sepi karena terlalu pagi. Itulah kesalahanku yang pada akhirnya menenggelamkanku.
Pria itu mencengkeram kuat tubuhku. Mau meronta sedemikian kuat, aku tetap tak sanggup menandingi kekuatan seorang pria. Meski begitu, aku tetap tak menyerah. Apa-apaan ini? Siapa yang ingin menculikku? Pikiranku penuh pertanyaan yang menakuti diriku. Entah apa kesalahanku hingga seorang pria remaja mengenakan seragam itu mencoba membuatku tak sadarkan diri. Aku berusaha bernapas, tapi kelamaan tak ada udara lagi yang bisa kuhirup. Semua tampak berputar dan pada akhirnya pandanganku menjadi gelap.
---
Samar-samar kulihat gelapnya ruangan. Sungguh berantakan. Hanya ada sedikit cahaya berwarna oren dari sebuah lampu berwatt kecil. Aku bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi? Tangan dan kakiku diikat di sebuah kursi, mulutku disumpal menggunakan kain, dan kepalaku masih terasa berdenyut. Ruangan gelap tanpa ada seorang pun disini membersamaiku.
Aku berusaha keras berteriak tapi percuma, tak ada seorang pun yang akan mendengarku. Kucoba untuk melepas ikatan yang membatasi pergerakanku namun hasilnya sama saja. Ikatan itu begitu kencang untuk kulepaskan.
Takut. Sendiri. Disekap oleh seseorang entah siapa. Aku menitikkan air mata. Siapa yang telah berbuat sejahat ini terhadapku?
Aku melihat sekeliling, semua tertutup rapat. Dari ventilasi yang tak lagi mengeluarkan cahaya, tampaknya, hari sudah mulai gelap. Jam berapa ini? Apakah aku pingsan seharian?
Aku mencoba berteriak untuk sekian kalinya dengan harapan ada seseorang yang akan menolongku. Entah kenapa, saat ini yang ada di benakku hanyalah seorang pria yang ingin kuhindari. Vallen, dimana kamu? Hiks.
Beberapa menit kemudian, pintu besi dihadapanku perlahan terbuka. Memberikan suara decitan yang mengilukan. Menampakkan sesosok pria entah siapa. Aku mengamati pria itu, sepertinya ialah orang yang telah menyekapku. Mataku melotot. Ingin kuteriak agar di lepaskan tapi ia justru tertawa sinis. Aku takut padanya. Tak kusangka kali ini aku bisa sangat takut padanya. Pria tak terdugakan yang sulit kucerna oleh akal sehat.
“Oh, sudah sadar?”
Rasanya sangat sakit melihat tawanya. Air mataku menetes. Tak kusangka pria yang kukira baik ternyata berbuat semacam ini padaku. Aku berhenti berontak. Pikiranku penuh tanda tanya. Apa salahku hingga ia tega berbuat semacam itu?
Rasyid melepas kain yang menyumpal mulutku. Ia tampak senang melihatku tak berdaya seperti ini.
“Apa yang lo lakuin?”
“Apa yang gue lakuin?”
Ia menyeringai, memegang dagu kasar seraya berkata, “Coba lo pikir lagi apa yang udah lo lakuin!”
Aku menggelengkan kepala, masih dengan isak tangisku. Orang yang kuremehkan ternyata bisa menggigitku. Saat ini, aku sangat takut padanya. Rasyid belum pernah menampakkan wajah yang seperti ini sebelumnya padaku. Kali ini ia sangat menyeramkan.
“Tolong lepasin gue syid,” ucapku memelas.
Rasyid tak mengacuhkan permohonanku. Ia mengambil ponselnyabdan menghubungi seseorang entah siapa.
“Halo ini siapa ya?” ucap seseorang dalam ponsel.
Badanku bergetar mendengar suaranya. Vallen, vallen, vallen, tolong aku. Aku menjerit dalam hati. Berkali-kali menyebut namanya. Aku ingin Vallen menyelamatkanku. Akan tetapi, dibanding Rasyid, Vallen bukan tipe petarung. Aku khawatir jika ia kesini justru akan melukainya.
Sedetik kemudian, Rasyid mendekatiku, menodongkan pisau ke arahku. Menyuruhku untuk berbicara. Aku tak ingin menuruti perintahnya, aku tak ingin melihat Vallen terluka. Akan tetapi, pisau berhasil menggores sedikit leherku. Menciptakan darah mengalir dari goresan. Rupanya, Rasyid tak main-main dengan ancamannya, jika aku tak berbicara, ia akan semakin menyiksaku.
“Va, vallen, to, tolong aku,” ucapku
Aku masih takut pada Rasyid. Raut wajahnya yang menyeramkan, ditambah ia yang memegang pusau, aku sungguh takut padanya. Ucapanku terbata. Mataku masih terkejut melihatnya. Aku rasa, bola mataku akan copot saking takutnya.
“Mer? Halo?! Mer? Ada apa?!”
Ponsel di ambil alih oleh Rasyid begitu Vallen mendengar suaraku. Ia tambak senang aku merengek meminta pertolongan.
“Kalo mau pacar lo selamat, datang ke alamat yang udah gue kirim. Jangan terlambat dan jangan bawa polisi kalo lo nggak mau wajah cantik pacar lo ini rusak,”
Tuuttt.
Rasyid mengakhiri obrolan itu.
“Mau lo apa sebenernya?”
“Gue cuma mau liat dia tersiksa saat orang tersayangnya dianiaya. Seperti yang lo lakuin kan?”
“Maksud lo apa syid?”
Rasyid mengambil sesuatu dari kantongnya. Sebuah korek api. Tanpa menunggu jeda, ia menyalakan korek api itu dan menjambak rambutku. Aku meringis kesakitan. Ia sungguh kuat dan tanpa ragu menjambakku. Aku bahkan tak percaya jika cowok ini pernah menyukaiku.
“Apa yang mau lo lakuin?”
“Arghhhh,” jeritku
Rasyid benar-benar membakar ujung rambutku menggunakan korek api miliknya. Aku berusaha menghindar namun ia semakin kuat menjambakku.
“Syid, tolong, lepasin gue, hiks,”
Ia lantas mematikan koreknya begitu melihatku menangis dengan memohon padanya.
“Loh? Kok nangis? Mana nih Mer yang gue kenal? Orang yang tanpa malu, jadi pusat perhatian, dan udah buat abang gue dikeluarin dari sekolah!”
Aku terkejut, “abang?”
“Kenapa? Baru tau kalo Rakha itu abang gue?”
Aku semakin terkejut mendengarnya. Aku sungguh tak tahu jika Rakha dan Rasyid adalah kakak beradik. Sejauh yang kulihat, mereka selalu berangkat dan pulang secara terpisah.
“Abang lo emang berhak dikeluarin! Dia udah—“
“Udah apa? Udah ngejebak cowok lo?! Mana
buktinya?!”
“Gue udah pernah tunjukin semua buktinya Syid,”
“Aarghhh,”
Rasyid semakin kuat menjambak rambutku. Kali ini ia bahkan lebih menyeramkan daripada seorang monster.
“Lo nggak tau?”
“Orang yang udah ngejebak cowok lo itu gue bukan bang Rakha!”
“Hah?”
Aku sungguh tak mengerti. Semua bukti sudah jelas ke arah Rakha. Ditambah aku yang melihat Rakha mencoba membujuk Via agar ikut serta menjebak Vallen. Jadi, apa maksudnya Rasyid berkata begitu?
“Makanya kalo cari bukti itu yang bener!”
“Syid, gue beneran nggak paham maksud lo, Semua bukti—“
“Bukti apa? Mata lo rabun apa? Yang di foto itu badan gue!”
“Tapi gue kenal tulisan lo Syid. Tulisan lo beda dari tulisan yang kertas!”
Rasyid melepaskan jambakannya. Ia menarik kursi dan duduk di hadapanku.
“Denger ya, tulisan itu memang bukan tulisan gue. Abang gue lebih dulu tau mengenai tulisan itu. Ia sengaja membuangnya dan membuat salinan tulisan menggunakan tulisan tangannya supaya gue bebas dari bukti-bukti. Dan soal abang gue yang membujuk Via itu semua sandiwaranya supaya lo curiganya ke abang gue karena ia tau lo nggak akan tinggal diam demi cowok lo yang menjijikkan itu!”
Aku terdiam. Ternyata aku salah menilai Rakha. Aku memang bodoh telah memfitnah cowok baik-baik. Apa yang harus kulakukan untuk menebus itu semua?
“Terus kenapa lo lakuin itu ke Vallen? Bukannya lo udah nggak suka gue?”
“Gue emang udah nggak suka lo lagi. Bahkan gue jijik ngelihat lo yang sekarang. Gue cuma mau melampiaskan rasa sakit yang abang gue terima. Abang gue suka sama lo! Ia rela mengesampingkan perasaannya supaya lo bahagia! Tapi apa yang ia dapet? Rasa sakit karena nggak bisa berhenti nyukain lo!”
“Gue juga udah pernah kasih kalian kesempatan demi abang gue. Tapi nyatanya Vallen bikin lo sedih dan berefek ke bang Rakha!”
“Kalian berdua udah bikin abang gue menderita. Dan menjadi kabar baik buat lo karena gue nggak bisa mukul wanita. Tapi setelah apa yang lo lakuin itu bikin gue nggak ragu lagi buat nyiksa lo!”
Rasyid kembali menyalakan korek apinya, ingin membakar rambutku lagi. Ia begitu mengerikan. Aku takut, sangat takut. Meronta sekuat yang kubisa tapi ikatannya masih sangat kuat untuk mencegahku lari.
“Arrghhh, Rasyid tolong lepasin gueee,”
“Terus, nangis terus!”
“CUKUP!” teriak seseorang dari ambang pintu. Badannya berkeringat, tampaknya ia berlari untuk bisa cepat sampai kesini.
“Oh, sudah datang rupanya,”
“Buang korek itu atau lo gue pukul!”
Vallen mengambil sebuah kayu di sampingnya. Ia menodong kayu itu ke arah Rasyid untuk mengancamnya. Akan tetapi, Rasyid tak takut sama sekali. Jelas saja, Vallen terlalu lemah untuk bertarung secara duel dengan Rasyid.
Rasyid menyeringai. Akan tetapi, ia menuruti perkataan Vallen. Tak lama, ia melempar korek itu dari genggamannya. Kukira semua sudah berakhir, tapi selangkah kemudian ia mencekikku. Rasanya sulit untukku bernapas karena cekikannya yang kuat.
“Cukup Syid! Gue tau lo orang baik jadi berhenti lakuin itu!”
Rasyid melepas cekikannya begitu mendengar Vallen berucap. Ia tertawa dengan sangat keras.
“Lo bodoh atau pura-pura polos? Baik? Huh, dari dulu gue benci kalian berdua!”
“Kalo lo nggak baik, udah dari kemarin lo bawa Mer kesini. Tapi nyatanya lo tetep menggendong Mer pulang dengan selamat ketika ia pingsan kan?!”
“Karena kalo gue bawa Mer yang udah lemah dari awal hasilnya nggak bakal seseru ini!”
“Bukan! Itu karena lo masih ada setitik kasih sayang yang ada di lubuk hati lo. Sebanyak apapun rasa benci yang ada di hati lo, gue yakin, lo tetep orang baik yang hanya ingin dimengerti!”
Rasyid terdiam. Tampaknya perkataan Vallen berpengaruh padanya. Ia tampak lebih tenang dari sebelumnya.
“Kita udahi aja semua ini. Gue minta maaf kalo selama ini udah jadi senior yang buat lo terluka. Gue—“
“Berisik!”
Rasyid menutup telinganya. Ia tampak tak ingin lagi mendengar perkataan Vallen. Akan tetapi, Vallen tetap melanjutkan perkataannya. Selangkah demi selangkah, ia coba mendekati Rasyid yang sedikit histeris. Rasyid menutup telinganya. Ia tampak tak bisa mengendalikan emosinya. Namun, Vallen tetaplah mendekat.
“Jangan mendekat! Menjauhlah!”
Vallen tak mendengarkan perkataan Rasyid. Ia tetap mendekat. Aku tak tahu apa yang membuat Rasyid begitu histeris. Ia seperti mengingat sesuatu yang sudah lama ingin dilupakannya.
Saat Vallen tepat berada didepan Rasyid, tanpa diduga, diluar sana terdengar suara mobil polisi yang mendekat. Rasyid yang awalnya histeris pun terdiam. Sejurus kemudian, ia melotot ke arah Vallen.
“Kau mengundang polisi?!”
Rasyid mengeluarkan pisau yang masih disimpannya. Ia menusuk perut Vallen begitu polisi berada di depan bangunan ini. Ia merintih kesakitan memegangi perut yang bercucuran banyak darah. Tak hanya sampai disitu saja, Rasyid juga merebut kayu yang dipegang Vallen. Ia memukul kepala Vallen dengan sangat keras membuat Vallen tumbang dan tak sadarkan diri
“VALLEEEN!”
Kali ini, akulah yang berteriak histeris. Aku mencoba melepaskan ikatan itu dengan sekuat tenaga. Dengan hasratku yang begitu tinggi membuat ikatan itu akhirnya terlepas.
Aku mendekati Vallen. Mencabut pisau yang masih menancap pada perutnya. Menggoyang-goyangkan tubuhnya untuk membuatnya sadar kembali. Akan tetapi itu percuma, dan aku tahu itu. Vallen tak mungkin bisa sadar hanya dengan kubangunkan.
Rasyid tampak panik melihat kejadian ini di luar perkiraannya. Ia berusaha kabur dari tempat ini tapi polisi berhasil mengepungnya. Ditambah, ia begitu terkejut saat melihat Rakha berdiri di antara polisi itu.
“Sudah cukup, renungkanlah kesalahanmu saat dipenjara nanti!” ucap Rakha begitu tegas.
Rasyid memberontak saat polisi memborgol kedua tangannya. Tampaknya ia begitu kecewa pada Rakha yang berusaha memenjarakannya. Kali ini, Rakha tampak tak peduli pada nasib Rasyid. Ia tetap merelakan adik tercintanya di penjara agar menyesali perbuatannya. Rakha mengira dengan ia menggantikan posisi adiknya saat itu, Rasyid akan benar-benar bertobat. Akan tetapi perkiraannya salah, ia justru semakin berulah. Inilah satu-satunya yang Rakha bisa agar adiknya menyadari semua kesalahannya saat ini.
---
aku akan lanjutin nanti... 🥰
salam cilamici