Alena Wijaya, 24 tahun, tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah total hanya karena satu tanda tangan di atas kertas. Perusahaan keluarganya di ambang kebangkrutan setelah ayahnya terjerat masalah bisnis yang tidak lagi bisa ditutupi, dan satu-satunya jalan keluar datang dari pihak yang paling tidak ia duga: keluarga Mahardika, salah satu konglomerat terbesar di negeri ini.
Syaratnya sederhana di atas kertas—Alena harus menikahi Adrian Mahardika, putra sulung yang dikenal publik sebagai pewaris lumpuh sejak kecelakaan dua tahun lalu. Satu tahun menikah, utang lunas, lalu bercerai baik-baik. Tidak ada cinta yang diminta, hanya status di depan dewan direksi dan media.
Alena datang ke rumah keluarga Mahardika dengan satu niat sederhana: bertahan selama setahun, lalu pergi tanpa menoleh ke belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinyo widi Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA YANG BARU SAJA KUBAGI TERNYATA SUDAH DIKETAHUI ORANG LAIN
Alena bergegas mengambil ponselnya dari kamar, jantungnya masih berdebar kencang, campuran antara haru dari momen barusan dan cemas mendengar nada dering yang selalu berarti kabar tidak menyenangkan.
Ia membuka pesan itu dengan tangan sedikit gemetar, Adrian mendekat dari belakang, masih duduk di kursi rodanya, penasaran menunggu isi pesan yang sama-sama mereka tunggu dengan perasaan campur aduk.
"Aku tahu kamu baru aja lihat sesuatu yang selama ini disembunyikan Adrian dari semua orang. Selamat, kalian berdua akhirnya lebih jujur satu sama lain. Tapi hati-hati, Alena—ruang latihan itu nggak seaman yang kalian kira. Ada kamera tersembunyi di sana sejak tiga bulan lalu, dan aku bukan satu-satunya orang yang tahu soal itu."
Darah Alena serasa membeku membaca kalimat terakhir itu. Ia menyerahkan ponsel itu ke Adrian, tangannya masih gemetar.
Adrian membaca pesan itu, wajahnya berubah pucat pasi, matanya langsung menyapu seluruh sudut ruang latihan dengan tatapan panik yang jarang sekali terlihat dari pria yang biasanya begitu tenang dan terkendali.
"Kamera," gumamnya, bangkit dari kursi roda dengan gerakan cepat—refleks yang tidak lagi ia sembunyikan, karena situasi genting itu membuat semua kehati-hatian selama ini seolah tidak lagi relevan.
Ia memeriksa setiap sudut ruangan, meraba bagian bawah rak alat terapi, memeriksa ventilasi udara, hingga akhirnya menemukan sebuah benda kecil tersembunyi di balik cermin besar yang biasa ia gunakan untuk memantau postur saat berlatih.
"Ini dia," ucapnya, suaranya bergetar menahan amarah, mencabut kamera kecil itu dari tempatnya.
Alena menatap benda kecil itu, dadanya sesak membayangkan berapa lama seseorang telah mengawasi momen paling rapuh Adrian tanpa sepengetahuan siapa pun. "Siapa yang pasang ini?"
"Aku nggak tahu," Adrian menjawab, rahangnya mengeras. "Tapi kalau ini udah ada sejak tiga bulan lalu, berarti orang itu udah tahu soal kemajuan terapiku jauh sebelum kamu tahu."
"Berarti," Alena menyimpulkan, suaranya bergetar, "Wirawan mungkin udah tahu dari lama kalau kamu diam-diam bisa jalan sedikit. Dan dia sengaja biarin kamu terus mikir rencana pancing-mancingan ini rahasia, padahal dia udah tahu semuanya sejak awal."
Kalimat itu membuat dada Adrian mencelos. Semua strategi yang selama ini ia susun dengan hati-hati, semua kehati-hatian yang ia jaga demi memastikan Wirawan tidak curiga—ternyata bisa saja sia-sia sejak awal, kalau memang benar kamera itu sudah lama mengawasi setiap gerak-geriknya.
Keesokan paginya, Adrian memanggil Pak Bram untuk memeriksa seluruh rumah dengan alat pendeteksi sinyal, mencari kemungkinan ada kamera atau alat penyadap lain yang tersembunyi di berbagai sudut rumah besar itu.
Hasilnya mengejutkan. Selain kamera di ruang latihan, ditemukan pula sebuah alat perekam suara kecil tersembunyi di balik lampu meja ruang kerja lantai bawah—ruangan yang sama tempat mereka biasa mendiskusikan strategi investigasi secara rahasia.
"Berarti," Alena berkata pelan, wajahnya pucat menyadari implikasinya, "selama ini, setiap kali kita ngobrol soal rencana buat lawan Wirawan di ruangan itu... dia dengar semuanya?"
"Kemungkinan besar," jawab Adrian berat, "termasuk soal rencana informasi palsu yang kita sebar ke tiga orang berbeda beberapa waktu lalu."
"Tapi kalau dia tahu soal itu, kenapa dia nggak langsung bergerak buat hentikan kita?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, tidak ada satu pun dari mereka yang punya jawaban pasti.
"Mungkin," Pak Bram akhirnya angkat suara, "dia justru sengaja biarin kalian terus bergerak, biar dia bisa pelajari sejauh mana kalian tahu, sebelum dia ambil langkah besar buat hentikan penyelidikan ini sepenuhnya."
Kalimat itu membuat suasana semakin mencekam. Alena merasakan tubuhnya dingin membayangkan, selama ini, setiap langkah yang mereka anggap rahasia, mungkin sebenarnya sudah menjadi bagian dari permainan catur yang jauh lebih besar dan lebih licik dari yang mereka kira.
Malam itu, di kamar mereka yang kini terasa jauh lebih aman setelah semua alat penyadap disingkirkan dan digantikan dengan sistem keamanan baru yang lebih ketat, Alena duduk termenung di tepi ranjang, memikirkan semua kejadian yang terjadi begitu cepat dalam dua puluh empat jam terakhir.
"Kamu masih kepikiran soal kamera itu?" tanya Adrian, duduk di sampingnya.
"Iya," Alena mengaku jujur. "Rasanya... aneh banget. Kayak selama ini kita pikir kita yang mengendalikan situasi, padahal mungkin dari awal kita cuma jadi tontonan orang lain."
"Aku ngerti perasaan itu," Adrian menggenggam tangannya. "Tapi setidaknya sekarang kita tahu, dan kita bisa lebih hati-hati mulai sekarang."
"Adrian," Alena menoleh, menatapnya lurus, "menurutmu, siapa yang kirim pesan peringatan itu? Kalau dia tahu soal kamera itu, berarti dia juga cukup dekat sama Wirawan buat tahu detail sekecil itu. Tapi kenapa dia terus-terusan bantu kita, bukannya laporin balik ke Wirawan?"
Pertanyaan itu sudah lama menggantung di kepala mereka berdua, tapi baru malam itu benar-benar terasa mendesak untuk dijawab.
"Aku nggak tahu," Adrian mengaku, "tapi siapa pun dia, dia jelas tahu banyak hal yang bahkan tim investigasi resmi kita nggak tahu. Dan entah kenapa, dia selalu muncul tepat sebelum sesuatu yang buruk terjadi, seolah dia mau lindungin kita dari jarak jauh."
"Kamu percaya sama dia?"
Adrian terdiam lama, mempertimbangkan pertanyaan itu dengan serius. "Aku nggak sepenuhnya percaya. Tapi sejauh ini, semua yang dia bilang selalu benar. Dan itu bikin aku penasaran, kenapa dia nggak pernah mau nunjukin identitasnya, kalau memang niatnya bantu kita."
Percakapan mereka terhenti oleh suara ketukan pelan di pintu kamar. Pak Bram berdiri di ambang pintu, wajahnya tegang, membawa sebuah amplop cokelat di tangannya.
"Tuan Muda, maaf mengganggu malam-malam begini," ucapnya cepat, "tapi ini baru saja diantar kurir ke gerbang depan. Nggak ada nama pengirim, cuma tulisan 'untuk Adrian dan Alena, segera dibaca'."
Adrian menerima amplop itu dengan tangan sedikit gemetar, membukanya perlahan di depan Alena yang menahan napas menunggu isinya.
Di dalamnya, hanya ada selembar foto—gambar seseorang yang sedang berdiri di depan gudang tua tempat mereka mengintai Pak Bram beberapa hari lalu, tapi bukan Pak Bram yang terlihat di foto itu.
Melainkan sosok Wirawan sendiri, berdiri bersama seorang wanita yang wajahnya sama sekali tidak mereka kenali, tersenyum lebar seolah baru saja merayakan sesuatu—dan di bagian belakang foto itu, tertulis satu kalimat singkat dengan tulisan tangan yang sama seperti memo misterius sebelumnya:
"Wanita ini yang selama ini jadi tangan kanan Wirawan buat urus semua transaksi kotor lewat PT Wirakencana Abadi. Dia juga yang atur pertemuan sama kepala tim investigasi kalian di gudang itu. Temui aku besok, jam sepuluh pagi, di kafe dekat kantor pusat. Aku akan kasih tahu nama lengkapnya, dan bukti yang bisa langsung kalian bawa ke polisi—sebelum Wirawan sempat hapus semuanya."