Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25_Pemberontakan (bagian 1)
Suara langkah kami bergemercik.
*CRICIK... CRICIK...*
Kami berjalan melewati jalan yang dipenuhi lumpur. Bau menyengat mulai menusuk hidung kami. Anak-anak itu mulai memegangi bajuku dan bajunya Stella.
Bangunan kumuh dan daerah yang hancur selalu muncul setiap kami melangkah. Kami memandangi sekitar dengan waspada yang tinggi.
Kemudian Stella berjalan menghampiriku dan menarik bajuku secara perlahan, lalu mulai berbisik pelan kepadaku.
"Hei... Sora," Stella berbisik pelan.
Aku menoleh ke arahnya "Ada apa? Apa kau ingin ke toilet?"
Stella mengepalkan tangannya dan mengerutkan wajahnya "Bukan itu! Aku hanya ingin kau melepas topengmu ketika kita menjalankan rencana kita."
Aku langsung berhenti dan menatap ke arahnya sambil memeluk kepala anak-anak itu.
"Kenapa aku harus repot-repot seperti itu?"
Stella langsung menoleh ke arah anak-anak.
"Dengar! Jika kau ingin mendapatkan kepercayaan, pertama kau harus bisa membuat targetmu seyakin mungkin padamu."
Aku memiringkan kepala sedikit "Lantas apa hubungannya dengan topengku?"
Stella menepuk jidatnya dan langsung mengerutkan dahinya.
"Tentu saja ada! Jika kau menggunakan topengmu, orang-orang pasti akan merasa waspada dan takut akan kehadiranmu. Maka dari itu cepat lepas topengmu!"
Aku memegang daguku lalu menundukkan kepalaku sedikit.
"Kurasa benar juga idemu."
Aku langsung melepas topengku dan menghilangkannya.
Stella yang melihat itu langsung membelalak dan sedikit tersentak.
_Aku memang sempat berpikir bahwa mungkin saja dia ini adalah seorang pejuang yang memiliki sihir unik yang sangat kuat._
Stella menatap ke arahku yang sudah melepas topengku, pipinya berubah menjadi merah muda dan dia terus menatapku tanpa berkedip.
_Apa-apaan orang ini, rambutnya yang berwarna hitam dan bola matanya yang berwarna kuning cerah._
Stella langsung menutupi wajahnya dan membuang wajahnya.
_Tidak boleh Stella, ingat kau sudah memiliki jodoh yang sudah ditakdirkan untukmu, kau tidak boleh terpesona oleh orang lain._
Anak-anak itu mulai menatap Kai dengan mata yang berbinar-binar.
"Tampan! Kakak benar-benar sangat keren! Seperti pangeran!" anak-anak berseru dengan mata berbinar.
Stella langsung tersentak dan menoleh ke arahku.
_Pangeran? Benar juga, kalau dipikir-pikir dia memang terlihat seperti bangsawan daripada seorang rakyat biasa._
Tiba-tiba saja para penduduk daerah kumuh ini pun mulai berkumpul dan mengelilingi kami. Mereka menodongkan senjata dan mulai membuat sihir sambil menatap kami dengan tatapan tajam.
Aku langsung menoleh ke arah anak-anak yang sudah ketakutan sambil memelukku dan gemetar. Tangan mereka gemetar karena ketakutan. Sementara itu Stella sudah bersiap untuk mengambil belatinya.
Salah satu dari para penduduk maju dari kerumunan sambil membawa kapak besar. Dia menghentakkan kapak besarnya itu ke tanah.
*DUAK!*
"Jelaskan kenapa ada bangsawan yang repot-repot datang ke tempat ini!" dwarf itu membentak.
Aku tersentak melihat orang itu.
_Otot yang besar, tubuh yang agak kecil, dan janggut yang lebat, tidak salah lagi, orang ini adalah... Dwarf._
Dia langsung mengambil ancang-ancang untuk menyerang dan menatap dengan tatapan tajam ke arahku.
"Cepat jelaskan apa keinginan kalian!"
Aku menatap Stella dan mengangguk pelan. Stella yang melihat itu langsung berjalan ke sampingku.
Lalu kemudian aku menatap para penduduk.
"Kami tidak berniat apa-apa, dan juga aku bukanlah seorang bangsawan, hanya seorang pengembara."
Dwarf itu menatapku dengan alis yang mengerut. Aku pun tidak tinggal diam dan menatapnya juga dengan alis mengerut.
Dia menundukkan kepalanya sebentar dan langsung menaruh kapak besarnya ke punggungnya.
"Sepertinya kau tidak berbohong kepada kami."
Para penduduk pun langsung menurunkan senjata mereka dan menghilangkan sihir mereka. Mereka masih memandangi kami dengan tatapan curiga.
Aku berjalan menuju arah dwarf tersebut.
"Maaf atas kelancangan kami, namaku adalah Sora, dan gadis manusia binatang yang ada di sana adalah Stella."
Dia menyilangkan kedua tangannya dan mengangkat dadanya.
"Namaku adalah Roth, aku pemimpin daerah kumuh ini. Aku pikir kau adalah bangsawan penjual budak yang ada di kota ini," Roth berkata dengan dada terangkat.
Aku langsung menatap matanya sambil menyilangkan tanganku.
"Mana mungkin, bocah umur 10 tahun sepertiku menjual budak."
Suasana langsung terasa hening. Suara angin mulai terdengar.
*WOOSH...*
Semua orang menatapku dengan mulut yang ternganga.
"HEHHHH!!"
Stella langsung berjalan ke arahku dan mengguncang bahuku dengan cepat.
"Apa maksudnya ini Sora! Aku pikir kau berumur 16 tahun!"
Roth langsung tertawa terbahak-bahak.
*HAHAHA!*
"Tidak kusangka ternyata kau masih bocah."
Roth menepuk bahuku dan melihat tubuhku.
"Tapi aku harus jujur saja, kau memiliki tubuh yang sangat bagus."
Aku langsung menepuk bahunya juga.
"Tolong jangan merendah seperti itu Tuan Roth, tubuh anda juga bahkan lebih bagus daripada saya."
Roth menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Jangan merendah, kami para dwarf memang sudah diberkati dengan tubuh yang bagus oleh dewa kami. Oh iya, lebih baik jika kita ganti tempat untuk berbicara."
Aku langsung menoleh ke arah mereka semua, dan langsung menatap ke arah Roth.
"Baiklah, mari kita ganti tempat."
Kami dibawa oleh penduduk menuju perkampungan kecil yang mereka bangun. Di sana anak-anak berlarian sambil tersenyum dan tertawa. Banyak para penduduk yang membaur tanpa memandang ras mereka. Mereka juga saling membantu dan mempedulikan satu sama lain. Walaupun tempat itu sudah agak hancur dan agak kumuh, tapi mereka tetap tersenyum lebar.
Aku dan yang lainnya langsung bergeming tanpa bergerak.
"Indahnya... tidak kusangka ada tempat seperti ini di kota ini."
Para penduduk yang melihat kami langsung datang mengerumuni kami sambil membawa barang-barang mereka.
"Tolong beli barang daganganku! Tidak, beli barangku saja!"
Pemandangan yang tadinya indah berubah menjadi ricuh seketika ketika kami datang. Aku menatap ke arah yang lainnya dan melihat mereka yang sudah ketakutan karena dikerumuni oleh banyak orang seperti itu.
Aku langsung menutup mataku.
_Legacy Creations Mana._
Menciptakan benda atau senjata dari mana.
Aku langsung membuat rantai-rantai yang memisahkan kami dengan para penduduk. Para penduduk langsung membelalak melihat kekuatanku dan mulai melangkah mundur.
"Apa itu! Siapa orang-orang ini! Kenapa mereka bisa ada di tempat kita!"
Roth yang tadinya terlihat santai langsung memegang senjatanya sambil menatap ke arahku dengan keringat yang ada di wajahnya.
_Siapa bocah ini sebenarnya!? Dia memiliki jumlah mana yang tidak normal! Jika saja dia serius melawan kami tadi, mungkin saja kami sudah mati..._
Aku langsung menghilangkan rantai-rantai itu dan menatap tajam ke arah mereka semua sambil membusungkan dadaku.
"DENGAR KALIAN SEMUA!! NAMAKU ADALAH SORA, AKU ADALAH ORANG YANG MEMBANTAI PARA PASUKAN KSATRIA SUCI YANG ADA DI KOTA INI KEMARIN!"
Semua penduduk langsung berkeringatan. Mereka semua mulai melangkah mundur dariku.
"Dia orang bertopeng itu! Tidak mungkin! Tapi rantai yang dibuatnya sama persis!"
Aku menunjuk ke arah mereka semua.
"PARA PENDUDUK AREA KUMUH TOLONG DENGARKAN AKU, TUJUAN KAMI BUKANLAH UNTUK BERBUAT JAHAT KEPADA KALIAN, TAPI JUSTRU SEBALIKNYA, AKU BERNIAT MEMBANTU KALIAN SEMUA!!"
Semua orang langsung saling memandangi, dan mulai mengerutkan dahinya.
"Apa itu benar? Kau serius kan?"
"TENTU SAJA, TUJUAN KAMI YANG SEBENARNYA ADALAH MENOLONG KALIAN KELUAR DARI TAKDIR KALIAN YANG SELALU MENYIKSA KALIAN SELAMA INI!!"
Roth maju sambil menghentakkan kapak besarnya dengan sangat keras.
*BRAK!!*
"APA KAU BERCANDA!! KAMI YANG TERLAHIR SEBAGAI RAS YANG BERBEDA DAN MEMILIKI JUMLAH MANA YANG SEDIKIT INI BISA LEPAS DARI TAKDIR KAMI!!"
Aku menatap ke arahnya.
"MEMANG BENAR KALIAN TIDAK BISA MERUBAH AWAL DALAM HIDUP KALIAN, TAPI... BUKAN BERARTI KALIAN TIDAK BISA MERUBAH AKHIR DALAM HIDUP KALIAN."
Roth menatapku dengan tajam, sambil menghentakkan giginya.
"Lalu bagaimana caranya, agar kami bisa lepas dari takdir kami."
Aku langsung menatap ke arah mereka dan tersenyum tipis.
"BERTARUNGLAH, BERTARUNG MELAWAN TAKDIR KALIAN SENDIRI!! KALAU BEGITU AKU AKAN BERTANYA KEPADA KALIAN SEMUA, APA KALIAN INGIN MENYERAH DAN MATI DENGAN MENGENASKAN SEPERTI YANG SUDAH DIRANCANG OLEH TAKDIR KALIAN ATAU BERTARUNG BERSAMAKU DAN HIDUP DENGAN DAMAI TANPA PERLU MEMIKIRKAN TAKDIR KALIAN LAGI!?"
Suasana langsung hening. Semua orang saling menatap satu sama lain dengan wajah gelisah.
Tiba-tiba saja ada salah satu elf yang mengangkat tangannya.
"Maaf, tapi kami tidak memiliki kekuatan yang sebesar itu untuk melawan para ksatria itu."
"TENANG SAJA, SOAL PERTARUNGAN ITU BIARLAH JADI URUSANKU DAN DENGARKAN INI, TIDAK SEMUA PERTARUNGAN DIMENANGKAN DENGAN KEKUATAN!!"
Aku menunjuk ke arah kepalaku.
"TAPI JUGA BISA DENGAN AKAL!!"
Setelah mendengar kata-kata yang aku ucapkan, para penduduk langsung bersorak kepadaku. Mereka mulai mengepalkan tangan mereka dan membulatkan tekad masing-masing untuk memberontak.
Roth pun tersenyum tipis ke arahku.
_Jika saja yang memimpin negeri ini adalah dia, pasti wilayah-wilayah seperti ini tidak akan pernah ada._
Para anak-anak dan Stella yang melihatku dari belakang pun sampai ternganga.
"Kakak itu benar-benar hebat! Dia keren sekali!"
Salah satu anak menarik baju Stella.
Stella yang sadar akan hal itu langsung menoleh ke arahnya.
"Ada apa? Ada yang bisa dibantu olehku gadis kecil?" Stella bertanya sambil menunduk.
Anak itu langsung menunjuk ke arahku.
"Hei... sebenarnya siapa kakak itu?"
Stella langsung tersenyum tipis lalu menoleh ke arahku.
"Entahlah... Kakak juga tidak tahu, tapi... Dia benar-benar sangat keren."
Setelah itu kami diajak masuk ke salah satu rumah yang ada di area itu dan mulai membahas strategi yang akan digunakan untuk bertarung.
Rumah itu kecil, atapnya bocor. Tapi di dalamnya hangat. Api kecil menyala di tengah ruangan.
*TRIK... TRIK...*
Roth duduk di atas peti kayu, kapak besarnya dia sandarkan ke dinding. Matanya menatapku serius.
"Jadi... apa rencanamu, Sora? Kau bilang bisa menang dengan akal, bukan kekuatan. Jelaskan."
Aku belum menjawab. Aku menoleh ke belakang, ke arah jalan lumpur tempat kami masuk tadi.
Dari celah pintu yang terbuka, aku masih bisa melihat jalan masuk utama perkampungan. Terlalu terbuka. Jika ksatria patroli lewat dan melihat kerumunan ini, semuanya selesai.
Stella yang melihat arah tatapanku langsung paham. Dia menyenggol lenganku pelan.
"Sora, tutup dulu jalannya."
Aku mengangguk.
Aku melangkah ke tengah jalan masuk itu.
Aku menutup mataku.
Lalu aku berlutut di atas tanah yang becek itu. Kedua lututku menyentuh tanah, kedua telapak tanganku menyentuh permukaan tanah di sekitarku.
_Legacy Creations Mana._
Mana di dalam tubuhku langsung mengalir ke tanganku.
Urat-urat hitam mulai muncul di punggung tanganku. Pelan-pelan menjalar sampai ke pergelangan. Berdenyut.
*DUG... DUG...*
Dari tanah yang kusentuh, mana hitam mulai naik.
*KREK... KREK...*
Dinding hitam setinggi dua orang dewasa tumbuh di depan kami. Hitam pekat. Permukaannya tidak rata, seperti batu obsidian yang baru ditempa. Masih mengeluarkan uap tipis dari mana yang baru memadat.
Aku masih berlutut dengan mata tertutup. Tanganku masih menempel di tanah. Urat hitam di tanganku masih berdenyut.
Semua penduduk yang melihat itu langsung terdiam.
Roth membelalak.
_Berlutut... anak ini berlutut? Di lore ksatria, berlutut hanya untuk sumpah setia kepada raja... dan dia melakukannya di lumpur kotor ini demi kami?_
Aku membuka mataku perlahan.
Aku mengangkat satu tanganku dari tanah.
_Legacy Creations Mana._
Kali ini dari dinding hitam itu, rantai-rantai hitam yang sedikit mengkilap seperti besi yang baru ditempa mulai keluar. Menjalar seperti akar, lalu mengunci sisi kiri dan kanan dinding ke bangunan-bangunan kumuh di sekitarnya.
*KLANG!*
Rantai itu mengencang. Sekarang dinding itu terkunci rapat.
Aku menarik kedua tanganku dan berdiri kembali dengan pelan.
Lututku basah oleh lumpur. Celanaku kotor penuh tanah becek yang menempel.
"Hah... sudah."
Aku menepuk celanaku sekali, tapi tanahnya tidak hilang. Malah semakin menempel.
"Sekarang jalan masuknya tertutup rapat."
Aku kembali masuk ke dalam rumah dengan celana yang masih kotor itu.
Roth melihat celana kotor di lututku itu, lalu menundukkan kepalanya sedikit.
"Bocah... kau benar-benar membuatku merinding."
Roth mengulurkan tangannya yang besar ke arahku.
"Kami ikut. Katakan apa yang harus kami lakukan pertama kali."
Aku menjabat tangannya.
Di belakangku, Stella menatap dinding hitam itu sambil mengelus telinganya yang bergetar pelan. Dia berbisik sangat kecil, hanya aku yang bisa dengar.
"Dinding yang keras, Sora, sebenarnya kau itu siapa?"