Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Awal dari Keadilan
Sinar matahari pagi membentang hangat di atas gedung kejaksaan tinggi. Namun, hawa di dalam ruang kerja kepala seleksi tindak pidana hukum terasa begitu dingin dan mencekam.
Rayven berdiri tegap dengan jas hitam yang rapi. Di meja kerja sang Jaksa utama, Rayven menjejerkan dia bundelan map tebal berstempel resmi, ditemani sebuah flashdisk dan alat perekam suara.
Pria paruh baya berseragam kejaksaan itu mengamati satu berkas di hadapannya, lalu memutar rekaman video dari Notaris Noto Kusumo serta rekaman pengakuan Rudi. Matanya membelalak lebar, wajahnya berubah sangat serius.
"Hmm... Ini penelantaran sengaja saat korban sekarat serta pemaksaan cap jempol. Ini bukan lagi kasus hak warisan, Rayven. Melainkan pembunuhan berencana sesuai pasal 340 KUHP," bisik Jaksa Utama menatap Rayven tajam.
"Tepat, Pak. Bukti ini dan kesaksian saksi sudah lengkap. Saya minta penetapan tersangka dan surat perintah penangkapan dikeluarkan detik ini juga. Saya tidak akan memberikan mereka celah untuk melarikan diri," sahut Rayven dingin.
"Oke. Tim penyidik kepolisian akan bergerak sekarang juga," Jaksa Utama mengangguk tegas tanpa ragu, langsung menandatangani surat penetapan darurat.
Di sisi lain, Rhea baru saja selesai menyeduh teh hangat saat ponselnya mendadak bergetar kencang. Rhea langsung menggeser tombol hijau.
"Halo, Rayven? Kamu dari mana kemarin sore?" tanya Rhea khawatir.
"Rhea, sekarang kita bergerak ke Restoran Restu Ibu," suara Rayven terdengar sangat tenang.
"Ke restoran? Tapi kita kan belum selesai menyempurnakan gugatannya," tanya Rhea langsung menegang.
"Gugatan perdata sudah gak dibutuhkan lagi, Rhe. Saya baru aja keluar dari Kejaksaan Tinggi. Status kasus ini resmi naik menjadi pembunuhan berencana. Surat penangkapan Fadel sudah dikeluarkan. Kita harus gerak sekarang, Rhe," potong Rayven cepat.
"Kamu serius?" bisik Rhea bergetar.
"Sangat serius. Kita ketemu di depan restoran dua puluh menit lagi," pangkas Rayven sebelum mematikan telepon.
Rhea mendadak membeku, cangkir teh di tangannya hampir saja merosot. Pembunuhan berencana. Rhea menatap Zora yang ikut melongo mendengarnya dari balik speaker.
Saat itu, suasana di restoran sedang dalam puncak keramaian. Pengunjung hampir memadati hampir seluruh meja, sementara denting piring dan aroma masakan memenuhi udara.
Di balik meja kasir, Rika sedang menghitung uang dengan wajah tersenyum puas. Di sampingnya, Fadel berdiri menyilangkan tangan, menatap sekeliling dengan tatapan arogan.
Mereka berdua merasa berada di atas angin, yakin bahwa restoran bernilai miliaran ini sudah sepenuhnya berada dalam cengkeraman mereka.
Namun, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang penuh ketakutan, hari ini Bima bekerja dengan binar maya yang jauh berbeda.
Sambil memotong daun bawang di atas talenan kayu, bibir Bima tak henti-hentinya menyunggingkan senyum tipis. Setiap kali mengingat percakapannya dengan Rayven, Rhea dan Zora kemarin di kedai kopi, tentang kebenaran surat warisan asli dan janji mereka untuk merebut kembali haknya, dada Bima terasa begitu hangat.
Untuk pertama kalinya, Bima merasa tidak sendirian lagi.
Pak Yudi sedang mengaduk kuah di kuali besar melirik Bima dari samping. Dia mengernyit heran melihat Bima yang terus menyunggingkan senyum sambil memotong bahan.
"Loh, Mas Bima dari tadi kok bapak perhatikan senyum-senyum sendiri?
Ada kabar bahagia apa nih? Nggak biasanya Mas Bima seceria ini," terus Pak Yudi ramah sambil terkekeh pelan.
Bima terlonjak pelan, buru-buru menyapu ujung matanya lalu menatap Pak Yudi dengan wajah agak merona.
"Eh... nggak ada apa-apa kok, Pak Yudi. Cuma perasaan saya hari ini tenang banget, Pak. Rasanya kayak beban berat di dada saya mendadak diangkat," sahut Bima pelan, tapi senyum di bibirnya makin mengembang.
"Bagus kalau gitu, Mas. Saya senang liat Mas Bima bisa senyum lepas begini. Dari kemarin-kemarin Mas Bima murung terus gara-gara Mas Fadel sama Bu Rika," Pak Yudi tersenyum memeluk baju Bima dengan hangat.
"Makasih ya, Pak Yudi. Selama ini bapak udah selalu baik sama saya. Doakan saya ya, Pak semoga sebentar lagi semuanya bakal jauh lebih baik," Bima mengangguk pelan.
Pak Yudi mengangguk mantap.
"Pasti, Mas Bima. Doa Pak Yudi selalu..."
Namun, sebelum Pak Yudi sempat menyelesaikan kalimatnya. Raungan sirine mobil polisi mendadak membelah kebisingan restoran dari arah pelataran parkir depan.
Bima terperanjat kaget, tangannya mendadak berhenti memotong hingga pisau hampir saja terlepas dari genggamannya. Matanya membelalak lebar dengan napas tertahan. Ia syok dan sama sekali tidak menyangka kalau tindakan hukum itu bakal terjadi detik ini juga dengan kekuatan armada polisi sebanyak itu.
"Loh, suara sirine apa itu, Mas?" seru Pak Yudi ikut panik.
Para pelanggan terperanjat kaget, suasana restoran seketika menjadi riuh panik. Pintu depan restoran terbuka.
Wajah Rika seketika pucat pasi. Ia berdiri panik dari kursi kasir. "Apa-apaan ini? Ada apa ini?"
"Saudari Rika dan dan Saudara Fadel. Kalian berdua resmi ditangkap atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap Bambang Sutejo serta pemalsuan dokumen hak waris," seru sang Komandan Kepolisian dengan suara lantang yang menggelegar di seluruh ruangan restoran.
Pernyataan itu bagaikan petir di siang bolong yang menghantam seluruh staf dan pelanggan restoran. Pak Yudi dan para staf lainnya yang keluar mendadak menahan napas tak percaya.
"Bohong. Ini fitnah, pasti ulah anak sialan ini," jerit Rika histeris, tangannya gemetaran hebat menunjuk Bima.
"Lepasin. Kalian tahu siapa saya, hah. Saya pemilik restoran ini. Jangan sembarangan main tangkap tanpa bukti jelas," teriak Rika histeris, meronta kasar.
Beberapa pelanggan di meja mendadak berdiri ketakutan, beberapa bahkan refleks mengeluarkan ponsel untuk merekam aksi tersebut. Suasana restoran berubah jadi sangat kacau.
Di sana, Rika dan Fadel sudah diseret keluar oleh beberapa polisi berseragam lengkap dengan pergelangan tangan terborgol besi. Rika menjerit-jerit histeris sambil memaki, sementara Fadel berusaha meronta dengan wajah merah padam dipenuhi murka.
Bima juga mengikuti langkah cepat keluar dekat samping pintu depan.
Tepat di samping mobil kepolisian yang terparkir, Rayven melangkah keluar dengan anggun dan dingin, didampingi Rhea dan Zora.
Bima berdiri kaki di dekat ambang pintu samping restoran, menatap pemandangan itu dengan dada bergemuruh hebat. Tepat saat Fadel diseret masuk ke dalam mobil tahanan, pandangan Rayven teralih dan terkunci lurus ke arah Bima. Rhea dan Zora pun ikut menoleh, menatap Bima dari kejauhan.
Di antaranya, riuh suara sirine dan teriakan histeris Rika, keempatnya saling bertatap-tatapan selama beberapa detik.
Tatapan Rayven memberikan sinyal tegas bahwa semua sudah selesai. Rhea memberikan anggukan pelan penuh kehangatan dan rasa lega, sementara Zora tersenyum lebar sambil mengacungkan jempolnya pada Bima. Air mata Bima haru akhirnya menetes di pipi Bima, keadilan yang selama ini terkubur, akhirnya meledak di depan matanya sendiri.