NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Takdir

Terpisah Oleh Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:205
Nilai: 5
Nama Author: Diah Lubis27

Mengisahkan tentang seorang pria yang sudah beristri yang mengalami sebuah kecelakaan hingga mengakibatkan ia kehilangan ingatan dan menikah dengan wanita beda keyakinan.
Akan kah kisah cinta mereka bertahan?
Bagaimana akhir kisah cinta mereka?.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Lubis27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ban 21

  "Jesica kenapa lama sekali pulang nya? apa kata dokter?" Bu Maria yang sejak tadi menunggu kepulangan Albert dan Jesica langsung menyusul ke kamar Jesica begitu melihatnya pulang dan langsung memberondongnya dengan beberapa pertanyaan.

Jesica duduk dengan malas malasan.

"Tanya saja sama menantu ibu itu. " Jawabnya dengan nada kesal.

"Ada apa sih jangan buat ibu penasaran!" Masih menunggu jawaban dari Jesica.

"Ibu tau enggak berapa lama aku udah mendambakan pergi ke kota. Tadi itu aku udah bahagia banget dalam hati berharap selesai periksa kehamilan aku mau Jalan-jalan. Tapi menantu ibu yang baik itu bilang. Kita pulang aja ya nanti kamu kecapean Jalan-jalannya lain kali saja. " Jesica memanyunkan bibirnya saat menirukan ucapan Albert. Membuat Albert yang sejak tadi menguping pembicaraan ibu dan anak itu jadi tertawa sendiri.

"Tapi ibu tau apa yang terjadi aku malah kecapean karena Albert mengendarai mobilnya bahkan lebih lambat dari pejalan kaki. " Ucap Jesica lagi dengan kesal.

Dan kali ini giliran bu Maria yang tertawa.

"Lalu apa kata dokter?" Bu Maria kembali bertanya.

Jesica tersenyum lalu berkata, "Kata dokter aku hamil bayi kembar." Wajah Jesica langsung berbinar bahagia dan segala kekesalannya seakan sirna seketika.

"Puji Tuhan, terimakasih banyak. " Bu Maria menghaturkan do'a sebagai rasa syukur. Lalu langsung memeluk tubuh Jesica.

"Selamat ya sayang, ingat ya mulai sekarang kamu nggak boleh capek-capek istirahat aja biar ibu yang kerjain semuanya. " Ucap bu Maria penuh semangat.

"Ha..ha... ha... " Jesica tertawa melihat tingkah ibunya.

"Ya nggak gitu juga bu, kalau aku nggak ngapa-ngapain nanti anak anak aku jadi pemalas dong. " Jesica kembali tertawa.

"Ehemm.. " Albert yang tadinya hanya berdiri menguping di depan pintu kamar akhirnya masuk dan duduk di samping Jesica.

Bu Maria pun langsung bergegas pergi untuk memberi ruang agar pasangan suami istri itu bisa saling bicara.

"Kalau begitu ibu pergi masak dulu, apa ada sesuatu yang ingin kamu makan?" Tanya bu Maria sebelum pergi.

"Sepertinya aku lagi pingin sub ayam. " Kata Jesica.

"Baiklah akan ibu buatkan." Bu Maria pun pergi meninggalkan Jesica dan Albert.

Setelah bu Maria pergi Jesica langsung memasang wajah juteknya kembali. Hal itu membuat Albert langsung panik.

"Jesica jangan begitu maafkan aku, aku tau aku salah lain kali aku janji bakal bawa kamu Jalan-jalan di kota sepuasnya. Oke, tapi janji jangan marah lagi." Albert menggoyang-goyang tangan Jesica seperti seorang bocah yang sedang merengek kepada ibunya.

"Lepas!" Jesica menepis tangan Albert.

"Baiklah kali ini aku maafkan tapi lain kali janji harus benar-benar bawa aku Jalan-jalan sepuasnya ke kota. "

"Oke aku janji. "

Jesica langsung tersenyum dan bersandar manja di dada Albert.

"akkhhh... " Tiba-tiba Albert berteriak kesakitan sambil memegang kepanya. Sekelebat bayangan wanita sedang tertawa dan bersandar manja di dadanya terlintas di benaknya tapi wajah itu sama sekali bukan Jesica.

"Albert kamu kenapa?" Jesica panik.

"Sakit... kepalaku sakit. " Ucap Albert terbata.

Jesica buru-buru turun dari ranjang dan mengambil obat penghilang rasa sakit yang selalu di konsumsi Albert apabila sakit kepala datang.

"Ini minum dulu!" Jesica menyodorkan obat itu kemulut Albert lalu di susul dengan segelas air.

Rasa sakit kepala Albert perlahan menghilang setelah dia meminum obat penghilang rasa sakit itu.

"Terimakasih ya sayang, maaf sudah merepotkan kamu. "

"Albert sebaiknya kita periksa kondisi kamu kerumah sakit. Aku khawatir kalau penyakit kamu jadi makin parah, aku tidak mau kehilangan kamu. " Jesica memeluk Albert dan langsung menangis.

"Sudah lah jangan menangis aku tidak apa-apa. Percayalah aku tidak akan meninggalkan kamu dan anak-anak kita. " Albert mengelus perut Jesica.

"Kamu harus janji. " Jesica.

"Aku janji. " Albert.

"Karisa ayo sini, coba lihat kebaya ini cocok kan untuk kita berdua?" Humaira mengepaskan sebuah baju kebaya berwarna bergandy ke badan Karisa.

"Iya umi cantik. " Ucap Karisa yang baru saja pulang dari mengajar.

"Syukur lah kalau kamu suka. " Humaira merasa lega.

"Apa kamu sudah mengabari ayah kamu untuk datang ke pernikahan Aisyah nanti?"

"Sudah umi. " Karisa diam sejenak dan terlihat ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu.

"Ada apa Karisa? Kalau ada sesuatu katakan saja jangan sungkan. Kamu itu sudah umi anggap seperti anak kandung umi sendiri jadi jangan sungkan sama umi. " Humaira menyadari kalau Karisa ingin mengatakan sesuatu tapi sungkan.

"Umi kata ayah setelah acara pernikahan Aisyah selesai ayah ingin membawa aku pulang. Ayah bilang dia kesepian di rumah sendiri. Apa lagi sekarang ayah sudah tidak mengajar mengaji di rumah lagi hanya di mushola saja kalau sore jadi ayah merasa kesepian. "

"Sini duduk dulu. " Humaira menarik tangan Karisa mengajaknya duduk di sofa.

"Kalau Karisa sendiri maunya gimana?" Tanya Humaira lembut.

Karisa langsung menunduk dan menangis.

"Aku tidak tau umi, aku ingin terus di sini karena merasa suatu saat mas Farhan pasti akan pulang ke sini, tapi di satu sisi aku juga merasa sangat tersiksa berada di dalam kenangan mas Farhan di rumah ini. Berada dalam penantian yang tidak tau di mana ujungnya. " Tangis Karisa semakin dalam dan air matanya tak lagi dapat terbendung.

Humaira juga ikut menangis hatinya benar-benar sakit melihat penderitaan menantunya itu.

"Istighfar Karisa ikhlaskan Farhan. Umi mohon jangan seperti ini, umi yakin Allah sudah menyiapkan kebahagiaan yang luar biasa untuk kamu sayang. "

Hari ini Aisyah pergi ke rumah sakit untuk mengantarkan undangan pernikahannya secara langsung kepada Teman-teman.

"Permisi suster, ruangan dokter Mela di sebelah mana?" Aisyah bertanya kepada seorang perawat yang sedang berjaga.

Suster itu pun mendongak karena mendengar suara yang familiar di telinganya.

"Aisyah? Beneran ini kamu?" Ucap suster itu girang.

"Vina, kebetulan sekali. Aku memang sengaja datang mau cari kamu sama Mela. " Ucap Aisyah penuh semangat.

"Oh ya, untuk apa cari kami?"

" Mau ngasi ini. " Aisyah mengeluarkan dia buah undangan dari dalam tasnya.

"Cie... cie.... yang mau nikah. " Goda Vina.

"Jangan sampai nggak datang ya. " Ucap Aisyah dengan wajah merah merona karena malu.

"Pasti dong, aku sama Mela pasti datang. "

"Ya udah kalau gitu yang punya Mela nitip di kamu aja ya. Kirim salam aja sama dia. Aku balik dulu ya masih sibuk banget soalnya. "

"Iya ngerti deh, yang lagi nyiapin pernikahan sama pujaan hati. " Vina menaik turunkan alisnya menggoda Aisyah.

"Dasar resek. " Ucap Aisyah sambil melangkah pergi.

"Astaghfirullah, kan jadi lupa mau nunjukin foto cowok yang mirip banget sama Kak Farhan. Nanti aja deh di acara nikahan Aisyah. " Gumam Vina.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!