Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.
Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 — Menemukan Peluang
Rashid menatap punggung Marissa sambil mengenakan pakaian, siap untuk berangkat ke kantor. “Ini hukumanmu. Awas saja jika kau berani meremehkan aku atau mengabaikan aku lagi, aku bisa melakukan hal yang lebih kejam daripada ini,” katanya pada Marissa yang ia tahu sudah bangun dan terisak.
Selepas memastikan penampilannya rapi, ia berjalan pergi, tetapi sebelum sempat sampai ke pintu, Rashid kembali menoleh ke arah Marissa. “Jangan pergi kemanapun hari ini dan bersikaplah seperti seorang istri yang penurut,” katanya dengan dingin.
Marissa bangkit dengan matanya yang sembab, menatap Rashid dengan tajam. “Bagaimana jika aku tidak mau? Kau tidak bisa mengekangku, aku belum resmi menjadi istrimu!” serunya dengan berani.
Mendengar itu, Rashid yang sudah memegang handle pintu lantas berbalik dan tersenyum mengejek ke arah Marissa. “Lihat saja nanti, kau akan segera menjadi istriku, seperti yang kau inginkan.”
“Aku tidak mau! Lepaskan aku dari sini, Rashid!” teriaknya kencang, ia bahkan melemparkan apa saja yang ada di dekatnya ke arah Rashid.
Namun sayang, pria itu sudah menutup pintu dan pergi tanpa mempedulikan teriakan Marissa yang terus meneriakkan namanya ataupun perasaan perempuan itu. Menurutnya, Marissa pantas menerima semua itu sampai perempuan itu bisa mengerti bahwa Rashid juga bisa bertindak sesuka hatinya.
***
Sesampainya di kantor, kedatangan Rashid langsung disambut oleh beberapa surat pengunduran diri dari karyawannya. Begitu melihat tumpukan dokumen tersebut di atas meja, emosinya yang sejak pagi sudah berada di ambang batas kembali meledak.
“Sialan! Di saat krisis seperti ini, bisa-bisanya mereka mengundurkan diri?” bentaknya kasar. “Benar-benar tidak bisa diandalkan!”
Rashid meraih beberapa dokumen di atas meja lalu membuangnya begitu saja. Lembaran-lembaran kertas itu beterbangan dan jatuh berserakan di lantai. Ruangan yang biasanya menjadi tempatnya mengambil berbagai keputusan penting kini justru terasa semakin menyesakkan.
Tumpukan laporan keuangan, surat pemberitahuan dari bank, tagihan pemasok, serta dokumen proyek yang tertunda memenuhi hampir seluruh permukaan meja.
Ia berdiri dengan kedua tangan bertumpu di atas meja.
Dadanya naik turun, berusaha meredam amarah yang masih membara. Namun, setelah beberapa saat, kemarahan itu perlahan surut dan berganti dengan perasaan yang jauh lebih berat.
Rashid akhirnya menarik kursinya dan duduk dengan kasar. Tatapannya terpaku pada layar laptop yang menampilkan laporan keuangan perusahaan. Hampir seluruh angka penting di sana menunjukkan kondisi yang buruk. Pendapatan menurun, beberapa proyek besar gagal mencapai target, arus kas semakin ketat, sementara sejumlah kewajiban perusahaan sudah mendekati jatuh tempo.
Rashid mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Bagaimana bisa semuanya berantakan seperti ini?” gumamnya lirih.
Ia sudah mencoba berbagai cara untuk mempertahankan perusahaan. Biaya operasional dipangkas, beberapa pembayaran ditunda, bahkan sebagian aset pribadinya telah ia gunakan untuk membantu menutupi kebutuhan perusahaan. Namun, semua usaha itu seolah tidak pernah cukup.
Kini, bukan hanya kondisi keuangan yang memburuk. Orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari perusahaannya pun mulai pergi satu per satu. Rashid menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menatap kosong ke arah jendela besar di belakang meja.
Dari lantai atas gedung tersebut, hiruk-pikuk kota masih terlihat seperti biasa. Kendaraan berlalu-lalang, orang-orang berjalan menuju tujuan mereka, dan gedung-gedung tinggi berdiri kokoh di antara padatnya kota.
Semuanya tampak baik-baik saja, hanya hidupnya yang terasa semakin kehilangan arah. Rashid kemudian meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Beberapa pesan dari pihak bank kembali masuk sejak pagi. Isinya tidak jauh berbeda dari pesan-pesan sebelumnya, ia membaca semuanya dengan rahang mengeras.
“Jika seperti ini terus, perusahaan ini benar-benar akan hancur,” gumamnya frustasi sambil mengacak rambutnya sendiri.
Kemudian, Rashid terdiam cukup lama. Selama ini ia selalu meyakinkan dirinya bahwa keadaan tersebut hanya sementara. Krisis pasti berlalu dan ia akan bisa menemukan investor baru, Selama dirinya masih mampu berpikir dan mengambil keputusan, perusahaan itu pasti bisa diselamatkan. Namun, perlahan keyakinan tersebut mulai retak.
Ia mengepalkan tangan di atas meja, dan tepat ketika pikirannya semakin dipenuhi berbagai kemungkinan buruk, terdengar ketukan dari arah pintu.
Rashid tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian, ia akhirnya berkata dengan suara berat, “Ya, masuklah!”
Pintu terbuka lalu sekretarisnya masuk sambil membawa sebuah amplop berwarna hitam dengan desain yang terlihat elegan. “Pak Rashid, ada undangan yang baru saja dikirimkan ke kantor.”
“Letakkan saja di meja, pasti hanya undangan pesta biasa, kan? Aku sama sekali tidak tertarik untuk datang ke pesta-pesta semacam itu sekarang.”
Sekretaris itu berjalan mendekat dan meletakkan amplop tersebut di hadapan Rashid. “Bukan, Pak. Ini undangan dari Santoso Group.”
Setelah itu, ia berbalik hendak meninggalkan ruangan. Namun, baru beberapa langkah, Rashid tiba-tiba memanggilnya.
“Tunggu dulu! Santoso Group katamu?” tanyanya seolah tak percaya. Ia lalu mengambil amplop tersebut. Tatapannya langsung tertuju pada logo berwarna emas yang tercetak di bagian depannya.
Kening Rashid sedikit berkerut. “Ini … ini undangan dari Santoso Group? Apakah mereka tidak salah alamat?”
“Benar, Pak. Kurir yang mengantarkan undangan tersebut benar-benar mengucapkan nama Anda,” terang sang sekretaris itu.
Rashid tidak menjawab. Ia membuka amplop itu perlahan dan mengeluarkan kartu undangan yang berada di dalamnya. Matanya bergerak membaca setiap informasi yang tercantum di sana.
Santoso Group akan mengadakan sebuah pesta yang dihadiri sejumlah pengusaha, investor, serta tokoh-tokoh penting dari berbagai bidang bisnis. Beberapa nama yang tercantum dalam daftar tamu bahkan cukup familiar bagi Rashid. Perlahan, ekspresi muram di wajahnya berubah.
Ia membaca kembali daftar tersebut, kali ini dengan lebih teliti. “Mereka benar-benar mengundangku? Astaga! Ini benar-benar sebuah keberuntungan!”
Rashid menyandarkan tubuhnya ke kursi. Beberapa menit lalu, ia merasa seolah-olah semua pintu telah tertutup. Namun sekarang, sebuah celah kecil tiba-tiba terbuka di hadapannya.
Pesta itu bukanlah sekadar acara sosial. Jika orang-orang penting dari dunia bisnis berkumpul di sana, berarti ada kesempatan untuk membangun koneksi baru. Mungkin ia bisa bertemu investor yang bersedia membantu perusahaannya. Mungkin ada peluang proyek baru. Atau setidaknya seseorang yang bisa membuka jalan baginya untuk mendapatkan pendanaan.
Pikiran Rashid mulai bergerak cepat. “Jika aku bisa mendapatkan satu investor besar di sana dan membujuknya untuk menanamkan modalnya di sini, semuanya pasti akan membaik,” gumamnya.
Ia berhenti sejenak, kemudian menatap undangan tersebut dengan sorot mata yang berbeda. Perusahaannya memang sedang berada dalam masalah, tetapi belum sepenuhnya berakhir.
Dengan suntikan modal yang cukup, ia masih bisa menyelesaikan beberapa proyek yang tertunda, membayar sebagian kewajiban perusahaan, dan memperbaiki kondisi keuangannya. Bahkan, jika semuanya berjalan sesuai rencana, ia mungkin bisa membalikkan keadaan.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Ini bisa menjadi kesempatan emas bagiku. Bagaimanapun, aku harus datang.”