Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.
Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.
Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 21
Pukul tujuh lewat tiga puluh pagi, suara ketukan papan ketik sudah terdengar dari area ruang tengah.
Kinan membuka sebelah matanya dari balik selimut. Cahaya matahari pagi yang menembus tirai membuat matanya berkedip pelan. Ia memiringkan posisi tidur, menoleh ke arah meja di dekat jendela.
Arga sudah duduk di sana. Laptopnya terbuka, dengan kemeja putihnya yang tergulung rapi.
Kinan mengerjap beberapa kali, lalu memposisikan dirinya bersandar di kepala tempat tidur seraya menatap pria itu dengan bingung. "Kamu tidur enggak sih, Ga?"
Arga menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Tidur."
"Jam berapa?" tanya Kinan lagi, suaranya masih serak khas bangun tidur.
"Lewat tengah malam," balas Arga pendek, lalu menjeda ketikannya sesaat untuk melirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Bangun jam enam."
Kinan langsung menghela napas panjang mendengar jawaban itu. Ia menarik kembali selimutnya hingga menutupi seluruh kepala. "Saya enggak mau punya kehidupan kayak kamu," gumam suara Kinan yang teredam dari balik selimut.
Arga tidak membalas lagi ucapan itu. Ia kembali memfokuskan perhatian pada laporan bisnisnya. Di samping laptop, layar ponsel miliknya tetap berada dalam posisi tertelungkup, menghadap ke bawah sejak semalam.
Satu jam kemudian, Kinan sudah selesai mandi dan mulai merapikan barang-barang pribadinya. Saat memeriksa tas miliknya, jemarinya menyentuh sebuah amplop.
Dua lembar voucher yang sebelumnya diberikan Mama Mira sebelum mereka berangkat.
Kinan memperhatikan dua lembar kertas itu sejenak. Raffles Spa... Kapan lagi bisa menikmati tempat seperti ini tanpa mengeluarkan uang sendiri? Apalagi hari ini hari terakhir mereka di Singapura. Sayang kalau voucher dari Mama Mira dibiarkan begitu saja.
Dengan langkah santai, Kinan keluar dari kamar menuju ruang tengah. Arga masih berada di posisi yang sama, memegang cangkir kopi hitam yang tersisa separuh.
"Arga," panggil Kinan seraya berdiri tepat di samping meja.
"Hm?" Arga membalas tanpa menoleh, matanya masih sibuk memeriksa draf proposal ekspansi di layar.
Kinan memamerkan dua lembar voucher tersebut tepat di sudut pandang Arga. "Hari ini kita pakai voucher dari Mama Mira, yuk. Hari ini hari terakhir kan, sayang banget kalau dianggurin. Kapan lagi saya bisa nikmatin yang begini gratisan?"
Arga melirik kertas di tangan Kinan, lalu beralih memeriksa kalender digital di laptopnya.
"Evan sudah sampai Jakarta pagi tadi untuk ambil alih koordinasi tim," ujar Arga seraya menyandarkan punggungnya pada kursi. "Saya tidak bisa ikut. Jadwal saya cukup padat sampai sore, sebelum kita berangkat ke bandara."
Kinan mengerjap pelan saat memahami situasi itu. "Pantesan Evan enggak muncul semalam..." Ia lalu memiringkan kepala seraya memasukkan kembali voucher itu ke dalam tasnya. "Ya udah kalau gitu. Spa-nya kan di bawah. Nanti makan siangnya saya keluar sebentar. Saya pergi sendiri aja."
Arga mengangkat kepalanya, menatap Kinan dengan alis sedikit terangkat. "Sendiri?"
"Iya, kenapa?" sahut Kinan santai.
Arga diam sejenak, membayangkan kerumunan area Dempsey Hill dan fakta Kinan yang fokusnya mudah teralihkan.
"Jadwal saya padat hari ini," ujar Arga lugas seraya kembali menatap layarnya. "Saya tidak punya waktu mencari kamu kalau kamu mendadak nyasar lagi."
Kinan menyipitkan matanya, memutar bola mata pelan mendengar jawaban pria itu. "Iya, Pak CEO. Tenang saja, saya enggak akan menyusahkan jadwal berharga Anda."
Kinan lalu berbalik menuju kamar untuk bersiap-siap.
**
Lima menit pertama di ruang perawatan Raffles Spa yang terletak di area bawah hotel, Kinan masih berusaha mempertahankan posisi tubuh dengan sopan di depan therapist.
Namun sepuluh menit kemudian, semua formalitas itu entah ke mana.
Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan turun. Pijatan pada punggungnya mengurai ketegangan ototnya dengan pas, membuat Kinan menenggelamkan wajahnya di bantalan empuk dengan rasa rileks yang luar biasa nyaman.
Astaga... batin Kinan berteriak bahagia. Kalau begini caranya, pantesan orang-orang kaya pada betah. Nikmat banget...
Usai sesi spa di hotel, Kinan naik taksi menuju area Dempsey Hill untuk menggunakan voucher makan siangnya. Ia duduk di meja dekat jendela sebuah restoran bernuansa hijau rindang, menikmati hidangan dengan tenang.
Di sela suapan, ia melirik layar ponsel yang tergeletak di samping piringnya.
Ting.
Satu notifikasi pesan dari Arga masuk.
Arga: Sudah di restoran? Kirim lokasinya.
Kinan mengulas senyum tipis, membagikan tautan lokasi terkini lalu mengetik balasan.
Kinan: Sudah. Lagi makan. Tenang saja, saya enggak nyasar.
Arga: Bagus. Jangan terlambat kembali ke hotel.
Kinan: Siap, Pak CEO.
Di ruang kerja suite, Arga sempat melihat dua pesan Natasha yang masih belum dibalas. Tatapannya berhenti sepersekian detik sebelum ia membalik ponselnya kembali dan melanjutkan pekerjaannya.
Setelah makan siang selesai, Kinan tidak langsung pulang ke hotel. Ia menyusuri pertokoan di area Dempsey Hill dan toko suvenir dekat hotel untuk berburu oleh-oleh.
Ia membelikan kotak kayu berisi kumpulan teh herbal untuk Mama Mira sebagai ucapan terima kasih atas voucher spanya. Untuk Ayah Hendra, ia memilihkan cerutu berdesain klasik yang elegan. Tak lupa, Kinan juga memesankan camilan khas dan suvenir untuk Ibu Rina dan Ayah Juna di rumah.
Saat berdiri di depan etalase aksesori, mata Kinan tertuju pada sebuah sketchpad dengan pena khusus. "Nah, ini pas banget buat Danu," gumam Kinan seraya meminta staf toko membungkusnya.
**
Pukul empat sore, Kinan baru kembali ke hotel. Kamar sudah rapi, tas dan koper mereka sudah di dekat pintu keluar.
Arga baru saja mematikan laptopnya dan merapikan jam tangan saat mendengar pintu depan terbuka. Ia melangkah keluar dari ruang tengah dan mendapati Kinan berjalan masuk seraya membawa beberapa kantong belanja berlogo toko yang berbeda-beda.
"Kamu borong satu mal?" tanya Arga seraya melipat lengan kemejanya, matanya mengamati deretan kantong di tangan Kinan.
"Bukan borong, ini oleh-oleh," jawab Kinan santai seraya meletakkan kantong-kantong itu di atas meja dengan helaan napas lega. "Huft... Capek juga ya keliling sendirian."
Arga melangkah mendekat, matanya melirik satu per satu barang yang dikeluarkan Kinan. "Oleh-oleh untuk siapa saja?"
"Banyak," Kinan menunjukkan kotak kayu kemasan teh. "Ini buat Mama Mira, kalau yang ini buat Ayah Hendra."
Arga mengangguk pelan, sedikit terkesan dengan perhatian Kinan pada orang tuanya. "Lalu yang di kantong hijau itu?"
"Itu camilan buat Ibu sama Ayah saya," jawab Kinan riang. Ia kemudian merogoh kantong kertas paling kecil dan mengeluarkan bungkusan sketchpad. "Nah, kalau yang ini buat Danu."
Gerakan Arga yang hendak meraih ponsel terhenti sesaat. Alisnya terangkat. "Danu?"
"Iya, Danu. Kenapa?"
Arga tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Kinan sejenak, lalu mengambil jasnya dari sandaran kursi. "Tidak apa-apa. Bawa barang-barangmu, mobil jemputan sudah di bawah."
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil yang melaju menyusuri jalanan Singapura menuju Changi.
Kinan menyandarkan kepala pada jok sambil memperhatikan deretan bangunan kota yang melintas di luar jendela, sesekali melirik foto oleh-oleh di ponselnya. Arga duduk di sebelahnya, fokus memeriksa beberapa pesan pekerjaan.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Sampai akhirnya Arga memecah keheningan di antara mereka.
"Kamu masih nerima proyek dari luar negeri?" tanya Arga tiba-tiba, tanpa menoleh.
Kinan menoleh terkejut. "Masih. Kenapa?"
"Berapa banyak biasanya dalam sebulan?"
"Enggak tentu. Tergantung proyeknya cocok atau enggak," jelas Kinan jujur.
Arga mengangguk. Beberapa detik kemudian ia bertanya lagi. "Kamu suka?"
Kinan mengernyit pelan. "Suka sama apa?"
"Pekerjaanmu."
Kinan tersenyum kecil. "Ya, suka lah. Kan dari dulu saya memang suka menggambar."
Arga terdiam sejenak. Pandangannya tetap lurus menatap jalanan di depan.
"Kalau begitu, kenapa kamu menjalaninya seperti pekerjaan sampingan?"
Kinan terdiam. Pertanyaan itu membuatnya menoleh penuh ke arah Arga. "Maksud kamu?"
"Tidak ada," Arga kembali melihat ponselnya tanpa mengubah nada suara. "Saya cuma berpikir, kalau sesuatu memang kamu sukai, seharusnya kamu tidak takut melihat sejauh apa kamu bisa membawanya."
Kinan tidak langsung menjawab. Kata-kata Arga menggantung di antara suara deru mesin mobil yang melaju.
Arga lalu menambahkan, lebih singkat, "Kalau kamu suka, jangan berhenti."
Pandangan Kinan terpaku pada profil samping wajah Arga yang tenang, sebelum akhirnya kembali menatap deretan lampu jalanan yang mulai menyala satu per satu di luar jendela.