Johan Pranata, CEO tampan yang belum di karuniahi seorang anak dari pernikahannya yang sudah tujuh tahun. Keadaan sang istri yang tidak memungkinkan untuk mengandung karena penyakit yang di deritanya, membuat Johan harus mencari wanita yang mau mengandung benih anaknya.
Semua itu Johan lakukan hanya karena tuntutan sang Ibu. Karena dia harus melahirkan pewaris dari bisnis dan juga perusahaannya.
Lestari sang Ibu menemukan wanita yang tepat, yaitu Lilian. Karena perusahaan sang ayah mengalami kebangkrutan akhirnya Lilian mau menerima tawaran dari Lestari.
Lilian akhirnya menikah secara diam-diam dan tersembunyi dengan Johan. Tapi semenjak itu hidup Lilian menjadi susah, karena Johan banyak mengatur hidupnya.
Bertemu setiap hari dengan Johan membuat Lilian menaruh rasa kepadanya.Lalu, apakah Johan juga menaruh rasa terhadap Lilian? Atau dia tetap setia dengan istrinya? Simak ya😉😉😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risna afrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit
MARI BUDAYAKAN LIKE SEBELUM MEMBACA😊😊
JANGAN LUPA BERIKAN KOMENTAR YANG MEMBANGUN🙏🏻🙏🏻😊
❤HAPPY READING❤
Hari sudah menjelang petang, sinar matahari senja masuk ke dalam ruang rawat Lilian melalui celah tirai yang sedikit terbuka.
Lilian mengedarkan pandangannya, tidak ada siapa-siapa di ruang itu. Hanya ada dirinya dan juga selang infus yang terpasang rapi di tangannya.
"Apakah bayiku selamat?" tanya Lilian kepada dirinya sendiri, sambil membelai perutnya yang datar.
"Bagaimana jika dia sudah tidak ada? Apa yang harus aku lakukan? Akankah aku harus membayar semua hutang yang telah dibayarkan tante Lestari?" Pertanyaan itu muncul bergantian dari mulut Lilian, tapi dia juga belum tahu akan jawaban atas semua pertanyaannya.
Ingin sekali rasanya Lilian bangun dan berjalan untuk menghirup udara dari jendela. Tapi apalah dayanya, dia hanya bisa terbaring lemah dengan infus dan juga selang darah yang ada di tangannya.
Lilian mendengar ada suara hentakan kaki yang semakin mendekat ke arah ruangannya. Lilian memandangi pintu terus, tapi dia langsung memejamkan matanya saat gagang pintu terlihat bergerak ke bawah.
Krek..
Laki-laki bertubuh tegap itu masuk ke dalam ruang rawat Lilian. Dia berjalan mendekati Lilian dengan hati-hati karena takut akan membangunkan wanita itu.
Lilian masih memejamkan matanya, dia tidak mau membuka matanya sebelum mendengar dan memastikan siapa orang itu. Lilian merasakan ada sebuah tangan yang besar dan juga kekar memegang tangannya.
Dia membelai lembut punggung tangan Lilian, mengangkatnya kemudian ia tempelkan ke salah satu pipinya.
Lilian masih enggan untuk membuka matanya, dia memang masih penasaran siapa laki-laki itu. Tapi seketika rasa penasaran itu menghilang dan nama Johan terbersit di dalam pikirannya.
"Andai saja aku bisa menolongmu, aku akan melakukan apapun untukmu. Jika nyawaku kau mintapun akan aku berikan kepadamu dengan percuma." Lilian mendengarkan kata-kata manis itu dengan seksama, tapi dia berfikir suara itu memang sangat familiar di telinganya.
"Aku bingung siapa yang harus ku pilih, dirimu ataukah dirinya. Aku harus berbuat apa?" Suara laki-laki itu semakin sendu terdengar di telinga Lilian.
"Maafkan aku, hanya bisa mendoakanmu tanpa bisa melakukan banyak hal untukmu." Lilian ingin sekali mengintip, tapi niatnya terhenti saat ada suara seseorang yang masuk ke ruang rawatnya.
"Rudi," ucap Dani yang terkejut melihat Rudi sudah ada di sana.
"Lo di sini dari tadi?" tanya Dani kemudian.
"Enggak, aku juga baru saja datang," jawab Rudi.
Batin Lilian berkecamuk, dia pikir tadi yang memegang tangannya adalah Johan. Tapi ternyata dugaan Lilian salah, laki-laki itu adalah Rudi sahabat suaminya.
Tapi untuk apa Rudi mengatakan semua itu?Apa sebenarnya maksud dari perkataannya itu? Apakah dia menyukaiku? Tapi itu tidak mungkin. Semua pertanyaan itu muncul satu persatu di pikiran Lilian secara bergantian.
"Johan kemana?" tanya Dani yang tidak melihat sosok Johan di sana.
"Tadi aku sudah menelfonnya, dia masih dalam perjalanan kemari." Rudi menjawab tanpa memalingkan pandangannya dari wajah pucat Lilian sedikitpun.
"Jadi tidak ada orang sama sekali yang menemani Lilian di sini?" tanya Dani dengan wajahnya yang keheranan.
"Iya, aku juga tidak habis fikir kenapa mereka tega meninggalkan orang sakit sendirian seperti ini," sahut Rudi dengan wajahnya yang masih terlihat dingin.
Rudi sebenarnya ingin marah, tapi dia bingung dengan keadaan yang ada. Dia bukan siapa-siapa bagi Lilian, dan dia juga tidak punya hak untuk memarahi Johan. Yang bisa ia lakukan hanyalah menegur Johan sebagai seorang sahabat.
"Rud," panggil Dani.
"Apa? Lo hobi banget si manggil nama gue." Sindir Rudi dengan nada suaranya yang terdengar bercanda.
"Ya elah Rud, manggil nama aja ngak boleh. Pelit banget si lo," celetuk Dani.
"Eh itu Rud, bangun." Rudi masih belum bisa mengartikan ucapan Dani yang sangat tidak jelas itu.
"Apanya yang bangun? Burung lo bangun?" Jika saja sedang tidak di rumah sakit, Dani pasti akan mendaratkan tendangannya ke tulang kering Rudi.
"Lo sembarangan ya kalau ngomong, emang mulut lo ngak ada akhlak kaya mulut gue. Itu Lilian bangun, burung gue mah ngak pernah bangun kalau deketnya sama lo." Sia-sia Dani mengatakan kata-kata panjang lebar itu, karena Rudi sama sekali tidak mendengarkannya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rudi kepada Lilian dengan wajahnya yang terlihat panik.
"Iya," jawab Lilian lirih bahkan sangat lirih sampai tidak terdengar oleh telinga Dani.
"Kenapa dia ,Rud. Aku panggilkan dokter ya." Rudi langsung menendang sepatu Dani sebelum kakinya melangkah.
"Lo budek banget sih, Dan. Dia tidak apa-apa, emang ya itu telinga banyak dosa," ucap Rudi dengan geram.
"Ko lo tahu si Rud, kalau telinga gue banyak dosanya?" Rudi ingin sekali memberikan pukulan terbaiknya di wajah Dani, tapi sayangnya Rudi masih bisa menahan rasa inginnya itu.
"Dani, lo bisa ngak sih diem aja ngak usah bawel kaya nyai rempong." Dani sudah membuat Rudi kehabisan kesabarannya.
Lilian hanya bisa tersenyum melihat kelakuan kedua sahabar suaminya itu. Perut Lilian sampai terasa kaku menahan tawa yang ingin ia keluarkan tapi ia lebih memilih untuk menahannya.
"Ah." Pekik Lilian sambil memegang perutnya.
Rudi dan Dani yang sedari tadi berdebat, langsung menghentikan perdebatan mereka. Wajah Rudi langsung terlihat begitu tegang melihat wajah Lilian yang kesakitan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rudi dan Dani bersamaan.
"Ah." Hanya suara itu yang keluar dari mulut Lilian, dia tidak bisa menjawab pertanyaan kedua laki-laki ini karena menahan sakit di perutnya.
"Dan, panggil dokter." Rudi memerintahkan Dani tanpa melihat ke arahnya sama sekali.
Dani dengan sigap langsung meraih tombol nurse call. Karena tidak tahan melihat wajah kesakitan Lilian, Dani sampai memencet tombol itu sampai berkali-kali.
"Mana Rud dokternya, ngak datang-datang si, apa aku pencet lagi aja tombolnya?" ucap Dani dengan wajahnya yang merasa tidak berdosa.
"Ya ampun Dani, gue menyesal punya sahabat **** kaya lo. Iya tunggu dulu lah, emang lo sedang manggil super hero yang sekali teriak langsung datang? Kan enggak Dan, yang lo panggil itu dokter dan dia kesini itu jalan kaki bukan baik jet pribadi." Rudi terlihat semakin kesal karena wajah Dani yang sama sekali tidak merasa bersalah.
"Ah, aduh." Suara Lilian menghentikan berdebatan mereka yang tidak ada manfaatnya tersebut.
Rudi langsung beralih kepada Lilian yang terus merintih kesakitan. Wajah Lilian terlihat sangat pucat, bukan hanya wajahnya tapi seluruh tubuhnya.
"Pegang tangan aku, remaslah sekuat yang kamu mampu untuk mengurangi rasa sakitmu." Mendengar kata-kata itu Lilian langsung meraih telapak tangan Rudi yang sudah ada di dekat tangannya.
Dani hanya bisa menggigit bibir bawahnya membayangkan rasa sakit itu. Rasa sakit di hatinya tidak sepadan dengan rasa sakit yang Lilian rasakan sekarang. Kata itulah yang membuat Dani bisa bersikap biasa meskipun hatinya merasa cemburu melihat kedekatan Rudi dengan Lilian.
Dalam keadaan tegang itu, tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam ruang rawat itu dan memecahkan ketegangan diantara mereka.