Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Gelang Emas Peninggalan Masa Lalu
Malam itu, Arsen mengantar Aluna dan Nenek Ratih pulang setelah seharian berada di kantor polisi. Kejadian penembakan masih membekas di benak mereka. Aluna terus terdiam selama perjalanan, sementara Ratih sesekali memandang ke luar jendela dengan wajah penuh kekhawatiran.
Sesampainya di rumah, Arsen berkata, "Mulai malam ini, rumah ini akan dijaga selama dua puluh empat jam. Orang-orangku akan bergantian berjaga, tetapi mereka tidak akan mengganggu aktivitas kalian."
Ratih mengangguk penuh rasa syukur.
"Terima kasih, Nak Arsen."
"Keselamatan Aluna dan Nenek lebih penting daripada apa pun."
Aluna menatap Arsen.
"Maaf... karena Bapak terus terlibat dalam masalahku."
Arsen tersenyum hangat.
"Jangan pernah meminta maaf untuk sesuatu yang bukan kesalahanmu."
Jawaban itu membuat hati Aluna terasa sedikit lebih tenang.
Setelah Arsen dan Rangga pulang, Ratih masuk ke kamarnya. Ia membuka lemari kayu tua, lalu mengeluarkan kotak besi yang beberapa hari lalu hampir direbut Victor.
Perlahan ia mengambil sebuah bungkusan kain putih yang tersimpan di bagian paling bawah.
"Luna, kemarilah."
Aluna duduk di samping Ratih.
Ratih membuka kain itu dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat sebuah gelang emas kecil dengan ukiran bunga lily yang sangat indah.
"Ini..." bisik Aluna.
"Ini gelang yang dulu dikenakan di tanganmu saat Nenek menerimamu."
Aluna memegang gelang itu dengan tangan gemetar.
"Kenapa Nenek tidak pernah menunjukkannya?"
"Nenek takut. Kalau sampai orang lain melihatnya, mereka akan lebih mudah menemukanmu."
Air mata mulai memenuhi mata Aluna.
Ia tidak pernah menyangka masih ada peninggalan dari masa kecilnya.
Ratih lalu menyerahkan sebuah kain kecil berwarna biru.
"Ini juga milikmu."
Di sudut kain itu terdapat sulaman huruf A berwarna emas.
Aluna mengusap kain itu perlahan.
"Apakah huruf A itu nama Aluna?"
Ratih menggeleng.
"Nenek tidak tahu. Saat itu, wanita yang menitipkanmu tidak sempat menjelaskan."
Keesokan paginya, Arsen kembali datang.
Ratih menunjukkan gelang emas tersebut kepadanya.
Begitu melihat lambang bunga lily, Arsen langsung teringat pada lambang keluarga Prasetya yang pernah dilihatnya dalam dokumen lama.
"Rangga."
"Ya, Pak."
"Foto gelang ini. Lalu cocokkan dengan arsip keluarga Prasetya."
"Baik."
Beberapa jam kemudian, Rangga kembali dengan wajah serius.
"Pak..."
"Bagaimana?"
"Hasilnya sama."
"Maksudmu?"
"Lambang bunga lily pada gelang ini identik dengan lambang keluarga Prasetya."
Arsen terdiam.
Semakin banyak bukti yang mengarah pada satu kesimpulan.
Namun, ia masih membutuhkan bukti terakhir sebelum mengatakan semuanya kepada Aluna.
Di rumah keluarga Prasetya, Damar menerima telepon dari seseorang yang tidak dikenal.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Damar dingin.
Suara di seberang terdengar pelan.
"Kalau ingin bertemu putrimu, hentikan penyelidikan."
Wajah Damar langsung berubah.
"Siapa kamu?"
Namun sambungan telepon sudah terputus.
Damar mengepalkan tangannya.
Ia yakin orang itu adalah Victor.
Untuk pertama kalinya setelah delapan belas tahun, Damar benar-benar percaya bahwa putrinya masih hidup.
Sementara itu, Victor tersenyum puas setelah menutup telepon.
"Biarkan mereka saling mengejar."
Ia lalu memandang sebuah brankas besi di sudut ruangan.
Di dalam brankas itu tersimpan dokumen asli yang sebelumnya ia katakan telah dibakar.
Ternyata ia hanya membakar salinannya.
Victor membuka salah satu lembar dokumen dan tersenyum licik.
"Selama bukti ini ada di tanganku, aku yang menentukan kapan identitas Aluna akan terungkap."
Tanpa disadari siapa pun, permainan Victor baru saja dimulai.
Ia tidak hanya ingin menghancurkan Aluna, tetapi juga berniat menghancurkan seluruh keluarga Prasetya dengan rahasia yang telah disimpannya selama delapan belas tahun.