Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21
Tanggal delapan Juli, Kiana kembali ke Vila Lim tanpa memberi tahu siapa pun selain Mama.
Hendro sedang ke Surabaya dengan alasan meninjau cabang distributor. Alasan itu terdengar sangat rapi, terlalu rapi untuk orang yang baru saja kehilangan kendali di meja makan. Justru karena itu, Mama Lily memilih hari tersebut untuk membuka semua yang selama ini ia simpan.
Bi Lan menunggu Kiana di pintu samping.
"Nyonya ada di ruang kerja kecil," bisiknya. "Pak Hendro berangkat subuh. Sopir bilang pulang lusa."
Kiana mengangguk. "Pintu depan?"
"Saya minta satpam bilang Ibu tidak menerima tamu."
Untuk pertama kalinya, Bi Lan terdengar seperti bagian dari operasi rahasia keluarga.
Ruang kerja kecil Mama berada di sisi belakang Vila Lim, menghadap kolam ikan dan pohon kamboja. Dulu ruangan itu dipakai Lily untuk menyimpan buku resep, album foto, dan dokumen rumah tangga. Hari ini, meja kayunya penuh map bank, printout mutasi rekening, laporan Pengacara Tjen, dan sticky note berwarna lembut yang ditulis dengan tangan Mama.
Kiana berhenti di ambang pintu.
Lily Lim duduk di tengah semua kertas itu dengan wajah pucat. Rambutnya disanggul rapi seperti biasa, tetapi matanya tidak lagi lembut tanpa arah. Matanya membaca angka seperti orang membaca surat pengkhianatan.
"Kia," panggilnya. "Tutup pintunya."
Kiana menutup pintu dan duduk di samping Mama.
Di meja, ada tiga bundel utama.
Rekening operasional keluarga.
Rekening investasi pribadi Hendro.
Transfer luar negeri.
"Mama mulai dari tiga tahun terakhir," kata Lily. Suaranya tenang, tetapi telunjuknya menekan halaman pertama cukup keras sampai kertas sedikit melengkung. "Awalnya kecil. Februari 2024, Rp 850 juta ke PT Gading Prima Konsultan. Keterangan: investasi properti."
Kiana mengambil halaman itu. "Perusahaan ini bergerak apa?"
"Di akta, konsultan manajemen. Di alamat kantor, ruko kosong di Tangerang. Pengacara Tjen sudah kirim orang."
Kiana menandai nama perusahaan itu.
Lily membuka halaman berikutnya. "Juni 2024, Rp 1,2 miliar ke PT Pelita Raya Mandiri. Keterangan: pengembangan gudang. Agustus, Rp 900 juta. Desember, Rp 2,5 miliar."
"Pemilik manfaat?"
"Tertutup. Tapi rekening penerima lanjutannya mengarah ke satu nama."
Kiana sudah tahu jawabannya, tetapi tetap menunggu Mama mengatakannya.
Lily menelan ludah.
"Kiara Pai."
Nama itu jatuh di meja seperti noda tinta.
Kiana menarik napas pelan. Ia pernah melihat jejak Kiara di laporan sebelumnya, tetapi melihat Mama sendiri menyusun pola itu membuat rasa marahnya berubah bentuk. Bukan lagi api yang melompat. Ini api yang sudah masuk ke dinding rumah.
"Total yang sudah jelas?"
"Dari jalur yang mudah dibaca saja, Rp 37,8 miliar." Mama menatap angka itu seperti menatap luka sendiri. "Kalau termasuk rekening yang belum dibuka Pengacara Tjen, bisa lebih."
Bi Lan masuk membawa teh krisan, lalu berhenti melihat meja penuh kertas.
"Nyonya..."
"Taruh saja, Bi Lan." Lily mengangkat wajah. "Dan kalau ada telepon dari Pak Hendro, bilang Mama sedang tidur."
Bi Lan menatap Kiana sebentar, lalu mengangguk. "Baik, Nyonya."
Setelah pintu tertutup lagi, Kiana mengambil spidol merah dan mulai membuat bagan di kertas kosong.
Hendro Lim ke PT Gading Prima Konsultan.
PT Gading ke rekening luar negeri Singapura.
Dari Singapura ke Kiara Pai.
Hendro Lim ke PT Pelita Raya Mandiri.
Pelita Raya ke rekening Hong Kong.
Hong Kong ke Kiara Pai.
Pola itu terlalu rapi untuk kebetulan. Nominalnya berbeda, tanggalnya tersebar, keterangannya berganti, tetapi jalurnya kembali ke titik yang sama.
"Dia bukan sekadar memberi uang," kata Kiana. "Dia sedang memindahkan aset keluarga secara bertahap. Kalau nanti ada gugatan atau pembagian, uang ini sudah jauh dari rekening utama."
Wajah Lily semakin pucat. "Jadi selama ini..."
"Mama, jangan selesaikan kalimat itu sendirian." Kiana menyentuh tangan Mama. "Kita selesaikan dengan bukti."
Mereka bekerja hampir dua jam.
Kiana memisahkan transfer berdasarkan perusahaan, tanggal, dan bank perantara. Lily membaca keterangan transaksi satu per satu. Sesekali suaranya bergetar, tetapi ia tidak berhenti. Setiap kali tangannya mulai gemetar, Kiana menggeser cangkir teh lebih dekat.
Lalu mereka menemukan satu baris yang berbeda.
Tanggal dua belas Maret 2026.
Rp 8,6 miliar.
Penerima awal: PT Lautan Artha Sejahtera.
Lokasi registrasi: Batam.
Kiana membuka lampiran akta perusahaan. Halaman itu hanya berisi beberapa nama, tetapi satu nama langsung menarik matanya.
Pemegang saham minoritas: Vanya Pai.
Ruangan terasa lebih sempit.
Lily menatap nama itu lama sekali. "Vanya?"
"Saham minoritas lima belas persen." Kiana membaca cepat. "Direktur tercatat orang lain, tapi Vanya punya hak dividen. Ini bukan anak titipan biasa, Ma. Papa bukan hanya melindungi dia. Papa sedang menaruh uang di struktur yang memberi dia manfaat langsung."
Tangan Lily menutup mulutnya.
Untuk beberapa detik, perempuan itu tidak menangis. Justru ketiadaan air mata membuat Kiana lebih sakit melihatnya. Ada saat ketika rasa sakit terlalu dalam untuk keluar lewat mata.
"Aku membiarkan dia tinggal di rumah kita," bisik Lily. "Aku menyuruh Bi Lan menyiapkan kamarnya. Aku..."
"Mama tidak salah karena pernah baik." Kiana memotong pelan. "Orang yang salah adalah mereka yang memakai kebaikan Mama untuk mencuri."
Lily menurunkan tangan. Matanya merah, tetapi kali ini ia mengangguk.
"Kita salin semua," katanya. "Satu set untuk Pengacara Tjen, satu set untuk Mama, satu set untuk kamu."
Kiana menatap Mama, lalu tersenyum kecil. "Mama cepat belajar."
"Mama terlambat belajar." Lily merapikan halaman akta Batam. "Tapi bukan berarti tidak bisa."
Saat mereka memasukkan dokumen ke map baru, Lily tiba-tiba berhenti.
"Kia," katanya pelan. "Kamu masih ingat Hansen?"
Kiana mengangkat kepala. "Hansen?"
Nama itu asing, tetapi ada sesuatu yang bergerak di ingatannya. Hujan. Lokasi pencarian pesawat. Seorang pria paruh baya yang berdiri seperti orang kehilangan dunia, memaksa tim penyelamat terus mencari Mama meski semua orang sudah menunduk.
"Om Hansen?" Kiana mencoba.
Mata Lily berubah.
Hanya sebentar. Sangat sebentar. Tetapi kelembutan yang lewat di sana bukan kelembutan seorang teman lama. Itu jenis kelembutan yang disimpan terlalu lama sampai menjadi rahasia.
"Nanti saja." Lily menutup map lebih cepat. "Mama harus memastikan sesuatu dulu."
"Memastikan apa?"
Lily menggeleng. "Jangan sekarang, Kia. Ada hal yang kalau dikatakan terlalu cepat, bisa melukai orang yang belum siap."
Kiana tidak memaksa.
Setelah semua dokumen diamankan, ia pulang ke apartemen dengan tiga scan terenkripsi di laptop dan satu nama baru yang menggantung di kepalanya.
Hansen.
Di lift apartemen, ponselnya bergetar.
Vani: Kia, info dari orangku. Jovian mulai nyuruh orang cari background Hans.
Kiana langsung berhenti bersandar pada dinding lift.
Kiana: Dapat apa?
Vani: Sejauh ini cuma pemadam kebakaran Pos Damkar Tanjung Priok. Tapi Jovian nggak percaya. Katanya wajah Hans terlalu mirip Erlan Kei.
Kiana menatap layar beberapa detik.
Jovian tidak percaya. Itu berarti masalah baru.
Ia membuka chat Hans.
Kiana: Jovian menyuruh orang menyelidiki kamu. Hati-hati.
Balasan datang cepat.
Hans: Biarkan dia cari.
Kiana: Kamu yakin?
Hans: Dia tidak akan menemukan yang tidak diizinkan ditemukan.
Kiana membaca kalimat itu sekali.
Dua kali.
Lalu punggungnya perlahan bersandar lagi ke dinding lift.
Di hari yang sama, Papa ternyata mencuri dari Mama, Vanya punya saham di perusahaan Batam, Jovian mulai menggali Hans, dan Hans menjawab seolah dunia luar hanya hujan kecil di kaca.
Namun justru ketenangan itu membuat pertanyaan lain semakin keras.
Hansen siapa?