NovelToon NovelToon
Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.

Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."

Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:

*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*

Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.

Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.

*Setiap. Kata.*

Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."

Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.

Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.

Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.

Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Anak Baru

Aku tidak tahu kenapa suasana meja makan tiba-tiba terasa sangat berbahaya.

Yang kutahu, setelah sarapan itu selesai, aku kabur dengan alasan memeriksa Boba.

Di belakangku, suara kursi Reynard bergerak pelan.

"Anto."

"Siap, Tuan Muda."

"Menurutmu, kapan dia akan mengerti?"

Ada jeda panjang.

Sangat panjang.

Lalu Anto menjawab dengan suara paling hati-hati di dunia. "Saya yakin Nyonya Muda memiliki proses berpikir sendiri."

Aku hampir tersandung di koridor.

Apa maksudnya proses berpikir sendiri?

[Terjemahan: Anto ingin tetap hidup.]

Si Kepo, jangan ikut campur.

Tiga hari berikutnya, Reynard tidak membahas topik itu lagi. Ia hanya menatapku beberapa kali dengan ekspresi seolah sedang menunggu matahari terbit dari arah yang benar.

Aku memilih sibuk.

Pada hari kedua puluh tiga, Herman menelepon. Suaranya terdengar kaku, seperti orang yang ingin meminta maaf tapi tersangkut ego keluarga.

"Keira, kalau ada waktu, pulanglah sebentar ke Pondok Indah. Papa ingin bicara."

Reynard menutup laptop ketika aku menyebut Pondok Indah.

"Aku antar."

"Tidak perlu. Ini rumah keluargaku."

"Justru."

Satu kata itu cukup membuatku diam.

Kami tiba di rumah Liem menjelang siang. Pondok Indah terasa rapi, mahal, dan dingin. Monica tidak terlihat. Celine juga tidak. Anehnya, rumah itu malah terasa lebih menyedihkan tanpa suara mereka.

Di ruang keluarga, aku menemukan Albert.

Ia duduk di sudut meja makan dengan seragam sekolah masih rapi, membuka buku matematika setebal bata. Di depannya hanya ada segelas air putih dan piring kecil berisi roti kering.

"Albert?"

Anak itu mengangkat kepala.

Matanya langsung cerah, tapi ia menahannya dengan cepat. "Ci Kei."

Ci Kei.

Panggilan itu kecil, hati-hati, seperti takut terlalu senang.

"Kamu sudah makan?"

"Sudah."

[Kebohongan terdeteksi.]

Aku menatap piring roti itu.

Reynard yang berdiri di belakangku juga melihatnya. Wajahnya tidak berubah, tapi udara di ruangan turun dua derajat.

"Mana yang lain?" tanyaku.

"Mama pergi arisan. Celine ke salon. Papa ke kantor."

"Dan kamu?"

Albert menunduk. "Saya belajar."

Di meja, ada rapor dan beberapa sertifikat lomba. Matematika nasional. Olimpiade sains. Bahasa Inggris. Semua nilainya hampir sempurna.

Tidak ada yang dipajang di ruang tamu.

Tidak ada yang diberi bingkai.

Semua ditumpuk seperti kertas tagihan.

Di atas salah satu sertifikat bahkan ada noda kopi kecil.

Aku mengambilnya pelan. Nama Albert tertulis jelas sebagai juara pertama tingkat provinsi. Hadiahnya mungkin tidak sebesar kontrak Wijaya Group, tapi bagi anak seusianya itu bukti bahwa ia pernah berjuang sendirian dan menang.

"Kenapa tidak disimpan di kamar?"

Albert tersenyum canggung. "Kamar saya sempit. Lagipula Celine bilang benda seperti itu membuat rumah terlihat seperti sekolah."

Aku menatapnya.

Ia cepat menunduk. "Tidak apa-apa, Ci Kei."

Aku mulai membenci kalimat itu.

Dada kecilku terasa sakit.

"Ikut aku," kataku.

Albert berkedip. "Ke mana?"

"Makan."

"Tapi Mama bilang saya tidak boleh keluar kalau belum selesai latihan."

"Monica tidak ada."

"Tapi..."

Reynard berkata datar, "Aku yang bertanggung jawab."

Albert langsung berdiri.

Anak pintar memang tahu siapa predator puncak di ruangan.

Kami membawa Albert ke restoran sederhana dekat Pondok Indah Mall. Bukan tempat mewah, hanya restoran ayam dan sup yang ramai keluarga. Albert duduk tegak, memegang menu seolah sedang membaca dokumen negara.

"Pilih yang kamu suka," kataku.

"Apa saja boleh?"

"Apa saja."

Ia menatap harga dulu.

Aku melihat itu dan tiba-tiba ingin melempar seluruh kartu operasional rumah ke kepala Monica.

Albert akhirnya memilih paket paling murah.

Aku memesan tiga menu tambahan.

"Ci Kei, itu terlalu banyak."

"Kamu sedang tumbuh."

"Saya tidak setinggi itu."

"Makan dulu, baru debat."

Reynard menatapku dari seberang meja. Di matanya ada sesuatu yang lembut, tapi ia tidak berkata apa-apa.

Tidak lama kemudian, seorang anak laki-laki datang membawa tas sekolah usang. Kulitnya lebih gelap, tubuhnya kurus, tapi matanya tajam.

"Al, kau benar-benar keluar?"

Albert tampak panik. "Rizky."

Anak itu berhenti ketika melihatku dan Reynard.

"Maaf, saya tidak tahu ada keluarga."

"Kamu temannya Albert?" tanyaku.

"Rizky Pratama." Ia menunduk sopan. "Saya satu sekolah dengan Albert."

[Pemindaian.]

[Rizky Pratama: siswa beasiswa, sangat cerdas, ayah sakit, ibu penjahit.]

[Status: teman sejati Albert.]

Aku langsung menarik kursi. "Duduk. Makan."

Rizky melirik Albert.

Albert berbisik, "Ci Kei baik."

Rizky duduk dengan hati-hati.

Selama makan, dua anak itu mulai bicara tentang soal matematika, kompetisi robotik, dan guru yang menurut mereka salah menghitung rumus. Aku mengerti sekitar tiga persen. Reynard mengerti semuanya, tentu saja, karena pria itu mungkin lahir sambil membaca laporan keuangan.

Yang membuatku makin sakit adalah cara Albert berubah saat bersama Rizky. Bahunya tidak lagi menekuk, matanya hidup, suaranya lebih cepat. Ia menjelaskan rancangan robot kecil mereka dengan tangan bergerak penuh semangat.

"Sensor garisnya sering salah baca kalau lantai terlalu mengilap," kata Albert.

Rizky menambahkan, "Kami mau pakai casing bekas printer, tapi belum dapat motor yang cocok."

"Kalian membuat itu dari barang bekas?" tanyaku.

Albert tersipu. "Lebih murah."

[Catatan: kemampuan teknis jauh di atas usia rata-rata.]

Aku menatap dua anak itu dan tiba-tiba melihat kemungkinan yang tidak pernah diberi ruang oleh orang dewasa di rumah Liem.

"Kalian ikut lomba robotik bulan depan?" tanya Reynard.

Albert menunduk. "Tidak jadi. Biaya pendaftaran belum dibayar."

"Sekolah tidak membantu?"

Rizky menjawab pelan, "Kami harus cari sponsor."

Albert cepat menambahkan, "Tidak apa-apa. Saya bisa ikut tahun depan."

Tidak apa-apa.

Kalimat paling sering dipakai anak yang terlalu cepat belajar kecewa.

Aku membuka ponsel. "Kirim detail lombanya ke aku."

Albert membeku. "Ci Kei?"

"Aku bantu."

"Jangan sampai Mama tahu."

"Kalau Monica bertanya, bilang aku yang memaksa."

Reynard mengangkat mata. "Dan kalau perlu, bilang aku yang menyetujui."

Rizky menatapnya seperti baru melihat superhero berjas.

Setelah makan, kami mengantar Rizky ke halte ojek online. Sebelum pergi, ia membungkuk lagi.

"Terima kasih, Ci Keira. Pak Reynard."

Albert berjalan di sampingku lebih pelan dari biasanya. Saat mobil kami hampir sampai rumah Liem, ia tiba-tiba menarik ujung lengan bajuku.

"Ci Kei."

"Ya?"

Wajahnya pucat, tapi matanya serius.

"Ada sesuatu... Monica setiap bulan memindahkan uang besar dari rekening Papa ke seorang pria bernama Tony."

Jantungku berhenti setengah detik.

[Nama baru terdeteksi: Tony.]

[Risiko keluarga Liem meningkat.]

Albert menelan ludah.

"Aku punya buktinya."

1
Dian Utami
karakter kaira lemah
aku
beuh monica blm jera itu 😌
aku
asik bgt naomi ini keren
aku
bab ini bikin pandangan mertua berasa jd intel ngintai bandar narkoba 😌🤣
aku
tor misal kalo kata batin bisalah di tambah tanda kutip huruf cetak miring biar tahu readernya 🙏
aku
catatan yg membagongkan ya 😌😌
Gustinur Arofah
ceritanya sangat bagus, kata katanya rapih tapi sayank ko blm ada yg baca. 💪💪💪💪
Retno Isma
baru baca nyampe bab 4. tapi sejauh ini bagus novelnya. pemilihan katanya pinter bgt kakk author. ga terlalu kaku tapi ga terlalu santai juga.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih
Retno Isma
🌷🌷🌷🌷
Retno Isma
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!