NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Tiga minggu berlalu semenjak SK penempatan itu keluar, dan waktu rasanya melesat secepat peluru yang lepas dari larasnya.

Di dalam kamar utama rumah dinas nomor 08, sebuah koper berukuran dua puluh empat inci tergeletak terbuka di atas kasur. Cia mondar-mandir dari lemari ke koper, melipat kaus katun, celana berbahan drill, hingga memasukkan beberapa perlengkapan medis pribadinya dengan gerakan cepat dan sedikit panik.

Mayor Ren Adhyaksa berdiri bersandar di ambang pintu kamar, kedua tangannya terlipat santai di depan dada. Pria itu sudah bisa menggerakkan bahu kanannya dengan jauh lebih luwes, meski gerakan mengangkat beban berat masih sangat dibatasi. Mata elangnya tak lepas mengikuti pergerakan istrinya yang tak bisa diam.

"Kamu membawa terlalu banyak baju hangat, Almeera. Merauke itu wilayah pesisir dengan cuaca tropis yang cukup terik. Bawa kaus yang mudah menyerap keringat," komentar Ren tenang.

Cia menghentikan gerakannya, menatap koper yang sudah setengah penuh. "Iya juga, ya. Tapi kan kalau malam siapa tahu dingin, Mas. Angin laut."

Gadis itu mendesah pelan, lalu duduk di tepi kasur. Ia meraih ponselnya yang sedang diisi daya di nakas. Ada banyak hal administratif yang harus ia bereskan sebelum terbang besok pagi.

Dengan lincah, jari Cia menari di layar ponsel. Ia memastikan status kepesertaan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan miliknya tetap aktif, karena hal itu adalah syarat mutlak untuk administrasi program internsip dari kementerian. Setelah itu, ia membuka aplikasi mobile banking wondr by BNI, mengecek mutasi rekening tabungan BNI Taplus miliknya. Ia tersenyum lega melihat dana darurat dan uang sakunya sudah disiapkan dengan aman.

Terakhir, Cia membuka dompet digitalnya.

"Mas," Cia mendongak menatap suaminya. "Aku barusan beli token listrik PLN Perusahaan Listrik Negara pakai ShopeePay untuk rumah ini, ya. Kuotanya sengaja aku isi banyak biar cukup buat sebulan ke depan. Kamu itu kalau udah sibuk di ruang instruktur pasti lupa isi token sampai meterannya bunyi nyaring. Jangan sampai kamu harus mandi gelap-gelapan subuh-subuh."

Ren mengulas senyum tipis, melangkah mendekati kasur, lalu duduk di sebelah Cia. "Saya seorang Mayor, Cia. Saya pernah bertahan hidup di hutan tanpa listrik berbulan-bulan. Mandi dalam kegelapan di kamar mandi asrama bukan masalah besar."

"Itu beda!" Cia merengut, mencubit pelan lengan kiri Ren. "Di sini kamu di rumah, bukan di medan perang. Harus hidup teratur. Makannya juga jangan sering-sering makan di kantin barak, sesekali masak kek. Sayur mayur, ayam, ikan."

"Siap, dr. Cia," Ren menurut dengan patuh, nada suaranya berubah rendah dan menggoda. Tangan kirinya bergerak merangkul pinggang Cia, menarik gadis itu agar bersandar padanya. "Ada instruksi lain sebelum Panglima kecil saya berangkat menguasai perbatasan timur?"

Cia menyandarkan kepalanya di dada bidang Ren, mendengarkan detak jantung suaminya yang selalu stabil. "Instruksi terakhir... jangan kangen sama aku sampai bikin kamu nggak fokus kerja."

Ren menempelkan keningnya ke puncak kepala Cia, menghirup aroma sabun stroberi itu dalam-dalam. "Itu perintah yang paling sulit untuk dilaksanakan."

Bandara Internasional pagi itu dipenuhi hiruk-pikuk manusia. Suara pemberitahuan jadwal penerbangan menggema di setiap sudut.

Ren mengantar Cia hingga ke depan gerbang keberangkatan domestik. Karena ini adalah hari kerja, Ren mengenakan seragam Pakaian Dinas Harian (PDH) warna hijaunya secara penuh. Penampilannya yang luar biasa tegap, ditambah pangkat melati di pundaknya, membuat beberapa penumpang lain mencuri pandang dengan kagum. Namun fokus pria itu hanya tertuju pada satu orang.

Cia mengenakan kemeja santai, celana jeans, dan sepatu kets. Tas punggung bertengger di pundaknya, dan tangan kirinya menggenggam dog tag milik Ren yang tersembunyi di balik kemejanya.

"Waktunya masuk," ucap Ren pelan saat melihat jam di pergelangan tangannya. Pukul 07.15 pagi.

Cia menunduk, mendadak kakinya terasa seberat beton. "Mas..."

Ren mengambil satu langkah maju. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitar mereka, sang Mayor menarik Cia ke dalam pelukannya. Dekapan itu sangat erat, menyalurkan rasa hangat dan perlindungan mutlak yang hanya bisa diberikan oleh seorang Ren Adhyaksa.

"Dengar," bisik Ren di telinga istrinya. "Medan tugasmu mungkin keras, tapi kamu jauh lebih keras kepala dari apa pun yang ada di sana. Lakukan tugasmu dengan baik. Jangan menyerah. Dan ingat..."

Ren melepaskan pelukannya, menangkup wajah Cia, dan menatap lurus ke dalam manik mata gadis itu.

"...kembalilah dengan selamat. Saya menunggumu di rumah."

Air mata Cia menetes. Ia mengangguk mantap, menahan isakannya, dan tersenyum. "Aku berangkat, Mayor Ren. Jaga dirimu."

Cia berbalik, menarik kopernya, dan melangkah masuk ke dalam gerbang keberangkatan. Setiap kali ia merasa ragu, ia meremas kalung besi di dadanya, dan langkahnya kembali mantap.

Satu Bulan Kemudian - Puskesmas DTP Merauke, Papua Selatan.

Suhu udara menunjukkan angka 32 derajat Celcius saat matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Tanah merah yang mengelilingi bangunan Puskesmas berdebu setiap kali ada kendaraan yang lewat.

Cia keluar dari ruang poli umum sambil meregangkan punggungnya yang terasa kaku. Jas putihnya sedikit kusut dan terdapat noda betadine di ujung lengannya. Ia baru saja selesai menjahit luka robek seorang petani lokal yang terkena parang saat bekerja di ladang.

"Gila, panas banget hari ini," keluh dr. Rian, rekan sesama dokter internsip yang duduk di kursi panjang teras Puskesmas sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan map pendaftaran. "Dokter Cia, pasien poli udah habis?"

"Sudah, Dok. Tinggal nunggu observasi pasien dehidrasi di ruang rawat inap sementara," Cia ikut duduk di sebelah Rian, membuka botol air mineralnya dan meneguknya hingga setengah.

Kehidupan di Merauke seratus delapan puluh derajat berbeda dengan kehidupannya di kota besar atau asrama militer. Fasilitas medis di sini sangat terbatas. Sering kali, Cia harus memutar otak mencari diagnosis tanpa bantuan laboratorium canggih atau rontgen yang memadai. Belum lagi budaya masyarakat lokal yang unik, di mana pendekatan persuasif sering kali lebih penting daripada obat resep itu sendiri.

Namun, Cia menyukainya. Ia merasa benar-benar menjadi seorang dokter yang sesungguhnya di sini.

"Eh, Ci. Nanti malam jadi mau video call sama 'Bapak Negara'?" goda Rian sambil tersenyum usil. Seluruh staf Puskesmas sudah tahu bahwa Cia adalah istri seorang Mayor tentara, karena kedisiplinan dan gaya bicara Cia yang kadang tanpa sadar meniru ketegasan suaminya.

"Jadi, dong," wajah Cia langsung berseri-seri. Kelelahannya seolah menguap begitu saja. "Asal sinyal di mes nggak ngadat lagi kayak minggu lalu."

Malam harinya, di kamar mes yang sederhana, Cia mengatur posisi laptopnya di atas meja kayu. Ia menyalakan ring light kecil berdaya baterai, lalu membuka aplikasi Zoom Video Communications, Inc. yang sudah menjadi andalan komunikasi virtual mereka. Entah mengapa, di wilayah dengan koneksi bandwidth rendah, aplikasi ini jauh lebih stabil menahan delay gambar dibandingkan panggilan video biasa.

Ia mengklik tautan ruang pertemuan yang sudah ia buat.

Tak lama, layar berkedip, dan wajah yang sangat ia rindukan muncul di sana.

Ren tampak sedang duduk di meja kerja ruang kerjanya di pusat pendidikan. Pria itu masih mengenakan seragam PDH, tampak sedikit lelah namun matanya langsung berbinar saat melihat wajah Cia di layar.

"Selamat malam, Dokter," sapa Ren, suara baritonnya yang serak terdengar sedikit pecah melalui speaker laptop, namun tetap berhasil membuat jantung Cia berdebar.

"Malam, Mayor," senyum Cia melebar hingga matanya menyipit. "Baru beres ngajar taktik tempur?"

"Hanya briefing evaluasi kelas. Bagaimana harimu di sana? Pasien ramai?"

Cia mulai bercerita dengan antusias, tangannya bergerak-gerak ekspresif di depan kamera. Ia menceritakan tentang pasien parangnya, tentang anak kecil lokal yang ia beri permen agar mau disuntik imunisasi, hingga keluhannya soal cuaca panas.

Ren mendengarkan dalam diam, sudut bibirnya terus melengkung tipis. Mata elangnya tak lepas menatap layar, merekam setiap detail wajah istrinya.

"Oh ya, bahumu gimana, Mas? Fisioterapinya lancar, kan? Jangan bandel lho, angkat yang berat-berat," ancam Cia di sela ceritanya, telunjuknya menunjuk garang ke arah kamera.

Di seberang sana, Ren sedikit memundurkan posisinya. Tiba-tiba, pria itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, hingga melampaui kepalanya, lalu memutarnya perlahan. Gerakan yang sebulan lalu mustahil ia lakukan tanpa meringis kesakitan.

"Lancar, Panglima. Ototnya sudah hampir tersambung sempurna. Dokter spesialis di pangkalan bilang, dalam dua bulan saya sudah bisa pull-up lagi," jawab Ren tenang.

Cia menahan napas, matanya berkaca-kaca karena bangga dan lega. "Syukurlah. Jangan dipaksa ya, Mas. Pelan-pelan aja."

"Saya tahu," Ren mencondongkan wajahnya mendekat ke kamera, hingga Cia bisa melihat helaian rambut cepaknya dengan jelas. Tatapan pria itu berubah menjadi sangat dalam dan intens. "Karena tangan kanan ini harus sudah sepenuhnya kuat untuk menggendongmu saat kamu pulang nanti. Sesuai janjiku."

Wajah Cia seketika memerah layaknya tomat rebus. Bahkan dari jarak ribuan kilometer, melalui layar resolusi rendah, Mayor Ren Adhyaksa tetap memiliki kendali mutlak atas detak jantungnya.

Malam itu, di bawah langit Papua yang berbintang dan udara dingin asrama militer, dua dunia mereka kembali bersinggungan lewat layar empat belas inci, menghitung mundur waktu hingga takdir mengizinkan mereka berada di bawah atap yang sama lagi.

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!