Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Ketegangan
Ditengah makan malam keluarga yang penuh kehangatan, terdengar suara bariton seorang lelaki membuat semua orang mengangkat kepala memandang ke arah pintu utama.
Langkah kaki yang mantap semakin mendekat, diikuti sosok pria paruh baya berpostur tegap dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya. Kehadirannya seketika menarik perhatian seluruh penghuni ruangan, membuat percakapan yang semula ramai perlahan mereda.
Rafael yang duduk di kursinya mengangkat pandangan, sementara Kanaya ikut menoleh dengan rasa penasaran. Wajah Opa Theo sedikit menegang, seolah sudah mengenali pemilik suara itu bahkan sebelum sosoknya benar-benar terlihat.
"Sepertinya, kedatanganku malam ini cukup tepat waktu." ucap pria itu dengan suara tegas namun penuh penekanan.
Pria itu berjalan dengan langkah tegap menuju ruang makan. Setiap pijakannya terdengar mantap, memancarkan wibawa yang sulit diabaikan. Wajahnya tampak tegas dengan garis rahang yang kokoh, sementara sorot matanya yang tajam menyapu ruangan, menghadirkan aura penuh intimidasi hingga membuat percakapan yang semula ramai perlahan mereda. Kehadirannya seolah menguasai suasana, membuat siapa pun yang melihatnya tanpa sadar menegakkan punggung dan mengalihkan perhatian kepadanya.
"Kebetulan Kakak datang, ayo.. gabung sekalian. Maaf, kami kira Kakak masih berada di luar kota. Jadi kami tidak mengabarimu lebih dahulu." Maureen mencoba mencairkan suasana.
Ia berdiri, menarik kursi dan mengajak Kakak keduanya itu untuk duduk disana.
Dia adalah Darius Dirgantara, putra kedua keluarga Theodore Dirgantara, adik dari Darren Dirgantara sekaligus kakak kedua Maureen Dirgantara. Berbeda dengan saudara-saudaranya, Darius memilih hidup terpisah dari kediaman utama keluarga. Perbedaan pandangan yang tak pernah menemukan titik temu dengan sang ayah membuatnya memutuskan menetap di rumah yang dibelinya sendiri.
"Tidak usah repot-repot Ren, aku cuma mampir sebentar saja. Dan ternyata sedang kumpul semua disini." balasnya, lalu melirik ke arah Rafael dan Kanaya.
"Wah.. Ternyata ada anggota baru di ruangan ini." lirihnya menatap Kanaya, "Hai, Kanaya. Senang bisa bertemu denganmu malam ini." lanjutnya.
Kanaya hanya tersenyum canggung, "Iya Om.." lirihnya.
Kanaya tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Selama mengenal keluarga Dirgantara dan beberapa kali berkunjung ke rumah besar itu, baru kali ini ia melihat sosok Darius secara langsung.
Nama lelaki itu memang sering terdengar dalam obrolan keluarga, tetapi sosoknya nyaris seperti bayangan yang sulit ditemui. Darius lebih sering menghabiskan waktunya di kediamannya sendiri dan hanya sesekali datang ketika ada urusan penting atau acara keluarga yang tak bisa dihindari.
Tak heran, saat pria itu melangkah masuk ke ruang makan dengan aura tenang namun berwibawa, Kanaya sempat terpaku beberapa detik. Tatapan matanya mengikuti setiap langkah Darius yang tampak begitu percaya diri. Dari kejauhan saja, lelaki itu memancarkan kesan dingin dan sulit didekati, membuat Kanaya tanpa sadar mengalihkan pandangannya begitu mata mereka nyaris bertemu.
Darius mengalihkan pandangannya ke arah Rafael yang sejak tadi memilih diam. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sulit diartikan—bukan senyum hangat, melainkan senyum yang menyimpan banyak makna.
Ia menarik kursi tanpa terburu-buru, lalu bersandar sebelum membuka suara.
"Jarang sekali aku melihat meja makan ini seramai sekarang."
Semua orang masih diam.
Tatapan Darius tetap tertuju pada Rafael. "Ternyata waktu memang bisa mengubah banyak hal. Bahkan rumah yang dulu terasa kosong kini kembali dipenuhi keluarga."
Kalimat itu terdengar biasa, tetapi nada suaranya membuat udara di ruangan seakan menegang.
Rafael tetap memegang sendoknya tanpa menoleh.
Darius melanjutkan dengan suara tenang, "Setiap kali pulang ke sini, aku selalu teringat Kak Darren dan Kakak ipar. Rasanya baru kemarin mereka masih duduk di tempat itu."
Ia mengarahkan pandangannya ke kursi yang kini kosong.
"Hidup memang tidak adil. Dalam satu malam, sebuah kecelakaan bisa merenggut dua orang sekaligus dan mengubah hidup seluruh keluarga."
Ucapan itu membuat suasana ruang makan berubah sunyi. Kanaya yang duduk di samping Rafael dapat merasakan jemari Rafael perlahan mengepal di bawah meja, sementara Opa Theo menatap Darius dengan sorot mata yang mengeras.
"Cukup.. Darius !!" sentak Opa Theo. Namun tak membuat Darius takut.
Ia kembali terkekeh, "Apa Papa lupa ? Andai saja dia tidak kekeh menyuruh Kak Darren dan Sintya untuk menonton acaranya yang tidak penting di sekolah. Mereka tidak akan mengalami kecelakaan yang membuatnya kehilangan nyawa mereka."
Semua orang yang berada di situ melebarkan matanya saat mendengar ucapan Darius, begitu pun Kanaya yang sontak menoleh menatap Rafael yang kini semakin mengeratkan kepalan tangannya itu dengan sorot mata yang sulit di artikan. Antara marah dan rasa bersalah yang sangat besar disana.
"CUKUP !!!"
Seru Opa Theo, beliau berdiri menatap tajam Darius lalu melirik sebentar cucunya. Ia sangat tahu, Rafael sangat sensitif jika ada seseorang yang mengungkit kejadian itu lagi.
"Kalau kau datang kerumah ini hanya untuk mengacaukan suasana, lebih baik pergi saja dari rumah ini." katanya tegas.
Darius kembali terkekeh, "Terus saja Papa membela anak ini, dan menutup mata atas kejadian yang sudah menimpa anak Papa sendiri."
Merasa tak tahan lagi mendengar semua yang akan di ucapkan oleh Darius, Rafael berdiri dan berjalan pergi meninggalkan ruang makan tanpa berpamitan.
Melihat Rafael yang buru-buru pergi, Kanaya pun ikut berdiri. Dan sebelum menyusul Rafael, ia lebih dulu berpamitan pada Opa Theo.
"Maaf Opa, Kanaya pergi dulu. Mau menyusul Kak Rafael." lirih Kanaya.
Opa Theo mengangguk pelan, "Susul dia, Opa titip Rafael padamu Kanaya."
Kanaya mengangguk, lalu berjalan cepat menyusul Rafael yang kini sudah tak terlihat lagi.
* *
Opa Theo memejamkan mata sejenak, berusaha meredam amarah yang mulai menguasai dirinya. Saat kembali membuka mata, tatapannya mengarah lurus pada Darius dengan sorot yang tajam dan penuh wibawa.
"Maureen," ucapnya tenang, tetapi tak memberi ruang untuk dibantah. "Bawa Keisya keluar dari ruang makan."
Maureen yang sejak tadi hanya bisa diam langsung mengangguk. Ia berdiri, lalu menggenggam tangan Keisya dengan lembut.
"Ayo, Sayang."
Keisya sempat menoleh ke arah Opa Theo, lalu pada Darius dan Rafael yang masih duduk dalam keheningan mencekam. Meski rasa penasaran memenuhi benaknya, ia memilih menurut. Bersama Maureen, ia melangkah meninggalkan ruang makan hingga pintu tertutup perlahan di belakang mereka.
Kini hanya tersisa Opa Theo, Arya, dan Darius.
Suasana berubah semakin sunyi. Denting sendok yang tadi terdengar kini menghilang, berganti dengan keheningan yang terasa menyesakkan.
Opa Theo menumpukan kedua telapak tangannya di atas meja, lalu berkata dengan suara berat namun terkendali.
"Apa yang baru saja kamu ucapkan sudah melewati batas, Darius."
Tatapan Darius tak bergeser sedikit pun, tetapi senyum tipis di sudut bibirnya perlahan memudar, menyadari bahwa kali ini ia benar-benar telah memancing kemarahan kepala keluarga Dirgantara.
"Selama ini, kamu selalu menyudutkan Rafael seolah-olah kecelakaan itu adalah sebuah kesalahannya. Padahal dia juga tidak tahu apa-apa, semua itu sudah takdir dari Tuhan."
"Jadi stop menyudutkannya lagi, diamnya dia selama bertahun-tahun sudah menjadi pukulan yang sangat berat buatnya atas kepergian orang tuanya. Jangan menambah lagi bebannya dengan omonganmu itu yang tidak penting."
Arya yang duduk di samping Opa Theo, dengan perlahan mengusap pelan pundak mertuanya. "Sudah Pa, jangan terlalu terbawa emosi. Tidak baik untuk kesehatan Papa." lirihnya. "Lebih baik aku antar Papa ke kamar sekarang,"
Opa Theo memijit pelipisnya, lalu mengangguk pelan. Sebelum beranjak ia menatap Darius sekali lagi. "Jangan pernah kembali kerumah ini lagi, kalau hanya ingin membuat masalah dan menambah semuanya menjadi kacau !" katanya, lalu berjalan meninggalkan Darius yang masih terduduk disana.
* *
Kanaya mempercepat langkahnya, hampir berlari kecil menyusul Rafael yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Napasnya sedikit memburu saat tiba di samping pintu, lalu tanpa banyak bicara ia segera membuka pintu dan masuk ke kursi penumpang duduk di samping Rafael.
Rafael hanya melirik sekilas ke arahnya, wajahnya tetap datar seperti biasa. Ia memberikan komando pada Pak Santo untuk menjalankan mobilnya.
"Jalan, Pak!"
Mobil melaju perlahan meninggalkan kediaman Dirgantara. Lampu-lampu taman yang berjajar di sepanjang halaman mulai memudar, berganti dengan pemandangan jalan yang diterangi cahaya lampu kota.
Rafael menyandarkan tubuhnya di kursi belakang. Tatapannya lurus ke arah jendela, tetapi pikirannya jauh melayang pada ucapan Darius di ruang makan beberapa menit yang lalu.
"Andai saja dia tidak kekeh menyuruh Kak Darren dan Sintya untuk menonton acaranya yang tidak penting di sekolah. Mereka tidak akan mengalami kecelakaan yang membuatnya kehilangan nyawa mereka."
Kalimat itu terus berputar di kepalanya, seolah enggan pergi. Rasa bersalah yang selama ini berhasil ia tekan perlahan kembali merayap, memenuhi dadanya hingga terasa sesak.
Tanpa sadar, kedua telapak tangannya mengepal erat di atas paha.
Kanaya yang duduk di samping Rafael melihat perubahan itu dengan jelas.
Ia melirik tangan Rafael, lalu menatap wajah lelaki itu yang masih memandang keluar jendela dengan sorot mata kosong.
Kanaya terdiam beberapa saat sebelum sebuah ide muncul di benaknya.
Ia sedikit memajukan tubuhnya.
"Pak Santo," panggilnya lembut.
"Ya, Nona?"
"Boleh tolong tepikan mobil sebentar?"
Pak Santo melihat pantulan wajah Kanaya melalui kaca spion, lalu mengangguk tanpa banyak bertanya.
"Baik, Nona."
Beberapa meter kemudian, mobil perlahan menepi di sisi jalan yang cukup sepi. Mesin masih menyala, sementara suasana di dalam mobil dipenuhi keheningan.
Rafael akhirnya mengalihkan pandangan.
"Kenapa berhenti?"
Kanaya tidak langsung menjawab. Ia justru membuka pintu mobil dan turun lebih dulu.
Rafael mengernyit bingung.
Kanaya berjalan beberapa langkah menuju trotoar, lalu berbalik sambil menyunggingkan senyum kecil.
"Ayo turun sebentar."
Rafael menatapnya beberapa detik, masih tidak mengerti maksud gadis itu. Namun melihat sorot mata Kanaya yang penuh ketulusan, perlahan ia menghela napas dan membuka pintu mobil, mengikuti langkahnya.
* * * *
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣