NovelToon NovelToon
Dipungut Dan Sembuh

Dipungut Dan Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Keluarga / Pernikahan Kilat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gugurnya Sebuah Harapan

Keesokan paginya, mentari Bojonegoro baru saja merangkak naik ketika deru sepeda motor Veri terdengar berhenti di pelataran rumah. Kebetulan, Rani yang berada di ruang depan langsung bergegas membuka pintu dan menyambut kedatangan pria itu, sementara Rana sendiri masih sibuk menyelesaikan cucian dan menjemur pakaian di halaman belakang.

Begitu helai pakaian terakhir selesai diletakkan di atas tali jemuran, Rana mengelap tangannya yang basah pada selembar kain, lalu berjalan melangkah masuk ke dalam rumah melalui pintu samping. Namun, baru beberapa langkah melewati sekat ruang tengah, Rana seketika menghentikan pergerakannya.

Langkah kakinya mendadak terpaku di atas lantai keramik yang dingin kala telinganya menangkap sayup-sayup suara tawa renyah Rani yang bersahut-sahutan dengan suara bariton Veri di ruang tamu.

"Sejak kapan mereka bisa sedekat dan seakrab ini?" batin Rana dengan kerutan samar di keningnya.

Dada gadis itu berdenyut aneh, ada rasa asing yang mendadak menyergap hatinya.

Rana hanya berdiri mematung di balik tirai pembatas, mendengarkan untaian candaan ringan mengalir di antara keduanya. Rani terdengar begitu manja, jauh berbeda dari sikap ketus dan dingin yang selalu ditunjukkannya pada Rana selama ini. Rana terus terdiam di sana sampai sebuah tepukan keras di bahunya dari arah belakang mengejutkannya hingga hampir terlonjak.

"Mau sampai kapan kamu cuma berdiri dan diam saja di situ?" ketus Bu Retno dengan wajah ditekuk.

"Orangnya sudah menjemput dari tadi, kamu malah melamun seperti orang linglung."

"Maaf, Bu," lirih Rana, buru-buru menggeser tubuh kurusnya yang sempat menghalangi jalan Bu Retno menuju ruang depan.

Rana menarik napas dalam-dalam, mencoba menata kembali ekspresi wajahnya sebelum akhirnya berjalan melangkah menuju ruang tamu. Di sana, ia mendapati Veri dan Rani duduk di kursi rotan yang saling berhadapan.

"Mas Veri, maaf ya membuatmu menunggu lama. Tolong tunggu sebentar lagi, aku mau bersiap-siap dulu ke kamar," kata Rana dengan nada suara selembut mungkin.

Veri mengalihkan pandangannya dari Rani, lalu menganggukkan kepalanya dengan seulas senyuman ramah yang biasa ia tunjukkan.

"Iya, Rana, santai saja. Tidak usah buru-buru."

Setelah menjawab, Veri langsung kembali melanjutkan obrolan dan candaannya dengan Rani yang sempat terputus. Sementara itu, Rani sama sekali tidak menunjukkan raut wajah bersalah atau canggung kepada kakaknya. Remaja perempuan itu bersikap seolah-olah apa yang dilakukannya; dekat dengan pria yang selama ini dekat dengan kakaknya adalah sebuah hal yang biasa saja dan sah-sah saja dilakukan.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Rana menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Ia melangkah menuju cermin rias yang kusam, melepaskan hijab kaos harian yang dipakainya, lalu menggantinya dengan sebuah hijab segi empat berwarna moka yang lebih rapi.

Jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Rana sebenarnya memang sudah lama mempersiapkan diri dan mentalnya untuk skenario terburuk; jika memang pada akhirnya Veri lebih memilih Rani, ia akan mundur dan merelakannya karena itu berarti mereka memang tidak berjodoh.

Namun, ketika harus menghadapi dan melihat kedekatan nyata itu secara langsung di depan matanya sendiri, Rana tetap tidak bisa membohongi nuraninya. Rasa rendah diri yang akut kembali merayap, membisikkan kata-kata bahwa dirinya memang selalu menjadi pilihan kedua setelah Rani dalam hal apa pun di keluarga ini.

Setelah memantapkan hatinya yang sempat goyah, Rana mengembuskan napas panjang dan keluar dari kamar. Mereka berdua kemudian berpamitan seadanya dengan Bu Retno dan Rani sebelum akhirnya melaju meninggalkan pelataran rumah, membelah jalanan kecamatan dengan mengendarai sepeda motor milik Veri.

Selama perjalanan melintasi jalanan aspal yang mulai terik, Veri menjadi pihak yang lebih banyak bercerita, mulai dari urusan pesanan banner di percetakannya hingga dinamika tetangga sekitar. Sementara itu, Rana lebih banyak memilih mode pasif; ia hanya mengiyakan sesekali atau sekadar mendengarkan rentetan cerita itu tanpa suara, membiarkan angin jalanan menyapu sisa-sisa kegundahan di hati dan kepalanya.

Satu jam perjalanan berlalu, mereka akhirnya sampai di sebuah swalayan modern yang baru saja diresmikan di pusat kota Bojonegoro. Bangunan ber-AC itu tampak ramai oleh pengunjung lokal. Mereka melangkah masuk dan mulai melihat-lihat jajaran pakaian di dalam area toko.

Rana yang memang sudah lama tidak membeli baju baru karena uang gajinya selalu habis tersedot untuk kiriman rumah, akhirnya memutuskan untuk membeli beberapa potong baju tunik kain dan celana longgar yang sekiranya sopan untuk ia pakai di acara saat kembali ke site nanti. Tak hanya memikirkan dirinya sendiri, dengan ketulusan yang tersisa, Rana juga menyempatkan diri memilih beberapa helai daster batik bertekstur dingin untuk ibunya, serta dua kemeja kekinian dengan potongan modis untuk Rani.

Saat tiba di depan meja kasir, Veri dengan sigap mengeluarkan dompetnya, menolak guratan tangan Rana yang hendak merogoh tas kecilnya, dan tak segan langsung membayar seluruh total tagihan belanjaan gadis itu.

"Terima kasih banyak, Mas," kata Rana tulus setelah mereka selesai merapikan kantong belanjaan dan berjalan keluar menuju area parkiran.

Veri menoleh, mengulas senyum lebar sembari menepuk pelan pundak Rana.

"Sama-sama, Rana. Kamu ini seperti dengan siapa saja. Jangan sungkan begitu, seperti aku ini orang asing saja."

Rana hanya bisa tersenyum tipis, menyimpan rasa hangat itu dalam-dalam. Veri kemudian kembali melajukan sepeda motornya, membawa mereka berdua menuju ke arah Alun-Alun Kota Bojonegoro.

Begitu motor berhenti di tepi pembatas jalan, Rana sempat terpaku menatap sekeliling dengan rasa takjub yang nyata. Ia merasa pangling; ia hanya tidak pulang ke kampung halaman selama satu tahun lebih, namun perubahan tata kota sudah bisa membuatnya merasa asing di tanah kelahirannya sendiri.

Alun-alun kota yang dulunya terkenal sepi, gersang, dan remang-remang jika malam tiba, kini telah bersulap menjadi area publik yang sangat ramai dengan pengunjung karena sudah dibangun fasilitas bermain anak serta hamparan rumput hijau yang tertata estetis. Bahkan di sepanjang koridor trotoar, jajaran pedagang kaki lima ditata dengan sangat rapi, menjajakan berbagai macam makanan dan penganan ringan.

Veri meminta Rana untuk mencari tempat duduk yang teduh di bawah pohon terlebih dahulu, sementara dirinya pergi berjalan menuju deretan pedagang kaki lima. Beberapa menit kemudian, Veri kembali dengan membawa dua piring batagor hangat di kedua tangannya, diikuti oleh seorang pedagang yang membawakan dua mangkuk es campur buah segar dengan siraman susu kental manis.

"Ayo dimakan, Rana. Selagi masih hangat batagornya," ajak Veri hangat, meletakkan piring itu di atas bangku taman.

"Apa ini batagor dari gerobak langganan yang biasanya di dekat perempatan itu, Mas?" tanya Rana sebelum mulai menyuap.

"Bukan, ini pedagang baru. Tapi yang ini rasanya dijamin tidak akan kalah enak. Gerobak langganan yang lama itu sekarang sudah gulung tikar dan tidak jualan lagi sejak awal tahun kemarin," jelas Veri yang segera menyuapkan sepotong batagor bersaus kacang pekat itu ke dalam mulutnya.

Rana mengangguk paham, mengikuti gerakan Veri dan mulai menikmati hidangan siang itu dalam diam. Perlahan, keheningan mulai merayap di antara mereka setelah dua piring batagor itu tandas tanpa sisa. Hanya ada suara riuh rendah anak-anak yang berlarian di atas rumput alun-alun.

Rana yang sejak tadi sibuk bergelut dengan badai pikiran dan kecemasan di dalam hatinya, akhirnya memutuskan untuk membuka suara lebih dulu. Ia mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya, bersiap dengan segala lapang dada untuk menerima apa pun hasil atau jawaban yang keluar dari bibir pria di sebelahnya ini.

"Mas..." panggil Rana lirih.

"Iya, Rana? Ada apa?" sahut Veri tanpa menoleh, jemarinya masih sibuk mengetikkan sesuatu di atas layar ponsel pintarnya.

"Apakah... apakah hubungan kita yang berjalan tanpa arah ini, ada harapan untuk bisa lanjut ke jenjang pelaminan?"

Pertanyaan Rana yang teramat sarat akan keseriusan itu seketika menghentikan total gerakan jemari Veri di atas ponselnya. Layar ponsel itu meredup, seiring dengan pandangan mata Veri yang kini beralih sepenuhnya, berbalik menatap langsung ke dalam sepasang manik mata Rana yang jernih dan menuntut kepastian.

"Kenapa... kenapa kamu mendadak bertanya seberat itu, Rana?" tanya Veri kembali, suaranya terdengar goyah, seolah-olah ia tidak percaya dengan keberanian gadis pendiam di depannya ini.

Rana meremas jemarinya sendiri di ujung kaosnya, mencoba menjaga suaranya tetap sedatar dan sesantai mungkin meskipun detak jantungnya berpacu gila-gilaan.

"Hubungan kita selama ini tidak pernah ada status kejelasan yang pasti, Mas, makanya aku memberanikan diri untuk bertanya hari ini. Jika memang Mas Veri bersedia dan serius denganku, aku siap untuk keluar dari pekerjaanku di Kalimantan setelah cuti ini selesai. Kita bisa bersama-sama mengembangkan usaha percetakan di sini."

Veri terdiam lama. Ia mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat berat dari rongga dadanya. Laki-laki itu kemudian memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah cakrawala kejauhan seolah sedang menerawang sesuatu yang semu di masa depan.

"Menikah belum menjadi prioritas utamaku saat ini, Rana," ucap Veri akhirnya dengan nada suara yang melandai.

"Kamu tahu sendiri, aku baru merintis usaha percetakan selama setahun terakhir dan kondisinya masih belum stabil. Perputaran modalnya masih sering tersendat. Mungkin... setidaknya butuh waktu dua atau tiga tahun lagi bagiku untuk bisa benar-benar berdiri dengan mapan secara finansial."

Dada Rana rasanya seperti dihantam godam tak kasat mata.

"Apa... apa Mas memintaku untuk menunggumu selama itu tanpa kepastian?"

"Tidak, Rana. Aku sama sekali tidak memintamu atau menuntutmu untuk menungguku," jawab Veri cepat, nadanya terdengar tegas namun dingin di telinga Rana.

"Jika memang di luar sana kamu bertemu dengan seseorang yang kamu sukai atau ada pria lain yang berniat baik melamarmu, kamu bebas untuk menjalin hubungan dengan siapa saja. Aku... aku tidak sedang mengikatmu dalam komitmen apa pun."

Rana seketika menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha mati-matian menahan bendungan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya agar tidak jatuh di depan pria itu. Ia sebenarnya sudah menduga dan menebak jawaban realistis ini dari Veri sejak melihat interaksinya dengan Rani tadi pagi.

Namun, ketika kalimat penolakan halus itu diucapkan secara langsung dan gamblang dari bibir Veri sendiri, rasa kecewa dan hampa itu tetap saja terasa teramat menyakitkan dan menghancurkan sisa harapannya.

Lalu, apa sebenarnya yang aku harapkan selama ini? Kebodohan macam apa yang kupikirkan sampai mengira pria ini bisa menjadi pintu keluar dari perjodohan Ibu? batin Rana meratapi nasibnya yang kian terpojok.

"Rana..." panggil Veri pelan, rasa bersalah mulai tersirat di wajahnya melihat gadis di depannya hanya diam membisu dengan bahu yang sedikit bergetar.

"Kamu tidak apa-apa? Maafkan aku jika kalimatku menyinggungmu."

Rana perlahan mendongakkan kepalanya kembali. Dengan sisa-sisa harga diri yang ia miliki, ia memaksakan bibirnya menarik seulas senyuman yang paling manis dan tampak tegar di mata Veri.

"Aku tidak apa-apa, Mas. Aku bertanya begitu hanya karena merasa capek bekerja di Kalimantan. Makanya aku berpikir, kalau seandainya kita menikah, aku jadi punya alasan yang logis untuk mengajukan resign." Veri mengerutkan keningnya heran.

"Bukankah selama ini kamu selalu bilang menyukai pekerjaanmu di bagian administrasi solar itu? Kenapa sekarang tiba-tiba mengatakan capek?"

Rana tersenyum getir, sebuah senyuman penuh rahasia yang tidak akan pernah dipahami oleh Veri. Bagaimana aku tidak capek, Mas, jika hasil keringat dan air mataku menahan tekanan di sana hanya dijadikan sebagai sapi perah oleh Ibu dan Rani di sini?

Namun, kalimat sarkas itu hanya mampu tertahan di pangkal tenggorokannya. Rana memilih menggeleng kecil.

"Sepertinya aku hanya butuh suasana baru dan ingin ganti pekerjaan saja, Mas."

"Ya sudah, terserah kamu saja kalau begitu. Apapun pilihannya, aku yakin kamu pasti mampu melakukannya karena dari dulu otakmu itu jauh lebih encer dibandingkan denganku," puji Veri mencoba mencairkan atmosfer yang sempat membeku.

Rana hanya mengangguk pelan mengamini kalimat itu.

"Oh iya, Mas. Bicara tentang suasana baru, aku perlu membeli laptop baru untuk menunjang pekerjaan atau training nanti. Apakah aku bisa meminta kembali modal uang yang sebelumnya sempat kupinjamkan untukmu beberapa bulan lalu?" tanya Rana, dengan sengaja mengalihkan topik pembicaraan ke arah finansial sebelum segalanya terlambat.

Raut wajah Veri seketika berubah agak sungkan. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Kalau untuk sekarang uang tunainya sedang tidak ada di tangan, Rana. Cash flow percetakan benar-benar kosong karena terpakai untuk beli bahan baku borongan kemarin. Kemungkinan besar baru ada bulan depan, karena pembayaran dari pelanggan besar baru dilakukan setelah pesanan partai mereka dikirimkan."

"Oh, oke. Tidak apa-apa, Mas. Nanti kalau uangnya sudah ada, Mas langsung kirimkan saja ke nomor rekeningku. Aku masih bisa menahan kalau hanya menunggu sebulan lagi," jawab Rana berusaha maklum, meski hatinya kian merasa hampa.

"Kalau kamu terburu-buru, kamu bisa membawa dan memakai laptop milikku dulu," tawar Veri mencoba memberikan solusi alternatif.

Rana menggelengkan kepalanya menolak dengan halus.

"Tidak usah, Mas. Kamu juga memerlukan laptop itu untuk urusan pembukuan dan desain harianmu di percetakan. Aku tidak mau karena aku, pekerjaanmu malah jadi keteteran. Laptopku masih bisa digunakan asal tidak dipakai sampai terlalu panas. Masih aman kalau hanya untuk mengetik."

Veri akhirnya menganggukkan kepalanya tanda setuju, tampak lega karena Rana tidak menuntutnya untuk mengembalikan uang modal tersebut hari ini juga.

Sisa hari itu mereka habiskan dengan terus berkendara mengelilingi sudut-sudut Kota Bojonegoro, mengunjungi kembali tempat-tempat kenangan mereka yang kini sebagian besar telah mengalami perubahan wujud yang drastis.

Meski lubuk hati Rana dirundung rasa kecewa yang teramat mendalam karena seluruh rencana pelariannya dari perjodohan sepihak ibunya telah hancur total, ia sama sekali tidak memperlihatkan gurat kesedihan itu di wajahnya.

Sepanjang sisa sore hingga malam menjelang, Rana mengerahkan seluruh kemampuan aktingnya, membawa dirinya terlihat biasa-biasa saja dan seolah-olah sangat menikmati agenda jalan-jalan mereka, menyembunyikan fakta bahwa dirinya kini benar-benar telah kehabisan pilihan jalan keluar di atas tanah Jawa.

1
indy
jadi ikutan mbrebes mili
indy
wah nggantung nih...
Meymei: hihihi
total 1 replies
Meymei
siap😍
indy
kasihan rana, semoga berhasil kabur
indy
makin penasaran, lanjut kakak
indy
Semangat Rana, jangan lupa makan yang baik agar kuat dan sehat
Meymei
sabar kak, msh perlu proses 🤭
indy
owalah, ternyata Rana ikut memodali usaha Veri. Rana terima saja lamaran Pradika agar bisa segera keluar dari keluarga toksik
indy
semoga mereka benar berjodoh
indy
Alhamdulillah Rana selamat, tinggal tunggu action selanjutnya dari mas Pradika
indy
jangan sampai sapo yang datang dan mengajak rana duluan
Meymei: pantau terus kak 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!