Kisah seorang istri yang selalu direndahkan dan dimanfaatkan oleh keluarga suami nya hanya karena dia bukan berasal dari keluarga terpandang yang kaya.....Nasibnya begitu miris bahkan selalu dibandingkan dengan istri adik suaminya sendiri yang dianggap dari keluarga terhormat oleh sang mertua.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Ratna
***
Tania merasa ada sesuatu yang suami nya sembunyi kan dari nya.
Namun, dia tidak berani bertanya, takut menyinggung perasaan suaminya.
"Sayang, Mas berangkat ya!" Tania mencium tangan suaminya takzim dan tersenyum lembut menatap suaminya.
"Hati-hati ya Mas,"
Melihat senyum tulus istrinya, Raka semakin merasa bersalah pada istrinya, entah apa Tania masih mau memaafkan dirinya kalau tau apa yang sudah ia lakukan bersama Bella.
Walaupun Raka merasa itu semua bukan keinginan nya, melainkan karena dijebak. Tapi, dia tetap merasa bersalah karena menemui Bella tanpa sepengetahuan istrinya.
"Mas, kok diam? Kamu lagi mikirin apa sih?" Tanya Tania heran.
"Maaf sayang, Mas hanya sedang kepikiran masalah di pabrik," Raka mencoba tersenyum, berharap istrinya tidak curiga.
"Ya udah, kalau gitu Mas berangkat dulu ya!" Setelah pamit, Raka segera berangkat ke pabrik.
Setelah Raka pergi, Tania kembali menarik pintu dan menutup nya dengan rapat.
Tring
Ponsel Tania berbunyi, senyum nya terukir begitu melihat nama yang tertera di layar handphonenya.
>>"Iya Ratna."
>>"Tan, aku udah didepan rumah kamu, rumah kamu yang pagar nya warna hitam kan? Ada pohon Mangga didepan? Ya, kalau ini beneran rumah kamu, soalnya aku cuma ngikutin sesuai alamat yang kamu kasih." Tanya Ratna masih ragu-ragu, soalnya dia belum pernah sama sekali datang kerumah Tania.
>>"Kamu beneran udah didepan Na?Kok cepat banget, katanya tadi baru mau jalan. Ya udah tunggu bentar ya, aku keluar dulu." Ucap Tania tidak menyangka Ratna secepat itu sudah sampai kedepan rumahnya.
Tania bergegas keluar menemui sahabatnya.
"Tania....Aku disini." Tania menoleh, ternyata Ratna datang bersama suaminya, Ratna menggandeng tangan suaminya mendekat kearah Tania.
"Tan, kenalin, ini Mas Rendra, suami aku." Tania tersenyum ramah, dan menjabat tangan Rendra.
"Saya Tania, sahabat nya Ratna, makasih ya udah mau anterin Ratna kesini. Oh ya, ayo masuk dulu." Ajak Tania sembari menarik gerbang lebih lebar.
"Sayang banget ya, tadi Mas Raka udah keluar duluan, karena ada sedikit kerjaan dipabrik, jadi kalian nggak bisa ketemu deh," Sesal Tania, dia tadi juga lupa ngasih tau suaminya kalau Ratna bakalan datang kerumah mereka.
"Santai aja, kan masih ada lain waktu. Lagian aku udah tau dimana rumah kamu, pasti nanti aku bakalan sering datang ke sini. Itupun kalau kamu tidak keberatan sih." Ratna menarik turun alis nya.
"Ya nggak lah, malahan aku senang, kalau bisa sih tiap hari kamu datang kesini, biar kita bisa ngobrol banyak tiap hari," Balas Tania terkekeh,
"Kalian duduk dulu ya, aku mau bikinin minum dulu. Oh ya, mau aku bikinin apa? Teh, kopi, atau jus." Tanya Tania
"Mm, aku jus aja deh kalau ada, Kalau Mas Rendra kopi sih. Boleh kan kalau kami ngelunjak jadi tamu?" Tanya Ratna terkekeh sendiri.
"Hm, baru kali ini sih ada tamu ngelunjak, Untung tamu nya kamu, kalau orang lain udah aku usir duluan mungkin," Canda Tania ikut tertawa mendengar gurauan sahabatnya.
Rendra ikut tersenyum melihat istri dan sahabat nya ternyata sama-sama suka jahil kalau sudah bertemu
"Biar aku bantu," Ucap Ratna yang ternyata mengikuti Tania ke dapur.
Tania kaget, dan segera menoleh," Ratna, kok kamu kesini sih. Mas Rendra sama siapa didepan? Aku bisa sendiri, kamu temanin suami kamu gih. Lagian, ini juga udah selesai." Tania menuangkan jus wortel yang sudah ia blender tadi kedalam gelas.
"Kamu masih hafal banget sama minuman kesukaan aku, jadi terharu aku....Kamu memang Sabahat terbaik," Puji Ratna memeluk Tania.
"Dih Lebay, sana bawain kopi buat suami kamu." Perintah Tania menyodorkan secangkir kopi dengan asap yang mengepul diatasnya.
Ratna memanyunkan bibirnya."Kok lebay sih, beneran tau." Gerutu Ratna, sembari membawa nampan berisi kopi kedepan, di susul Tania dengan dua gelas jus ditangan nya.
"Maaf ya Mas Rendra, tadi malah ditinggal sendiri sama Ratna. Memang udah kebiasaan nih anak, maklum kan aja ya, memang rada-rada dia." Rendra hanya bisa terkekeh kecil mendengar ucapan Tania.
"Nggak papa kok," Balas nya sembari menatap Ratna yang masih terus memayun kan bibir nya.
"Oh ya, bagaimana soal rencana kamu itu Tan? Apa bisa kita lihat lokasi nya hari ini? Kalau nanti cocok biar Mas Rendra kasih tau sama teman nya, soalnya toko ini rekomendasi dari Mas Rendra." Tanya Ratna mulai serius,
"Boleh juga, tapi apa nggak ke sorean nanti?" Tanya Tania terlihat ragu, apalagi jam sudah menunjukkan pukul 3.20 Wib
Rendra melihat kearah jam di tangan nya," Aku rasa nggak, apalagi lokasi nya tidak terlalu jauh dari sini. Hanya butuh waktu beberapa menit aja sudah sampai." Ujar Rendra ikut berpendapat.
"Ya udah, kalau gitu kita berangkat sekarang aja, biar nanti nggak telat," Ajak Ratna sembari menghabiskan jus yang tinggal sedikit lagi hingga habis.
Rendra dan Tania mengangguk setuju."Kalau gitu aku ambil tas dulu ya!" Tania masuk kedalam kamar dan setelah itu buru-buru keluar dan tidak lupa mengunci pintu kamar nya.
"Tan, di rumah sebesar ini, tapi kamu malah nempatin kamar yang paling ujung itu? Bahkan kelihatan nya kamarnya juga sempit ya!" Tanya Ratna merasa heran begitu melihat Tania keluar dari kamar.
Tania menggaruk kepalanya yang tidak gatal,"Kalau Ratna tau keadaan aku yang sebenarnya gimana ya?" Batin nya ngeri, dia tau betul bagaimana sifat Ratna yang begitu bar bar dan keras kepala.
"Jangan bilang mertua kamu pilih kasih sama kamu, makanya kamar kamu di ujung sana, tuh lihat di sini banyak kamar yang lebih bagus dan kelihatan luas juga, kenapa kamu malah pilih kamar yang itu?" Tanya Ratna semakin penasaran, matanya terus menelisik rumah mertua Tania yang menurutnya begitu luas dan besar.
"Ti-tidak kok, kamu mikir apaan sih Na, aku memang sengaja memilih kamar yang paling ujung itu, karena kamar nya dingin nggak panas seperti kamar-kamar yang lain," Ucap Tania berasalan, Untung saja mertua sama yang lain nya sedang tidak ada. Tania juga bingung, padahal jelas-jelas mereka semua ada di ruang tamu saat Tania mengantar Raka kedepan.
Tapi sekarang menghilang begitu saja.
Mungkin lagi dikamar masing-masing pikir Tania.
"Kok aku merasa kayak___
"Aduh, udah deh Na. Nggak usah lebay, aku baik-baik aja kok," Sela Tania memotong dengan cepat
"Ya udah, ayok berangkat sekarang aja daripada nanti telat. Keburu pulang orang yang punya tokonya." Tania menarik lembut lengan sahabat nya yang masih saja melontarkan banyak pertanyaan padanya.
Membuat Tania semakin bingung menjawab nya.
"Awas aja kalau sampai ada yang membuat sahabat aku sengsara, bakal kumakan hidup-hidup."
Tania dan Rendra hanya bisa terkekeh mendengar ocehan Ratna yang tidak ada habisnya.