Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21: Kedamaian yang Hangat dan Malam yang Panas
Empat bulan telah berlalu sejak Leonard menjadi Raja Eldoria dan Alexandria menjadi Ratunya yang dicintai rakyat. Kehidupan kerajaan kembali pulih dengan pesat, pasar-pasar yang dulunya sepi kini ramai dengan pedagang dan pembeli, taman-taman istana kembali dirawat dengan indah, dan suara tawa serta musik rakyat yang merdu kembali mengisi udara Eldoria.
Pada malam hari peringatan satu tahun kemenangan mereka atas Valerius, Leonard mengajak Alexandria berdiri di balkon istana yang menghadap ke taman kerajaan yang indah. Cahaya dua bulan Eldoria menerangi wajah mereka dengan sentuhan magis yang hanya bisa mereka rasakan bersama.
"Alex..." ucap Leonard dengan lembut, matanya penuh dengan emosi yang hanya bisa ia ungkapkan dalam bisikan hangat.
"Ingatkah kamu saat kita pertama kali bertemu di dunia manusia? Kamu bilang aku layak mendapatkan cinta seperti apa yang kamu berikan padaku. Kini aku bisa merasakan betapa dalamnya cinta itu, bahkan saat kita berdiri di atas dunia yang telah kita bangun bersama."
Alexandria menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku selalu tahu, Leo. Bahwa kamu adalah orang yang tepat untukku, walau dunia kita berbeda. Aku akan selalu ada di sini untukmu, dalam suka maupun duka."
Malam itu, mereka kembali ke kamar utama istana, ruangan yang dulu menjadi kamar Leonard sebelum kutukan menjebloskannya ke dunia manusia. Lantai kayu yang hangat menyambut kaki mereka, dan di dinding kamar terdapat lukisan keluarga kerajaan yang menggambarkan momen Leonard kecil yang sedang bermain dengan ibunya.
"Kamu sangat mencintai keluarga mu ya, Leo?" tanya Alexandria sambil menyentuh lukisan itu.
"Ya, Alex. Mereka adalah segalanya bagiku. Dan kamu juga sudah jadi bagian dari keluarga ini," jawab Leonard dengan lembut, lalu menurunkan suara menjadi lebih intim.
"Kamu adalah bagian dari diriku yang tak terpisahkan, Alex. Hanya kamu yang bisa membuatku merasa seperti ini."
Mereka duduk di sofa besar yang menghadap ke taman malam. Udara segar dari taman malam Eldoria menyegarkan, dan aroma bunga malam yang manis mengiringi percakapan mereka. Leonard mulai merasa bahwa keheningan malam ini membuatnya ingin lebih dekat dengan wanita yang selalu ada di sisinya.
"Alex..." bisik Leonard dengan nada yang hanya untuknya.
"Kamu tahu kan, betapa aku merindukanmu setiap saat? Bahkan saat aku harus menjalankan tugas sebagai raja, hatiku selalu terpikirkan kamu."
Alexandria merasakan jantungnya berdebar karena panggilan itu.
"Aku juga selalu merindukanmu, Leo. Setiap malam aku berdoa agar kamu selalu selamat."
Leonard menariknya lebih dekat, tangan besarnya menopang punggungnya dengan lembut. "Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa kamu, Alex. Kamu adalah segalanya bagiku."
Mereka duduk berdekatan, tubuh mereka hampir bersentuhan. Udara malam yang segar membuat mereka merasa lebih dekat. Leonard menatapnya dengan mata yang penuh hasrat tapi tetap lembut.
"Kamu tahu kan, Alex... aku selalu merasa bahwa diriku tidak cukup baik untukmu," bisik Leonard dengan suara yang hanya bisa didengar olehnya.
"Aku pernah berpikir bahwa cinta itu hanya sebuah kata yang kosong. Tapi kamu... kamu membuatku merasakan apa itu cinta yang sesungguhnya."
Alexandria menatapnya dengan wajah yang sedikit memerah karena kehangatan dalam tatapan itu.
"Leo... aku selalu tahu bahwa kamu adalah orang yang tepat bagiku. Hanya kamu yang bisa membuatku merasa seperti ini."
Mereka saling menatap lama, lalu Leonard perlahan mendekatkan wajahnya ke arahnya, bibirnya hampir menyentuh bibir Alexandria yang lembut.
"Alex..." bisiknya dengan nada yang penuh kasih, membuat jantung Alexandria berdebar kencang.
"Leo..." balasnya dengan bisikan yang sama lembutnya.
Saat bibir mereka hampir bersentuhan, suara lembut dari luar kamar membuat mereka sedikit terkejut.
"Yang Mulia, ada surat penting untuk Anda!" suara pelayan muda itu terdengar dari luar pintu kamar.
Leonard menarik napas dalam-dalam, lalu menjawab dengan suara yang kembali tenang. "Baiklah, masukkan saja di luar pintu."
Setelah suara langkah pelayan menjauh, Leonard kembali menatap Alexandria dengan tatapan penuh rasa syukur. "Kita punya seluruh malam untuk kita berdua, Alex. Biarkan aku menunjukkan padamu betapa aku mencintaimu."
Ia menariknya lebih dekat, tangan besarnya mengelilingi pinggangnya dengan lembut namun erat. "Kamu tahu kan, Alex... aku selalu merasa bahwa diriku tidak cukup baik untukmu. Tapi kamu selalu percaya padaku."
Alexandria menyentuh pipinya dengan lembut. "Kamu sudah cukup baik untukku, Leo. Selalu."
Mereka kembali saling menatap, lalu perlahan-lahan bibir mereka saling mendekat hingga akhirnya bersentuhan dalam ciuman yang lembut namun penuh hasrat. Ciuman itu semakin dalam, penuh dengan emosi yang telah mereka simpan selama ini. Leonard merasa bahwa setiap sentuhan pada dirinya membuatnya merasa hidup kembali, penuh dengan cinta yang meluap.
"Aku cinta kamu, Alex," bisik Leonard dengan penuh perhatian setelah melepaskan ciumannya sebentar.
"Selama ini aku merasa seperti orang yang hilang, tapi kamu membuatku menemukan jalan pulang."
Alexandria tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku cinta kamu lebih dari apa pun di dunia ini, Leo. Kamu adalah segalanya bagiku."
Mereka kembali saling memandang, lalu Leonard menariknya ke pelukan yang erat. Tubuh mereka saling bersandar, merasakan kehangatan satu sama lain. Leonard mencium aroma tubuhnya yang sudah begitu akrab baginya.
"Alex..." bisiknya dengan lembut, penuh dengan cinta yang hanya untuknya.
"Kamu adalah segalanya bagiku. Tanpamu, Eldoria tidak akan pernah seperti ini."
Alexandria merespons dengan erat, mencium dada bidangnya yang kuat.
"Kamu adalah segalanya bagiku, Leo. Di mana kamu berada, itu rumahku."
Mereka tetap berpelukan begitu lama, menikmati kedekatan malam itu. Udara malam Eldoria yang segar membuat mereka merasa damai dan penuh dengan cinta yang meluap-luap. Leonard merasa bahwa ini adalah momen yang paling berharga dalam hidupnya—bersama dengan wanita yang telah mengubah hidupnya selamanya.
Setelah beberapa saat, mereka mulai merasa lapar dan haus. Alexandria mengajaknya untuk pergi ke taman makan malam istana yang selalu disiapkan untuk mereka.
"Ayo kita makan sedikit, Leo. Kamu pasti lapar kan?"
Leonard mengangguk dengan senyum.
"Ya, aku memang merasa lapar juga. Mari kita pergi, Alex. Aku ingin kamu rasakan makanan malam istana yang selalu kubayangkan bisa kita nikmati bersama."
Mereka keluar dari kamar ke taman makan malam yang hangat. Meja makan besar sudah siap dengan hidangan istimewa—buah-buahan dari dunia manusia yang Alexandria bawa serta hidangan khas Eldoria yang selalu membuat Leonard merindukannya.
"Sini, Alex," ucap Leonard sambil memberikan piring berisi hidangan spesial.
"Ini makanan favoritku dulu. Aku selalu berharap bisa membagikannya dengan seseorang yang aku cintai."
Alexandria tersenyum sambil mengambil sendoknya. "Terima kasih, Leo. Rasanya pasti enak sekali."
Saat mereka makan dan berbincang tentang masa depan yang penuh harapan, Leonard merasa bahwa ini adalah momen yang selalu dia impikan. Bersama dengan orang yang dicintainya, menikmati malam damai setelah perjuangan panjang yang telah mereka lalui bersama.
"Kita akan selalu bersama kan, Leo?" tanya Alexandria dengan lembut.
"Selamanya, Alex. Selamanya kita akan bersama," jawab Leonard dengan penuh tekad, menggenggam tangannya erat.
Mereka makan sambil tertawa dan berbagi cerita tentang kehidupan mereka setelah kemenangan itu. Leonard bercerita tentang rencana dia untuk membangun sekolah magis yang bisa menyatukan ilmu dari dunia manusia dan Eldoria, sementara Alexandria mengangguk dengan senyum bangga.
"Aku akan membantu membangunnya, Leo. Sekolah yang bisa menyatukan kedua dunia kita."
Leonard tersenyum dengan bangga. "Aku tahu kamu akan suka membantu mereka, Alex. Kamu selalu begitu baik dalam membantu orang lain."
Mereka menghabiskan malam itu dengan penuh kehangatan, bercerita dan tertawa bersama. Suasana kamar makan malam istana terasa hangat dan penuh dengan cinta yang mereka rasakan bersama. Leonard merasa bahwa ini adalah rumah yang sebenarnya—dimana pun ada Alexandria bersamanya.
"Aku cinta kamu, Alex," bisik Leonard dengan lembut, hanya untuknya.
"Aku juga cinta kamu, Leo," balas Alexandria dengan senyum manis.
Mereka tetap duduk bersama hingga larut malam, menikmati kehangatan satu sama lain tanpa merasa lelah. Leonard merasa bahwa ini adalah malam yang paling indah dalam hidupnya—sudah pulang ke rumahnya, bersama dengan orang yang membuat hidupnya lengkap.