Cilla Anaya Salsabila,
putri tunggal pemilik perusahaan besar dan pewaris saham kampus barunya. Semua orang mengaguminya—kecuali dirinya sendiri, karena ia tak pernah tahu siapa yang benar-benar tulus.
Saat pindah ke kampus baru, Cilla memilih menyamar menjadi gadis culun. Tanpa kemewahan, tanpa nama besar, hanya dirinya apa adanya.
Ia ingin satu hal:
menemukan cinta yang memilih hatinya… bukan hartanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tara Yulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Yang Kembali
Danau yang indah di malam hari dihiasi gemerlap lampu-lampu yang memantul di permukaan air. Namun, keindahan itu tak mampu menghapus luka yang memenuhi hati keduanya.
Seseorang terluka karena kecewa, mengira orang yang disukainya telah memiliki kekasih, padahal semua itu hanyalah kesalahpahaman.
Sementara cilla terluka karena masa lalu kembali datang, seolah ingin menghancurkan kebahagiaan baru yang baru saja mulai ia bangun.
Tak lama kemudian, seluruh lampu di sekitar danau mendadak padam. Tak ada satu pun cahaya yang tersisa. Suasana berubah begitu gelap, seakan memahami perasaan mereka yang sedang dilanda dilema.
"Aku takut gelap..." ucap Cilla dengan suara bergetar.
Di sisi lain, Zayn segera menyalakan senter dari ponselnya. Cilla pun berniat melakukan hal yang sama, tetapi sayangnya ponselnya sudah kehabisan baterai.
Dalam gelap, Cilla melihat cahaya dari ponsel seseorang yang sedang berjalan mendekat.
"Eh... siapa kamu? Aku takut gelap!" teriak Cilla panik.
Zayn mendengar suara itu dari kejauhan. Ia langsung menoleh dan mengikuti arah suara tersebut untuk menolong.
"Syukurlah... dia ke sini," gumam Cilla lega.
Tanpa ragu, Cilla berjalan mendekati sosok pria yang membawa cahaya itu.
Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, Zayn berniat melihat wajah perempuan yang sendirian di tepi danau itu. Namun, tepat pada saat itu juga, senter di ponselnya tiba-tiba mati.
Seketika suasana kembali diselimuti kegelapan.
Karena refleks dan diliputi rasa takut, Cilla langsung memeluk tubuh Zayn erat.
"Tolong aku... aku takut gelap," ucap Cilla dengan suara gemetar.
"Suara itu... bukankah itu suara Cici?" batin Zayn.
"Tenang, ya. Semuanya aman. Aku nggak akan ke mana-mana," ujar Zayn berusaha menenangkan.
"Suara itu... Zayn? Jadi orang yang kupeluk ini benar-benar Zayn? Ternyata takdir selalu menemukan cara untuk mempertemukan kita," batin Cilla.
Tanpa sengaja, tangan Zayn menyentuh rambut perempuan yang masih memeluknya. Rambut itu terurai, bukan dikepang seperti yang biasa dilihatnya. Ia juga menyadari perempuan itu tidak mengenakan jaket yang selama ini selalu dipakai Cici.
Dalam kegelapan tanpa sedikit pun cahaya, Zayn semakin bingung. Sosok yang berada di hadapannya terasa begitu familiar.
"Siapa sebenarnya perempuan ini? Kalau ini Cici, kenapa rambutnya tidak dikepang? Dan ke mana jaket yang selalu ia kenakan? Tapi... kalau ini Cilla, kenapa dia ada di tepi danau sendirian malam-malam begini?" batin Zayn.
Semakin lama, semakin banyak pertanyaan memenuhi kepalanya. Suara perempuan itu begitu identik dengan Cici, tetapi penampilannya justru mengingatkannya pada Cilla. Entah mengapa, semua itu terasa seperti sebuah teka-teki yang belum mampu ia pecahkan.
Cilla masih memeluk tubuh Zayn dengan erat. Napasnya belum juga beraturan. Kegelapan yang menyelimuti danau membuat rasa takutnya belum hilang sedikit pun.
"Tenang... semuanya baik-baik aja. Aku di sini," ucap Zayn lembut.
Perlahan, tubuh Cilla mulai sedikit rileks. Entah mengapa, berada dalam pelukan pria itu membuat rasa takutnya berkurang. Meski tak dapat melihat wajahnya, suara yang begitu dikenalnya sudah cukup membuat hatinya merasa aman.
"Andai waktu bisa berhenti sebentar saja..." batin Cilla. "Walaupun dia belum tahu kalau ini aku, setidaknya aku bisa merasakan berada sedekat ini dengannya."
Zayn tidak berusaha melepaskan pelukan itu. Sebaliknya, ia membiarkan perempuan tersebut menenangkan dirinya terlebih dahulu.
"Nggak usah buru-buru," batin Zayn. "Begitu ada cahaya, aku pasti bisa melihat wajahnya. Kalau memang dia Cici... atau justru Cilla... malam ini semuanya akan terjawab."
"Pelan-pelan aja, ya. Kita cari jalan keluar. Pegang lenganku kalau masih takut," ujar Zayn.
Cilla perlahan melepaskan pelukannya. Dengan tangan yang masih gemetar, ia menggenggam lengan Zayn dan berjalan di sampingnya. Langkah mereka pelan, hanya mengandalkan ingatan jalan dan sesekali cahaya redup dari ponsel pengunjung lain yang berada cukup jauh.
Suasana di sekitar danau masih dipenuhi suara orang-orang yang kebingungan akibat listrik padam.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara petugas dari kejauhan.
"Mohon tetap tenang! Listrik sedang dalam proses dinyalakan. Silakan berjalan perlahan menuju pintu keluar."
Tak lama kemudian...
Cahaya lampu mulai berkedip pelan.
Deg!
Jantung Cilla seakan berhenti berdetak.
"Kalau lampunya benar-benar menyala... Zayn pasti akan melihat wajahku."
Tanpa berpikir panjang, Cilla langsung melepaskan genggaman tangannya dari lengan Zayn.
"Maaf..."
Dengan langkah tergesa, ia berlari menjauh sebelum cahaya kembali memenuhi area danau.
"Cici...!" panggil Zayn spontan.
Namun langkah perempuan itu tidak berhenti.
Beberapa detik kemudian, seluruh lampu di sekitar danau kembali menyala.
Zayn menoleh ke segala arah, berusaha mencari sosok yang tadi bersamanya. Sayangnya, perempuan itu sudah menghilang di antara keramaian pengunjung.
Zayn mengembuskan napas panjang.
"Kenapa dia pergi? Siapa sebenarnya perempuan itu? Suaranya benar-benar Cici... tapi rambutnya terurai. Dan kalau itu Cilla... kenapa dia lari saat lampu menyala?"
Semakin dipikirkan, semakin banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
Malam itu tidak memberinya jawaban.
Justru meninggalkan teka-teki yang semakin sulit untuk dipecahkan.
****************
Di sebuah kamar, Abelia tersenyum puas mengingat semua kejadian yang terjadi di kafe siang tadi.
Melihat kesalahpahaman antara Zayn dan Cilla membuatnya merasa rencananya berjalan dengan sempurna. Berkat bantuan Raga, keduanya akhirnya saling menjauh.
Namun, Abelia tidak menyadari satu hal.
Raga adalah mantan kekasih Cilla.
Kemunculan Raga memang membuat Cilla semakin membenci pria itu karena kembali mengusik kehidupannya. Akan tetapi, di sisi lain, Raga diam-diam masih terus mencari keberadaan Cilla. Penyesalan yang selama ini ia pendam membuatnya ingin mendapatkan kembali cinta perempuan yang pernah ia sia-siakan.
"Cici... Cici... Lo itu cuma gadis kampung. Lo nggak bakal bisa saingin gue. Lo juga nggak akan bisa ngerebut orang yang gue pengenin. Justru ini kesempatan emas buat gue buat deketin Zayn," ucap Abelia dengan senyum penuh kemenangan.
"Siapa pun yang berani mendekati Zayn, gue nggak bakal tinggal diam," lanjutnya dengan tatapan penuh ambisi.
Sementara itu, di tempat lain, Raga masih terdiam memandangi langit malam.
Bayangan kejadian di kafe terus terlintas di benaknya. Tangisan gadis yang ditemuinya tadi terdengar begitu familiar, persis seperti tangisan Cilla saat hari jadi hubungan mereka hancur karena pengkhianatannya sendiri.
"Kalau waktu bisa diputar kembali... gue nggak akan pernah selingkuh di hari anniversary kita," lirih Raga, penuh penyesalan.
Kini, semuanya sudah terlambat.
Dulu, Raga terlalu sibuk memanfaatkan ketulusan Cilla tanpa pernah menghargai kehadirannya. Baru setelah kehilangan, ia menyadari bahwa tidak ada perempuan lain yang mampu mencintainya setulus Cilla.
Penyesalan itu kini berubah menjadi tekad.
Apa pun yang terjadi, Raga ingin menemukan Cilla dan memperbaiki semua kesalahan yang pernah ia lakukan.
Malam itu, Cilla memutuskan pulang ke rumah. Kali ini, ia tidak kembali ke kos seperti biasanya.
Setibanya di depan rumah, Cilla memasukkan PIN pada pintu digital yang masih ia ingat. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka.
"Bik... Cilla pulang," panggilnya pelan.
"Eh, Non Cilla pulang?" Bi Ningsih langsung menghampiri dengan wajah sumringah. "Bibi senang akhirnya Non pulang ke rumah. Gimana? Apa Non sudah ketemu cinta sejati?" tanyanya sambil tersenyum menggoda.
Cilla memaksakan senyum tipis.
"Nggak kok, Bi. Cilla cuma kangen rumah aja."
Bi Ningsih memperhatikan wajah Cilla lebih saksama. Matanya tampak sembap, seolah baru saja menangis.
"Non... kenapa? Mata Non merah. Habis nangis, ya?" tanya Bi Ningsih penuh kekhawatiran. "Cerita sama Bibi, atuh."
Cilla menggeleng pelan, berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Cilla nggak apa-apa, Bi. Cuma capek. Cilla mau istirahat dulu, ya."
Tanpa menunggu jawaban, Cilla segera melangkah menuju kamarnya. Ia menutup pintu perlahan, lalu menyandarkan tubuhnya di balik pintu sambil mengembuskan napas panjang. Air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan akhirnya kembali mengalir.
Sesampainya di kamar, Cilla perlahan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Ia bersandar pada sisi ranjang, memeluk kedua lututnya, sementara air mata terus mengalir tanpa henti.
"Semua ini gara-gara lo, Raga..." isaknya lirih.
"Lo belum puas bikin hidup gue hancur? Belum puas ngacak-ngacak hidup gue? Kenapa lo datang lagi saat gue baru mau mulai bahagia dengan kehidupan baru gue? Kenapa lo muncul lagi di kehidupan gue yang bukan lagi sebagai Cilla? Kenapa...?" tangisnya pecah.
Tanpa sadar, tangannya merogoh saku jaket dan menggenggam botol parfum kecil yang sedari tadi masih dibawanya.
"Gue benci sama lo, Raga!" teriak Cilla.
Brak!
Dengan sekuat tenaga, ia melempar botol parfum itu ke arah cermin rias.
Suara benturan kaca memecah keheningan kamar.
Cermin itu retak, lalu pecah berkeping-keping. Pantulan wajah Cilla ikut terbelah di antara serpihan-serpihan kaca, seolah menggambarkan hatinya yang telah lama hancur dan hingga kini belum benar-benar pulih.
Air matanya tak kunjung berhenti mengalir.
Ia hanya ingin hidup tenang sebagai Cici.
Namun, Raga kembali datang dan menghancurkan semuanya.