Tujuh belas tahun lalu, Ethan Royce Adler, ketua geng motor DOMINION, menghabiskan satu malam penuh gairah dengan seorang gadis cantik yang bahkan tak ia ketahui namanya.
Kini, di usia 35 tahun, Ethan adalah CEO AdlerTech Industries—dingin, berkuasa, dan masih terikat pada wajah gadis yang dulu memabukkannya.
Sampai takdir mempertemukannya kembali...
Namun sayang... Wanita itu tak mengingatnya.
Keira Althea.
Cerewet, keras kepala, bar-bar.
Dan tanpa sadar, masih memiliki kekuatan yang sama untuk menghancurkan pertahanan Ethan.
“Jangan goda batas sabarku, Keira. Sekali aku ingin, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku.”_ Ethan.
“Coba saja, Pak Ethan. Lihat siapa yang terbakar lebih dulu.”_ Keira.
Dua karakter keras kepala.
Satu rahasia yang mengikat masa lalu dan masa kini.
Dan cinta yang terlalu liar untuk jinak—bahkan ol
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Pintu ruang CEO terbuka keras.
Ethan keluar dengan langkah cepat, niatnya ingin menyusul Keira untuk memastikan perempuan itu tidak marah… terlalu lama.
Tapi begitu keluar, mata tajamnya langsung tertuju pada pemandangan yang membuat rahangnya mengeras.
Di ujung koridor, terlihat Keira yang tak sengaja menabrak seorang pria, hingga menyebabkan pria itu merengkuh pinggang rampingnya.
Ah... SIALAN! Hal tersebut mampu membuat darahnya mendidih.
Kini, Keira terlihat memarahi pria tersebut. Tapi anehnya, pria itu tidak marah, malah terlihat bahagia dan menikmati kemarahan Keira.
Wajah Ethan bertambah gelap. Aura CEO dingin berubah jadi badai kutub campur letusan gunung berapi.
Rowan yang sedang berjalan di belakang Ethan sampai ikut nge-freeze melihat aura bosnya. “Waduh… Sepertinya akan ada yang hancur setelah ini.”
“Rowan.” panggil Ethan dengan suara rendahnya, membuat bulu kuduk Rowan berdiri.
Rowan langsung mendekat. "Ya, Pak."
"Cari tahu siapa pria bajingan yang berani menyentuh milikku."
Rowan reflex menatap pria yang kini sedang tersenyum kepada Keira. “Baik, Pak.” sahutnya sambil mengangguk patuh.
Setelah itu, Ethan pun berbalik pergi memasuki ruangannya, diikuti oleh Rowan yang berjalan di belakangnya.
Sementara itu...
“Apaan sih kamu?! Bisa-bisanya nongol tiba-tiba kayak popup iklan!” ketus Keira menatap sinis pria di hadapannya, yang tak lain adalah Declan.
Declan terkekeh. “Aku berjalan wajar, Keira. Kamu yang jalan seperti kereta putus rem.”
Keira melotot penuh kebencian masa lalu. “Ya suka-suka aku dong! Yang penting nggak nyerobot hati orang lain kayak beberapa orang.”
Declan tersenyum miring, santai, sama sekali tidak tersinggung. “Kamu masih marah soal itu? Sudah lama banget, Kei. Kamu ini lucu kalau ngamuk.”
Keira makin panas. “Aku lucu kalau ngamuk? Harusnya kamu malu kalau jadi sumber amukannya!”
Declan terbahak, makin menikmati. “Masih galak ya. Dulu juga gitu… tapi aku suka.”
Keira semakin meradang. “HEH... DENGAR YA! Aku enggak suka kamu! Enggak akan pernah suka!” katanya sambil menunjuk Declan dengan tajam.
Declan mengangkat kedua tangan seolah menyerah. “Oke, oke. Tapi lain kali jangan nabrak aku seperti itu. Kamu membuatku ingat masa lalu.”
Keira mendengus. “Masa lalu? Masa lalu kamu cuma satu: K E S A L A H A N.”
Declan tertawa keras. “Menurutku, itu masa indah.”
Keira mendekat setengah langkah, wajahnya ketus. “Menurutku, itu masa yang harus dihapus permanen dari hard disk hidup aku.”
Declan menatapnya dengan mata geli. “Kalau dihapus, boleh di-restore nggak?”
“DELETENYA PAKAI SHIFT+DEL!” sinis Keira.
Declan mematung sejenak… lalu tertawa lagi.
Keira mengibaskan rambut lalu lewat dengan langkah cepat, masih ngomel-ngomel. “Bikin hilang mood! Ketemu mantan selingkuh, kenapa nggak jadi patung aja sih?!”
Declan memandang punggung Keira sambil tersenyum lembut. “Masih menggemaskan seperti dulu…” gumamnya.
Tanpa Declan sadari, ada seseorang yang akan menguliti tentang hidupnya setelah ini.
...----------------...
Gemerisik kertas terdengar konstan di ruang kerja mewah itu.
Ethan duduk tegap, jas dilepas, kemeja putih digulung sampai siku.
Di depannya menumpuk berkas kontrak dan proposal proyek.
Ia fokus… sangat fokus.
Namun ketegangan wajahnya belum sepenuhnya hilang sejak melihat Keira berinteraksi dengan pria lain.
Tiba-tiba, pintu diketuk pelan.
“Pak, boleh saya masuk?” suara Rowan terdengar dari balik pintu.
Ethan tidak mengangkat wajah. “Masuk.”
Rowan melangkah masuk dengan sikap berhati-hati—seperti biasa kalau membawa kabar yang mungkin memicu ledakan mood Ethan.
“Saya menemukan sesuatu tentang Declan, Pak.”
Nama itu membuat kening Ethan mengerut. "Siapa Declan?"
"Pria yang berinteraksi dengan Bu Keira tadi, Pak."
Sorot mata Ethan langsung tajam. “Katakan!”
Rowan menelan ludah sebelum menjawab. “Declan adalah manajer marketing di sini, Pak. Sekaligus… mantan pacar Bu Keira. Mereka berpacaran waktu SMA.”
Alis Ethan terangkat sedikit, tapi ekspresinya tetap dingin. Ia bersandar, jari mengetuk-ngetuk meja. “Lanjutkan.”
“Mereka putus karena Declan berselingkuh dengan perempuan lain. Dan… sekarang dia menikah dengan perempuan itu, Pak.”
Suasana hening sejenak.
Ethan menutup berkas di hadapannya.
Wajahnya tidak menunjukkan emosi berlebihan—but that’s exactly what membuat atmosfer menggigit.
“Mantan yang meresahkan.” gumam Ethan.
"Menurutmu... Apa mungkin Keira masih mencintai pria brengsek itu?" tanya Ethan menatap Rowan serius.
Rowan menggeleng cepat. “Sepertinya tidak, Pak. Justru sebaliknya. Bu Keira tadi terlihat sangat membencinya.”
Ethan memandang ke arah jendela gedung pencakar langit.
Matanya gelap, fokus, dan penuh perhitungan—seperti seseorang yang baru menemukan potongan puzzle penting tentang perempuan yang ingin ia miliki.
“Tapi… Pria brengsek itu masih berani muncul di hadapan Keira.” ucap Ethan dingin.
“Ya, Pak. Sepertinya Declan masih mencintai Bu Keira.”
Ethan mengeraskan rahang, dengan tatapan setajam silet.
Bukan karena cemburu… atau mungkin justru karena terlalu cemburu.
“Cari tahu lebih banyak tentang hubungan mereka. Detailnya. Semuanya.”
Rowan mengangguk patuh. “Baik, Pak.”
Ethan kembali menatap berkas, tapi tidak membukanya.
Tatapannya kosong sesaat—lebih tepatnya berisi rasa tidak suka.
“Declan... Dia telah berani menyentuh milikku.”
“Saya akan pastikan informasi lengkapnya segera, Pak.”
Ethan mengangguk tipis, lalu menambahkan satu kalimat yang membuat Rowan merinding.
“Dan pastikan Declan menjauh dari Keira. Aku tidak ingin dia berada dalam jarak yang cukup dekat… bahkan untuk memandangnya.”
Rowan langsung menunduk. “Siap, Pak.”
Setelah itu, Rowan pun segera pamit undur diri, meninggalkan ketegangan yang masih menggantung di udara.
...----------------...
Tak ingin terlalu memikirkan mantan pacar Keira yang meresahkan, Ethan pun keluar dari ruangannya hendak memanggil Keira untuk laporan lanjutan.
Namun langkahnya terhenti saat melihat wanita cantik itu pergi meninggalkan meja kerjanya dengan langkah tergesa-gesa dan wajah yang panik.
Alis Ethan mengerut. Ia merasa heran sekaligus penasaran tentang apa gerangan yang membuat Keira pergi dengan terburu-buru, bahkan wanita cantik itu tak berpamitan padanya.
Tanpa buang waktu, Ethan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Rowan.
Pada dering pertama, asistennya itu langsung menerima panggilan dengan sigap.
"Ya, Pak." ucap Rowan dari sebrang panggilan.
“Cari Keira. Dia pergi begitu saja dari kantor. Tanpa pamit.”
“Baik, Pak. Saya akan cek kamera dan riwayat akses.”
Ethan berdiri di dekat jendela tinggi kantor, menatap lalu lintas siang yang ramai.
Tapi sorot matanya gelap—ada something wrong.
“Aku ingin tahu ke mana dia pergi. Segera.” ucap Ethan dengan nada rendahnya.
Panggilan pun berakhir.
Beberapa menit kemudian, ponsel Ethan berdering. Tertera nama Rowan di layar ponsel Ethan yang menyala. Ia segera menerima panggilan lebih cepat dari biasanya.
"Hm."
“Pak, sudah saya telusuri. Bu Keira keluar gedung melalui pintu samping. Dia menggunakan taksi.”
“Tujuan?”
“Adlerion Academy, Pak.”
Ethan membeku sejenak. “…Sekolah keluargaku?”
“Ya, Pak.”
Ethan mengepalkan tangan.
Ada hal yang sangat mengganggunya—kombinasi cemburu, curiga, dan khawatir bercampur jadi satu.
“Periksa lebih jauh. Dan laporkan apa pun yang terjadi di sana.”
“Baik, Pak.”
Ethan menutup ponsel, rahangnya mengeras. “Kenapa kau ke sana, Keira? Apa yang selama ini kau sembunyikan dariku?”
Ia mengambil coat hitam tipisnya, melangkah cepat menuju lift pribadi. “Jika kau tak mau mengatakannya, maka aku sendiri yang akan mencari tahu.”
...****************...
tutur bahasanya rapi halus tegas jarang tipo atau mungkin belum ada
semangat tor 💪💪💪