judul lain : Sìmíng (empat takdir)
Chen Chuchu adalah seorang penulis novel daring yang tidak pernah mempublikasikan wajahnya di depan umum.
Suatu hari dia menulis ulang cerita lama yang tidak pernah ia lirik sebelumnya.
Siapa sangka, sebelum memperbaiki akhir tragis dari cerita itu, dia malah bertransmigrasi ke dalam dunia buku tersebut dan menjadi antagonis kedua yang mati di awal cerita.
Dia bahkan tidak sendirian. Selama perjalanan dia ternyata menarik teman-temannya masuk ke dalam dunia buku itu juga.
Selama prosesnya mengubah alur cerita yang berakhir tragis, Chuchu merasa penyimpangan alurnya semakin tidak masuk akal dan terasa aneh.
Misteri satu-persatu mulai terkuak.
Apakah ini dunia ilusi yang ia buat, ataukah dunia nyata?
Saat ingatan lama bangkit, dia mulai meragukan dirinya. Siapakah dia? seorang dewi dari masa kuno, atau antagonis kedua yang berhati hitam, atau hanyalah manusia biasa di dunia modern yang menginginkan kenyamanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TAOYUEDAO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Kedua gadis itu saling berhadapan satu sama lain dengan senjata di kedua tangannya.
Setengah batang dupa telah di bakar dan mereka berdua mengeluarkan berbagai teknik bela diri.
Sekarang keduanya sama-sama terengah-engah, berdiri di kedua sisi lapangan. Sejenak mengambil napas dan melihat ke arah lawan.
Dalam hal ini, Chen Chuchu sudah banyak mengalah padanya. Apakah dia pikir dengan kemampuannya yang masih berada pada tingkat lima tahap pertengahan bisa mengalahkannya?
Chen Chuchu tidak bisa melawan anak ini dengan kekuatan langsungnya. Dia bisa langsung membuatnya terluka parah jika benar-benar mengeluarkan kekuatan aslinya.
Chen Chuchu hanya ingin membuatnya mengalah, tanpa cedera dan terluka. Tapi, siapa duga dia begitu gigih dan ingin mengalahkan Chuchu bahkan jika dia harus mengorbankan nyawa.
‘kegigihan yang impulsif’
Disaat ini, dia tiba-tiba mengingat saran Li Ziyu dan Shen Haijin.
“Saat berduel jangan impulsif dan gunakan otakmu.”
“Lakukan taktik mengecoh, setelah lawan lengah, serang titik kelemahannya.”
Chen Chuchu seketika memikirkan sebuah ide. Mata dan bibirnya melengkungkan sebuah senyuman jahat.
Dia berhenti mengayunkan tombaknya pada Qinglan.
Qi Qinglan adalah seorang Xiaojie yang memiliki harga diri tinggi serta keangkuhan, dengan memainkan sedikit sandiwara mental, Chen Chuchu yakin bisa mengecoh dirinya.
“Qi Xiaojie… kau sungguh luar biasa! Aku sepertinya tidak bisa mengalahkanmu.” Chen Chuchu menggelengkan kepalanya dan berpura-pura lemas.
Chen Chuchu menopang tubuhnya dengan tongkat tombaknya, saat dia menatap Qinglan, gadis itu merubah ekspresinya, akan tetapi kewaspadaannya masih sangat tinggi.
“Jangan omong kosong! Berdiri dan teruskan!”
“Aku tidak bisa”
Qinglan selalu ingin menang, di dalam hatinya, seharusnya dia senang tapi sekarang? Dia sama sekali tidak merasa senang dengan keadaan ini. Dia tahu, wanita ini tidak mungkin semudah itu dikalahkan!
“Berdiri!” Qinglan maju dengan pedangnya, saat pedang itu mengiris pergelangan tangan Chen Chuchu, dia seketika menariknya kembali.
Qinglan mengernyit heran dan tidak puas. “Kenapa kau tidak menghindar? Bodoh!”
‘dia mulai mengamuk, ini bagus!’
“Qinglan, aku benar-benar sudah tidak bisa lagi” Chen Chuchu bahkan sudah duduk di atas pasir dan merengek di hadapannya.
Mendengar kalimat itu dan apa yang dilakukannya, Qinglan mundur dan terlihat sedikit panik.
“Kau– berhentilah berpura-pura!”
Nada suaranya sudah terdengar bergetar, dia mulai lengah.
“Qinglan… apa yang membuatmu ingin menjadi prajurit? Kenapa kau ingin masuk ke Tie Wei Si?”
“Tentu saja karena Tie Wei Si adalah para prajurit elit dan para pendekar, siapa yang tidak ingin menjadi prajurit Tie Wei Si?”
Chen Chuchu setuju dan menganggukinya, “ya… kau benar. Tapi sebagai seorang Tuan Putri, untuk apa kau memilih bidang ini? Kau bahkan bisa hidup mewah tanpa bersusah-payah seperti ini”
Qinglan makin mengernyit, bukan lagi heran tetapi ekspresi tidak suka dan tidak setuju.
“Kau sendiri yang mengatakannya, orang-orang tidak boleh berpikiran sempit. Bulan tidak bisa diukur dengan jengkal, tapi mengapa sekarang kau malah menanyakan hal ini padaku? Apa kau sedang meremehkanku?!”
Lihatlah, dia memiliki kemarahan sependendek sumbu lilin. Mudah tersulut dan terbakar.
“Tidak… aku tidak bermaksud seperti itu. Qinglan, kau sangat berbakat. Apapun yang kau mau bisa kau dapatkan… tapi, seseorang pernah berkata kepadaku dulu. Sesuatu yang terburu-buru tidak akan memiliki akhir yang bagus, hanya saat kau menikmati prosesnya baru kamu bisa melihat hasilnya.”
Qinglan tentu tidak mengerti dengan kata-katanya, tapi apapun itu dia tidak peduli. Yang dia pedulikan sekarang adalah dia sudah terlalu banyak bicara dan batas dua batang dupa sudah hampir habis, jika mereka terus seperti ini, tidak akan ada yang bisa melanjutkan ke tahap berikutnya.
“Aku tidak peduli, sekarang bangunlah dan bertarung denganku!”
Chen Chuchu menatapnya, memiringkan kepalanya sedikit kemudian menarik senyum dingin. “Kalau aku tidak mau, apa yang akan kau lakukan?”
“Aku akan menghabisimu sekarang juga”
Qinglan yang emosi menebas pedangnya dengan acak. Chen Chuchu bisa melihat banyak lubang dan kesalahan dari setiap gerakannya. Dia menghindar, dan setiap kesalahan dari gerakannya, Chuchu akan memukulnya dengan tombaknya.
“Aaahh! Berhenti memukuliku seperti itu! Aku bukan anak kecil!”
“Kau tahu kau bukan anak kecil, tapi kenapa kau masih bersikap sembrono… hmm?”
Dia benar-benar punya tempramen dan harga diri yang tinggi, dia tidak bisa menerima ejekan di mata Chuchu itu lagi.
Dia mengalirkan Neili-nya yang sedikit ke atas pedangnya, gerakannya menjadi ringan dan teratur.
Seketika Chuchu merasa sedikit bangga melihat kemajuan singkat itu.
Perasaannya seperti guru dan ibu, yang telah melihat perkembangan anak dan muridnya.
Chuchu tersenyum, tapi sayang sekali. Gerakan yang teratur itu masih tetap memiliki celah di matanya.
Chuchu menangkis serangan itu dengan satu tangannya. Kemudian dia meloncat kebelakang, dan berteriak pada Qinglan, “masih kurang, sekali lagi!”
“Aaah! Aku akan membunuhmu!”
“Benarkah? Maka lakukan dengan benar”
Chen Chuchu terus menangkis dan meloncat, tanpa menyerangnya, membuat Qinglan menjadi semakin marah.
Tapi semakin ia marah dan bertindak berdasarkan emosinya, dia mulai kehilangan banyak tenaganya.
Dia terengah-engah dan menatap Chen Chuchu. Dia lagi-lagi tersenyum padanya, dan mengejeknya. Qinglan sama sekali tidak terima.
Tapi saat ia akan melangkah sambil mengayunkan pedangnya ke depan, kakinya tiba-tiba menjadi lemas.
Ternyata setiap kali Chuchu Menghindar dan menangkis serangannya, dia menyentuh titik-titik akupuntur di tubuhnya tanpa ia sadari.
“Lihatlah baik-baik dan pelajari ini Qi Qinglan. Nama jurus ini adalah ‘bulan menebas bayangan’.”
Chen Chuchu mengangkat tombaknya, dia berputar di tempatnya dengan tombaknya, gerakan memutar itu membentuk pusaran angin halus dan membawa debu pasir kuning bersamaan dengan daun-daun beterbangan di dalamnya.
Bulan kuning di atas langit sudah menggantung dengan megah, kakinya berjinjit dan dia melompat ke udara, di atas udara dia seolah memiliki pijakan seperti tangga, dan saat ia sudah berada di atas kepala gadis itu, dia membuat gerakan bersilang dengan gaya yang indah kemudian turun perlahan sambil memutar tongkatnya dari belakang ke depan dan mendarat tepat di hadapan Qinglan.
Gaya yang terakhir dia menarik perlahan tombaknya, memutar-mutar kecil dengan gaya yang lurus dan menghunus Qinglan, beberapa centimeter dari hidungnya, ujung tombak runcing berhenti.
Qi Qinglan membeku dengan mata yang terbuka lebar, serta nafas yang tercekat. Kakinya yang telah lemas langsung jatuh ke atas pasir kuning di bawahnya.
Tepat dengan jurus ‘bulan menebas bayangan’ berakhir, dupa terakhir jatuh.
Qinglan kalah. Dia mau menerimanya atau tidak, dia harus menerimanya.
Li Ziyu tersenyum kecil di ujung sana, orang-orang tidak dapat melihatnya, bahkan Chen Chuchu sendiri. Dia seperti bayangan di bawah sinar bulan. Bunga wisteria ungu menggantung di atas kepalanya dan menyembunyikan wajah tampannya.
Dalam kegelapan malam, dia melihat gadis yang ia cintai sedang tertawa di kerumunan orang. Dia juga senang, tapi tiba-tiba sebuah kilasan singkat mengacaukan hatinya.
Ekspresi tawanya tumpang tindih dengan wanita yang selalu memakai gaun berwarna perak serta mahkota berlian di kepalanya. Dia berwajah dingin dan tegas, tetapi memiliki senyuman sehangat Chen Chuchu.
“Dia lagi… Yinglong? Siapa sebenarnya dia?”