Yezana Quenbiy zalreta pemimpin dari mafia Black Shadow, yang harus merenggang nyawa di tangan musuh bebuyutannya.
dia bertransmigrasi ke tubuh seorang Antagonis dalam novel berjudul "My sweet girlfriend".
antagonis yang memiliki ending tragis dalam novel. apakah dengan masuknya Zana pada tubuh si antagonis akan bisa mencegah kejadian buruk itu?
dan bisa membalas dendam kepada mereka yang sudah bertindak semaunya pada gadis malang ini.
sampai jumpa di chapter 1 🍑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Astiyy_12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Masak
...TRANSMIGRASI YEZANA...
Happy reading ...
...🎵Maze in the mirror by TXT...
.......
........
Brakk!
"Good morning babuu!" serunya menendang pintu markas Wolfers dengan kencang.
"Astagfirullah!"
"Kambing!"
"Ayamm!"
"Anying lo cebol!"
Nina tersenyum menunjukkan gigi putih rapinya, "Sory met, kaki gue refleks,"
"Ngapain lo kesini? Masih pagi buta lagi!" ujar Zinan sembari merebahkan kembali tubuhnya ke sofa.
Gadis itu berjalan ke arah Zinan, "Mau jualan gorengan! Ya gue kesini mau numpang makan lah!" katanya setelah duduk di space sofa yang di tiduri Zinan.
"Makan? Emang di sini ada warung?" Arrio bertanya dengan nada bingung, setahunya disini tidak ada warung.
Suasana markas Wolfers pagi ini masih sepi hanya ada anggota inti saja, "Tu, ketua Lo bisa masak kok,"
"Hahh? Pak bos bisa masak?" seru Allio langsung terbangun dari tidurnya di karpet bulu yang di gelar di sana.
"Ha? Lo masih ngantuk yah Nin? Dari jaman dinosaurus pun pak bos itu gak bisa masak." Raza menjawab dengan mata yang masih setengah tertutup.
Nina menepuk bibirnya yang asal ceplos itu, "E-emm, maksud gue, kemarin dia belajar tutor di yutupp hehe, jadi gue mau test rasanya,"
"Ooo-- yaudah bangunin kalo berani," ujar Arrio sebelum beranjak dari sofa menuju ke salah satu kamar untuk mandi.
Plakk!-- plakk!!
"Zinann bangunn! Bangunnn! Ayo masakin gueee!" seru Nina menaboki kaki Zinan dengan brutal.
"Ck, bentar lagi Za, gue masih ngantuk," gumamnya dengan serak.
Nina menarik selimut yang dia gunakan, "Gak! Lo harus bangun! Nanti lo telat jamett!"
"Aishh! Cebol ngeselin! Pulang aja lo sono ah! Gue masih ngantuk!!" dia kembali menarik selimut yang tadi di buang oleh Nina.
"Kalo lo nggak bangun dalam hitungan tiga detik .... Gue bakal sebar foto Lo yang lagi ngedo..."
Hmpp!!
"Sialan! Lepasin anying!" seru Nina berusaha melepaskan bekapan maut dari Zinan.
"Jangan! Jangan lo sebar, plisss --- gue masakin lo oke," ujarnya panik langsung berlari ke dapur.
Sedangkan sang pelaku tersenyum penuh kemenangan.
"Kok bisa si bos langsung ngacir gitu aja? Bagi tau dong rahasianya," ujar Raza yang sedari tadi menyimak perdebatan mereka.
Nina menyodorkan ponselnya ke hadapan Raza, membuat pemuda itu terbengong beberapa saat sebelum tangannya bergerak heboh menarik Allio yang masih tertidur. "Al,Al. Lo harus liat ini!"
Allio mengucek matanya yang masih setengah terpejam, "Apa si?!"
"Nih liat," memperlihatkan apa yang ada di ponsel itu.
"Pfttt -- Bwahahaha! Anjir, ini beneran pak bos?" Allio dan Raza tak berhenti untuk mentertawakan foto itu.
"Lucu banget anjrit! Dot nya warna pink gayung lope!' ujar Raza menyeka air mata nya yang keluar karena kebanyakan tertawa.
Allio menaboki lantai saking kerasnya dia ngakak, "Pliss! Gue udah gak kuat, perut gue udah keran anjrit!'
"Kalian jangan bilang-bilang sama tu jamet oke, ini rahasia kita."
Mereka berdua hanya mengangguk sembari menetralkan nafas dengan terengah-engah.
"Udah jadi sarapannya tuh di meja," ujarnya ketus.
Nina langsung bergegas menuju dapur, sedangkan kedua manusia prik itu tengah berusaha mati-matian untuk tidak tertawa.
"Lo berdua kenapa?" tanya Zinan bingung melihat ekspresi wajah dua curutnya.
Kompak mereka berdua menggelengkan kepalanya namun masih enggan untuk bersuara, karena jika mereka mengeluarkan suara pasti suara mereka akan bergetar dan berahir tertawa ngakak.
Zinan mengabaikan keduanya lalu berjalan menuju kamarnya untuk bersiap-siap.
(*・~・*)
"Thanks met, ntar balik Lo jemput gue lagi. Nih jaket lo," kata Nina setelah turun dari boncengan motor Zinan.
"Udah lah, lo pake aja tu jaket, gue lagi males pake nya. Iya ntar gue jemput lagi." balasnya menyentil jidat gadis itu sebelum melajukan motornya meninggalkan kawasan Asteria.
Nina mencebikan bibirnya kesal sembari mengelus jidatnya korban pembullyan Zinan barusan. Kakinya melangkah melewati geng Egalean yang tengah nongkrong di parkiran dengan acuh.
Banyak tatapan yang menatapnya dengan sinis, bahkan membicarakannya secara terang-terangan. Apalagi dia sekarang tengah memakai jaket kebanggan musuh Egalean itu, gong nya lagi itu adalah jaket ketua Wolfers apa mereka tak semakin heboh!.
Nina terus berjalan dengan gaya angkuhnya, mengangkat dagunya tinggi-tinggi bak sedang berjalan di red karpet acara terkenal.
Brukk!
"M-maaf kak Nina, Alula gak sengaja." Aluna terduduk di lantai karena barusan menabrak sang antagonis.
Gadis cantik yang baru saja di tabrak hanya menggulirkan matanya malas menatap adik tirinya masih bersimpuh di lantai. "Lo buta, gak liat gue lagi jalan hah?"
"Hikss ... Maaf Alula gak sengaja," kini gadis sok polos ini mengeluarkan jurus menangisinya.
"Makanya tuhan kasih mata buat lo itu buat di pake bukan pajangan, sia-sia tuhan kasih lo mata." sakras Nina dengan tangan yang disilangkan.
"Woww, tu anak cosplay jadi suster ngesot kah Nin?" ujar Vela yang baru datang bersama Gheya, dan Zeta.
Nina melirik sahabatnya, " Mungkin, biarin lah. Kuy cabut,"
Keempat antagonis itu pergi dari sana meninggalkan Alula yang masih terduduk di lantai, sedangkan para murid yang melihat kejadian tadi acuh tak acuh.
Alula meremas roknya dengan kesal, 'Sialan Lo Nina! Tunggu pembalasan gue nanti!'
...~TBC~...
...Maaf yah baru bisa up sekarang, mungkin kedepannya agak jarang up....
Plakk terus apa.