Setelah empat tahun menjalin cinta terlarang beda agama yang ditentang orang tua, Manajer hotel Nayla akhirnya menyerah dan memutuskan Zefan, koki di hotelnya.
Namun, Zefan tak terima. Sifat posesifnya berubah menjadi obsesi yang mengancam Nayla. Di tengah keputusasaannya, Nayla bertemu kembali dengan Reno, mantan kekasih SMA-nya.
Terkejut dengan kondisi Nayla, Reno langsung mengambil langkah berani: ia membawa Nayla dari Bali ke Bandung dan menikahinya demi menyelamatkan Nayla dari Zefan.
Nayla awalnya trauma dan menolak, mengingat masa lalu yang menyakitkan dengan Reno. Namun, Reno membuktikan ketulusan cintanya yang tak pernah pudar. Nayla akhirnya menerima.
Dapatkah pernikahan mendadak ini, yang didasari trauma dan janji keselamatan, berjalan harmonis? Atau, apakah bayangan Zefan akan terus menghantui dan menghancurkan kebahagiaan yang baru mereka raih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim elly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Pintu terbuka. Frans muncul hanya mengenakan handuk. Matanya membesar.
“Mama?!” serunya panik.
Farida langsung menerobos masuk. “Kamu sama siapa ke sini, hah?!” bentaknya.
“A-aku cuma...”
Farida tak sempat mendengarkan. Ia sudah menarik rambut wanita yang muncul dari kamar mandi.
Dan Nayla terdiam kaget — wajah itu sangat dikenalnya.
Tania.
Wanita yang pernah menghancurkan hubungannya dengan Reno.
Waktu seolah berhenti sesaat. Tapi kali ini Nayla tak berniat melerai.
Ia hanya berdiri dengan senyum tipis di bibir, melihat Tania dijambak habis-habisan oleh Farida.
Tak lama, Reno datang karena mendengar laporan ada keributan.
“Sayang, apa—”
“Diam,” potong Nayla tegas, menatap Reno dengan tajam sambil menahan lengan suaminya.
Begitu Reno melihat wajah Tania, ia langsung membeku. “Tania...?”
“Keluar!” bentak Nayla dingin.
Reno menelan ludah. Ia patuh, keluar dari kamar tanpa membantah.
Security datang memisahkan Farida dan Tania. Keduanya tersengal. Farida masih berteriak-teriak marah.
Begitu situasi mulai tenang, Nayla menatap Tania datar.
“Pakai baju,” ujarnya dingin.
Tania mendengus. “Lo kerja di sini sekarang?”
“Gue yang punya hotel ini,” balas Nayla ketus.
“Masa pemilik hotel pake name tag manager?” Tania terkekeh sarkastik.
Nayla mendekat, suaranya pelan tapi menusuk.
“Gue istri pemilik hotel ini. Faham?”
Tania memutar bola matanya. “Maksud lo... Reno yang punya hotel ini?”
Nayla menatap curiga. “Kok lo tahu?”
Tania menyeringai sinis. “Lo bego ternyata. Gue tahu lo nikah sama Reno. Lo bilang suami lo pemilik hotel, ya berarti dia dong.”
Farida memotong percakapan mereka. “Kalian kenal?”
Nayla mengangguk pelan. “Dia... cewek perusak hubungan orang.”
Farida langsung naik pitam. “Jadi bener?! Dasar perempuan sialan!” bentaknya, kembali menyerang Tania hingga security harus turun tangan lagi.
Dengan wajah babak belur, Tania berteriak, “Gue bakal balas dendam sama lo, Nayla! Liatin aja!”
Nayla terdiam. Senyumnya memudar, digantikan kekhawatiran yang samar.
Ia menatap ke arah pintu, lalu melangkah cepat keluar dari kamar itu menuju ruang Reno tanpa sepatah kata pun.
“Kenapa Tania ada di sini?” suara Nayla terdengar datar saat melangkah masuk ke ruangan Reno.
Reno yang sejak tadi duduk gelisah langsung menatapnya, wajahnya tegang.
“Sayang... aku nggak tahu, demi Allah, aku bener-bener nggak tahu,” ucapnya terbata, mencoba menenangkan diri sendiri.
Nayla menatap Reno dengan mata yang sudah berair. Rasa marah dan cemburu bergolak dalam dadanya.
“Kenapa aku harus ketemu dia, Reno? Setelah aku berusaha percaya... setelah aku cinta lagi sama kamu...” Nayla menarik napas gemetar, suaranya pecah, “aku takut, Ren...”
Reno segera mendekat, suaranya rendah tapi keras menahan emosi.
“Nayla, kamu tahu kejadian tadi kayak apa? Aku juga kaget. Aku nggak tahu dia di sini! Lagipula, dia datang sama laki-laki lain, bukan sama aku. Tolong, jangan berpikir aneh-aneh,” ucapnya penuh tekanan, nyaris memohon.
“Tapi aku takut,” Nayla menatap Reno dengan tatapan lemah. “Suatu saat kamu ketemu dia lagi, dan kamu bakal tergoda lagi...” air matanya jatuh deras.
Reno menarik napas panjang, berusaha menahan amarahnya.
“Ya Allah, Nayla... aku nggak ada hubungan sama dia! Demi Allah aku bersih! Aku harus ngomong apa lagi biar kamu percaya?” ucapnya dengan suara berat.
Nayla menunduk, duduk di kursi dengan wajah penuh air mata. Tangannya gemetar mengusap pipinya sendiri.
Reno menatap istrinya lama, lalu perlahan duduk di hadapannya. Ia menatap Nayla dengan mata yang mulai lembut lagi.
“Please... percaya sama aku, sayang,” bisiknya lirih.
Nayla menatap Reno. Matanya basah, tapi hatinya mulai luluh. Reno mengusap pipi Nayla dengan lembut, ibu jarinya menyeka sisa air mata. Ia lalu menarik tubuh Nayla ke dalam pelukannya.
“Maafin aku, ya...” ucap Nayla kecil.
“Udah, udah... jangan nangis lagi. Aku di sini,” jawab Reno menenangkan.
Setelah beberapa detik, Nayla berbisik manja, “Mau pulang...”
“Pulang? Pulang ke mana?” tanya Reno bingung.
“Mau ke kebun teh...” Nayla menatapnya sambil mengedip manja.
“Ke Bandung?” Reno mengangkat alis, kaget.
“Heeum...” jawab Nayla pelan, masih memeluk Reno.
Reno menghela napas, tersenyum kecil. “Oke, nanti kita pulang. Tapi di sini, siapa yang jagain hotel?”
“Aaakh, Reno mah gitu, deh!” Nayla manyun, pura-pura kesal.
Reno terkekeh, akhirnya mengalah. “Iya, iya, ayok kita pulang.”
Ia segera menghubungi Sindi dan menyerahkan semua urusan hotel padanya untuk sementara.
Malam mulai turun saat pesawat mereka lepas landas. Reno menggenggam tangan Nayla sepanjang perjalanan.
Nayla bersandar di bahunya, memejamkan mata. Setelah hari panjang yang melelahkan dan penuh emosi, ketenangan itu terasa seperti obat.
Sesampainya di Bandung, mereka dijemput oleh Arka — adik Reno.
“Kok mendadak banget, Kak?” tanya Arka sambil menyetir, melirik ke kaca spion.
“Nggak juga, udah lama baru sempat,” jawab Reno santai.
“Padahal ayah sama ibu baru balik dari Bali dua minggu lalu,” ucap Arka penasaran.
Reno menatap adiknya lewat kaca spion, suaranya agak tajam. “Ya bukan mau nemuin ayah ibu juga kali. Sekarang aku udah punya istri, dan istriku juga punya orang tua. Ngerti nggak maksudnya?”
“Oh... gitu ya,” jawab Arka sambil nyengir, malu sendiri.
Begitu sampai, mereka disambut hangat oleh Bu Nia, ibunda Reno.
“Eh, pulang juga kalian!” sambutnya ceria.
Nayla tersenyum lelah tapi tulus. “Pengen ke tempat dingin dulu, Bu, refreshing.”
“Iya, sekali-sekali main ke sini,” ucap Bu Nia sambil menepuk tangan Nayla. “Ayo, makan dulu.”
Mereka pun makan bersama di ruang makan. Suasana hangat terasa, meski sesekali Arka membuat situasi jadi canggung dengan pertanyaan-pertanyaan polosnya.
“Eh, Kak... hotel di Jakarta itu bener ada 300 kamar?” tanya Arka sambil mengunyah.
Reno menatapnya datar. “Lo nanya tuh kayak nggak pernah sekolah.”
Nayla langsung menyikut pinggang Reno di bawah meja. “Jangan gitu,” bisiknya pelan.
“Dia bego,” gumam Reno setengah jengkel.
“Reno, jangan kasar sama adikmu,” tegur Bu Nia.
“Iya, tuh, Kak Reno sensi mulu,” sahut Arka sambil nyengir.
“Lo tuh nanyanya kadang ngga masuk akal,” balas Reno.
Nayla langsung berdiri sambil menarik tangan suaminya. “Udah, ah. Bu, kami ke kamar dulu, ya.”
“Iya, iya, sana istirahat,” jawab Bu Nia tersenyum.
Begitu pintu kamar tertutup, Nayla langsung menatap Reno sambil manyun.
“Reno mah gitu, ih. Kasihan Arka tau...”
“Dia nyebelin,” balas Reno santai sambil menggantungkan jaketnya.
“Kamu tuh emosian,” protes Nayla.
“Nggak, sayang. Aku nggak emosi,” ucap Reno sambil mendekat dan langsung memeluk tubuh Nayla dari belakang.
“Apa?” tanya Nayla sambil tersenyum kecil, memiringkan kepala menatap wajah Reno.
“Jangan marah lagi ya... serem,” bisik Reno lembut di telinganya, membuat Nayla merinding kecil.
“Kesel,” ucap Nayla cemberut.
Reno terkekeh lalu mengecup bibir Nayla pelan, penuh perasaan.
“Aku bakal bahagiain kamu, Nayla, seumur hidup aku.”
“Janji, ya?” bisik Nayla, suaranya nyaris tak terdengar.
“Janji, sayang.” Reno mencium keningnya dengan lembut.
Nayla memeluknya erat, wajahnya tenggelam di dada suaminya.
Reno mematikan lampu, lalu menarik Nayla ke pelukannya. Malam itu, kehangatan cinta mereka menutup semua luka dan ketakutan yang sempat hadir di siang hari.
Bersambung...
Jangan lupa.
#vote
#like
#komen
Biar author semangat makasih 🥰