NovelToon NovelToon
Ruang Hati Opi Yang Diminta Mereka.

Ruang Hati Opi Yang Diminta Mereka.

Status: sedang berlangsung
Genre:Chicklit
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: hopipahnp

(Terinspirasi kisah nyata, dikemas dengan imajinasi penulis)

Anak yang tak pernah diharapkan kehadirannya. Kelahirannya dianggap kesalahan, membuatnya dibenci dan menderita sejak lahir. Hingga akhirnya ia bangkit melukai rasa sakit itu, dan bersinar menjadi bintang yang tak akan terlupakan. 🕊️✨

⚠️ Siapkan tisu, cerita ini penuh air mata! Jangan penasaran setengah jalan, yuk baca sampai tamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hopipahnp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukuman

Beruntung guru hari ini mengizinkan ia tidak masuk di jam terakhir, dan beruntung juga kelima pria itu tidak meminta hal-hal aneh termasuk Kenji. Mereka mengerti kondisi dirinya hari ini yang sedang terluka dan sakit.

Pulang sekolah Hopipah berjalan tertatih-tatih. Ia mendapatkan lirikan tatapan sinis dan bisikan kata-kata bahwa dirinya hanya cari perhatian dari setiap siswa yang lewat di sampingnya.

Tiba-tiba sebuah senggolan kasar mengenai bahunya yang sakit.

“Ah,” rintih Hopipah tersungkur jatuh ke lantai keras.

“Dasar caper!”

Tanpa melihat pun Hopipah sudah mengenali pemilik suara tersebut.

“Caper banget sih lo sama Kak Hen! Lo kasih apa ke dia, sampai-sampai dia nurut mau gendong elo gitu!” sungut Aurora menendang kaki Hopipah yang sedang keseleo.

“Au!” ringis Hopipah menyentuh kakinya yang terasa sangat nyeri.

“Sakit Aur. Kaki ku keseleo,” keluh Hopipah berusaha menjauh mundur perlahan.

“Oh yah? Mau gue tambah sakitnya?” ucap Aurora bersiap kembali menendang tubuh Hopipah dengan keras. Namun gerakannya terhenti mendadak mendengar langkah kaki dan suara orang lain.

“Berani sekali kau menendangnya. Apa kau ingin kakimu patah?”

Ryker dan Hendryk datang menghampiri, tatapan tajam keduanya membuat Aurora gugup dan ketakutan, mengingat aturan dalam kelompok mereka. Tidak ada yang boleh membully babu mereka tanpa izin.

“Ka-kak!” Aurora menundukkan kepalanya, lalu mundur selangkah.

“Lo tahukan, dia bagian dari kita. Sekali pun itu hanya seorang babu, nggak ada yang boleh bully dia tanpa izin Kenji atau kita!” ucap Hendryk bersedekap dada, menatap tajam Aurora dengan setiap katanya yang ia tekankan dengan tegas dan mengancam.

“Maaf Kak. Tapi, jauh sebelum kalian peduli, aku sudah sering membullynya. Aku tidak menyukainya sama sekali,” ucap Aurora memberanikan diri menatap Hendryk dengan wajah pura-pura sedih.

Bagaimana pun ia memaksa masuk di sekolah yang sama, karena memang tujuannya ingin membully Hopipah di mana saja dan kapan saja.

Ryker mengangkat sebelah alisnya sinis. Lalu melirik Hopipah yang sedang dibantu berdiri oleh Keleo.

Ryker mengedikkan bahunya cuek.

“Oke, kalau itu mau Lo, kayanya siapapun perusahaan orang tuanya yang bergabung akan lenyap gitu aja, ingat itu,” ucap Keleo dengan nada bicara yang tenang namun dibalut tatapan tajam mengerikan pada Aurora.

Aurora pun terkejut dan bingung takut. Hopipah pun sama, ia melirik ke arah Keleo yang ada di sampingnya dengan tatapan kaget.

“Aduh kok jadi gini sih, bawa-bawa perusahaan. Jangan sampai perusahaan Papa terbawa masalah, ini semua gara-gara anak haram itu. Dia yang salah udah buat gue tadi pagi dipermalukan dia sekarang untuk kedua kalinya. Awas Lo ya! gue bilangin ke Mama biar dia dihukum berat,” batin Aurora menghentakkan kakinya kesal dan takut, dan ia pun pergi dengan langkah cepat.

“Kak jangan,” ucap Hopipah memohon, tapi Keleo menatapnya dengan wajah tidak peduli dan dingin.

 

Sementara itu, Hopipah yang kekeh dan keras kepala tidak ingin diantar pulang, karena tidak ingin orang-orang tahu rumahnya yang mewah namun menyiksanya itu, dan Hopipah pun pergi menaiki sepedanya pelan-pelan. Padahal tanpa Hopipah tahu, salah satu dari mereka sudah tahu alamat tinggalnya, bahkan mereka tahu Hopipah diperlakukan tidak baik di sana tapi mereka merahasiakannya agar tidak menyinggung perasaannya.

“He bro, apa kita ikuti saja?” tanya Jefarel khawatir.

“Nggak usah, yang ada dia gak nyaman dan takut,” ucap Keleo tenang. Mereka pun memahami dan menganggukkan kepala lalu mereka pun pergi menaiki motor besar mereka masing-masing.

Di tempat yang berbeda.

“Awas aja, gue sampaikan ke Kak Saga, biar tahu rasa tuh anak,” ucap Daka begitu kesal dengan kejadian hari ini.

“Sayangnya, kita harus nunggu dia pulang dari luar kota, Arlan belum tentu bisa dihubungi,” ucap Raka yang ia tahu kakak keduanya lagi sibuk skripsi dengan tim temannya di apartemen.

 

Sebelum sampai rumah ia sempatkan berbelanja sedikit, ia esok akan berdagang lagi di sekolah.

Tak lama kemudian, sesampainya di kamar Hopipah segera mengganti pakaiannya dengan pakaian sederhana. Kakinya yang sempat keseleo sudah jauh lebih baik, dan lagi apapun yang terjadi padanya dia harus tetap bekerja.

Meski lelah luar biasa, Hopipah tetap menjalankan pekerjaan rumah yang sudah menjadi tugas wajib untuknya.

Dengan tertatih-tatih, Hopipah mulai melakukan pekerjaannya.

“Hei, ini pel sekalian nanti. Saya mau masak!” perintah salah satu asisten rumah tangga melemparkan alat pel pada Hopipah hingga membuat tumpahan air yang masih bersih membasahi lantai ke mana-mana.

Marah? Tentu tidak. Hopipah hanya menghela nafas, dan menurut saja. Karena memang hanya itu yang bisa dilakukan agar tidak ditambah masalah.

Mengepel hampir seluruh ruangan, bukanlah waktu yang sebentar. Selesai mengepel pun, Hopipah melanjutkan memperbaiki kembali posisi sofa, buku, dan segala pajangan yang ada agar rapi kembali. Saat Hopipah tengah merapihkan buku-buku yang berhamburan di atas meja tamu.

Terdengar suara klakson mobil yang masuk ke halaman, Hopipah tersenyum tipis getir. Mobil itu tentu adalah mobil pemilik rumah, ayah dan ibunya.

Tapi, Hopipah tidak memiliki keberanian untuk menyambut di depan pintu. Tidak seperti ketika ia masih kecil, yang akan berlari dengan wajah polos menyambut keluarganya, meski puluhan kali dibentak dan dibuat terluka.

Lambat laun, ia masih memperlihatkan bentuk perhatiannya, tapi mulai menjaga jarak aman, hingga sampai sekarang ini.

“Mama, itu dia. Dia membuatku dalam masalah dua kali, sampai baju seragam aku disiram. Dia juga minta dibela lagi sama Kak Keleo sampai mengancam perusahaan Papa akan diganggu lagi. Lindungi perusahaan Papa Ma, dan hukum dia sekeras-kerasnya,” adu Aurora yang telunjuknya mengarah tepat ke Hopipah, dengan manjanya menggerakkan lengan ibunya agar setuju.

Rahang Hopipah terkatup rapat, tapi tidak mengatakan apa-apa. Meski sekedar pembelaan diri pun rasanya percuma.

“Anak haram. Apa yang kau lakukan pada anak ku, hingga kau berani terlibat masalah dengan anak Margantara!” sergah Fauzi Aditya menatap tajam penuh kebencian.

Hopipah memejamkan matanya perih.

“Maaf Pa. Soal itu biar besok aku bicarakan pada Kak Keleo,” ucapnya berusaha untuk tetap bicara lembut, meski ia tahu akan dibalas dengan bentakan.

“Kau memang pembawa masalah untuk anak-anakku. Tidak ada hentinya buat masalah. Malam ini kamu tidak dapat jatah makan!” ucap Rosti tanpa peduli bagaimana kondisi tubuh Hopipah yang sudah terlihat sangat lelah dan pucat.

Hopipah menghela nafas panjang, mencengkram kuat alat pembersih berbulu halus yang kerap digunakan membersihkan debu-debu perabot rumah.

Saat ini ia sudah merasa sangat lapar. Demi berhemat, tadi siang ia hanya memakan sebungkus roti kecil saja.

Pukul 17.41 sore, kini pekerjaanya semuanya selesai, ia pun kembali ke kamar kecilnya yang ada di belakang rumah.

Ia berjalan tertatih-tatih, tangannya menyentuh tembok untuk menopang tubuhnya yang terasa lemas sekali. Saat ia sampai dan sudah berada di kamarnya, ia duduk di atas kasur tipis beralaskan tikar itu.

Dan menyentuh alat ibadahnya lalu ia pakaikan untuk beribadah, untungnya sebelum ia ke sini ia sudah bersihkan diri dan mengambil wudhu walau dengan rasa lelah yang melanda.

Setelah melakukan ibadahnya, gadis itu berada di dalam kamarnya. Berbaring di atas kasur adalah waktunya ia mengeluarkan air matanya. Mengeluarkan segala rasa lelah yang ada di dalam dadanya.

Hiks...

Hopipah menyembunyikan wajahnya di balik bantalnya yang tipis. Air matanya semakin banyak keluar membasahi kain bantal.

“Sampai kapan harus seperti ini terus? Aku lelah. Mama Rosti tidak pernah adil, tidak pernah mencintaiku sebagai anak kandungnya juga. Papa Freddy tidak pernah menjengukku, bahkan sekali pun bertemu tak pernah menyapa, sosok dia sebagai ayah kandung tidak ada dan tak pernah menolongku dari anak-anaknya. Aku memiliki banyak kakak, tapi tidak pernah peduli bahkan kerap menyiksaku. Hiks... Kapan aku bisa merasakan sebagai anak perempuan sesungguhnya di mata keluarga dan orang lain!..”

“Hiks...”

*

Tinggalkan jejak subscribe ya sayangku!

*

Tinggalin jejak subscribe.

1
-Thiea-
tinggal minta ganti uang aja Pi sama Kenji..😁
@Semua orang: besok aku mampirnya soalnya baru pulang maulid
total 1 replies
-Thiea-
ini merendah untuk meninggi kayaknya ya..😁
-Thiea-
masih sirik aja Lo.. makanya jadi cewek jangan terlalu jual murah. cowok tuh gak suka sama cewek kegatelan.😁
-Thiea-
lebih tepatnya dianggap setan. jadi gak terlihat.
-Thiea-
masih aja hidup ni tiga cewek setan..😑
-Thiea-
panggilannya campur-campur ya Thor. kadang aku kamu, kadang gue loe. kalo bahasa gaul gini, pake aku kamu biasanya karena udah mulai ada rasa.
@Semua orang: heeh 😁🤭 ya gitulah
total 1 replies
-Thiea-
itu juga yang kupikirkan. enak banget dong mereka kalo masih bisa bebas. sementara hopipah hidupnya udah hancur lebur.
-Thiea-
sebenarnya bagusnya di penjara aja tuh semuanya. tapi, ya sudahlah ya. apapun yang penting kedepannya kamu benar-benar bisa hidup tenang..
-Thiea-
makanya sekarang pun gak usah dibayangkan. dinikmati aja.
Schauven
Berasa liat f4
Schauven
Padahal sekandung ya
Schauven
Linzy ini temen yg baru kenalan tp suka tmi😂 nyerocos buanyak sekali
Schauven
Sebenernya aku mikir kalau panggilannya ipah
Schauven: Keren weh inspirasinya dari kitab
total 2 replies
Schauven
Masih ngerasa lucu sama namanya, unik sekali
-Thiea-
aduh, harusnya biarkan aja mereka masuk penjara.
-Thiea-
jangan mau Opi. enak aja mereka.
-Thiea-
terus suruh dibebaskan gitu. 😑
-Thiea-
mending cari cowok lain neng. cowokmu itu toxic.
-Thiea-
akhirnya ya... walaupun masalah belum benar-benar selesai, setidaknya sudah ada orang lain di sisinya.
-Thiea-
mulai sekarang baik-baik ya sama Opi. kasihan tuh anak.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!