Sayangi aku.. Dua kata yang tidak bisa Aurora ucapkan selama ini.. Ia hanya memilih diam saat mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang- orang di sekitarnya bahkan keluarganya. Jika dulu dia selalu berfikir bahwa kedua orang tuanya itu sangat menyayangi dirinya karena mereka yang tidak pernah memarahi bahkan menuntut dirinya untuk melakukan apapun dan sangat berbanding terbalik dengan perlakuan ke dua orang tuanya pada kakak dan adiknya.. Tapi semakin dewasa Aurora menyadari bahwa selama ini ia salah.. Justru keluarganya itu sedang mengabaikan dirinya.. Keluarganya tidak peduli dengan apapun yang ia lakukan ...
INGAT !!! Ini hanya cerita fiksi dimana yang mungkin menjadi tidak mungkin dan yang tidak mungkin menjadi mungkin..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunFlower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21
Happy Reading...
.
.
.
Dua minggu telah berlalu yang berarti bahwa hari pernikahan Rora dan Dika semakin dekat, semakin Dika banyak berulah. ia menjadi sangat menempel dan sebentar- sebentar merajuk jika Rora tidak menuruti keinginannya. Contohnya seperti saat ini, saat mereka melakukan test food catering untuk makanan yang akan mereka gunakan di acara pernikahan mereka nanti. Dika menyuapi Rora beberapa menu yang menjadi pilihan mereka sebelumnya.
"Bagaimana? Suka tidak? Atau ada menu lain yang kamu inginkan?" Tanya Dika setelah menyuapkan makanan terakhir pada Rora.
Rora hanya menganggukkan kepalanya karena menurutnya semua makanan enak asalkan bisa di makan.
"Atau kamu ingin menambah stand lagi?" Tawar Dika.
"Terserah kamu saja." Jawab Rora.
"Ck. Kamu kenapa sih? Yang akan menikah kita berdua loh Ra. Bukan aku sendiri. Tapi kenapa kamu jawabnya terserah terus?" Protes Dika. " Kemarin soal baju, cincin dan yang lainnya jawaban kamu juga terserah." Ucap Dika lalu menghentikan langkahnya pada meja yang terdapat puding di atasnya. Ia mencicipinya lalu menyuapkan juga pada Rora. "Maaf mbak. Sepertinya kemarin tidak include puding."
"Iya mas. Ini bonus tambahan menu dari kami."
"Wah terima kasih." Saut Dika.
"Apa masih ada yang perlu di ganti pak?"
Dika menggelengkan kepalanya. "Kita final pakai yang ini saja mbak. Mungkin nanti tambah satu stand lagi untuk menu saladnya." Ucap Dika.
"Baik. Apa ada lagi pak?"
"Cukup itu saja mbak."
"Baik. Jadi kita final pakai yang ini ya pak."
"Iya.. Pakai yang ini."
"Baik pak.. Semoga di lancarkan sampai hari H ya pak."
"Amin.. " Jawab Rora dan Dika bersamaan.
.
.
.
Selesai mengecek catering dan melakukan fitting baju mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah Dika.
Rora bergelayut di lengan Dika. "Kamu marah?" Tanya Rora pada Dika.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Dika.
"Memangnya aku kenapa?" Rora balik bertanya.
"Kamu sepertinya tidak antusias mengurus pernikahan kita. Disini hanya aku yang selalu mengambil keputusan. Kamu tidak lupakan kalau yang menikah itu kita berdua." Kesal Dika.
Rora menghela nafasnya. "Mana mungkin kaya gitu sih Dik. Kamu sendiri tidak lupakan kalau calon istri kamu ini cacat. Aku tidak bisa melihat semuanya dengan jelas. Lalu apa yang harus aku putuskan." Ucap Rora.
"Tapi kamu kan bisa mengungkapkan apa yang kamu inginkan Ra." Protes Dika lagi. "Misalnya kamu ingin tema pernikahan yang seperti apa?"
"Dik." Potong Rora. "Dengarkan aku. Bukannya aku tidak antusias. Aku selama ini berpikir yang terpenting dalam menyiapkan sebuah pernikahan adalah banyak mengobrol, menyamakan jalan kita untuk kedepannya. Mungkin dengan cara menemui psikolog pernikahan. Untuk hal- hal yang lainnya kita bisa menggunakan EO."
"Untuk konsultasi pernikahankan kita nanti pasti dapat."
"Tapi itu kan hanya formalitas. Aku ingin kita bisa deep talk. Bahkan aku sudah mengajak kamu berulang kali." Ucap Rora.
"Tapi kita baik- baik saja." Protes Dika.
Rora menepuk punggung tangan Dika yang sedang menggenggam tangannya. "Jujur sekarang aku ingin bertanya padamu, selama mengurus pernikahan kita sudah berapa kali kamu merasa kesal kepadaku hanya karena aku menjawab pertanyaan kamu dengan kata terserah? Berulang kali. Lalu kamu selalu merasa bahwa aku tidak antusias, Kamu merasa bahwa aku seakan akan tidak peduli dengan pernikahan kita."
Dika menyimak ucapan Rora. "Kamu hanya terlalu lelah karena memikirkan hal- hal yang seharusnya kita bisa menggunakan jasa EO. Aku ingin kita memikirkan hal- hal yang lain, yang bisa menjadi bekal untuk kita kedepannya nanti. Bagaimana menjadi suami yang baik.. Bagaimana menjadi istri yang baik.. Bagaimana kita berdua nanti bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak- anak kita."
Dika masih menyimak setiap perkataan yang Rora ucapkan tanpa berniat untuk menyelanya.
"Aku ingin pernikahan kita ini untuk selamanya. Tapi aku takut Dik.. Aku takut tidak bisa menjadi istri yang baik untuk kamu.. Aku takut tidak bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak- anak kita nanti." Ucap Rora. "Sebenarnya tante Elina yang menyarankan aku untuk menemui psikolog, tapi berhubung ini yang akan menghadapi adalah kita berdua jadi tante Elina menyarankan agar aku mengajakmu untuk menemui psikolog. Kita berdua." Rora menjeda ucapannya. " Kalau dari awal saja kita sering bertengkar.. Kita sering tidak kompak lalu bagaimana kita akan berjalan bersama untuk menghadapi rintangan di masa depan. Kita tidak mungkin jalan sendiri- sendiri kan?"
"Maafkan aku." Ucap Dika sambil memeluk Rora. "Kamu benar, baiklah besok aku akan mengatur jadwal untuk kita bertemu dengan psikolog. Maafkan aku ya.. Aku benar- benar bodoh.. Aku bahkan tidak menyadari kekhawatiran kamu." Lanjutnya lalu menciumi pucuk kepala Rora.
"Terima kasih.. Terima kasih karena sudah mau mendengarkan aku.. Aku hanya ingin kita benar- benar siap menghadapi pernikahan ini bersama- sama." Ucap Rora sambil mengeratkan pelukkannya.
Lyra menghentikan langkah kakinya lalu meremat kedua tangannya. Kedua matanya berkaca- kaca. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa setelah mendengar percakapan antara Rora dan Dika. Ia menghapus air matanya saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya.
"Sayang.." Panggil Citra sambil memegang bahu Lyra. "Kamu sedang apa? Kenapa kamu berdiri di sini?" Tanya Citra. "Kamu menangis? kenapa?"
"Setelah bertemu tante Lyra jadi kangen bunda tante... Lyra rasanya ingin pulang." Jawab Lyra.
"Sayang." Citra memeluk Lyra. Kedua mata Lyra kembali menatap ke arah Rora dan Dika yang saling bersandar. Lyra menjatuhkan air matanya lagi.
Citra menghapus air mata Lyra setelah melepaskan pelukkannya tapi air mata Lyra justru semakin berjatuhan. Hati Lyra terasa semakin sakit saat mengingat perkataan Citra tentang Rora. Bagaimana bersyukurnya Citra karena memiliki calon menantu seperti Rora. Bagaimana Dika yang terlihat sangat bahagia saat Rora menerima ajakannya untuk menikah. Bagaimana Rora yang bisa mengerti anak lelaki satu- satunya itu.
FLASH BACK ON
"Sayang." Panggil Citra sambil meraih tangan Lyra.
"Kenapa tante?"
"Dika sudah akan menikah. Apa kamu tidak ingin segera menyusul Dika?" Tanya Citra.
Lyra menggelengkan kepalanya. "Lyra masih belum mendapatkan yang cocok tante. Lagi pula aku masih belum mapan tante. Aku juga masih ingin puas bermain- main dulu." Jawab Lyra sambil tersenyum miris.
"Kamu perempuan untuk apa menjadi mapan. Itu sudah tugas calon suamimu nanti. Cari jodoh tidak harus yang sangat sempurna sayang. Cukup cari yang baik, yang sayang sama kamu. Cari yang mau bekerja sama untuk membangun rumah tangga karena menikah itu usahakan sekali seumur hidup. Kita tidak tahu kedepannya nanti kita hidup seperti apa. Jadi cari yang mau bertahan disaat kita berada dalam kondisi terburuk. Tante doakan semoga kamu segera bertemu dengan jodoh kamu seperti Dika." Ucap Citra lalu menghela nafasnya karena merasa lega. "Tante bersyukur karena Rora yang akan menjadi istri Dika." Ucap Citra tanpa menyadari kedua mata Lyra yang berkaca- kaca. Lyra menundukkan kepalanya. Bahkan Citra tidak sadar jika air mata gadis di hadapannya itu menetes.
FLASH BACK OFF
Citra mengusap kepala Lyra. Ia sudah menganggap Lyra itu seperti anaknya sendiri. Tapi yang ia tidak tahu adalah rasa cinta yang Lyra pendam untuk anaknya. Rasa cinta yang sudah sedari lama Lyra pendam.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak...
beautiful story
karena ini kan bukan yg pertama kali di kecewakan
dan si Aluna Aluna itu juga belum kelar.
masa ga dibikin bahagia dikit 😭
apa dulu naksir Ama bapaknya ga kesampaian 🤣🤣.jadinya benci Ama Mak nya
trus ke rora😔
ada yg bisa dimaki maki🤣🤣
seru kali yaaa
beresin dulu lah si Aluna Aluna itu
kalau ga
sampai kapanpun rora ga bakalan mau balik sama lu
apapun alesan nya
gw juga ogah
atau emang asal nya dr kota batu,malang kah?
lu nya aja plin plan
heran aku mah
karena bukan dia yg di pelaminan 🥹🥹
wah rame lagi ini ntar
perasaan ku udah ga enak 😭😭
Dika kah yg meninggal 😭😭
ga, bukan Dika yg JD pendonor nya
karena ga bisa diselamatkan 🥹