NovelToon NovelToon
Terjerat Pernikahan

Terjerat Pernikahan

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Perjodohan / Nikahmuda / Balas Dendam / Nikahkontrak / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Angst / Menikah dengan Musuhku / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ismi Sima Simi

Jika menikah hanya dijadikan sebuah alat pertukaran yang saling menguntungkan satu sama lain tanpa didasari rasa cinta, akankah kebahagiaan itu tercipta?

Kinara seorang gadis yang selalu pesimis dengan masa depannya. Ia memutuskan menikah dengan Gema Putra Mahardika laki-laki yang sudah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Hal tersebut rela ia lakukan demi kelangsungan hidup seorang gadis kecil yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit yang menggantungkan hidupnya hanya pada Kinara.

Akankah cinta hadir di antara mereka meski semua bermula dari terpaksa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlalu Berat Bebanmu

"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Farel saat merasa Nara sudah tidak lagi menangis.

"Maafkan aku," lirih Kinara sambil mengelap air mata yang mengering di pipinya.

Gadis itu beranjak dan mengajak Farel pindah ke sofa. Kaki sahabatnya itu sudah pasti kebas karena berjongkok di sampingnya sedari tadi. Meskipun sesekali Nara masih terisak, tapi dia sudah bisa mengontrol dirinya.

"Aku tidak punya apa-apa yang bisa kusuguhkan padamu saat ini." Nara memberikan senyum simpul pada Farel.

"Aku ke sini bukan untuk minta suguhan. Bagaimana keadaan Yana? Apa kau tidak ingin bercerita sesuatu padaku?" Rasa penasaran tidak bisa dia tahan, Farel berusaha memancing pembicaraan tentang keadaan sahabatnya.

Seolah mengerti yang Farel maksud dengan pertanyaannya, Nara diam sejenak dan menatap lekat sahabatnya tersebut. Gadis cantik itu terlihat ragu-ragu untuk membuka mulutnya. Hatinya juga masih terasa perih mengingat kejadian malam itu dan juga ucapan orang tua Gema. Ingin sekali Nara mengungkapkan segalanya pada Farel, tapi dia tahu betul sahabatnya itu tidak akan tinggal diam jika sampai tahu yang sebenarnya. Nara juga tidak mau hal ini berdampak pada pekerjaan farel juga kedepannya.

"Dia ... aku harus mencari pendonor secepatnya," ucap Nara menatap Yana yang sekarang lebih sering tertidur.

Farel terlihat tidak begitu terkejut dengan penuturan Nara. Ya, dia melihat perubahan yang sangat jelas dari wajah gadis kecil itu. Dia terlihat semakin memucat dan lemah, tidak seperti terakhir mereka berjumpa sekitar tiga minggu yang lalu. Farel menghela napas berat, dia bisa membayangkan betapa berat beban yang harus sahabatnya itu tanggung saat ini.

"Lalu ... bagaimana dengan kecelakaan itu?" tanya Farel dengan sedikit hati-hati.

"Yah, itu ... Mereka menawarkan jalur damai padaku—"

"Apa kau menerimanya begitu saja?" sela Farel dengan menatap tepat pada kedua mata Nara.

"Belum. Entahlah, aku membutuhkan semuanya. Keadilan dan uang. Tenang saja, kau tidak perlu khawatir dengan ini, aku hanya ingin fokus pada Kiyana," ucap Kinara sembari menyunggingkan senyum simpul.

"Katakan padaku jika kau butuh bantuan untuk pengobatan Yana, aku dengar dia jadwal cuci darahnya dimajukan lagi?"

"Hmm, terima kasih banyak, Rel. Kau sendiri juga sedang butuh uang untuk membiayai adikmu yang sebentar lagi masuk SMA. Aku sudah terlalu sering merepotkanmu, bahkan hutangku padamu saja belum bisa aku bayar. Jangan mengkhawatirkan aku." Kinara menatap lembut Farel memintanya untuk mengerti apa yang dia maksud.

Farel hanya tertunduk diam dan menghela napas berat mendengar jawaban dari Kinara. Ya, dia tidak bisa membantu banyak untuk sahabatnya itu. Dia adalah anak pertama dari dua bersaudara, Farel juga merupakan tulang punggung bagi keluarganya karena ayahnya sudah meninggal dan ibunya juga sakit-sakitan. Perasaan pria itu begitu kacau, ingin sekali dia menggantikan posisi Nara untuk memikul beban seberat ini, tapi kondisinya sendiri juga tidak memungkinkan untuk melakukan itu.

"Rel, kau sudah selalu ada di sisiku saja itu sudah cukup bagiku." Nara mencoba menghibur sahabatnya yang masih terus menundukkan kepala itu.

"Maafkan aku. Maaf aku tidak ada saat kau sedang membutuhkan dan aku juga tidak bisa membantu apa-apa, aku merasa tidak berguna sebagai seorang sahabat," ucao Farel penuh sesal.

Kinara meraih kedua tangan pria tampan dengan alis tebal itu, dia menggenggam dan menatap wajah Farel yang masih tertunduk. "Kau memang bukanlah barang yang bisa aku pergunakan, tapi kau tau? Kau itu sangat berarti buatku dan Yana. Jika saja waktu itu kau tidak meminjamkan aku uang, entah apa yang sudah terjadi pada Yana. Jadi berhenti bersikap seperti ini." Nara meyakinkan Farel dan dia berhasil membuat pria berkulit sawo matang itu mengangkat kepalanya.

Farel menatap manik mata Kinara yang berwarna coklat terlihat begitu bening. Mata yang begitu memabukkan, ingin sekali gema menarik tubuh gadis itu kedalam pelukannya sekarang, tapi dia sadar jika itu dilakukannya akan membuat hubungan persahabatan mereka menjadi canggung. Mata Farel beralih pada genggaman tangan Nara. Begitu hangat, dia menatap lekat tangan putih mulus itu yang terlihat kontras dengan warna kulitnya.

"Bukankah sekarang seharusnya kau yang mencoba menghiburku? Kenapa jadi sebaliknya," ucap Nara sinis menarik tangan dan menyedekapkan tangannya.

Farel terhenyak saat Kinara menarik tangannya. "Oh, maafkan aku. Aku terlalu sibuk dengan perasaanku sendiri, apa kau ingin sesuatu?"

"Tidak, tapi kelihatannya ini sudah sangat malam." Ekor mata Kinara melirik ke arah jam yang tergantung di atas pintu.

"Wahh, sudah hampir jam sebelas ternyata. Pulanglah, aku tidak mau kau besok bangun kesiangan. Aku besok juga harus mulai masuk kerja."

"Apa kau mengusirku? Keterlaluan. Apa aku perlu mengantarmu besok?" tanya Farel sambil beranjak dari kursinya.

"Tidak perlu, aku bisa naik motorku sendiri," pungkas Nara sambil membukakan pintu.

Maafkan aku, Rel. Aku tidak mau menambah pikiranmu lagi, sudah banyak beban yang harus kau tanggung. Aku akan menyelesaikan ini sendiri, batin Nara menatap punggung Farel yang semakin menjauh.

Nara kembali ke sofa dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Dia mencoba memejamkan mata, berharap semua bebannya hilang saat besok pagi dia kembali membuka matanya.

Sementara Gema, dia masih terlihat sibuk dengan komputer di ruang kerjanya. Sebagai pemilik perusahaan di bidang IT, sangat sulit baginya untuk mendapatkan waktu tidur yang cukup. Setiap kali ingin memejamkan mata, semua hal yang berhubungan dengan bisnisnya terus saja berlarian di kepala, hingga membuat pria itu memilih menghabiskan waktu di depan komputer. Rasanya tidak ada hal lain yang bisa terpikirkan olehnya selain tentang perusahaannya dan cara untuk mengembangkannya. Tapi kali ini bukan perusahaan yang menjadi pengganggu tidur pria bertubuh atletis itu, melainkan seorang gadis yang begitu cantik.

Ya, Kinara adalah gadis cantik yang sedang mengganggu pikiran Gema. Jantungnya berdegup dengan cepat saat wajah sayu dan suara tangis gadis itu terngiang di kepalanya. Entah rasa iba, rasa bersalah, atau apapun itu, yang pasti hatinya terasa ikut berdenyut nyeri mendengar tangisnya. Gema mengusap kasar wajah tampannya. Rambut berantakan itu juga turut mengisyaratkan betapa kusut pikirannya saat ini.

"Tuan Muda, apa mau saya bawakan kopi?" Suara Paman Sam membuat Gema sedikit terhenyak.

"Ya," jawab Gema singkat tanpa menatap Paman Sam yang berdiri di dekat pintu.

"Apa Anda ... benar-benar berencana menikahi gadis itu?" tanya Paman Sam sedikit ragu.

Gema mengangkat kepalanya menatap Paman Sam. Dia mengernyitkan dahi, bagaimana mungkin Paman Sam tahu, apa Bi Sumi yang memberitahunya? pikir Gema masih dengan menatap curiga pada Paman Sam.

"Jika dia masih ada, pasti sekarang dia seusianya dan secantik dirinya juga. Benar kan?" Gema melayangkan pertanyaan pada Paman Sam.

"Iya, mungkin lebih cantik," jawab Paman Sam sembari menyunggingkan senyum simpul.

"Ya, mereka seumuran. Apa kau juga tertarik dengannya? Wajah mereka sangat berbeda, hanya usianya yang sama." Gema melirik Paman Sam ingin tahu reaksi yang akan ditunjukkan pria berumur itu.

"Apa Anda mau kopi?" Paman Sam mencoba mengalihkan pertanyaan.

"Aku akan menikahinya, anggap saja aku melakukan ini semua juga untukmu. Setidaknya kau bisa melihat kekeras kepalaan yang sama di dirinya. Jadi jangan hancurkan rencanaku," ucap Gema memperingatkan Paman Sam.

Bersambung ....

_____________________________________________________

Terima kasih banyak sudah membaca cerita Simi. Sekali lagi Simi mohon dukungannya agar Simi lebih semangat update dengan cara Like, Komen, Vote, dan kasih rating bintang 5 yaa teman-teman.

Kalian tau, like dan komen kalian itu berharga banget loh buat author, apalagi kalo kalian dengan senang hati ngasing vote juga. Ditunggu komentarnya guys.

Terima kasih banyak, i love you so much.

1
Shifa Burhan
berani novelis wanita buat cerita kayak gini tapi dibalik istri yang berantem dengan sahabat wanita suaminya dan suami tidak membela siapapun

berani tidak author buat scen kayak gini
raqeela cantiq
sebel nsnsk lampir
raqeela cantiq
bagus bgt ceritanya
raqeela cantiq
cerita nya bagus thor
Siti qomariah
karya yang nagus
Siti qomariah: karya yang bagus
total 1 replies
shadowone
sangat rekomended, ceritanya bagus, cerita kekeluargaan tanpa pelakor. Jadi bagi lima bintang.
shadowone
aku panasaran kisah cintanya tahta. lepas ini akan survey tahta.
shadowone
🤣🤣🤣🤣
shadowone
jangan2 farel kecelakaan juga.
shadowone
terpaksa komentar jadi takut sama parang ibu ibu itu hahahahah.
shadowone
160 itu suda tinggi apalagi kalu badan kurus. yg munggil itu 150-155
ririe
tdk bertele²
Dwi Budianti
gak kuat 😭😭😭😭
Deo FR
bagus
Maya Ratnasari
tembakan hanya mengenai jantung, itu bukan "hanya" Thor, itu mah langsung menyebabkan kematian. mungkin maksudnya, nyaris mengenai jantung.
Maya Ratnasari
aku.
aku paling sebel kalo BAB kepanjangan. selain itu, kalo mau beralih ke cerita baru pun, aku akan cari episode yg tidak terlalu panjang, kalo bisa di bawah 100 chapters.

Jadi, episodenya pendek, cerita per BAB/chapter nya juga pendek. setelah itu baru deh berharap cerita nya bagus.
Maya Ratnasari
GPS
Maya Ratnasari
oh. ukuran pintu segitu ya Thor, aku ngga pernah tau ukuran standar untuk pintu.
Maya Ratnasari
itu yg ngancem pake panci, visual nya kak simi?
Maya Ratnasari
tadi dua puluh dua tahun, sekarang dua puluh tahun. yang bener yang mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!