Novel kesembilan🪻
Rania adalah seorang wanita muda yang berprofesi sebagai guru. Ia multitalenta, baik hati, cantik, dan mandiri. Suatu hari Rania bertemu dengan seorang pemuda tampan yang lebih muda darinya, Logan namanya.
Awal pertemuannya dengan Logan, diwarnai dengan banyak kesalahpahaman. Namun apa daya cinta terlanjur tumbuh di hati keduanya.
Walaupun banyak perbedaan dan rintangan yang hadir di antara keduanya, termasuk kenyataan bahwa ternyata Logan adalah siswa di tempat Rania mengajar, tak cukup kuat untuk menghapus rasa yang sudah tumbuh di antara mereka.
Suatu hal kemudian terjadi. Logan bak seorang putra mahkota yang tiba-tiba saja harus menggantikan posisi raja yang diduduki sang ayah di perusahaan besar miliknya.
Hari-hari berat harus dijalani Logan dan membentangkan jurang pemisah lebih jauh lagi antara dia dan Rania.
Bagaimana kisahnya? Apakah kesempatan untuk mereka bersatu masih ada?
Unofficial Sound Track: Coldplay-The Scientist
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Kejadian Tak Terduga
"Itu udah jadi masa lalu. Gak usah dipikirin lagi. Sekarang kamu harus berdamai sama masa lalu kamu. Kamu bilang mau mulai hidup baru 'kan? Jadi ya kamu harus maafin masa lalu kamu dan fokus sama masa depan kamu," ucap Rania sambil tersenyum, mencoba memberikan Logan energi positif.
Logan yang terlihat kesal sebelumnya, kini terseyum lega. "Makasih ya, Ran. Aku yakin sekarang aku bakal lebih bahagia karena ada kamu hadir dalam hidup aku."
Seketika Rania merasa seperti ada di atas awan. Desiran itu semakin kencang Rania rasakan. Bahkan detak jantungnya kini terasa lebih bergemuruh. Sontak Rania merasa apa yang sudah ia katakan pada Logan terlalu berlebihan.
"Sa-saya mau habisin makanan saya." Bahkan suara Rania gugup sekarang. Rania segera menyibukkan diri dengan menyantap steaknya lagi yang tersisa beberapa potong.
Logan tersenyum gemas melihat Rania yang kini salah tingkah. Tak ingin membuat Rania merasa semakin terpojok, Logan pun beranjak. "Ya udah, aku ke toilet dulu bentar," pamit Logan.
Rania kehilangan selera makannya. Ia meletakkan garpunya dan memegang kedua pipinya yang terasa hangat. "Nyesel banget deh udah setuju buat ngedate. Muka aku pasti udah merah banget gara-gara omongan Logan barusan. Ran, gimana sih kamu?"
Memberi Logan kesempatan untuk berkencan ternyata bukan hal yang benar. Hal ini malah membuat Logan semakin berharap mendapatkan Rania. Perasaan Rania pun semakin tumbuh.
Namun meskipun demikian, logika Rania juga tak tinggal diam. Akal sehat itu semakin keras menyadarkan Rania bahwa perasaan itu tidak boleh tumbuh di hatinya.
"Ran, sekarang kamu cuma lagi ge-er aja. Karena Logan ganteng, makanya kamu jadi ngerasa salting disukain sama dia. Ini bukan kamu kok yang mulai suka sama dia. Bukan, Ran. Entar juga kamu bakal lupa sama dia." Rania bermonolog memberikan pengabaian akan getaran yang muncul di hatinya terhadap Logan. "Kamu suka sama cowok bau kencur kayak gitu? Gak mungkin, Ran. Itu gak mungkin. Gak mungkin banget! Mending makan lagi deh daripada mikirin yang enggak-enggak."
Rania pun memaksakan dirinya agar menghabiskan potongan steak yang masih tersisa, padahal ia sudah merasa tidak berselera untuk makan.
Sekitar lima belas menit Logan belum juga kembali. Rania mulai merasa khawatir. "Logan ke toiletnya lama banget?" Ia pun memutuskan untuk menyusul Logan. Saat melewati kasir, kasir memanggil Rania.
"Maaf Mbak, ini struknya. Tadi Masnya udah bayar tapi lupa belum ambil struknya." Rania memandang bukti pembayaran itu. Ada perasaan lega dan tidak enak. Lega karena ternyata dia tidak harus kehilangan uang makannya. Namun ia tidak enak karena Logan membayarkan untuknya. Bagaimana pun Logan adalah cowok yang belum lama ia temui.
"Tapi, temen sayanya mana ya, Mbak?" tanya Rania kemudian.
"Tadi masnya tiba-tiba pergi keluar, Mbak." Kasir itu meneruskan.
'Logan pergi ke mana?' batin Rania bertanya-tanya. 'Gak mungkin 'kan dia ninggalin aku sendirian di sini?'
"Ya udah makasih ya, Mbak."
Rania pun meninggalkan restoran itu dengan bingung. Ke mana perginya Logan, kenapa juga ia pergi tanpa mengatakan apa pun?
Rania pun mengedarkan pandangannya. "Logan ke mana sih?" gerutu Rania mulai kesal karena sosok tinggi, putih dan tampan itu tak bisa ia temukan keberadaannya.
Tiba-tiba, Rania melihat beberapa orang berkumpul. Sontak Rania terkejut karena melihat ternyata orang-orang itu mengerumuni seseorang yang tergeletak di tanah. Saat melihat lebih dekat sontak Rania terkejut. "Logan!"
Rania membelah orang-orang yang mengerumuni Logan dan melihat Logan yang mengerang kesakitan memegang perutnya. Pipinya lebam dan sudut bibirnya mengeluarkan cairan kental berwarna merah. "Ya ampun, Logan!"
Tak jauh dari sana, ada beberapa motor ninja dengan knalpot yang meraung-raung baru saja pergi.
"Orang-orang itu yang mukulin temennya, Mbak!" ujar seorang pria. Rania menatap marah dan tak percaya ke arah motor-motor yang kini sudah semakin jauh dari mereka.
"Ya ampun kamu gak apa-apa? Mereka siapa, Gan?" tanya Rania cemas seraya membantu Logan untuk duduk.
Logan tidak menjawab, ia masih meringis kesakitan dan memegang perutnya.
"Mbak, saya panggil ambulans, ya." Rania mengangguk dan berterimakasih pada seseorang.
"Gak perlu..." ucap Logan masih memegang perutnya.
"Tapi kamu luka. Kita ke rumah sakit ya," ucap Rania khawatir.
"Aku gak apa-apa..." Logan meludahkan darah dari mulutnya beberapa kali. "Gak usah ke rumah sakit. Aku baik-baik aja."
"Ya udah Bu, Pak, makasih ya. Temen saya udah gak apa-apa." Orang-orang akhirnya membubarkan diri setelah Rania mengucapkan terima kasih.
"Ran, jangan kasih tahu Bunda dulu ya. Jangan hubungi siapa pun, please," pinta Logan.
Rania tidak yakin kalau tidak mengabari Carla adalah pilihan terbaik. Tapi Rania merasa tidak berhak ikut campur.
"Kamu bisa nyetir 'kan? Kita pergi dari sini dulu," ucap Logan, Rania mengangguk.
Ia memapah Logan masuk ke kursi penumpang. Kemudian Rania masuk ke kursi kemudi. Memasang sabuk pengaman untuk Logan dan bersiap di belakang kemudi. Namun seketika ia merasa was-was dan tangannya gemetar.
"Tapi Gan aku gak bisa pake mobil sport gini." Rania sangat gelisah karena ia belum pernah mengendarai mobil sport sebelumnya.
"Aku yakin kamu bisa. Sama kok kayak mobil biasa, cuma gasnya aja pelan-pelan." Logan menjelaskan sambil masih kesakitan.
Rania tidak tega melihat Logan yang kesakitan. Akhirnya Rania mencoba menghilangkan rasa gelisahnya dan fokus pada mobilnya.
"Ran, cari dulu apartemen Acalapati di GPS. Kita ke sana sekarang." Rania segera menuruti yang Logan perintahkan.
Setelah GPS sudah aktif, Rania segera mengendarai mobil itu, mengikuti arahan GPS menuju Apartemen Acalapati. Setelah beberapa saat Rania cukup bisa bernafas lega karena ia bisa mengendarai mobil Logan dengan cukup lancar. Tidak lama kemudian mereka sampai di basement apartemen.
Rania segera turun dari mobil, memutari kap mobil menuju pintu kursi penumpang dan membuka pintunya. Rania pun memapah Logan yang masih kesakitan menuju lift dan anak Tangga yang bersebelahan. Rania bingung akan menggunakan yang mana.
"Pakai lift aja..." lirih Logan.
"Gak apa-apa kita pakai lift?" tanya Rania sebelum memasuki lift.
"Gak apa-apa. Cuma di lantai lima kok apartemennya."
Rania mengangguk, "ya udah."
Jangan cuma baca ya kak, ulasan, comment dan likenya please 🥰