Dulu, aku adalah seseorang yang menjadi inspirasi hidupmu, Aku lah wanita yang selalu kau bangga-banggakan pada siapapun yang bertanya perihal siapa sosok di balik kesuksesan mu.
Namun sekarang, aku hanya sebuah nama yang terkubur bersama masa lalu mu. Kau sembunyikan aku jauh dari hidup mu. Semua sudah berubah, hanya karena orang-orang baru, aku tersingkirkan dari sisi mu.
Terima kasih Mas, kau pernah memeluk ku dengan erat, meski pada akhirnya kau melepaskan ku demi dia. Ya, dia yang jauh lebih sempurna di bandingkan diriku.
Dari dirimu aku belajar, pernah dibahagiakan bukan berarti tidak akan disakiti. Pernah di cintai bukan berarti tidak akan dibenci dan aku mengerti. Aku tidak akan pernah bisa selamanya menjadi orang yang berharga di hati mu. Karena aku bukanlah pelabuhan hati mu yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Hari bahagiaku telah tiba. Ya hari ini adalah hari bahagiaku bersama Ferdy. Aku telah melewati masa stres dan sulit tidur menjelang penikahan kedua ku kali ini. Meski Mami dan Papi sudah berusaha menenangkan ku. Tapi tetap saja hatiku tak tenang, hal ini tak seperti apa yang aku rasakan di pernikahan ku terdahulu dengan Mas Doni.
Di sebuah hotel yang mewah pernikahan aku dan Ferdy pun di langsungkan. Banyak tamu undangan dari kelas atas yang hadir menjadi saksi kisah cinta kami berdua.
Aku lihat Ferdy, calon suamiku menitikan air matanya, ketika Papi dan Mamiku menggandeng diriku menghampiri meja akad nikah, dimana sudah ada seorang penghulu yang tengah duduk dengan manis di sana dan ada dua orang saksi pernikahan ku yang tidak ada satu pun dari mereka yang aku kenali.
"Papi apa Lea sedang bermimpi? Jika ia, tolong bangunkan Lea Pih," tanyaku pada Papi yang tetap berjalan menggandeng tangan ku.
Aku begitu bahagia melihat dekorasi ballroom hotel yang begitu indah dengan hiasan berbagai jenis bunga-bunga yang indah. Ini sangat berbanding terbalik dengan pernikahan pertama ku yang cukup mewah namun tak semewah dan semegah ini, apalagi dengan hadirnya kedua orang tuaku yang mendampingi ku seperti ini. Bahagia dan terharu itulah yang bisa aku gambarkan tentang perasaan ku hari ini.
"Tidak Lea, kamu sedang tidak bermimpi putri ku. Lihatlah pria yang sangat mencintaimu tengah menitikan air mata bahagianya atas penantian panjangnya yang tak sia-sia." Jawab Papi yang tersenyum bahagia melihat Ferdy.
Aku ikut tersenyum bahagia melihat Ferdy, calon suamiku itu. Senyum bahagia yang membuatku ikut menitikan air mata bahagia ku. Beruntungnya diriku dicintai sedalam ini oleh pria sebaik dan setampan Ferdy.
Langkah kami terhenti tepat di meja akad nikah ku. Mamiku dan Mami Ferdy, membantu ku duduk di kursi. Mereka berdua kompak menolak crew WO yang ingin membetulkan kebaya mewah yang cukup berat aku kenakan, karena banyak bertaburan batu Swarovski.
Mereka menolaknya bukan karena banyaknya batu mewah yang harganya selangit itu, tapi karena ingin melakukan yang terbaik untuk diriku. Sungguh aku merasa bahagia dengan perlakuan mereka yang sangat manis pada ku.
"Bagaimana sudah siap?" Tanya penghulu pada kami berdua.
"Siap." Jawab Ferdy dengan suara tegasnya. Aku menatap wajahnya yang menatap lurus ke depan. Ia terlihat tenang dan tak setegang yang aku bayangkan.
Tak lama kemudian, Pak Penghulu mengawali proses pernikahan kami. Ia memulai prosesi pernikahan kami ini dengan mengucapkan kalimat basmalah terlebih dahulu.
Kemudian Pak penghulu menuntun tangan Papiku dan disambut oleh tangan Ferdy. Kedua tangan pria dihadapan ku ini saling berjabat tangan. Bersiap untuk membaca ikrar janji suci cinta Ferdy untuk ku.
"Saya terima nikah dan kawinnya Lea Humaira binti Broto Suteja dengan Mas Kawin 101 gram logam mulia dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi sah?" Tanya pak penghulu pada kedua saksi dari kedua belah pihak.
"Sah." Jawab kedua saksi secara serempak.
"Sah," suara para undangan lain yang ikut bersuara meramaikan prosesi akad nikah kami.
"Alhamdulillah Sah," ucap Pak penghulu yang kemudian melanjutkan dengan memanjatkan doa untuk kaminm yang duduk di hadapannya ini.
Mami Mila dan Tante Lita menangis haru, melihat kami putra dan putrinya telah menikah hari ini. Tangis sedih dan bahagia dari dua sosok ibu yang berharap pernikahan kami akan berjalan lancar, bahagia dan langgeng begitu terpancar nyata di wajah mereka. Membuat ku tersenyum haru dan bahagia.
Aku melihat Ferdy di tuntun Pak penghulu untuk memasangkan cincin nikah di jari manis ku. Cincin nikah bermatakan berlian yang dikenakan di jari ku ini adalah cincin yang sudah di siapkan oleh Ferdi sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Ia benar-benar yakin jika suatu hari nanti aku akan menikah dengannya.
Setelah Ferdy selesai memasangkan cincin di jari manis ku, kini giliran diriku memasangkan cincin nikah di jari manis Ferdy. Ketika diriku sudah selesai memasangkan cincin di jari manis Ferdy. Pak Penghulu menuntun diriku untuk mencium punggung tangan Ferdy yang kini terlahnresminmrnjadi suamiku. Aku pun melakukannya.
"Silahkan Mas Ferdy, istrinya sudah boleh dicium ya." Ucap Pak penghulu seakan sedang meledek Ferdy.
Penghulu itu bicara seperti itu ketika diri ku sudah selesai mencium punggung tangan suamiku ini. Ferdy pun mengecup keningku dan berucap, "Aku akan mencium mu lebih dari ini nanti, jika kita sudah ada di kamar pengantin kita. Bersiaplah istriku, Lea Humaira." Aku hanya tersenyum mendengarnya bicara seperti itu pada ku.