Nada Aruna Lya seorang perempuan dewasa terpaksa menikah dengan Fardanu Satya Aji seorang bocah SMA hanya karena kesalahan satu malam yang tak sengaja mereka perbuat, mereka terpaksa terjebak dalam suatu hubungan pernikahan yang menurut Nada sangatlah absurd karena dalam kamusnya tak ada pernikahan dengan seorang laki-laki yang umurnya berada dibawahnya.
Akankah pernikahan mereka akan terjalin selamanya? Ataukah hanya sementara waktu?
"Gue enggak nyangka gue bisa nikahin bocah ingusan kayak lo!!" sentak Nada kesal, namun Danu hanya menatap Nada tenang seakan tak terpengaruh akan perkataan Nada yang mengejeknya.
"Bocah ingusan yang kamu bilang ini bisa memberikanmu kepuasan loh, apa kamu lupa?" Danu tersenyum menatap Nada yang kini melotot.
Penasaran dengan kisah mereka? Ayo dibaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Simiftahul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Power Rangers
Hati Nada saat ini tengah riang gembira, mau tau apa alasannya? Pertama, Danu si suami berondongnya sudah mulai berubah, tidak manja-manjaan lagi padanya. Kedua, ia mendapatkan bonus dari kantor karena telah berhasil membuat seorang pembeli merasa puas dengan pekerjaannya. Ketiga, karena ini pertama kalinya bagi perusahaan mereka mendapatkan tender besar-besaran, Pak Wira mentraktir semua karyawannya disebuah restoran mahal. Kapan lagi coba Pak Wira jadi sebaik itu, jadi hari ini adalah hari yang begitu membahagiakan untuknya.
Namun sepertinya itu tak berlangsung lama ketika Nada mulai memasuki rumahnya, matanya melotot sempurna menatap pemandangan didepannya ini. Aura kemarahan terpancar jelas dimatanya, bahkan kalau ini didalam anime kartun mungkin akan keluar dua tanduk berwarna merah dikepala Nada. Nada melihat Danu bersama wanita lain? Tidak bukan itu, ini malah lebih buruk dari terkaan kalian.
"ASTAGA DANU!!!" Teriak Nada kini menghampiri Danu.
"Apa yang lo pake itu hah!!?" Teriak Nada marah.
"K-katanya kamu suruh aku berubah jadi power rangers ya udah aku berubah." Ucap Danu takut-takut.
Yang membuat Nada marah serta murka adalah dia kini melihat Danu tengah memakai kostum power rangers, sekali lagi ia tekankan kalau Danu saat ini tengah memakai KOSTUM POWER RANGERS. Astaga, Nada tidak dapat mempercayai penglihatannya saat ini. Padahal ia sudah merasa senang dengan perubahan Danu, namun mengapa pria itu malah mencari masalah lagi coba?
"Gue minta lo merubah sikap lo Danu, bukannya malah merubah diri lo kayak power rangers gini." Geram Nada kesal.
"M-malam itu kan kamu bilang kalau aku harus merubah sikap aku, jika perlu seperti power rangers. Karena aku gak tahan kalau gak manja-manjaan sama kamu jadi lebih baik aku pakai kostum power rangers aja." Nada menganga lebar mendengar ucapan Danu, pria dihadapannya ini suaminya bukan sih? Tiba-tiba dia tidak ingin mengenal Danu lagi.
"Bagaimana mungkin pikiran lo kayak bocah gitu!? Gue minta lo berubah jadi dewasa, bukannya malah jadi power rangers gadungan kayak gini!!" Sentak Nada emosi.
Nada tidak habis pikir dengan jalan pikiran Danu, sebenarnya yang gila disini siapa sih? Dia atau Danu? Ah sepertinya dia yang gila karena bisa-bisanya menikah dengan pria berkelakuan anak-anak seperti Danu. Wanita itu menjambak rambutnya sendiri ketika melihat mata Danu mulai berkaca-kaca, astaga!! Pasti suami berondong itu mau mewek lagi deh. Sebenarnya dia menikah dengan pria jenis apa sih? Mengapa hidupnya jadi apes begini? Danu sih hebat diranjang, tapi jika diluar... Nada bahkan malas mengatakannya.
"Lo cowok Danu!! Ngapain lo mewek begitu? Cengeng banget sih!?" Ucap Nada gusar.
"Aduuh ada apa ribut-ribut Tuan dan Nyonya muda?" Tiba-tiba pembantu Nada dan Danu menghampiri dua majikannya yang masih bersitegang.
"Ah biasalah Bi, urusan suami istri. Bi Siti ke dapur aja dulu, itu barang-barangnya harus dimasukin kulkas kan?" Tunjuk Nada pada kantung plastik yang dibawa Bi Siti.
"Eh iya, kalau begitu Bibi kedapur dulu. Nyonya, Tuan muda jangan dimarahi lagi ya? Kasihan dia sampai menangis begitu." Ucap Bi Siti yang dibalas cengiran Nada.
"Kita lagi gak berantem kok Bi, Danu cuma lagi ada kelas akting makanya minta bantuan saya." Elak Nada berbohong, ya iyalah. Tidak mungkinkan Nada jujur kalau dia habis membentak Danu terus suami berondongnya itu langsung mewek begini.
"Oh gitu, kirain Bibi kalian berantem. Ya sudah Bibi kedapur dulu." Setelah melihat kepergian Bi Siti, Nada menatap tajam Danu.
"Lo, ikut gue ke kamar!!" Titah Nada lalu berjalan terlebih dahulu menuju kamar, tidak mungkinkan kalau mereka akan bertengkar disini terus. Lebih baik membawa Danu kekamar agar Nada puas memaki-maki Danu dengan kesal diruangan kedap suara itu.
"Danu lo dengerin gue ya-..." Nada yang akan mulai memaki Danu terhenti ketika membalikkan tubuhnya dan mendapati Danu yang sudah melepas topengnya kini terisak pelan, ya Tuhannn... Salah Nada apa sih sehingga diberikan suami seperti Danu?
"Ya ampun Danu, lo kenapa nangis terus sih!? Gak malu apa sama umur dan badan gede lo!!?" Bukannya menghentikan tangisnya, Danu malah semakin terisak membuat Nada bingung harus melakukan apa.
"A-aku gak suka kalau kamu bentak begitu. " Ucap Danu disela tangisnya, Nada kasihan sih melihat Danu yang sedari tadi menangis. Tapi mau bagaimana dong? Dia bingung menghadapi Danu yang seperti ini, bagaimana coba membuat Danu agar menghentikan tangis cengengnya itu?
Akhirnya dengan ragu Nada berjalan perlahan mendekati Danu, tangannya terulur mengusap air mata Danu kemudian membawa suami bocahnya itu kedalam pelukannya. Kok kayaknya posisi mereka kebanyakan kebalik ya? Biasanya kan si wanita yang sering menangis terus si pria akan menenangkannya, lah kalau mereka? Jangankan Nada menangis, orang bawaannya dia emosi terus kalau melihat Danu. Bisa tua mendadak kalau begini caranya, Nada tidak mau ya diumurnya yang masih muda dia sudah ubanan.
"Maafin gue udah bentak lo, lo kan tau kalau gue orangnya memang kayak gitu." Ucap Nada sambil mengusap punggung Danu dengan pelan.
"Kita duduk disitu yuk? Pegel nih kalau lama-lama berdiri." Ucap Nada ketika beberapa menit mereka berada dalam posisi berdiri sambil berpelukan.
Padahal Nada inginnya agar mereka duduk bersisian, memang dasarnya Danu yang manja sehingga ia memilih merebahkan kepalanya dipaha Nada. Tangannya dengan lancang menuntun Nada agar mau mengusap kepalanya, kalau saja Nada tidak ingat hari ini Danu menangis karenanya mungkin sudah Nada jambak habis-habisan rambut tebal Danu hingga botak.
"Lo suka banget ya posisi begini?" Tanya Nada sedikit menyindir.
"Hhmm, suka..." Gumam Danu, pria itu mulai mendusel-dusel manja diperut Nada. Tangannya memeluk pinggang Nada erat, rasanya begitu nyaman berada diposisi ini.
"Aku merasa disayangi kalau seperti ini." Ucap Danu, matanya bertemu pandang dengan mata Nada ketika pria itu mendongak bertepatan dengan Nada yang menunduk.
"Makasih ya yang, sudah mau menerima kekuranganku." Ucap Danu sambil tersenyum begitu manisnya.
Lah kapan coba Nada mengatakan kalau dia menerima segala kekurangan Danu? Yang ada dia mengumpati keapesannya hingga harus berumah tangga dengan Danu. Tapi kok gue jadi kasihan sih? Wajahnya tuh imut-imut patut dikasihani. Tanpa diminta tangan Nada kembali mengusap dikepala Danu dan beralih ke matanya yang tadi mengeluarkan air mata.
"Lo itu udah gede gak boleh nangis lagi, apalagi lo itu anak cowok. Harus kuat, tahan banting jangan cengeng kayak gitu lagi." Ucap Nada sambil mengusap mata Danu.
"Aku cuma kayak gini kalau sama kamu kok yang." Gumam Danu yang masih dapat didengar oleh Nada, setelah menggumamkan itu dia kembali menenggelamkan wajahnya di perut Nada sesekali menciuminya membuat Nada kegelian.
Tingkah Danu ini ya tidak bisa diprediksi oleh Nada, Nada juga bingung harus melakukan apa ketika Danu sudah menangis seperti tadi. Ternyata cara menenangkan Danu itu mudah, hanya berikan dia kasih sayang dengan cara memanjakannya maka dia akan tenang. Astaga... Kalau begini caranya, Nada seperti baby sitter yang tidak digaji.