Elzia manofa, seorang anak SMA yang di jodohkan dengan duda anak satu, bagaimana kelanjutan cerita mereka, ikuti yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Arkana
Arkan mematikan layar besar itu dengan sekali sentakan jarak jauh, memutus wajah ibunya sebelum kata-kata beracun itu merusak suasana lebih jauh. Ia menoleh ke arah Zia, yang tampak sedikit pucat mendengar ancaman tadi.
“Abaikan dia,” ucap Arkan tegas, namun suaranya lembut. "Dia hanya mencoba memenangkan permainan pikiran. Selama kamu di sini, tidak akan ada fase apa pun yang menyentuhmu."
Arkan menarik napas dalam, mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih santai.sebuah kemampuan akting yang hanya ia tunjukkan di depan Zia. "Sekarang, ganti gaunmu. Kita akan melakukan sesuatu yang sangat... normal."
Satu jam kemudian, bukan setelan tuksedo atau gaun mewah yang mereka kenakan. Arkan mengenakan turtleneck hitam dan celana bahan yang santai, sementara Zia mengenakan sweter oversized berwarna krem dan celana jeans
Arkan membawa Zia ke teras luas yang menatap ke arah lembah. Di sana, sebuah meja kecil sudah disiapkan dengan cokelat panas Swiss, croissant segar, dan berbagai macam keju.
"Om yang menyiapkan ini semua?" tanya Zia sambil menyambar cokelat panasnya.
"Aku yang memerintah, mereka yang menyiapkan. Itu resolusi normal di sekelilingnya," jawab Arkan santai sambil menyajikan selai di atas roti Zia. "Dan berhenti memanggilku 'Om' di sini. Kita sedang di Swiss, bukan di Jakarta."
Zia membalikkan nakal. "Terus panggil apa? Sayang? Beb? Hubby ?"
Arkan hampir menikmati kopinya. Ia berdehem pelan, mendengar ucapan Zia membuat wajahnya sedikit memerah.hal langka yang membuat Zia tertawa terbahak-bahak. "Panggil namaku saja. Arkan. Setidaknya itu terdengar tidak terlalu... ilegal."
Siang harinya, Arkan mengajak Zia turun ke desa kecil di bawah tebing menggunakan helikopter pribadi yang ia piloti sendiri. Desa itu tampak seperti di dalam cerita novel. jalanan berbatu, toko-toko cokelat, dan butik jam tangan mewah.
Arkan berjalan sambil merangkul bahu Zia, seolah-olah mereka hanya pasangan turis biasa, meski di belakang mereka, dua pria berbadan tegap mengikuti dengan jarak sepuluh meter.
“Pilih apa pun yang kau mau,” ucap Arkan saat mereka masuk ke sebuah toko pakaian musim dingin.
Zia mulai menjahili Arkan. Ia mengambil sebuah topi rajut dengan telinga kucing yang konyol dan memakainya ke kepala sang CEO dingin itu. "Nah! Sekarang baru kelihatan normal. Singa dengan telinga kucing."
Para pengawal di belakang mereka berusaha keras menahan tawa, sementara Arkan hanya berdiri kaku dengan topi kucing di kepalanya. "Zia, reputasiku sebagai buronan paling dicari bisa hancur kalau foto ini tersebar."
"Biar saja! Biar dunia tahu kalau Singa-nya sudah dijinakkan," goda Zia sambil berswafoto dengan Arkan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arkan tidak memperhatikan kode enkripsi atau pergerakan saham. Ia hanya menatap gadis disana, yang sedang tertawa sambil memilih syal.
Malam harinya, suhu menurun drastis. Salju mulai turun dengan lembut di halaman kastel. Arkan menyalakan perapian besar di ruang tengah, lalu mematikan lampu, menyisakan cahaya jingga yang hangat dari api.
Arkan memutar sebuah piring hitam tua. Lagu jazz pelan memenuhi ruangan. Arkan mengulurkan tangan pada Zia yang sedang berbaring di sofa dengan selimut.
"Nona Arkana, bolehkah saya mengajak anda berdansa" ucap Arka sambil mengulurkan tangannya.
Zia menyambut tangan itu. Mereka berdansa perlahan di depan perapian. Tidak ada gerakan teknis, hanya tubuh yang saling merapat, mencari kehangatan satu sama lain.
"Arkan..." bisik Zia, menyandarkan kepalanya di dada pria itu. "Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk tidak membiarkan aku menghadapi ujian itu sendirian. Baik ujian sekolah, maupun ujian hidup."
Arkan berhenti bergerak. Ia mengangkat dagu Zia, menatap mata jernih itu dengan penuh pemujaan. "Kamu hanya satu-satunya alasan aku masih ingin menjadi manusia, Zia. Tanpamu, aku hanya mesin yang haus kekuasaan."
Arkan mencium bibir Zia, kali ini bukan dengan pelampiasan. melainkan dengan kelembutan yang menjanjikan masa depan. Di tengah mencium itu, tangan Arkan tanpa sadar memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Zia, memastikan detak jantung gadis itu tetap normal, sambil teringat ancaman ibunya tentang "fase ketiga".
Ia bersumpah dalam hati, apa pun yang ada di dalam darah Zia, ia akan menemukan penawarnya, bahkan jika ia harus membeli seluruh perusahaan farmasi di dunia.
Kehidupan di Swiss terasa seperti mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata. Seminggu berlalu, dan Arkan benar-benar menjalankannya sebagai pelindung sekaligus pasangan yang sempurna. Namun, di balik kemewahan kastel "The Nest", Arkan mulai menyadari sesuatu yang janggal.
Zia, yang biasanya energik dan tidak bisa diam, mulai sering tertidur di jam-jam yang tidak biasa.
salju turun lebih lebat dari biasanya. Arkan baru saja selesai melakukan panggilan video terenkripsi dengan Rio yang kini berada di tempat persembunyian di Singapura.
" tuan Arkan, aku sudah memeriksa data medis Zia yang tersisa di lab lama. Ibumu menambahkan sesuatu saat Zia pingsan di Singapura tiga bulan lalu. Itu bukan obat bius biasa," suara Rio terdengar cemas di seberang sana.
Arkan mengerutkan kening, matanya melirik ke arah sofa besar di depan perapian. Di sana, Zia tampak tertidur pulas dengan buku manajemen aset yang masih terbuka di dadanya.
"Apa itu, Rio? Katakan dengan jelas," desis Arkan.
"Itu adalah mikrobotik organik yang sinkron dengan detak jantungnya. Jika detak jantungnya mencapai frekuensi tertentu karena rasa takut yang ekstrem atau... cinta yang terlalu dalam, sistem itu akan mulai mengunggah data memori dari otak Zia ke server pusat mereka. Zia bukan hanya tunanganmu, tuan Arkan. Dia adalah 'server berjalan' yang merekam semua aktivitasmu."
Arkan mematikan sambungan itu tanpa pamit. Tangannya gemetar hebat. Ia berjalan mendekati Zia dan duduk di tepi sofa. Ia mengusap rambut gadis itu dengan sangat lembut, seolah takut Zia akan pecah jika disentuh.
Zia terbangun saat merasakan sentuhan dingin tangan Arkan. Ia mengerjapkan mata, mencoba fokus, namun kepalanya terasa sangat berat.
"Om...eh, Arkan? Aku ketiduran lagi ya?" tanya Zia dengan suara serak. Ia mencoba duduk, tapi keseimbangannya goyah.
Arkan segera menangkap bahunya. "Zia, dengarkan aku."
Zia menatap mata Arkan. Ia melihat ketakutan yang belum pernah ia lihat sebelumnya di mata sang Singa. "Ada apa? Apa ibumu... mereka menemukan kita?"
“Tidak, mereka belum di sini,” Arkan menarik napas panjang. Ia memutuskan untuk jujur, karena ia tahu Zia membenci rahasia. "Tapi mereka ada di dalam dirimu, Zia. Ibuku menanamkan sesuatu di tubuhmu. Setiap kali detak jantungmu meningkat, mereka bisa melihat apa yang kamu lihat. Mereka bisa merasakan apa yang kamu rasakan."
Zia membeku. Ia menatap tangannya sendiri, seolah-olah kulitnya adalah penjara. "Jadi... semua momen kita di sini? Saat kita berdansa? Saat kita..." Zia tidak dapat melanjutkan, wajahnya memucat.
"Iya," bisik Arkan. "Mereka menjadikannya alat untuk menghancurkanku lewat kamu."
Zia mulai menangis, bukan karena takut mati, tapi karena merasa dirinya telah hidup untuk pria yang ia cintai tanpa sengaja. "Kalau begitu, Om harus pergi. Tinggalkan aku! Jika aku adalah alat mereka, maka aku adalah bahaya buat Om!"
"Diam, Zia!" Arkan membentak, bukan karena marah, tapi karena kecewa. Ia menarik Zia ke dalam pelukannya, memeluknya begitu erat hingga seolah-olah mereka adalah satu tubuh. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kamu bukan alat. Kamu adalah harta yang harus aku jaga seumur hidup."
Arkan melepaskan pelukannya dan menatap Zia dengan kilatan mata yang penuh rencana. "Mereka ingin mengingat dari otakmu? Baiklah. Kita akan memberi mereka ingatan yang akan menghancurkan sistem mereka dari dalam."
"Maksudnya?"
Arkan tersenyum miring,senyum licik seorang CEO yang sedang merencanakan akuisisi paksa. "Kita akan melakukan sinkronisasi paksa. Aku akan memancing mereka masuk ke dalam sistem pusat 'The Nest'. Saat mereka mencoba mengunduh data dari tubuhmu, aku akan menyerap virus balik lewat frekuensi detak jantungmu."
"Tapi itu artinya... detak jantungku harus sangat tinggi, kan?" tanya Zia cerdas.
Arkan mendekatkan wajahnya, hidung mereka menyentuh. Suasana tiba-tiba menjadi sangat panas di tengah dinginnya Swiss. "Tepat sekali. Aku butuh kamu untuk merasa sangat... 'hidup'. Kamu sanggup melakukannya denganku, Sayang?"
Zia merona hebat, memahami maksud ucapan Arkana.
"Lakukan apa pun yang harus Om lakukan," bisik Zia sambil menarik kerah kemeja Arkan. "Hancurkan mereka, dan bawa aku kembali menjadi Zia yang luar biasa."
zia duda itu tidak selalu tua juga ada yg usia 20jadi duda 🤣🤣🤣
Belum juga ketemu udah bayangin om duda tua muka jelek jangan gitu dong,nanti kalau kamu terkejut gimana 🤔