Soraya Foster seorang guru yang mencintai muridnya sendiri bernama Ryan Mattiew. Kisah mereka semakin rumit ketika Soraya tiba-tiba hamil anak Ryan.
Hal itu membuat Ryan dikirim oleh kedua orang tuanya ke luar negeri agar berpisah dari Soraya.
Lima tahun kemudian Ryan kembali, dia sudah melupakan masa lalunya dengan Soraya dan sudah memiliki tunangan.
Saat ia kembali ke negaranya di situlah Ryan bertemu kembali dengan Soraya guru yang dulu adalah cinta monyetnya, dan dia menyadari ada anak kecil yang tumbuh bersama Soraya.
Akankah Ryan bisa kembali mendapatkan hati Soraya dan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi wu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 21 • Bulan yang Terlambat
Ryan mematung, tubuhnya berubah kaku tatkala rengkuhan Sora memeluk tubuhnya. Bahkan kalimat yang terucap dari bibir gadis itu membuat Ryan seolah melayang di udara. Lidahnya kelu, bagaimana pun kali ini dia sadar dan tahu cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Setelah beberapa saat kemudian, barulah Sora sadar dan sedikit mendorong tubuh Ryan ke depan.
"Sorry, aku terlalu melankolis," pungkas gadis itu menyapu air mata yang keluar membasahi pipinya.
Ryan menoleh, tatapannya nanar matanya mengisyaratkan kasih sayang yang begitu dalam untuk Sora.
"Apa yang kau katakan tadi benar, Sora?"
Sora ingin mengelak, tapi kalimat pengakuannya sudah meledak dan keluar dari mulutnya sendiri. Sebagai wanita dewasa dia tidak mungkin menarik kembali ucapannya.
"Ya, aku...."
"Kenapa tidak kau teruskan kalimatmu, Sora?"
"Ya... Aku mencintaimu. Apakah kau puas?" desis gadis itu.
Senyuman terukir jelas di wajah Ryan, membingkai garis bibir yang begitu memesona bagi Sora.
"Jadi sekarang kita?" tanya Ryan seolah memberi isyarat pada sang guru.
"Kita apa?"
"Kita resmi."
Sora mengangguk pelan, hingga Ryan tidak bisa melihat dengan jelas pergerakan kepala gurunya sendiri.
Ryan berjalan cepat ke arah Sora, dan menggendong tubuh mungil sang guru.
"Ryan... Lepaskan aku! Lepaskan aku! Nanti ada yang melihat kekonyolan kita!" pinta Sora memukul-mukul pundak Ryan.
"Aku tidak peduli... Akan kulawan seluruh dunia untuk bersamamu selama-lamanya. Pegang janjiku ini, Sora! Aku akan selalu mencintaimu."
Sora tersenyum, ia tidak ingin berharap lebih dalam suatu hubungan, dia juga pernah merasakan penghianatan dari mantan kekasihnya yang begitu tega meninggalkan dirinya dengan rasa sakit yang begitu dalam.
Hubungan mereka berjalan dengan baik, selama itu pula semua orang tahu kedekatan mereka berdua. Hingga Sora menjadi bahan cibiran, dengan tagline guru yang tidak tahu malu, karena menjerat muridnya sendiri.
Hingga satu bulan kemudian, saat bangun pagi. Tiba-tiba perut Sora terasa mual, ia bergegas masuk ke kamar mandi, dan memuntahkan isi perutnya. Sora lemas, ia tidak tahu apakah dia salah makan atau apa? Sehingga pagi-pagi buta dia sudah merasakan mual. Namun, seketika Sora terjingkat kaget kala dia menyadari jika dirinya sudah terlambat datang bulan. Buru-buru dia berjalan ke arah tempat tidur meraih kalender yang terletak di atas nakas.
Kebiasaan Sora adalah ia selalu melingkari tanggal menstruasi-nya setiap bulan. Ketika ia menyadari jika Sora sudah telat tujuh hari, Sora menutup mulutnya sendiri.
"Tidak... Aku tidak mungkin hamil! Aku hanya melakukan sekali saja bersama Ryan. Dan selama kami menjalin hubungan resmi, kami tidak lagi melakukannya," batin Sora tidak percaya, ia ingin mengelak tapi dia juga penasaran. Hingga secara impulsif tangannya menyentuh perutnya sendiri.
Pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah dia menolak dijemput Ryan, dan beralasan ada urusan penting, dan Sora menyempatkan diri menuju apotek dua puluh empat jam, dan memberi dua alat tes kehamilan untuk menggugurkan rasa penasarannya.
Ragu, akhirnya Sora masuk ke kamar mandi untuk tes urinnya sendiri. Dia duduk di atas closed dengan harap-harap cemas menunggu hasilnya.
Beberapa menit kemudian Sora hendak mengecek, sebelum memastikannya Sora menarik napas dalam-dalam dan memejamkan mata untuk mempersiapkan diri jika ada kemungkin terburuk.
Perlahan Sora membuka mata, lalu melirik ke arah alat tes kehamilan tadi. Dua garis merah terlihat jelas di sana. Sontak Sora kaget dan melemparnya begitu saja.
"A–aku hamil?" Suara Sora terbata, hingga tak mampu mengucapkan kata-kata.
Semangat, ditunggu up selanjutnya...
Semoga happy end ya, /Drool/
jadi korban