Noora Agatha William adalah seorang wanita karir dan cantik yang berprofesi sebagai model papan atas, bahkan Noora juga mempunyai suami yang tampan dan juga mapan. Bahkan rumah tangga Noora begitu terlihat sangat bahagia dan harmonis, namun seketika pernikahan yang selama ia bina bersama sang suami tidak menyangka akan di rusak oleh orang ke tiga.
Akan kah pernikahan Noora dan Adam masih bisa di pertahankan, atau malah mereka berdua milih berpisah untuk kebahagian mereka masing-masing.
Kita simak terus yuk perjalanan rumah tangga Noora dan Adam, kalau kalian suka dengan Novel ini jangan lupa tinggalkan jejak. Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi cahya rahma R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemesraan Devan dan Noora
6 bulan pun berlalu, semakin hari Noora semakin dekat dan lengket saja dengan Devan. Bahkan Noora juga sudah bertemu dengan kedua orang tua Devan, semenjak dekat dengan Devan, Noora lama kelamaan bisa melupakan Adam dan kenangan pahit yang menimpanya. Bahkan Noora memutuskan untuk menjalin hubungan lebih serius bersama Devan.
Mobil mewah milik Devan sudah berhenti dan tiba di depan kantor William Grub. Para bodigat Noora pun sudah mendekat lalu membukakan pintu untuk Noora dan Devan.
"Selamat pagi nyonya Rara dan tuan Devan." sapa Joko dan Rio sama-sama membukakan pintu untuk Noora dan Devan, dan mereka bedua pun hanya mengangguk dan tersenyum tipis menimpali sapaan Rio dan juga Joko.
"Sayang, sudah sampai sini saja, tidak usah sampai atas mengantarkan ku, kamu kan juga harus buru-buru ke kantor karena ada Meeting." dengan nada manja Noora berdiri di depan Devan.
"Tidak apa-apa sayang, ini masih pagi juga." Devan yang menatap arloji mewah di tangan nya.
"Sudah tidak perlu, kamu mengantarkan ku sampai kantor saja aku sudah cukup senang sayang."
"Ya sudah, nanti pulang aku jemput lagi, kamu tidak pulang malam kan hari ini?."
Saat Noora dan Adam masih berbincang-bincang di depan kantor. Tidak lama Adam baru saja tiba dari arah parkiran kantor. Noora yang melihat ke hadiran Adam sengaja semakin bersikap mesra bersama Devan, karena Noora tau bahwa Adam sedang menatap ke arah mereka berdua.
"Ah.. tidak sayang, hari ini aku akan pulang cepat." Noora yang sudah mengusap pipi kekasihnya, sedikit melirik kepada Adam yang terus menatapnya.
Devan seketika merasa heran dengan perilaku Noora, biasanya Noora tidak akan berani menyentuh tubuhnya di khalayak umum, apa lagi di kantor, paling hanya saling bergandengan tangan. Namun seketika Devan sadar bahwa ada Adam yang berdiri tidak terlalu jauh dari mereka berdua. Seketika Devan paham apa yang di lakukan Noora barusan.
"Baiklah, nanti sepulang dari kantor aku jemput, sampai jumpa nanti sore sayang." Devan yang sudah mengecup kening Noora dengan penuh kasih sayang.
Noora yang mendapat kecupan pun seketika terkejut. Tidak hanya Noora bahkan Joko dan Rio pun menyaksikan kemesraan mereka berdua. Noora berfikir ternyata Devan juga sadar ternyata ada Adam, dan pasti Devan juga sengaja membuat Adam semakin cemburu.
"Sayang." pukul Noora dada bidang Devan karena tersipu malu.
"Aku sayang kamu." Devan yang tersenyum terus menatap wanita cantik dengan gigi gingsul yang membuat senyumnya semakin manis."sudah sana masuk." sambil mendongakkan dagunya menyuruh Noora masuk ke dalam kantor.
"Iya sayang, dada." Noora pun sudah berjalan masuk ke dalam kantor sambil melambaikan tangan. Devan yang memastikan kekasihnya sudah masuk pun segera masuk ke dalam mobil dengan dua mata sedikit melirik kepada mantan suami kekasihnya tersebut. Devan melihat raut wajah Adam terdapat kekesalan.
Devan pun seketika menaikan ujung bibirnya sedikit tersenyum culas, lalu mengibaskan jas yang di kenakannya dan masuk ke dalam mobil yang sudah di bukakan oleh Rio.
"Selamat jalan tuan." Rio yang kembali mendunduk memberikan hormat.
"Terimakasih." sahut Devan, dan pintu mobil pun sudah tertutup sempurna.
Adam yang masih berdiri menatap sengit kepada Devan yang sudah berlalu pergi. Posisinya yang dulu menjadi orang paling penting di kehidupan Noora pun sekarang di gantikan oleh sosok Devan. Memang benar Adam masih menjalin asmara dengan Safa namun kehidupan asmara nya tidak seindah dulu saat di belakang Noora. benar kata orang-orang saat masih berstatus selingkuhan itu memang nikmat, tapi sekarang memiliki seutuhnya malah membosankan. Mereka berdua hanya selalu berantem dan beradu mulut karena sebuah harta dan kekuasaan.
Di salah satu ruangan kantor yang tampak sepi dan tidak terdapat siapa-siapa. Adam sudah berdiri di depan Safa menatap dengan serius di depan wanita cantik namun tidak terlalu tinggi tidak seperti kakaknya.
"Kenapa sih mas tarik-tarik tangan aku, sakit tauk." Safa yang cemberut sambil mengusap pergelangan tangan yang memerah.
"Ini sudah berapa bulan, sudah 6 bulan Safa! tapi kamu tidak juga bisa mendapatkan harta Ayahmu sedikit pun dari tangan Rara."
"Mas pikir mudah mendapatkan harta Ayahku begitu saja dari tangan kak Rara, kak Rara itu tidak wanita yang bodoh, dia cerdas, dan juga sangat jeli dalam melakukan apapun." sahut Safa yang terus cemberut.
Adam yang mendengar ucapan Safa seketika terdiam, memang benar apa yang di katakan Safa, bahwa mantan istrinya itu adalah wanita karir yang cerdas, dan selalu menekuni bidang apapun yang ia lakoni, tidak pantang menyerah, dan tidak mudah untuk di bohongi apa lagi menyangkut soal harta dan tahta.
"Harta Ayahmu kan banyak, dari perusahan, rumah, perkebunan, hingga hotel-hotel di penjuru kota, apakah kamu tidak bisa mendapatkan satu per satu terlebih dahulu?."
"Lalu apa yang mas perbuat selama ini, bilangnya ingin menghasut kak Rara agar bisa mencintai mas lagi dan jatuh di pelukan mas lagi, tapi itu hanya alasan mas saja agar bisa dekat-dekat dengan kak Rara, mas masih mencintai kak Rara bukan?." Safa yang tidak mau di salahkan.
"Aku membuat strategi itu, karena aku ingin mengambil hati kakakmu lagi, agar aku bisa kembali seperti dulu menjadi seorang Direktur pemegang perusahaan ini, jadi kamu tidak usah membicarakan soal perasaan, kita ini sedang membahas soal harta Ayahmu bukan cinta!."
"Halah! alasan! kamu lihat kaka Rara dengan Devan saja masih cemburu, sok-sokan gak mau bahas soal cinta dan perasaan." Safa yang memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Safa! plise! aku hanya mencintaimu, jadi stop memojokanku masih mencintai kakakmu, aku hanya ingin menghasut kakakmu agar bisa mendapatkan jabatan yang tinggi lagi, apa kamu mau terus hidup susah dan menjadi karyawan biasa di perusahaan ini sampe nenek-nenek?." Adam yang menyentuh kedua pundak Safa.
"Enggak!." jawab Safa tanpa menatap wajah Adam di depannya.
"Makanya ayo.. kita harus lebih berusaha, kita harus mendapatkan kekayaan Ayahmu sebelum kakakmu menikah dengan Devan, jika perusahaan ini di pegang oleh Devan, akan semakin susah untuk kita mendapatkannya." Adam yang terus menyakinkan Safa.
"Hanya ada satu cara cepat mendapatkan perusahaan ini." ucap Safa.
"Apa." Adam dengan berantusias mendengarkannya.
"Kita bunuh saja kak Rara, dengan begitu semua saham akan menjadi milikku." Safa dengan raut wajah sinis.
Adam yang mendengar perkataan Safa seketika ternganga. Dia memang tidak suka Noora berhubungan dengan Devan, dan mengincar semua harta keluarga Noora, namun tidak dengan membunuh mantan istrinya, Adam tidak mungkin membunuh wanita yang masih sangat ia cintai.
"Tidak Saf, kamu jangan bercanda, itu tidak mungkin." sahut Adam.
"Kenapa tidak mungkin? apa mas takut kehilangan sosok Rara, wah.. ternyata dugaan ku benar mas masih mencintai dia."Safa yang sudah menaro kedua tangannya di depan dada.
"Tidak. Bukan begitu sayang, kamu kan tau sendiri Ayah mu memberikan semua hartanya atas nama Rara, jika kakakmu mati, itu semakin menyulitkan kita, belum nanti orang-orang akan mencurigai kita, termasuk Devan, Devan bukan orang biasa, kamu tau itu bukan?."
Safa pun mengerti penjelasan dari Adam, memang benar kematian kakaknya tidak akan membuahkan hasil, malah akan membawanya ke dalam penjara.
biasanya cerita begini pemain nya pasti tegas dan pintar
katanya Dirut kan seharusnya pada pinter bukan bego semua