Akankah hidupku berakhir seperti ini? Setelah apa yang aku pertaruhkan dan korbankan, akankah semuanya berakhir seperti ini?
Mengapa, mengapa hidup begitu kejam dan tak adil untukku, mengapa?
Aku telah memberikan dan mengorbankan segalanya, aku bahkan dengan teganya membuang dan mengkhianati orang tuaku hanya demi pria yang kini duduk disinggasana kerajaan Zhang-ku dengan angkuhnya.
Ah.. betapa bodohnya aku, aku telah dimanfaatkan oleh pria tersebut. Cinta yang selama ini aku agung - agungkan hanyalah kebohongan dan ke palsuan, kenyatanya pria itu hanya menjadikanku sebuah pion untuk menaklukan kerajaanku.
Kini semuanya telah hancur. Keluargaku telah musnah karena kesalahanku, aku yang telah dibutakan oleh cinta dan kepalsuan pria itu telah berhasil merampas segala milikku. Andai saja aku bisa memutar kembali waktu, aku tak akan mengulang kesalahan yang sama.
Jika langit mengizinkan dan mendengar pintaku, aku ingin menebus dosa yang telah aku perbuat. Jika langit masih memberiku kesempatan, aku berharap semua yang kualami kini hanyalah sebuah mimpi buruk. Lantas akankah takdir mendengar pintaku, ataukah aku akan tetap berakhir mati ditangan pria pujaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baekhyun_G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Aku menatap putra mahkota Liang yang masih nampak termenung memikirkan permintaanku. Padahal saat kami keluar istana mencari Bo Qing beberapa hari yang lalu ia nampak menyetujuinya, lalu kenapa saat ini ia nampak berpikir seperti itu? Jika boleh jujur mengenai kemampuan, bakat dan keterampilan Bo Qing tidaklah seburuk bayangan putra mahkota Liang. Ia memiliki ketiganya hanya saja kekuatan, kemampuan dalam beladiri dan menggunakan senjata, bakat dan keterampinan yang ia miliki hanya kurang diasa. Untuk saat ini ia masih setara dengan pangkat para prajurit, namun 2 tahun yang akan mendatang. Ia bisa sejajar dengan prajurit berpangkat jendral.
"Gege mengapa kau berpikir begitu lama? bukannya beberapa hari yang lalu kau menyetujuinya?" tanyaku pada putra mahkota Liang.
Putra mahkota Liang menyesap tehnya, ia lalu meletakan cangkirnya yang kosong ke atas meja lalu berkata "Saat itu aku diam, tapi bukan berarti menyetujui" jawabnya "Lagian mei mei, kau harus tau jika aku tak akan membuang - buang waktuku dengan seorang pemuda yang ku tahu dari mulutmu sebagai pemuda yang berbakat. Aku perlu bukti untuk meyakinkan diriku bahwa dia mampu memasuki kriteria dan persyaratan prajurit Shi Rong terlebih dahulu" tambahnya yang membuatku mendesah karna akhirnya sadar jika permintaanku nampaknya tak memiliki jalan yang mudah dan mulus.
"Lalu apa yang gege inginkan?" tanyaku pada akhirnya.
"Tentu saja menguji kemampuan Bo Qing terlebih dahulu" jawab putra mahkota Liang yang membuatku terkejut.
"Apakah ia harus berhadapan dengan gege terlebih dahulu?" tanyaku dengan mata membulat
Putra mahkota Liang menggeleng, ia lalu berkata "Aku tidak akan bertanding apalagi membuang - buang waktuku dengan pemuda yang tak sepadan dengan kemampuan, keterampilan dan bakatku" jawabnya angkuh
Aku berdecak lalu berkata "Dua tahun yang akan datang, aku yakin ia akan menjadi saingan gege"
Bukannya marah akan perkataanku, putra mahkota Liang malah tersenyum dan berkata "Ah.. aku sudah lama menantikan saingan dalam masalah kekuatan seperti ini" desahnya yang membuatku melongo tak percaya.
Ada apa dengan saudaraku ini? Bukankah nyaris semua orang kesal ketika memiliki saingan? Lalu mengapa putra mahkota Liang malah sebaliknya. Ia nampak senang memiliki saingan.
"Tak usah terkejut mei mei" katanya seakan membaca pikiranku "Bukankah dengan adanya saingan, kau akan bersemangat untuk berusaha keras untuk terus berkembang dan maju demi mengalahkannya? Selama ini aku terlalu lelah mengajari dan memberi ilmu untuk para prajurit Shi Rong, aku juga ingin kembali merasakan sensasi bertarung dengan lawan yang sepadan" tambahnya yang langsung ku balas dengan anggukan mengerti.
"Karna aku begitu penasaran dengan kemampuan, bakat dan keterampilan Bo Qing.. bagaimana jika ia bertarung dengan Ah Ke sore ini agar aku bisa menilai kemampuan, bakat dan keterampilannya. Jika ia memenuhi syarat, aku akan membawanya dalam pelatihan militer perajurit Shi Rong. Bukankah semakin cepat mengujinya, maka semakin cepat pula ia memiliki peluang bergabung dengan kami?" tanya putra mahkota Liang yang langsung membuatku memicingkan mata curiga.
"Gege benar ingin mengujinya untuk masalah permintaanku memasukannya dalam pelatihan militer prajurit khusus Shi Rong selama sebulan, atau karna gege ingin mengukur kemampuannya karna perkataanku yang begitu yakin dan percaya bahwa kelak ia akan menjadi rivalmu?" tanyaku yang lalu di balas dengan kekehan oleh putra mahkota Liang.
"Tak kusangka, mei mei akan mencium niatku itu" jawabnya yang lantas membuatku berdecak.
.
.
.
"Bo Qing, jika kau tak siap, tak masalah jika kau tak memasuki pelatihan militer prajurit khusus Shi Rong. Aku bisa meminta Ayahanda kaisar untuk membawamu ke pelatihan militer prajurit khusus kerajaan" kataku pada Bo Qing yang saat ini tengah jalan bersamaku menuju istana bagian timur.
Saat ini hari telah beranjak sore, dan sesuai permintaan putra mahkota Liang, aku membawa Bo Qing untuk di uji keterampilan, keahlian, kemampuan, dan bakatnya dalam ujian keketasan seperti bertarung dan berkelahi.
"Yang mulia putri tak perlu khawatir" jawab Bo Qing yang sama sekali tak membuatku tenang. Pemuda yang berjalan beberapa jengkal di hadapanku itu terus mengatakan hal yang sama sejak aku keluar dari halaman pavilium Shan.
"Bagaimana bisa aku tidak khawatir? Kau akan di uji melalui pertarungan yang akan kau lakukan dengan Ah Ke. Aku sangat tahu jika Ah Ke merupakan perajurit terbaik dan kuat milik prajurit khusus Shi Rong. Mengapa kau tetap ingin maju? Padahal aku sudah melarangmu dan akan membawamu pada pelatihan militer prajurit khusus kerajaan saja" kataku yang masih di landa kecemasan.
"Yang mulia maaf jika di hari pertama telah mengecewakanmu. Namun ini benar - benar adalah pilihan yang sangat ku impikan. Beberapa bulan yang lalu, saat pengawal ini bekerja menjadi seorang buruh angkut di pasar, uang yang pengawal ini hasilkan dirampas oleh preman pasar. Pengawal ini tak memberi uang yang dihasilkan dengan susah payah. Akhirnya para preman pasar memukulku hingga seseorang menolong pengawal ini yang sempat berpikir akan mati saat itu juga," jedanya "Orang yang menolongku sangat kuat, keretampilan bela dirinya sangat lihai dan cepat, dan dalam sekejap para preman di habisinya. Saat pengawal ini ingin berterima kasih, pria yang menolong pengawal ini telah pergi. Namun satu hal yang sampai saat ini masih pengawak ingat adalah lambang naga dan burung phoenix yang mana terdapat tulisan Shi Rong disana. Maka dari itu biarkan hamba untuk terap bertarung dengan mereka, pengawal yang rendah ini sekan menemukan harapan untuk mencari sosok tersebut saat yang mulia menyebut prajurit khusus Shi Rong. Tak masalah jika pengawal ini tak menang, setidaknya pwngawal ini akan terus berusaha dan berjuang, terlebih pengawal ini ingin kembali bertemu dengan sang penyelamat kala itu dan berterima kasih padanya" jelas Bo Qing panjang lebar.
Tentu saja penjelasan Bo Qing cukup membuatku terkejut, pasalnya dalam ingatan yang ku miliki, tak ada satupun kejadian dimana Bo Qing bertemu dengan salah satu prajurit khusus Shi Rong. Entah hanya aku yang lupa, atau memang kejadian itu tak pernah ada dalam kehidupannya sebelumnya.
Ini membingungkan, kejadian - kejadian yang terekam sangat jelas di ingatanku sama sekali tak menunjukan akan kejadian yang Bo Qing ceritakan. Mungkinkah perputaran waktu dari mimpi buruk ataupun kehidupan sebelumnya yang telah ku alami dengan kehidupanku yang sekarang betul - betul berbeda. Buktinya ada banyak hal yang tak pernah ada dalam ingatanku turut terjadi, mungkinkah akan ada kejadian - kejadian tak terduga di luar ingatanku?
"Yang mulia putri.."
"Yang mulia kita sudah sampai"
Aku mengerjap saat merasakan tubuhku di guncang seseorang, aku lantas menatap Bo Qing yang merupakan pelaku dari guncangan yang kurasakan. Bo Qing yang mendapat tatapan dariku lantas menarik tangannya dan dengan cepat meminta maaf. Aku bukannya memerintahkannya bangun, malah berkata "Bo Qing, kau harus menang. Bagaimanapun setelah kau pulang dari latihan, ada banyak hal yang harus kita lakukan!"
.
.
.
.
.
**TBC
Minggu, 31 Mei 2020**
Uda 6 tahun pulak