Yang mau ngobrol shantuy dengan saya, bisa langsung follow instagram saya ya (@kangrebahan_03). Kebetulan saya baru aktif lagi di instagram, insya allah nanti saya infokan jadwal up di sana.
*******
"mari bermain"
Bagi siapa pun yang mendengar kalimat itu dari mulut seorang gadis cantik yang bernama Elza, lebih baik memilih untuk segera mengakhiri hidupnya dari pada mati di tangan gadis berhati iblis namun berwajah malaikat itu. Kecantikannya bisa menjadi daya pikat untuk memancing targetnya agar memasuki perangkap dalam jebakan maut yang sudah ia buat.
Ya itulah Elza, gadis mungil yang memiliki wajah super cantik membuat siapa pun akan tertipu dengan mudah. Di balik itu semua, ada iblis di dalam diri Elza yang siap bangkit kapan pun ketika ia lepas kendali.
***
Melvin Andrea Micheal.
Nama itu sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat, Melvin itu bisa di bilang suami idaman bagi kaum hawa. Dia tampan, kaya, seorang pengusaha sukses juga. Paket konplit bukan? Maka tidak heran jika Melvin menjadi rebutan cewek cewek.
****
Misi nya di New York membawa petaka bagi seorang Elza. Ciuman pertama nya di ambil paksa oleh bajingan tampan, bernama Melvin. Elza tidak terima dengan kelakuan Melvin yang secara tidak langsung sudah menodai bibirnya yang suci, maka dari itu Elza langsung memberikan pelajaran kepada Melvin berupa tendangan super kencangnya di area sensitif Melvin.
Harusnya Melvin marah dengan perlakuan gadis itu kepadanya, tapi melihat wajah kesal gadis itu membuat seringai muncul di wajahnya yang tampan.
"mine"ucapnya.
+++++
Hanya penulis pemula yang ingin menuangkan kehaluan nya😴. Berhubung ini karya pertama saya, mohon bantuannya untuk para senior yang sudah banyak pengalaman nya. 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vifinefianti_033, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Melza
"Ayo pulang" Ajak Remi setelah pelukan mereka berdua terlepas.
"Gue nggak bisa" Tolak Elza menggelengkan kepalanya lemah "Gue belum siap bertemu...."
"Elza, itu bukan salah lo! " Potong Remi cepat, ia langsung menggenggam tangan Elza erat "Berhenti menyalahkan diri sendiri Elza! "
"Itu emang salah gue" Ucapnya cepat.
"7 tahun Za, kita berpisah. Apa lo nggak ada sedikit pun ingin bertemu dengan anggota keluarga kita? "
Harapannya untuk menghindar dari keluarga nya ternyata langsung pupus begitu saja, kalau saja Remi tidak berhasil menemukan keberadaannya mungkin untuk sementara waktu Elza akan menyiapkan dirinya terlebih dahulu.
Walau mereka menganggap jika ini bukan salahnya, tapi Elza merasa ini salahnya. Melihat wajah sedih Papah nya dan kedua kakaknya atas kehilangan Mamah dan Elsa membuat Elza begitu tersiksa, Elza merasa jika dirinya telah merebut kebahagiaan keluarganya. Ia masih ingat dengan jelas raut kesedihan mereka semua atas kehilangan Elsa dan Mamah.
"lqo nggak ngerti Bang" Kesal Elza menatap Remi tajam "Lo bilang ajah sama yang lain kalau lo belum berhasil menemukan keberadaan gue"
Remi menggelengkan kepalanya cepat.
"Gue tetap bakalan bawa lo! entah itu dengan kekerasan atau dengan cara halus" Ancam Remi
Elza menghembuskan napasnya kasar.
"Percaya sama gue kalau itu bukan salah lo, Mamah dan Elsa meninggal karena takdir tuhan. Lo nggak perlu menyalahkan diri lo, Elza! "
"Tapi... "
"Elza!! "Geram Remi marah, ia menatap adiknya tajam agar berhenti protes.
Elza menggigit bibir bawahnya pelan, ia menatap wajah Remi yang terlihat sangat dingin. Ia tahu kalau Remi marah karena Elza tidak mau bertemu dengan anggota keluarga lainnya.
"Baiklah, tunggu sebentar"
Remi tersenyum lega karena Elza mau ikut dengannya, akhirnya ia mengizinkan Elza untuk berbicara dengan seseorang yang sejak tadi berada di dalam mobil.
Elza langsung membalikkan badannya saat Remi memberikan izin kepadanya untuk berbicara dengan Alex dan Melvin, Elza masuk kedalam mobil tersebut lalu duduk di kursi belakang. Sementara Melvin dan Alex sudah duduk anteng di kursi depan, saat Elza masuk mereka langsung membengkokkan tubuhnya agar berhadapan dengan Elza.
"Apa ada sesuatu yang terjadi? " Tanya Melvin menatap Elza dengan raut wajah khawatir nya "Dia melukai lo? "
"Gue nggak apa apa" Elza menampilkan senyuman terbaiknya agar kekhawatiran Melvin menghilang "Kalian harus pergi"
Melvin menggelengkan kepalanya cepat.
"Gue nggak akan pergi kalau lo nggak pergi, Za"
Alex tidak bisa menahan senyum nya ketika melihat cara menatap mereka berdua, melalui mata mereka Alex bisa menyimpulkan jika mereka saling mencintai. Hanya saja perlu beberapa waktu untuk mereka, supaya mereka sadar dengan perasaan yang di rasakan oleh mereka masing masing.
"Lo cukup percaya sama gue, gue akan baik baik ajah"
Melvin menghembuskan napasnya kasar.
"Baiklah, gue percaya"
Elza tersenyum tipis, lalu tatapannya beralih kearah Alex.
"Bawa dia pulang Lex"
Alex membalas senyuman Elza.
"Ok, gue pastiin kalau dia selamat sampai rumah"
Setelah itu Elza langsung keluar dari dalam mobil tersebut, ia berdiri di samping Remi yang juga sedang menatap mobil hijau.
"Udah? "
"Udah"
lalu mobil yang di naiki oleh Alex dan Melvin langsung pergi dari jalanan sepi ini meninggalkan Elza dengan pria asing yang belum mereka ketahui.
"Ayok" Ajak Remi agar mau mengikuti langkahnya.
Elza tidak punya pilihan lain selain mengikuti langkah Remi menuju mobil Remi yang sudah ter parkir di bahu jalan.
Suka tidak suka Elza akan menghadapi keluarga, ia harus tahu alasan kenapa mereka menghapus semua ingatannya.
*****
"Sepertinya kamu tidak ahli dalam bersembunyi Qia"
Seorang pria dengan setelan hitam hitamnya berdiri di hadapan Qia, raut wajahnya dingin bahkan mulutnya tidak bisa berhenti mengisap batang rokok yang terapit di antara dua jarinya. Kepulan asap langsung mengepul di udara ketika pria itu menghembuskan asap rokok di mulutnya.
"Bagaimana bisa.. " Qia memundurkan langkahnya ketika pria itu mulai melangkah mendekat kearahnya "Jangan mendekat! "Bentak Qia langsung melemparkan pas bunga kearah pria itu.
Pria itu langsung menghindar saat pas bunga yang di lemparkan oleh Qia melayang layang kearahnya, untungnya ia bisa menghindar dengan cepat kalau tidak mungkin kepalanya akan langsung mengeluarkan darah.
"Qia" Geram pria itu marah.
"Kumohon jangan ganggu hidup saya tuan! "Bentak Qia dengan air mata yang sudah membashi pipinya "Kumohon, saya berjanji tidak akan memberitahu siapa pun "
Langkah mundur Qia langsung berhenti saat punggungnya menabrak dingding ruang tengah rumah nya, Qia menatap takut bahkan tubuhnya sudah gemetaran. Pria ini adalah pria yang paling Qia hindari di dunia, bahkan sebisa mungkin Qia bersembunyi agar pria ini tidak bisa menemukannya.
Tapi harapannya pupus begitu saja saat pria ini berhasil menemukan keberadaan nya.
"Kumohon"
Tubuh Qia langsung luruh ke lantai, ia terduduk lemas di hadapan pria itu. Qia langsung memegangi kedua kaki pria itu sambil terisak, ia memohon ampun kepada pria ini atas kesalahan yang di perbuat nya. Qia tahu kesalahan, ia melarikan diri dari pria ini dan bekerjasama dengan pihak lain.
"kumohon" Isak Qia dengan tubuh bergetar.
pria itu menyodorkan sebuah foto kepada Qia "apqa wanita ini yang sudah membunuh Thomas dan Alberth, Qia? "Tanyanya dengan suara berat.
Qia langsung menghapus air matanya dengan kasar, ia mendongakkan kepalanya lalu mengambil selembar foto di tangan pria itu.
Qia menatap foto itu.
"Iya" Jawab Qia dengan nada seraknya.
"Kamu yakin? Apa dia yang telah membunuh semua orang di gedung tua itu? "
"Iya tuan, saya sangat yakin "
"Apa dia benar benar sendirian? "
"Iya tuan"
Pria itu menarik napasnya dalam dalam.
"Apa kau tahu siapa gadis ini? "
"Tentu, dia yang telah membunuh Bima"
"Baiklah, siapa nama gadis ini?"
"Elza"
Pria itu terdiam.
"Elza" Gumam nya dengan nada pelan.
"Berati dia orang nya yang mengacaukan rencana ku untuk membunuh Melvin?"
"Iya tuan"
"Apa kau tahu alasan dia berada di sana? Bukankah Alberth sedang mengincar anggota para hantu? "
"Dia termasuk anggota hantu tuan, maka dari itu saya bergabung dengan Alberth melalui saudara saya"
"Saya ingin membalas kematian Bima tuan"
Pria itu menggangguk anggukan kepalanya pelan.
"Semua orang di bunuh, lalu kenapa kamu tidak? "
"Dia..." Qia menarik napasnya dalam "Karena saya sedang mengandung tuan, jadi dia membiarkan saya hidup"
Pria itu terdiam cukup lama.
"Elza, sepertinya aku pernah mendengar nama itu"gumamnya pelan.
"Ah satu lagi tuan"
"Apa? "
"Setelah kematian salah satu temannya, Elza berubah jadi orang yang sangat berbeda dengan dirinya. Dia mengatakan kalau namanya Elsa, dugaan saya jika Elza kerasukan "
"Elza, Elsa" Gumam Pria itu sekali lagi.
Ia terdiam tampak berpikir, ia seperti pernah mengetahui nama nama itu di masa lalunya.
Qia tidak punya pilihan lain selain memberitahu semua tentang kejadian di gedung tua itu, ini demi kelangsungan hidupnya.
"Terimakasih Qia"
Pria itu memgambil pistol yang terselip di balik bajunya, ia menodongkan pistol itu kearah Qia.
"Tuan, kumohon jangan bunuh saya. Saya berjanji, saya tidak akan memberitahu siapa pun tentang rahasia tuan" Pinta Qia dengan air mata kembali bercucuran.
"Saya tidak percaya dengan orang yang masih hidup"
Dorrr...
Peluru itu langsung menembus dada Qia begitu saja, tubuh Qia langsung tergelatak dengan darah yang mengalir. Qia merasakan sakit yang luar biasa ketika peluru itu menembus dadanya.
"Tuan" Lirihnya pelan sambil meminta tolong agar pria itu menyelamatkan dirinya.
Pria itu langsung melangkah pergi meninggalkan Qia yang sedang sekarat.
*****
Hidup tanpa ingatan di masa lalunya selama 7 tahun, membuat Elza tidak berhenti untuk mencari jawaban dari segala pertanyaan yang muncul di otaknya. Tetapi sekeras apa pun Elza mencarinya, ia hanya bisa mendapatkan informasi tentang kematiannya.
Padahal saat Elza masih kehilangan ingatannya , ada banyak pertanyaan yang akan ia ajukan kepada keluarganya. Tapi setelah Elza mendapatkan ingatannya kembali , tidak ada pertanyaan yang akan Elza ajukan, bahkan Elza ingin menghindari keluarga nya.
Rangkulan di pundaknya membuat Elza langsung menoleh, kedua matanya melihat wajah Remi yang sedang tersenyum lebar.
"Ayok" Ajak Remi.
"Kemari nak" Pinta Jasper melambaikan tangannya agar Elza mendekat.
"Lo nggak kangen gue Za? " Tanya Lucas tersenyum lebar kepadanya.
"Kayanya udah lama banget kita nggak kumpul kaya gini" Kekeh Raka "Gimana kalau kita bikin pesta?"
"Gue setuju sama ide Raka" Dukung Remi semangat.
Pesta?
Tiba tiba saja Elza teringat dengan senyum lebar Elsa, Elsa sangat bersemangat jika sudah menyangkut pesta. Bahkan karena Elsa, setiap hari sabtu mereka selalu mengadakan pesta kecil kecilan. Seperti makan malam di kebun, bakar jagung atau menyalakan api unggun di area belakang rumah.
"Hei" Remi mengguncang tubuh Elza karena Elza sejak tadi terdiam.
"Lo apain adek gue Bang? " Tanya Lucas sewot.
Melihat adiknya yang sedari tadi diam membuat Lucas langsung bangkit dari sofa lalu menghampiri Elza dan Remi yang masih berdiri di ambang pintu.
"Gue nggak apa apain dia! "Kesal Remi
Lucas berdecak sebal.
"Ayok sama abang ajah"
Lucas langsung menggenggam tangan adiknya, lalu membawa Elza agar duduk di sofa.
"Apa kabar Elza? " Tanya Jasper dengan nada lembutnya.
"Baik" Jawab Elza singkat.
Jasper tersenyum lembut, ia langsung menarik Elza kedalam pelukan nya.
"Papah kangen sama kamu" Bisiknya dengan nada pelan "Maaffin Papah udah membiarkan kamu tumbuh sendirian, Elza"
Sekuat mungkin Elza menahan air matanya yang hendak jatuh dari pelupuk matanya, ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan keluarga nya. Ia kuat, ya Elza kuat.
Akan tetapi rasa bersalah nya membuat pertahanan Elza mulai terkikis, mata Elza sudah berkaca kaca bahkan setetes air mata jatuh di pelupuk matanya. Dada Elza terasa sesak, bahkan hatinya terasa sangat sakit. Ia merasakan ribuan pisau menusuk hatinya, sehingga Elza merasakan sakit yang luar biasa.
"Menangislah sayang" Bisik Jasper pelan sambil mengelus punggung Elza yang bergetar.
Sedetik. kemudian Elza langsung menumpahkan seluruh air matanya disana, rasa bersalah nya semakin menjadi ketika ingatan tentang wajah sedih Jasper, Remi dan Lucas berputar putar di kepalanya. Elza tidak bisa menahannya lagi, ia langsung menangis meraung raung penuh kesakitan didalam pelukan Jasper.
"Maaffin Elza Pah" Isak Elza dengan tubuh bergetar "Gara gara Elza Papah kehilangan Mamah sama kak Elsa"
Jasper langsung melepaskan pelukannya, ia menghapus air mata Elza dengan jari jarinya. Ia menatap wajah Elza lekat, lalu Jasper menggelengkan kepalanya cepat.
"Ini bukan salah kamu sayang" Jasper berkata dengan nada lembutnya sambil memegangi kedua bahu Elza "Ini sudah kehendak tuhan, Papah yakin Mamah sama kak Elsa udah bahagia disana. Kamu nggak perlu menyalahkan diri kamu, ok"
"Nggak Pah, ini semua karena Elza. Mereka ingin Elza mati, bukan Mamah sama kak Elsa. Mereka mau Elza mati, buka... "
"Berhenti menyalahkan diri kamu, Elza" Jasper melayangkan kecupan pelan di kening Elza "Papah sayang banget sama kamu, Papah nggak mau kamu terus terusan menyiksa diri kamu dengan rasa bersalah mu itu"
Elza tidak bisa mengucapkan apa pun selain memeluk kembali tubuh Jasper, mereka tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya maka dari itu mereka berfikir jika itu semua bukan salahnya. Tentu saja ini salahnya, Elza lah yang menjadi penyebab Mamah dan Elsa meninggal. Mereka ingin Elza mati, sialnya Elsa berpura pura menjadi dirinya.
*****
"Kasih tahu alasan kenapa Papah membuat Elza hilang ingatan? "
Jasper menghembuskan napasnya kasar, ia menatap satu persatu orang orang yang tahu dengan rahasia kecil ini lalu Jasper melihat orang yang di tatapnya langsung menganggukkan kepalanya pertanda jika mereka mendukung agar Jasper memberitahu semuanya kepada Elza.
Kemudian Jasper mengalihkan tatapannya kearah Elza, ia menatap wajah Elza dengan serius.
"Jangan potong cerita Papah"
"Iya"
14 tahun yang lalu....
Sempurna itulah yang dapat orang orang simpulkan ketika melihat keluarga Nicholas. Jasper menikah dengan Hanna, wanita cantik asal Korea Selatan yang memiliki profesi sebagai Dokter. Hanna mampu memikat Jasper yang ber profesi sebagai pengusaha, awalnya Jasper tidak percaya dengan cinta. Tapi setelah bertemu Hanna, ia mulai percaya dengan cinta.
Setelah menikah mereka memutuskan untuk menetap di Indonesia, karena Hanna bekerja disalah satu rumah sakit di Indonesia.
Mereka hidup dengan begitu bahagia, sampai akhirnya terlahir Remi sebagai anak pertama, Lucas sebagai anak kedua, lalu lahir lah si kembar Elsa dan Elza. Elsa lebih awal keluar, dan Elza berada di urutan terakhir.
Walau mereka kembar, tapi sikap dan perilaku mereka berbanding terbalik. Elsa memiliki sikap yang baik hati, periang, mudah bergaul, dan sangat menyayangi Elza.
Sementara Elza, dia memiliki sikap yang dingin, cuek, acuh, tidak mudah bergaul, suka sendirian dan jenius.
Ke jeniusan nya membuat Elza menjadi orang berbeda dengan anak anak seusianya.
Elza lebih suka mengasingkan diri ketika keluarga nya berkumpul, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar dengan berbagai macam buku yang akan menemaninya seharian penuh. Hal itu membuat Jasper dan Hanna merasa khawatir dengan Elza, anak bungsunya lebih menyukai waktu sendirian dari pada berkumpul dengan orang tua dan saudaranya.
Agar mereka bisa menjalin komunikasi, Jasper mengajari Elza tentang bisnis dan Hanna mengajari Elza tentang ilmu kedokteran. Hal itu berhasil, Elza mau ber komunikasi dengan mereka karena rasa tahu Elza yang tinggi membuat dirinya sangat antusias jika menyangkut hal hal baru.
Ke istimewahan yang di miliki oleh Elza membuat para pesaing bisnis Jasper mulai terusik. Beberapa kali Jasper menggunakan ide cemerlang Elza untuk memperbesar perusahaan nya, berkat Elza keuntungan yang di raih oleh perusahaan nya naik total. Produk yang di luncurkan oleh perusahaan nya selalu laku di pasaran, bahkan di sukai oleh banyak kalangan.
Disaat saudara saudara nya memilih sekolah formal, Elza memilih untuk sekolah informal atau Homeschooling. Tentu saja Jasper akan mendukung penuh apa yang di inginkan oleh anak anaknya, maka dari itu Jasper menyekolahkan anak anaknya di sekolahan terbaik sementara Jasper mendatangkan pengajar terbaik untuk Elza. Jasper hanya ingin anak anaknya mendapatkan sesuatu yang terbaik.
Kehidupan Jasper yang begitu sempurna membuat dirinya jadi lengah, ia tidak sadar jika bahaya sedang mengancam keluarganya sejak awal. Pada saat itu juga, Jasper tidak bisa mencegahnya.
Pada saat itu umur Elza 8 tahun, Elsa 8 tahun, Remi 18 tahun dan Lucas 16 tahun. Remi dan Lucas sudah menginjak remaja sehingga mereka memiliki kesibukan masing masing, akan tetapi mereka selalu menyempatkan waktunya untuk menemani adik adiknya.
"Elza" Panggilan itu membuat Elza yang sedang menggambar sesuatu langsung menoleh, ia mengerutkan keningnya saat melihat Elsa sedang berlari kearahnya dengan keringat bercucuran.
"Teman baru aku pengin ketemu kamu Elza, ayok ikut aku" Pinta Elsa sambil menarik narik bajunya.
Elza menatap datar kakaknya itu.
"Aku sibuk" Tolak Elza lalu melepaskan tangan Elsa dari bajunya, Elza melangkahkan kedua kakinya menjauh dari Elsa.
Tentu saja Elsa tidak mau menyerah, ia harus membawa Elza untuk menemui teman barunya itu.
"Dia udah nungguin Elza, masa kamu nggak mau ikut si" Kesal Elsa.
Langkah Elza langsung terhenti, ia langsung membalikkan badannya sehingga tubuhnya berhadapan langsung dengan Elsa. Elza terdiam saat melihat raut kesal, putus asa sekaligus kecewa saat Elza menolak ajakan Elsa yang ingin menemui teman barunya. Bahkan mata Elsa sudah berkaca kaca, mungkin sebentar lagi Elsa akan menangis.
"Baiklah"
Wajah sedih itu langsung berubah cerah saat Elza mau menerima ajakan nya untuk bertemu teman barunya, Elsa langsung membantu Elza untuk meletakan alat alat gambarnya ke kursi kayu yang ada di taman. Elsa langsung menarik tangan Elza untuk mengikuti langkahnya.
"Izin dulu ke Mamah" Elza menghentikan langkahnya.
"Mamah lagi keluar"
Elza hanya bisa pasrah ketika tangannya di seret oleh Elsa menuju suatu tempat. Sepanjang jalan Elsa tidak pernah bisa berhenti membicarakan teman barunya yang bernama Melvin, bahkan Elsa mengatakan jika Elza sangat cocok dengan Melvin maka dari itu Elsa ingin membuat Elza bertemu dengan Melvin.
"Elza!! "
Langkah kedua anak perempuan itu langsung terhenti saat seseorang memanggil salah satu nama mereka, Elza yang menjadi pemilik nama itu mengerutkan keningnya saat melihat seorang anak perempuan dengan rambut keriting sedang berlari kearahnya. Setahu Elza, ia tidak memiliki teman satu pun.
"Kamu kenal a... "
"Elza, kamu mau kemana? "Tanya anak itu sambil menatap kearah Elsa.
Kerutan langsung muncul di kening Elza, ia terdiam cukup lama untuk memahami situasi saat ini. Kenapa anak ini memanggil Elsa dengan sebutan Elza?. Elza menatap kearah Elsa, meminta penjelasan.
"Eh ini Elsa yang kamu certain itu?" Tanya anak itu sambil menatap Elza "Hai kenalin nama aku Lili" Lili mengulurkan tangannya kepada Elza.
Elza hanya diam, tidak berminat untuk menjabat tangan itu.
Lili berdecak sebal, ia mendekat kearah Elsa.
"Serem banget kembaran kamu" Bisiknya pelan tapi Elza masih bisa mendengar apa yang di katakan oleh Lili.
"Aku mau ke danau, udah dulu ya" Pamit Elsa lalu menarik tangan Elza dengan sedikit kasar.
Kemudian mereka kembali berjalan beriring sambil bergandengan.
"Kamu pake nama aku? " Tanya Elza datar.
"Heheh iya" Cengir Elsa "Aku suka nama kamu soalnya ada huruf Z nya, aku nggak suka sama huruf S"
"Begitu? " Elza tersenyum tipis.
"Kamu nggak marahkan? "
"Nggak"
"Syukur deh, aku udah takut banget kalau kamu sampe marah sama aku"
Untuk apa marah? Jika Elsa menyukai namanya, maka Elza akan membiarkan Elsa untuk memakai nya. Lagi pula Elza tidak memiliki teman satu pun, jadi ia tidak perlu merasa khawatir jika suatu saat nanti teman mereka akan kebingungan dengan nama mereka yang sama.
Tiba tiba sebuah mobil muncul di arah yang berlawanan dengan mereka, lalu mobil itu berhenti secara mendadak tepat di depan mereka.
Mau tidak mau langkah mereka harus terhenti, mereka terdiam menatap mobil hitam yang ada di depannya. Walau jarak antara lokasi mereka dengan mobil itu cukup berjarak, tapi tetap saja mereka harus waspada.
"Kenapa mobil ini berhenti? "Gumam Elsa bingung.
Entah cuma perasaan saja atau memang orang yang ada di dalam mobil itu mengincar mereka.
Kedua mata Elza langsung mengamati mobil hitam itu lebih teliti lagi, ada sesuatu yang ganjil saat matanya melihat mobil itu. Kaca gelap, plat mobil di tutup oleh sesuatu dan mobil ini tidak memakai warna asli. Mereka tidak cukup pintar untuk menutupi warna asli mobilnya. Cukup mencurigakan sehingga Elza semakin yakin jika orang yang ada di dalam mobil itu tengah mengincar mereka berdua.
Tidak ada orang dewasa yang melintas di sini, seandainya ada mungkin Elza akan sedikit merasa tenang. Maka dari itu hal pertama. yang harus mereka lakukan adalah lari.
"Lari! " Ucap Elza pelan.
Elsa langsung menoleh ketika Elza mengucapkan sesuatu, raut wajah bingung sekaligus khawatir langsung muncul di wajah Elsa saat melihat wajah Elza pucat dan berkeringat.
"Elza, kamu sakit? "Tanya Elsa polos.
Elza hanya diam, terpaku pada mobil hitam itu. Lalu saat pintu mobil itu terbuka, sesuatu jatuh disana. Kedua mata Elza semakin membulat sempurna saat melihat sebelah sandal berwarna abu abu itu jatuh ke tanah, Elza sangat hafal dengan sandal itu. Itu sandal mamah nya.
"Mamah" Gumam Elza pelan.
Elsa semakin bingung dengan perubahan raut wajah Elza yang tampak sangat ketakutan, bahkan Elsa merasakan jika tangan Elza berkeringat sekaligus terasa dingin.
"Elza"
"Run!! "Bentak Elza menatap Elsa tajam.
Melihat Elsa yang hanya diam, membuat Elza langsung mendorong kuat Elsa.
Elsa langsung terjatuh, bahkan lututnya langsung mengeluarkan darah. Elsa menatap Elza bingung dengan matanya yang sudah berkaca kaca.
"Lari!!" Bentak Elza.
Sebelum mereka bisa berlari untuk menghindari sekelompok orang orang mencurigakan itu, tubuh mereka langsung ambruk ke tanah setelah benda tajam itu menancap di leher mereka.
Elza langsung mencabut benda yang menancap di lehernya, ia menatap benda itu dengan tatapan yang semakin mengabur.
"Obat bius"
++++++
Bau anyir langsung terciun di indra penciuman Elza saat dirinya baru saja sadar, ia membuka matanya secara perlahan lalu ia mengerjap ngerjapkan kedua matanya untuk memperjelas penglihatannya.
Kepalanya terasa berat sekaligus pusing, bahkan Elza tidak bisa menggerakan tangannya karena terikat oleh tali.
Elza mengedarkan pandangannya ke segala arah, ruangan ini begitu kotor bahkan sesekali Elza memergoki tikus yang berjalan kesana kemari. Lalu tatapannya berhenti kearah Elsa yang nasibnya tidak jauh berbeda dengannya, tubuhnya terikat dan Elsa masih belum sadarkan diri.
"Jangan sakiti anak ku!! "
Deg...
Jantung Elza berdebar cepat saat telinganya mendengar suara Mamah nya yang berasal dari luar ruangan ini.
"Mamah" Gumam Elza.
Elza berusaha melepaskan ikaran itu dari kedua tangannya, tapi ikatan itu terlalu kuat sehingga Elza kesulitan untuk melepaskan diri.
"Akhhhttt"
Tubuh Elza berubah jadi gemetaran saat orang orang itu menyeret paksa tubuh Mamah nya kedalam ruangan yang sama dengannya, lalu tubuh Mamah nya langsung di hempaskan begitu saja hingga terjatuh tepat di bawahnya.
"Jangan sakiti Mamah! " Bentak Elza menatap tajam kearah orang orang yang mengenakan topeng.
"Ah kau sudah bangun"
Suara wanita.
"Tante jangan sakitin Mamah! "
"Bagaimana bisa kamu tahu kalau aku perempuan? "Tanyanya bingung.
"MAMAH" Jerit Elsa kencang.
Elza dan orang orang itu langsung menoleh kearah Elsa yang ternyata sudah sadar juga.
"Jangan sakiti anak ku, kumohon" Pinta Hanna dengan wajah memelasnya "Bunuh aku, sakiti aku. Jangan anak anak ku, kumohon"pintanya.
"Sepertinya kamu tidak berguna lagi Hanna"
Dorrr...
"MAMAH" Teriak Elsa kencang.
Timah panas itu langsung menembus kepala Hanna, hingga Hanna langsung kehilangan nyawanya. Cairan kental itu langsung merembes hingga membentuk genangan air hujan, bedanya cairan ini bukan air tapi darah.
Elza terpaku melihat Mamah nya tergeletak tidak bernyawa lagi, bahkan Mamah nya meninggal tepat di hadapannya sehingga bau anyir tercium begitu ketara di indra penciuman nya.
Tangisan Elsa langsung pecah, sementara Elza diam terpaku melijat itu semua. Bahkan Elza hanya bisa mengeluarkan air matanya tanpa suara.
"DIAM!! "Bentaknya marah.
Elsa yang sedang menangis histeris seketika bungkam saat mendengar bentakan dari salah satu dari mereka.
"Siapa di antara kalian bernama Elza? "
"Aku" Jawab Elza dengan nada pelan.
"BOHONG!"
"sayqa Elza, dia Elsa kakak saya"
"Jadi kamu Elza? "
"Iya tante" Jawabnya dengan cepat.
"Bunuh dia! "
Mata Elza terbelalak kaget saat mendengar itu.
"Tidak! Dia bohong, saya Elza bukan dia" Bentak Elza panik.
Elza berusaha keras untuk melepaskan dirinya dari ikatan itu, ia bahkan tidak peduli dengan tali yang mengikat tubuhnya akan melukai kulitnya.
Nyawa Elza terasa di cabut paksa ketika kedua bola matanya terpaku menatap Elsa yang sedang menampilkan sebuah senyuman lebarnya, bahkan tidak ada ketakutan didalam diri Elsa saat nyawanya sedang berada di ujung tanduk.
"TIDAKKKKKK!!! " Jerit Elza kencang.
Salah satu dari orang bertopeng itu langsung menebas leher Elsa dengan sebilah samurai. Tubuh tanpa kepala itu langsung ambruk ke lantai, sementara kepalanya jatuh tepat di bawah kaki Elza yang di samping tubuh Hanna yang sudah tidak bernyawa.
Orang orang bertopeng itu langsung pergi meninggalkan Elza yang masih terikat di kursi, bahkan mereka tidak mempedulikan nasib anak perempuan didalam sana seorang diri.