Follow Instagram @cherry.apink
*** Alert!
Season 1
Terpaksa menikahi pria dingin pilihan Ayahnya. Adeline Maryvonne tidak kuasa menolak perjodohan itu. Keadaan ayahnya, memaksa dia untuk menerima perjodohan tersebut.
Pria dingin bernama Marvin Frederic, bahkan tidak menatapnya. mungkinkah mereka akan saling jatuh cinta?
Siapa sangka cinta hadir terlalu cepat, dia menyentuhku, membuatku berdesir..
Cerita manis nan romantis.
sekedar membuat lengkungan di bibir pembaca.
Season 2
Araabella Islean Frederic putri dari Marvin frederic dan Adeline maryvone.
harus menerima kenyataan bahwa jodohnya adalah seorang CEO TAMPAN Blasteran Korea.
Dannis Chin pria dingin yang memesona, akankah Araabella sanggup mencairkan sikap Dannis yang lebih dingin daripada Gunung Es itu.
Arsel Louvain, adalah kembaran Araabella. mereka berdua seringkali bertengkar. seperti tom and jerry yang tidak pernah akur. namun sesekali mereka terlihat sangat manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apple Cherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bercak Darah
Adeline tersenyum melihat Marvin. didalam pikirannya sangat heran, kenapa ada pria seperti Marvin, tidak suka memandang wanita saat sedang berbicara, Marvin hanya melirik Adeline sebentar lalu kembali tanpa ekspresi lagi. Adeline menahan tawa namun saat itu Marvin menyadarinya.
"Apa aku ini lucu ?" tanya Marvin seraya memperhatikan Adeline dari dekat, kali ini Marvin mendekatkan wajahnya begitu dekat dengan Adeline. Adeline merasa sangat gugup hingga terlihat berkeringat.
"Kau sedang apa ?" Tanya Adeline sambil memalingkan wajahnya.
"Coba tatap aku !" pinta Marvin secara tiba-tiba. Adeline membulatkan matanya. "apa maksudnya sih!" gumamnya.
"Tidak, untuk apa juga aku harus menatapmu ?" jawab Adeline, mengalihkan pandangannya lagi.
"Aku hanya ingin memperhatikan wajahmu saja, supaya lain kali aku tidak lupa ketika melihatmu di tempat lain selain di rumah," tuturnya serius. namun Adeline malah merasa Marvin sangat lucu, ia bahkan sudah tidak bisa lagi menahan tawanya.
Pfftt..
"Hahahah kau lucu sekali sih kak! masa sampai seperti itu. apa kau anti dengan wanita ya ? " tanya Adeline, ia masih tertawa melihat ekspresi Marvin yang terlihat bodoh.
"Memang !" jawab Marvin singkat. Adeline menghentikan tawanya sejenak.
"Apa? jadi kau benar anti wanita ?" ucap Adeline tidak percaya, "bagaimana mungkin jangan-jangan kau ini menyukai pria?" gumamnya pelan.
"Hei, jaga bicaramu ! aku bukan homo !" tegas Marvin.
"Lalu kenapa kakak anti terhadap wanita ?" Adeline penasaran dengan jawaban Marvin kali ini.
"Aku hanya tidak suka dengan wanita yang genit. yang terlalu berlebihan setiap berada di dekatku, mereka seperti cacing kepanasan, membuatku kesal saja, tapi tenang saja, menurutku kau satu-satunya wanita yang tidak histeris saat bertemu dengan ku, karena itu aku mau menerima perjodohan ini." ucap Marvin sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa tepat di sebelah Adeline. lalu melirik Adeline sekilas. ia tersenyum tipis.
"Jadi apa kau memperhatikanku saat di rumah sakit ?" tanya Adeline penasaran. seingatnya Marvin tidak pernah menatap wajahnya. lalu bagaimana dia bisa menilaiku? pikirnya saat itu.
"Aku hanya melirik saja, melihatmu memasang wajah cemberut di sampingku, entah kenapa aku malah merasa lega, ternyata kau bukan salah satu dari wanita yang aku tidak sukai. karena aku tidak suka setiap kali seorang wanita ada di dekatku, ia selalu bersikap tidak wajar, membuatku illfeel saja." tegasnya.
"Oh jadi begitu, kalau begitu, apa kau menyukaiku? " tanya Adeline yang entah kenapa malah bertanya seperti itu.
"Oh tidak Adeline! apa kau sudah gila? kenapa kau bertanya seperti itu? diamlah ! jaga mulutmu itu Adeline!" gumam Adeline mengutuk dirinya sendiri.
Marvin tidak menjawab Adeline, dia memilih diam dan menggendong Adeline menuju kamar untuk beristirahat.
"Hei, lepaskan aku turunkan aku, aku sudah bisa berjalan !" ucap Adeline yang terkejut karena Marvin malah menggendongnya tanpa aba-aba.
"Oh baiklah," Marvin menurunkan Adeline.
"Coba jalan, aku mau lihat," ucapnya pada Adeline.
Adeline berjalan di depan Marvin, ternyata kaki Adeline memang sudah membaik, dia tidak merasakan sakit sama sekali, namun tiba-tiba Marvin memandangi Adeline, dengan seksama seperti ada sesuatu yang ia perhatikan, pada diri Adeline. Marvin memandang ke arah tubuh bagian belakang Adeline yang memakai celana panjang itu.
"Hei, kau sedang lihat apa ? kenapa begitu sekali memandangnya ?" tanya Adeline menatap tajam kearah suaminya itu.
"Tidak, sepertinya aku melihat di celanamu ada bercak darah, coba kau cek sendiri. mungkin saja aku salah lihat," tuturnya santai.
"Apa ?" Adeline sangat terkejut, ia seolah teringat sepertinya hari ini sudah waktunya, untuk Adeline datang bulan, tapi Malu sekali rasanya harus di lihat oleh Marvin pikirnya.
"Sial... kenapa harus sekarang ! malu sekali, mukaku mau di taruh dimana ! " maki Adeline dalam hati.
"Apa kau baik-baik saja ?" tanya Marvin yang merasa heran melihat Adeline yang berubah pucat.
"Ti-tidak, aku baik-baik saja kok, hanya saja.."
Marvin menaikkan sebelah Alisnya.
"Hn?"
"Hanya saja.. sepertinya aku.." Adeline menanhan malu setengah mati.
"Sepertinya aku sedang datang bulan !" wajah Adeline pucat pasi, ia sangat malu tidak berani menatap Marvin.
"Oh begitu, pergilah ke toilet sekarang," ucap Marvin santai.
Sementara Adeline hanya mengangguk, ia berlari kecil menuju toilet.
Marvin menahan senyum, merasa Adeline sangat lucu kalau sedang malu pikirnya.
"Dasar gadis kecil !" Marvin tersenyum, sambil menyusul Adeline ke dalam kamar.
"Ah sial ! bulan tidak tahu diri ! mana aku tidak memiliki pembalut lagi ! bagaimana ini ?" Adeline berdecak, sambil membuka sedikit pintu toilet kamar Marvin itu. terlihat Marvin sedang memandangi ponsel dan duduk diatas kasurnya.
"Ada apa?" tanya Marvin melirik Adeline sekilas.
"Anu kak, apa kau punya pembalutb?" tanya Adeline ragu.
"Apa ? mana mungkin aku punya benda seperti itu, kau pikir untuk apa aku menyimpannya ?" ucap Marvin dengan sedikit menaikkan intonasi bicaranya. "ada-ada saja pertanyaanmu itu !"
"Maaf maksudku, mungkin saja pelayan menyimpannya di dalam lemariku, karena aku membutuhkannya, aku tidak tahu bagaimana cara mendapatkannya saat ini. " Adeline merasa sangat malu, tapi ia tidak tahu harus bertanya pada siapa lagi l, selain Marvin yang ada di rumah ini pikirnya.
"Aku akan pergi sebentar keluar rumah," ucap Marvin yang begitu saja pergi meninggalkan Adeline.
"Ah tega sekali dia ! suami macam apa itu, bagaimana ini, aku harus segera memakai pembalut, aduh perutku mulas lagi, seperti nya ingin buang air," gumamnya, lalu ia menutup kembali pintu toiletnya rapat.
**
Marvin keluar menuju minimarket yang ada di dekat rumahnya, meminta salah satu kasir membantunya memilihkan pembalut untuk Adeline, sebenarnya Marvin sangat malu, seumur hidupnya, ini kali pertama dia membeli benda semacam itu untuk wanita, namun ia terpaksa membelinya untuk Adeline.
"Maaf, bisakah kau carikan pembalut untuk Wanita ? " tanya Marvin ragu-ragu. "sial ini sungguh memalukan." Marvin membatin.
"Maaf tuan, tapi pembalut kan memang hanya untuk wanita," tutur kasir minimarket itu sambil tersenyum kecil, kasir itu merasa heran tapi juga merasa lucu melihat ekspresi Marvin. dalam hati kasir itu berkata "pria tampan sedang mencari pembalut, mungkinkah pembalut ini untuk gadisnya atau malah untuk Istrinya ? betapa manisnya, sangat romantis sekali.."
Marvin menghela napas. lalu menjawabnya malas.
"Iya tolong ambilkan pembalutnya. dan ini uangnya semoga cukup." ucapnya seraya mengambil beberapa lembar uang yang ada di dompetnya, lalu ia berikan kepada kasir minimarket itu.
"Apakah ini semua uangnya untuk membeli pembalut tuan ?" tanya kasir yang merasa terkejut. Marvin memberikan uang yang terlalu banyak pikirnya.
"Ya, apa kurang ?" tanya Marvin, merogoh kembali sakunya, lalu ia berniat mengambil beberapa lembat uang kertas dari dalam dompetnya lagi.
"Tidak perlu tuan, maksud saya ini bisa mendapat 20 pack pembalut ukuran besar, tuan." tutur kasir itu.
" Ya, berikan saja secukupnya. dan ini ambillah untukmu." ucap Marvin seraya memberikan beberap lembar uang kepada kasir yang sudah membantunya itu.
"tidak perlu tuan, ini terlalu banyak." sahut kasir itu.
"ambil saja, karena kau sudah membantuku." jawab Marvin santai.
"Terimakasih tuan, sebentar saya ambilka dulu pembalutnya," ucap kasir itu merasa senang.
"Hmm.." ia mengangguk.
Marvin membeli banyak pembalut untuk Adeline, supaya kejadian memalukan ini tidak perlu terulang lagi, dalam hati Marvin berkata, ini yang pertama dan terakhir kali untuknya membeli benda seperti ini.
beberapa saat kemudian..
"Ini tuan pembalutnya," kasir itu menyerahkan satu kantong besar yang berisi pembalut kepada Marvin.
Marvin pun mengambilnya.
"Terimakasih,"
"Sama-sama tuan, datang lagi ya.." tutur kasir itu merasa senang.
"tidak akan!" jawabnya dalam hati.
Adeline yang masih berada di dalam kamar mandi, kembali bingung bagaimana dia bisa memakai pembalut. dalam hatinya kesal dengan Marvin, yang sama sekali tidak memikirkan kesusahan Adeline saat ini.
Tiba-tiba suara pintu kamar terbuka. Adeline membuka sedikit pintu toilet dan mengintipnya, ternyata Marvin pulang membawa satu kantong besar pembalut, dan memberikan kantong itu kepada Adeline.
"Ini pakailah.." Marvin memberikan kantong tersebut dan membaringkan tubuhnya diatas kasur sambil memejamkan mata.
"Ah ternyata di belikan. banyak sekali ini, apa kau membeli seluruh pembalut di toko ?" tanya Adeline yang terheran, ia menatap isi kantong itu. "Ini sih namanya memborong pembalut." ia tercengang sejenak..
"Supaya aku tidak perlu lagi membeli benda itu." jawab Marvin singkat. seolah lelah ia malah tertidur begitu cepat.
Adeline tersenyum.
"Ah betul juga, kau pasti sangat malu kan, terimakasih kak Marvin," ucap Adeline, ia langsung menutup pintu toilet dan memakai pembalut yang sudah di belikan oleh Marvin barusan. Adeline menahan tawanya lagi
"Ternyata pra itu tidak terlalu buruk juga." batinnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author mau nanya dong, Kalian pernah Nggak di beliin pembalut sama pasangan kalian?
Jawab di Kolom Komentar ya.
Jangan Lupa Tekan Love dulu.
Like yang banyak juga 😇😇