"Aku milih kamu."
"Tapi kita berbeda, Tuan."
"Berbeda?" Arnold mengernyitkan dahinya heran, pasalnya gadis di depannya ini dari kasta yang setara dengannya. "Apanya yang berbeda?"
"Agama." lirih Arini dengan menggelengkan kepalanya, "agama kita berbeda, Tuan."
"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu."
Ikuti perjalanan kisah beda agama antara Arini dan Arnold ya readers, apakah mereka akhirnya bisa menikah? atau itu hanya angan-angan seorang Arnold saja? Dan apa sebenarnya motif Arnold memilih Arini untuk menjadi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembatalan Lamaran
Tok! Tok!
"Masuk!" titah Arini dari dalam ruangannya pada seseorang yang sedang mengetuk pintunya.
Pagi itu di kantor Mega News Arini baru saja selesai melakukan meeting dadakan untuk membahas berita yang sedang trending dan berita itu tidak lain tentang dirinya dan Arnold.
Arini pun meminta pada seluruh direksi dan stafnya untuk segera menarik berita tersebut dari seluruh media sosial kantor redaksinya.
Ia tidak mau dikira memanfaatkan kuasa Arnold untuk menaikkan saham kantornya.
"Rin! Ada Pak Bagas di bawah, mau bicara sama kamu katanya." ujar Eve sembari memperlihatkan wajahnya tanpa masuk ke dalam ruangan Arini.
"Suruh masuk saja, Ve. Aku lagi sibuk." Arini kembali menatap dan mengetik sesuatu di laptopnya saat Eve kembali menutup pintunya.
Ceklek!
"Ma--" Arini begitu bersemangat menyapa seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangannya yang ia yakini tunangannya.
Namun, sapaan semangat itu terpotong saat Bagas ternyata tidak datang sendiri, melainkan bersama laki-laki bermuka bengis yang tadi malam memilihnya.
"Ada apa Tuan kemari?" Arini menatap datar namun sekilas pada Arnold, lalu menatap kekasih hatinya dengan tatapan rindu.
"Aku tidak suka basa-basi." Arnold memberikan bukti jika ia sudah mualaf pada Arini, "malam ini juga aku akan datang ke rumah Pak Chandra untuk melamar kamu jadi istriku dengan syarat yang harus kamu tanda tangani."
"Syarat yang harus saya tanda tangani?" Arini mendengus sebal pada Arnold, "Anda ini lucu sekali, Tuan. Anda yang memilih saya, tapi kenapa Saya yang seperti memaksa Anda."
"Arini--"
"Mohon maaf sekali, Tuan. Jika semalam saya tidak berhasil menolak Anda karena saya belum bisa jujur tentang saya yang sudah lebih dulu dilamar orang lain karena masih harus disembunyikan demi kantor redaksi ini." Arini sengaja memotong perkataan Arnold lalu menghela napasnya begitu dalam, "tapi sepertinya jika di ruangan pribadi saya ini, saya harus jujur sama Anda kalau saya memang sudah dilamar orang lain. Dan orang lain itu tidaklah orang lain, dia adalah Mas Bagas, Tuan. Jadi, Saya mohon dengan sangat, Anda bisa membatalkan niat Anda memilih saya menjadi calon istri Anda."
"Kamu mau membuat aku malu?" Arnold menatap tajam Arini.
"Saya tidak berniat seperti itu, Tuan. Tapi, perempuan yang sudah dilamar orang lain, tidak bisa menerima lamaran dari pria lain lagi kecuali orang yang melamarnya pertama kali membatalkannya."
"Putuskan lamaranmu pada Arini sekarang juga, Gas!" titah Arnold yang membuat Arini membulatkan matanya.
"Tuan Arnold!" Arini tidak bisa untuk tidak berteriak, "kenapa Anda tega meminta Mas Bagas memutuskan pertunangan dengan saya?"
"Karena hanya itu yang bisa membuat aku bisa melamar kamu bukan?" Arnold menatap Arini dengan senyum sinis.
"Arini Abimana." Bagas memanggil tunangannya saat keheningan tiba-tiba melanda, "Hari ini, Saya Bagas Dirgantara memilih membatalkan pertunangan yang pernah terjadi di antara kita."
"Mas!" teriak Arini sembari berdiri lalu berjalan menghampiri Bagas yang berdiri di belakang Arnold, "kenapa gampang sekali buat kamu membatalkan lamaran kita? Kenapa Mas?" tuntut Arini sembari menatap Bagas dengan deraian air mata yang tiba-tiba saja terjun membasahi wajah cantiknya.
"Pertunangan kita tidak berarti apa-apa dibanding pekerjaan yang harus saya pertahankan, Arini." Bagas menatap Arini dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Jadi, masa ta'aruf kita bahkan lamaran yang kamu lakukan kemarin tidak berarti apa-apa buat kamu, Mas?" Arini mengangguk-anggukkan kepalanya untuk menahan pedih di hatinya, "Andai aku tahu kalau kamu tidak seserius itu, aku tidak akan pernah mau berkenalan denganmu enam bulan yang lalu, Mas."
"Aku terpaksa--"
"Stop!" Arini menutup telinganya dengan kedua tangannya, "enggak usah jelasin apa-apa lagi kalau itu hanya buat nyakitin hati aku." Arini mengusap air matanya dengan kasar lalu berbalik badan kembali melangkah menuju kursi kerjanya.
"Anda berdua boleh pergi dari ruangan saya sekarang juga! Saya sedang tidak mau diganggu." ujar Arini sembari menunduk menahan tangisnya dengan pundaknya yang naik turun, tapi Arnold dan Bagas tidak mau sedikitpun melangkah pergi dari ruangan Arini.
Setelah dirasa tangisan Arini sedikit mereda, Arnold kembali memberikan sebuah kertas berisi perjanjian untuk ditandatangani oleh Arini.
"Ini apa, Tuan?" Arini mendongak kembali.
"Baca! Dan kamu harus tandatangan sekarang juga." titah Arnold sembari menatap tajam Arini, "Demi kantor redaksi yang baru kamu dirikan ini, tentu kamu tidak ingin jika hari ini juga aku mengakuisisinya bukan?" ancam Arnold.
Arini tidak perlu menunggu detik menjadi menit untuk langsung membaca surat perjanjian nikah antara dirinya dan Arnold saat kantor redaksi miliknya yang menjadi umpan dari laki-laki muka bengis di depannya ini.
Di surat perjanjian itu hanya tertulis jika Arini harus menerima apapun yang terjadi di kemudian hari yang ada di diri Arnold.
Arini sempat mengerutkan keningnya, namun saat dirasa surat perjanjian itu tidaklah memuat hal yang aneh-aneh, ia pun langsung tandatangan tanpa dipaksa.
Menerima hal apapun di kemudian hari tentang diri Arnold? bukankah jika sudah menjadi suami istri, harus bisa saling menerima kekurangan dan kelebihan pasangannya bukan?
Hatinya yang merasa sakit karena merasa dipermainkan oleh Bagas yang membuatnya dengan gampang menerima Arnold menjadi calon suaminya.
Lagipula, Bunda Jennifer dan Ayah Darius beserta adik-adiknya sudah dijadwalkan olehnya untuk datang dua minggu lagi untuk menghadiri pernikahannya yang akan diadakan secara sederhana di kantor urusan agama.
Ya, setelah lamaran kemarin karena dirinya yang memang sudah dewasa, Arini tidak mau menunggu terlalu lama untuk mensahkan dirinya menjadi seorang istri.
Namun kali ini sepertinya takdir memang membawanya menjadi calon istri Arnold, bukan Bagas--laki-laki yang sudah melamarnya lebih dulu namun memilih membatalkannya.
"Persiapkan dirimu nanti malam." Arnold mengangguk puas saat Arini langsung menandatangani begitu saja surat perjanjian nikah yang ia ajukan tanpa menolaknya lagi seperti sebelumnya.
***
Panggilan tersambung.
Arini : Assalamualaikum, Uncle.
Chandra : Waalaikumsalam, Nak. Ada apa?
Arini : Hm.. hmm..
Chandra : Ada apa, Arini?
Arini : Hm.. nanti malam-- nanti malam Tuan Arnold mau datang ke rumah Uncle.
Chandra : Arnold? Mau ngapain dia? Uncle menolak lamarannya kalau niatnya datang seperti itu.
Arini : Tapi Arini sudah menerimanya, Uncle.
Chandra : Menerimanya? Apa Uncle tidak salah dengar, Arini? Kamu sudah dilamar orang lain, Nak. Jangan mempermainkan perasaan Bagas.
Arini : Bagas sudah membatalkan pertunangan kami, Uncle.
Chandra : Membatalkan?
Arini : Iya. Dia lebih memilih pekerjaannya dibanding Arini, Uncle.
Chandra : Anak itu. Lalu bagaimana dengan kantor redaksi yang kalian dirikan?
Arini : Arini belum tau, Uncle.
Chandra : Sebagai pengusaha kamu jangan terlalu gampang bilang belum tau, Arini. Pikirkan semuanya matang-matang sebelum keputusan itu kamu ambil.
Arini : Iya, Uncle. Arini mengerti.
Chandra : Ya sudah, Uncle tunggu kamu di rumah. Hati-hati di jalan.
Arini : Iya, Uncle. Assalamualaikum.
Chandra : Waalaikumsalam.
Panggilan terputus.
Arini mengembuskan napas kasar setelah menelpon Uncle-nya. Hatinya yang masih gundah gulana membuat ia yang seharusnya terjun ke lapangan untuk mencari berita terbaru meminta Eve untuk menggantikannya dan ia pun memutar kemudinya menuju mall.
Sepertinya, nongkrong cantik sambil menyeruput kopi favoritnya di salah satu food court yang ada di mall tersebut sedikit bisa merilekskan pikirannya yang masih begitu pening.
Berkali-kali sedari pagi ia berpikir, apa nanti jika ia benar-benar menerima lamaran Arnold ia akan bahagia?
Apa ia akan bahagia seperti saat ia menerima lamaran Bagas dua minggu yang lalu?
Apa nanti ia akan dicap oleh Arnold sebagai gadis gampangan karena begitu gampangnya ia berpindah dari Bagas ke Arnold bahkan belum berganti hari saat Bagas membatalkan pertunangan mereka?
Huft! Arini tiba-tiba mengembuskan napasnya secara kasar berkali-kali lalu dengan sekali gerakan meminum kopinya hingga tandas lalu bergegas pulang ke mansion Chandra karena hari sudah sore.
bersambung..