Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Pagi itu, udara musim gugur terasa lebih menggigit dari biasanya, seolah semesta ikut mengejek isi kepala Amanda yang kalut. Gedung Taman Kanak-Kanak St. Jude berdiri megah dengan arsitektur klasik Eropa, tempat di mana anak-anak dari kalangan elite kota memamerkan kekayaan orang tua mereka bahkan sebelum bisa membaca dengan lancar.
Amanda meremas tali tas kulit imitasi miliknya hingga buku-buku jarinya memutih. Jantungnya bergemuruh liar di dalam dada, tapi ia memaksa dagunya terangkat. Di sebelahnya, Lily duduk diam di kursi kebesaran ruang kepala sekolah, kakinya yang terbalut sepatu pantofel hitam berayun gelisah, sementara sepasang mata kelamnya menatap lantai marmer dengan raut ketakutan.
"Nona Millen, saya harap Anda mengerti posisi kami," suara Kepala Sekolah, Nyonya Beatrice, memecah keheningan yang mencekik. Wanita paruh baya itu membetulkan letak kacamata bacanya, menatap Amanda dengan sorot mata merendahkan yang dibalut senyum palsu.
Di seberang meja, duduk seorang wanita dengan setelan haute couture keluaran terbaru dan perhiasan berlian yang menyilaukan. Nyonya Clara, ibu dari bocah laki-laki gempal bernama Toby yang kemarin merundung Lily.
"Mengerti?" Amanda mengulang kata itu perlahan, suaranya sangat tenang, namun tersirat bahaya yang tajam. "Yang saya mengerti adalah, putra Nyonya Clara ini telah menyebut putri saya dengan sebutan menjijikkan yang tidak seharusnya keluar dari mulut anak berusia empat tahun. Dan Anda, Nyonya Beatrice, memanggil saya ke sini seolah kamilah yang menjadi tersangka utamanya?"
Nyonya Clara mendengus angkuh, menyilangkan kakinya dengan elegan. Aroma parfum Chanel No.5 yang menyengat menguar dari tubuhnya. "Oh, astaga. Berhentilah bersikap melodramatis, Nona Millen. Toby hanya mengulangi apa yang dia dengar. Dan lagipula..." Wanita itu memindai penampilan Amanda dari atas ke bawah dengan tatapan jijik. "...bukankah itu fakta? Semua orang di sekolah ini tahu Anda single mother. Tanpa suami. Tiba-tiba mendaftarkan anak di sini. Toby hanya anak-anak yang jujur, dia mempertanyakan di mana ayah Lily."
Darah Amanda mendidih. Rasa panas menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubunnya. Telinganya berdenging keras. Ia bangkit dari kursi, mencondongkan tubuhnya ke depan meja mahoni itu, mengunci tatapan angkuh Nyonya Clara dengan sorot mata sedingin es.
"Dengarkan aku baik-baik, Nyonya Clara," desis Amanda, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. "Ketidakadaan sosok ayah dalam hidup Lily sama sekali tidak memberimu, atau anakmu yang tidak terdidik itu, hak untuk melabelinya dengan kata-kata kotor. Lily mungkin tidak lahir dengan sendok emas di mulutnya seperti Toby, tapi dia memiliki tata krama dan hati nurani yang jelas-jelas gagal kau ajarkan pada putramu!"
"Berani sekali kau—!" Wajah Nyonya Clara memerah padam.
"Cukup!" Amanda memotong tajam. Ia berbalik menatap Kepala Sekolah yang kini mematung kaget. "Jika sekolah ini membiarkan perundungan hanya karena orang tua pelakunya memberikan donasi besar, maka bersiaplah. Aku tidak akan segan membawa masalah ini ke dewan pendidikan, atau bahkan media."
Tanpa menunggu balasan, Amanda meraih tangan mungil Lily. "Ayo, Sayang. Kita pulang. Udara di ruangan ini terlalu beracun untuk dihirup."
Amanda melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah lebar dan tegap, meski di dalam hati kakinya terasa seperti jelly. Ia berhasil membela putrinya, tapi realita menamparnya dengan keras: dunia ini terlalu kejam untuk mereka yang tidak memiliki kuasa dan pelindung.
Dan tanpa Amanda sadari, jauh di sudut tergelap kota ini, bahaya yang jauh lebih mengerikan dari sekadar gunjingan ibu-ibu sosialita sedang merangkak ke arahnya.
Di Waktu yang Sama, Sektor Selatan Kota
Gudang kontainer di dermaga terbengkalai itu tampak mati dari luar, namun di bagian bawah tanahnya, denyut kehidupan para monster tengah berdegup kencang. Ruangan luas berdinding beton lembap itu disulap menjadi markas pertemuan rahasia. Lampu gantung industri berpendar kuning redup, menyoroti meja baja panjang yang dipenuhi cetak biru kota, senjata api berbagai kaliber, dan tumpukan uang tunai.
Maxim, sang pemimpin klan Sinaloa yang terkenal brutal dan tak kenal ampun, memutar pisau lipat karambit di sela-sela jarinya. Ia mengisap cerutu tebalnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asap pekat ke udara. Matanya yang liar dan penuh bekas luka menatap pria di seberang meja.
Pria itu adalah Alan. Pemimpin The Dragon Black. Berbeda dengan Maxim yang beringas dan meledak-ledak, Alan adalah perwujudan dari perhitungan dingin yang mematikan. Ia duduk bersandar dalam diam, mengenakan setelan jas three-piece rapi tanpa sehelai benang pun yang melenceng.
"Kau yakin dengan informasi murahan ini, Alan?" kekeh Maxim, suaranya serak dan berat. "Si iblis Aldebaran itu... mencari seorang perempuan? Omong kosong macam apa ini? Semua orang tahu The Iron Crown tidak punya kelemahan. Aldebaran tidak pernah membiarkan wanita mana pun hidup lebih dari satu malam bersamanya."
Alan tidak tersenyum. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, jemari pucatnya mendorong sebuah map cokelat melintasi meja baja, berhenti tepat di depan Maxim.
"Ini bukan omong kosong, Maxim. Mata-mataku di kepolisian, dan beberapa tikus yang kususupkan ke dalam barisan bawah The Iron Crown melaporkan hal yang sama," ucap Alan tenang, namun mematikan. "Dante dan Flop... kedua anjing setia Aldebaran itu telah mengobrak-abrik seluruh data rumah sakit, klinik bersalin, hingga catatan perbankan gelap selama satu bulan terakhir."
Maxim menghentikan putaran pisaunya. Ia membuka map itu. Di dalamnya terdapat beberapa foto candid buram yang diambil dari jarak jauh, memperlihatkan Dante yang tengah menginterogasi (lebih tepatnya menyiksa) seorang peretas data di sebuah gang sempit.
"Mereka mencari wanita yang menghilang lima tahun lalu," Alan melanjutkan, nadanya kini dipenuhi intrik dan kepuasan gelap. "Seorang wanita biasa. Bukan dari klan mafia, bukan pembunuh bayaran. Hanya... seorang wanita dengan tanda lahir di belakang telinganya. Dan fakta bahwa Aldebaran mengerahkan tangan kanannya untuk mencari wanita ini secara diam-diam..." Alan menyeringai tipis, sebuah senyum mengerikan yang jarang terlihat. "...menandakan bahwa wanita ini adalah pengecualian. Dan setiap pengecualian, adalah sebuah kelemahan."
Maxim menatap foto-foto itu, seringai buas perlahan mengembang di wajahnya yang penuh bekas luka. Tawa rendahnya menggema di dinding beton yang dingin. "Kau benar, Alan. Sang penguasa kegelapan ternyata memiliki titik buta."
Maxim menancapkan pisau karambit-nya tepat di tengah meja baja hingga menimbulkan bunyi derit logam yang memekakkan telinga. Mata gilanya berkilat penuh dendam.
"Jika Aldebaran menginginkan wanita ini..." bisik Maxim, menyapu pandangan ke arah puluhan anak buah bersenjata laras panjang yang berjaga di sudut bayangan. "...maka kita yang akan menemukannya lebih dulu. Kita akan menyeret wanita itu ke hadapan Aldebaran, mengulitinya hidup-hidup, dan menyaksikan bagaimana Raja Iblis itu bertekuk lutut sebelum kita menghancurkan kerajaannya menjadi debu."
Alan mengangkat gelas kristal berisi wiski Scotch, menatap cairan ambar itu dengan sorot mata penuh ambisi. "Untuk kejatuhan The Iron Crown."
"Untuk darah Aldebaran Hendrick," balas Maxim, mendentingkan gelasnya dengan brutal hingga sedikit cairan tumpah mengotori meja.
Roda gigi takdir yang kejam telah berputar. Klan musuh mulai menyebarkan jaring mereka di seluruh penjuru kota, mengendus setiap jejak, setiap aroma. Sementara di sisi lain kota, Amanda Millen masih berjuang mati-matian merengkuh putrinya, sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya baru saja menjadi buruan utama dari tiga klan mafia paling mematikan di dunia bawah tanah.
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭