NovelToon NovelToon
RINDU DIATAS KHIANAT

RINDU DIATAS KHIANAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Mandul
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.

Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Nia

Aroma kopi yang pekat dan petikan gitar akustik yang memutar lagu indie memenuhi sudut kafe estetik di kawasan Jakarta Selatan itu.

Di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke jalanan kota, Nia melambaikan tangannya dengan heboh begitu melihat sosok yang dicarinya berjalan mendekat.

"Rindu! Sini!" seru Nia setengah berbisik, takut mengganggu pengunjung lain.

Rindu tersenyum lebar, mempercepat langkahnya dan langsung menjatuhkan diri di kursi empuk di depan sahabatnya sejak zaman kuliah itu.

"Hai, Maaf ya, agak telat. Tadi jalanan agak tersendat di lampu merah depan."

"Santai saja, Rin. Aku juga belum lama sampai kok. Nih, aku sudah pesankan iced americano kesukaanmu, dan triple chocolate cake buat kita berdua," kata Nia sambil menggeser cangkir kaca ke hadapan Rindu.

"Duh, peka banget! Tahu saja kalau aku butuh kafein dosis tinggi hari ini," ujar Rindu tertawa kecil, langsung menyesap kopinya dengan nikmat.

Nia mengamati wajah sahabatnya itu lekat-lekat. Sebagai orang yang sudah tumbuh bersama Rindu lama, Nia tahu persis arti dari setiap lengkungan senyum dan sorot mata Rindu.

"Rin," Nia menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Rindu menyelidik.

"Kamu tidak bisa bohongi aku ya. Senyummu itu, senyum formalitas. Ada apa? Mertuamu berulah lagi?"

Rindu yang baru saja hendak menyuap potongan coklat cakenya langsung tertegun. Ia meletakkan kembali garpunya sambil menghela napas panjang, sadar bahwa benteng pertahanannya selalu runtuh jika berhadapan dengan Nia.

"Kelihatan banget, ya?" tanya Rindu lirih.

"Banget, Rindu. Di dahi kamu itu kayak ada tulisan aku sedang menahan beban hidup. Cerita sini, semalam ada kejadian apa?" desak Nia, suaranya melembut, penuh dengan empati seorang sahabat.

Rindu mengaduk-aduk es batu di dalam gelasnya, membiarkan bunyi denting kaca mengisi jeda di antara mereka.

"Biasalah, Ni. Mama mulai lagi soal anak. Tapi kali ini agak lebih tajam." Rindu tersenyum pahit.

"Mama bahkan membanding-bandingkan aku dengan anak temannya yang langsung hamil setelah nikah."

Nia berdecak kesal, tangannya mengepal di atas meja.

"Astaga... kok bisa-bisanya sih bicara begitu? Mereka pikir bikin anak itu kayak bikin nyeduh mi instan apa. Kamu sama Arsen kan sudah usaha, sudah ke dokter juga. Lagian, Arsen pembelaannya gimana?"

"Arsen baik sekali, Ni. Dia selalu bela aku, bahkan semalam dia merasa bersalah sampai minta maaf berkali-kali. Justru karena Arsen sebaik itu, aku jadi merasa makin bersalah." Kata Rindu, pandangannya dialihkan ke luar jendela.

"Kadang aku mikir, apa emang benar ini salahku ya? Tiga tahun, Ni. Tiga tahun itu bukan waktu yang sebentar buat menanti."

Nia langsung meraih tangan Rindu di atas meja, menggenggamnya dengan sangat erat.

"Rin, dengar aku," kata Nia tegas namun lembut, memaksa Rindu untuk kembali menatap matanya.

"Jangan pernah sedetik pun kamu berpikir ini salahmu. Kamu itu perempuan yang hebat, istri yang luar biasa buat Arsen. Anak itu rezeki yang waktunya sudah diatur sama Tuhan, bukan tolok ukur kesuksesan kamu sebagai wanita. Jangan biarkan ucapan mertuamu meracuni pikiranmu sendiri."

Mendengar kalimat tulus dari Nia, pertahanan Rindu akhirnya runtuh. Setitik air mata lolos dari sudut matanya, namun ia segera menghapusnya dengan cepat sambil tertawa getir.

"Tuh kan, kalau ketemu kamu pasti ujung-ujungnya aku jadi cengeng begini."

"Tidak apa-apa, tumpahin saja semuanya di sini. Di depan Arsen kamu boleh jadi istri yang tegar, tapi di depan aku, kamu tetap Rindu yang boleh nangis kalau lagi capek," ucap Nia tulus, menyodorkan selembar tisu.

Rindu menerima tisu itu, menghirup napas dalam-dalam, dan merasakan dadanya menjadi jauh lebih lapang. Pertemuan akhir pekan dengan Nia selalu menjadi tempat perlindungan terbaiknya, tempat di mana ia tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Rindu menyeka sudut matanya yang basah dengan tisu, lalu mengembuskan napas panjang, melepaskan sisa sesak yang sempat menyumbat dadanya. Ia menatap Nia dengan binar mata yang jauh lebih jernih, senyumnya kali ini terasa lepas tanpa beban buatan.

"Makasih banyak ya," ucap Rindu tulus, meremas balik jemari sahabatnya yang masih menggenggam tangannya di atas meja.

"Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kamu sebagai sahabatku."

Nia tersenyum hangat, mengibaskan sebelah tangannya dengan gaya santai andalannya.

"Ah, kayak sama siapa saja kamu ini. Tugas sahabat kan memang begini, jadi tempat sampah buat segala keluh kesah, sekaligus jadi satpam yang menjaga biar warasmu tidak hilang."

Rindu terkekeh mendengar selorohan Nia. Beban di pundaknya perlahan terasa terangkat.

"Tapi serius, Ni. Terima kasih karena selalu mengingatkan aku kalau ini bukan salahku. Di saat semua orang menuntut, cuma kamu, dan Arsen yang bikin aku merasa kalau aku ini masih cukup sebagai manusia," lanjut Rindu, suaranya terdengar jauh lebih tegar sekarang.

"Kamu itu lebih dari cukup, Rin. Ingat itu," potong Nia tegas, memastikan kalimatnya tertanam kuat di hati sahabatnya.

"Sudah ah, jangan melow lagi, setelah ini kita hunting baju atau skincare, pokoknya hari ini kita harus bersenang-senang!"

Rindu tertawa lepas, mengangguk setuju.

"Siap, Ibu Negara! Hari ini aku ikut semua agenda bimbingan konseling dan belanjamu," ujar Rindu bersemangat, menyendok coklat cake ke mulutnya.

Setelah menyelesaikan pembayaran di kafe, kedua sahabat itu langsung meluncur ke salah satu mal terbesar di Jakarta Selatan.

Agenda pertama mereka adalah berburu skincare dan kosmetik. Nia dengan heboh menyeret Rindu dari satu gerai ke gerai lain, memaksa Rindu mencoba berbagai warna lipstik cerah yang selama ini jarang ia gunakan.

"Nah, coba pakai warna peach-nude yang ini, Rin. Wajahmu langsung kelihatan segar dan bersinar. Jangan pakai warna pucat terus, biar Arsen makin nempel, dan... ya, biar aura kamu makin keluar!" seru Nia sambil mematut wajah Rindu di cermin konter kosmetik.

Rindu melihat pantulan dirinya. Benar kata Nia, rona merah di bibirnya membuat matanya yang sempat sembap kini terlihat lebih hidup.

"Bagus juga ya, Ni. Ya sudah, aku ambil yang ini."

Puas berbelanja kebutuhan perempuan, mereka memutuskan untuk berpindah ke area lantai atas demi berburu pakaian. Di sinilah tawa Rindu benar-benar pecah tanpa beban.

Nia berulang kali mengambil baju-baju dengan model yang unik dan nyentrik, lalu menempelkannya ke badan Rindu sambil berpose kocak, membuat beberapa pengunjung mal sempat menoleh ke arah mereka.

"Ni, ampun deh! Umur kita sudah hampir kepala tiga, masa aku harus pakai baju model bolong-bolong di bahu begini? Bisa dicoret dari kartu keluarga sama Mama mertua kalau aku pakai ini di rumah," protes Rindu di sela tawanya, perutnya sampai terasa kaku karena terlalu banyak tertawa.

"Biarin! Sekali-kali bikin kejutan dong di rumah," sahut Nia mengedipkan mata, ikut tertawa lepas.

Sore mulai merayap naik ketika mereka akhirnya memutuskan untuk beristirahat di area food court dengan membawa beberapa kantong belanjaan di tangan. Sambil menikmati segelas es teh manis, Rindu bersandar di sandaran kursi, merasakan pegal di kakinya namun hatinya terasa begitu lapang.

Energi negatif yang menyelimutinya sejak semalam seolah luruh bersama setiap tawa yang ia bagikan dengan Nia hari ini.

"Capek juga ya, tapi rasanya puas banget," gumam Rindu, menatap kantong belanjanya dengan senyum tulus.

Nia yang sedang sibuk melihat ponselnya tiba-tiba menoleh ke arah Rindu.

"Rin, lihat deh, sudah jam empat sore. Kamu tidak dicariin Arsen atau orang rumah?"

Mendengar ucapan Nia, Rindu refleks mengecek ponselnya yang sejak tadi ia masukan ke dalam tas dalam mode getar. Layar ponselnya langsung menyala, menampilkan beberapa notifikasi panggilan tak terjawab dari mertuanya.

1
Anonim
Jangan lemah dong rindu bales 💪
Sarah Nindya
Jangan mau luluh Rindu
Eva Rosita
sangat bagus
Shinta Teja
Thor plis Thor, plisss!!!!!
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
Sanda Rindani
jangan bodo rindu
Shinta Teja
jangan lupa minta no unitnya mbak Fina,rindu. jadi kamu bisa sementara sembunyi di apartemen nya....🥺
Sanda Rindani
jangan lembek dong rindu
Ben Aben
Udah mulai seru ya thor
stela aza
sakarepmu sing nulis Thor endinge arep kaya apa Yo ngono ,,, wis bebeh drama rumah tangga yg ngono kui wis biasa Karo wis akeh di setiap novel hampir sama rata 🙏 nek ora selingkuh Karo konco Yo Karo Adine trs sepupu Yo muter2 Ning Kono kui tok 🙏
Maple latte: saya gk tau ya kak kalau novel lain juga sama, saya cuman nulis apa yang terlintas di pikiran aja.
kayak, bikin cerita ini kayaknya seru, selingkuhannya si ini. terus nanti pertengahannya akan jadi seperti ini, dan endingnya akan seperti ini.
jadi semua sudah saya pikirkan, dan semua sudah ada di otak di penulis. gambarannya seperti apa. dan, juga pasti mencari ini akan seru nih cerita seperti ini. jadi, kita itu gk tau ceritanya sama atau tidak dengan yang lain, kalau kakak merasa ceritanya sama dengan yang lain ya, mungkin pemikiran saya dan penulis yang lain sama.
total 1 replies
stela aza
ujung2 nya Nnti setelah cerai baru ketahuan kalau Nia hamil bukan anaknya Arsen ,,, wisss mambu lagu ngono kui ,,, 🤣
Cha Libra
jngan biarkan Rindu lluh thour ma s Arsen .biar rindu kluar gugat cerai suami kga tau diri
Delisa
novelnya good thor
Yantie Narnoe
😭😭😭 sedih x....up lg othor...💪
stela aza
balas rindu jangan diem Bae ,,, balesnya dg cara yg cantik dan apik ,,, hancurkan sampai tak bersisa 2 penghianat itu 🤭
Shinta Teja
terimakasih ya otor,dah dikabulkan permintaan ku...🫰
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰
Shinta Teja
up nya yang banyak dong Thor. masa cuma 1 . mana makin bikin penasaran lagi🫰
Anonim
Wah wah si nia ini pelakor nya ternyata y thor🤭
Shinta Teja
tolong dong,kak. jangan lama² bongkar kebohongan nya Arsen. sebab aku mau si RINDU itu bisa bersikap tegas & keluar dari keluarga toxic itu
Anonim
Rindu jangan lemah dong thor buat jadi cewe badas,gemes ih sama mertua modelan kek gitu pengen kasih rawit sekilo
stela aza
kok rindu diem j di hina di injak-injak harga dirinya,, meneng Bae ,,, lawan donk , jgn jdi perempuan bodoh ,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!