"Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku, dan itu adalah adikku sendiri. Lalu kamu, kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!!"
Suara Swastamita bergetar hebat ketika berkata demikia kepada suaminya, Erdio Rasmaluyo.
Betapa tidak bergetar, rasa sakit di hatinya sangat nyata. Suami yang memintanya untuk melepaskan karinya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Yang lebih mengejutkan adalah, perselingkuhan yang dilakukan Erdio dan Medini itu diketahui oleh sang ibu.
Sakit hati Swastamita ketika mengetahui bahwa di rumah itu hanya dirinya yang tak tahu apa-apa.
Adik tiri yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri tega menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Dan suami yang ia jadikan imam, malah menorehkan luka yang begitu dalam.
Bagaimana Swastamita menghadapi rasa sakit yang dirasakannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lingerie Merah 03
Blak!!
"Ya ampun, aku kira siapa. Kenapa kamu ke sini Mas, kalau Mbak Mita tahu gimana?"
"Mita udah tidur pules. Jadi aman. Sekarang coba jelasin, apa maksud kamu tadi tiba-tiba hoek-hoek gitu?"
Selepas tengah malam, Erdio menyelinap keluar kamar setelah memastikan bahwa Mita tertidur pulas. Dia yang sedari tadi khawatir tentang Medi, langsung menemui adik iparnya itu untuk mengonfirmasi langsung.
Ketakutan Erdio tidak dibuat-buat. Dia jelas sangat takut jika apa yang terlintas dipikirannya itu terjadi.
"Kamu udah cek belum? Ah nggak, nggak gitu. Maksudku, kenapa tadi kamu hoek-hoek gitu?"
"Kenapa sih Mas kamu kayak heboh gitu? Ah kamu takut ya? Kamu takut kalau aku hamil?"
"Medi!!"
Erdio memekik sambil menatap tajam ke arah Medi. Ini bukan saatnya bercanda, seperti itulah arti tatapan Erdio kepada adik iparnya tersebut.
Sekarang adalah waktu yang sangat serius, dimana Erdio harus memastikan bahwa Medi tidak hamil. Tapi, Erdio yakin bahwa hal itu tak akan terjadi karena dia selalu menggunakan pengaman setiap kali berhubungan.
"Iya iya maaf. Aku cuma becanda. Aku nggak apa-apa. Cuma masuk angin biasa aja. Mungkin karena emang beberapa malam ini begadang nyelesein skripsi. Ditambah semalem Mas nelanjangiin aku sampe pagi. Jadi masuk angin deh," jawab Medi tanpa malu.
Fyuuuuh
Erdio bernafas lega. Meski yakin bahwa hal itu tak akan terjadi, tapi tetap saja dia merasa takut dan harus waspada. Dia tidak ingin Medi kebobolan. Jika itu terjadi maka urusannya akan runyam. Hubungannya dengan Mita juga pasti bisa hancur.
Meski bisa berpikir seperti itu saat ini tapi Erdio agaknya tak berpikir untuk menyudahi perbuatan gilanya itu. Nyatanya, saat Medi 'menyerangnya' sekarang, Edio tidak menolak dan tetap menikmatinya.
Ughhhh
Lenguh Erdio ketika Medi mulai menyesap lehernya. Hasratnya membuncah. Rasanya dia ingin menerkam Medi saat ini juga. Tapi agaknya otak Erdio masih punya kewarasan. Dia mendorong tubuh Medi agar menjauh darinya.
"Nggak mau Mas?" tantang Medi.
"Nggak, aku nggak bisa. Aku harus balik ke kamar nanti keburu Mita sadar kalau aku nggak ada," ucap Erdio sambil berjalan cepat keluar Medi. Ya Erdio seperti orang yang ketakutan ketika menghindari Medi. Dia bahkan sampai terengah-engah ketika sampai ke kamarnya.
"Huft, untungnya Mita nggak bangun. Dia pules banget. Haaah dasar Medi sialan. Dia bener-bener bisa bangkitin hasratku, brengsek," umpat Erdio dalam hatinya. Dia merasa kesal dengan Medi karena membuat miliknya bangun bahkan berdiri dengan sangat tegak. Saat seperti ini dia ingin sekali menyalurkannya dengan membangunkan Mita. Namun entah mengapa Erdio tidak mau mengganggu Mita.
Erdio merasa bahwa saat ini Mita sedang lelah. Terbukti dari makanan dan juga kamar yang disiapkan dan dirapikan sebagaimana mestinya. Mita sudah banyak melakukan usaha terbaiknya untuk menyambut pulangnya sang suami, dia pasti lelah sehingga Erdio tak punya keberanian membangunkan Mita hanya untuk menyalurkan hasrat yang dipicu oleh Medi.
"Aku harus mandi kalau kayak gini. Brengsek emang si Medi," umpatnya lagi sambil masuk ke kamar mandi. Malam yang penuh kecemasan itu setidaknya sudah berlalu. Erdio setidaknya merasa lega karena Medi tidak hamil seperti yang ditakutkan olehnya.
Malam itu berlalu dengan tenang. Ketakutan yang dirasakan oleh Erdio sirna. Hati-hari pun berlanjut dengan aman. Mita juga bertanya kepada Medi tentang apa yang dialami Medi. Ia bernafas lega karena Medi hanya sekedar masuk angin biasa dan bukannya sakit yang serius.
Selama beberapa hari itu Erdio juga tidak menyambangi kamar Medi. Ternyata rasa takut itu masih ada dan membuat Erdio waspada.
Namun sikap Erdio tersebut membuat Medi kesal. Dia sangat ingin bersama dengan Erdio, bahkan sampai membuat kode-kode khusus, tapi Erdio bersikap acuh tak acuh.
Alhasil Medi sangat kesal. Dia bahkan sampai meraba kaki Erdio di bawah meja hanya untuk memberi kode keras kepada kakak iparnya tersebut bahwa dia sangat ingin bersama.
Dan puncaknya adalah ketika hari sabtu dimana Erdio libur kerja, lalu Mita tengah pergi ke pasar. Biasanya Erdio jika libur, pasti bangun sedikit lebih siang sehingga Mita pergi ke pasar meninggalkan Erdio di kamar sendirian.
Hal itu menjadi kesempatan bagi Medi untuk datang menemui Erdio. Medi dengan berani menyelinap masuk ke kamar kakak dan kakak iparnya.
"Mas."
"Eughh sayang, aku masih ngantuk. Bentar lagi ya."
Erdio pikir orang yang memanggil dan menyentuhnya adalah Mita, namun ketika dia membuka matanya secara perlahan karena sentuhan itu terlalu intens, Erdio langsung membelalakkan matanya.
"Medi, ngapain kamu di sini? Kalau Mita lihat gimana?" pekik Erdio sambil melihat ke sekeliling kamar.
"Nggak, jangan khawatir. Mbak Mita lagi belanja ke pasar. Dia kalau belanja pasti lama, jadi Mas nggak usah takut. Aku kangen tahu nggak Mas. Seminggu ini kamu sama sekali nggak pernah dateng ke kamar. Padahal aku udah ngode, dan udah nungguin kamu tiap malem. Tapi kamu beneran nggak muncul. Kamu udah bosen ya sama aku?"
Glup!
Erdio menelan saliva nya dengan susah payah. Dia benar-benar kehilangan kendali akan dirinya setiap berhadapan dengan Medi seperti ini. Bibir sensual milik Medi yang dibasahi dengan lidahnya sendiri, membuat Erdio ingin segera melahapnya.
Tapi pria itu masih berusaha untuk waras, dan tidak bertindak secara sembarangan. Dia takut kalau tiba-tiba Mita pulang lalu melihat ini semua. Tidak, dia tidak menginginkan ada huru hara nantinya.
"Pergi Med, aku mohon pergi. Nanti Mita tahu,"ucap Erdio sembari mendorong Medi untuk keluar dari kamarnya.
"Nggak mau. Aku kangen sama kamu,"elak Medi. Bukannya keluar dari kamar, Medi malah hendak membuka bajunya.
"Med, jangan gila. Oke oke, nanti malam aku bakalan ke kamar mu. Jadi sekarang kamu keluar dulu oke?" pinta Erdio dengan sangat. Dia sungguh takut ketahuan oleh istrinya.
Medi menarik satu sudut bibirnya. Dia tersenyum puas setelah mendengar ucapan pria tersebut. Dan Medi juga keluar dari kamar sang kakak dengan penuh kemenangan.
Tapi sebelum itu, lebih dulu Medi mencium bibir Erdio dengan serakah. Sejenak Erdio larut dengan ciuman penuh gairah tersebut. Hingga pada akhirnya otaknya sadar bahwa mereka tak boleh melakukannya lebih dari ini.
"Udah stop, sekarang keluar dari sini,"ucap Erdio.
"Oke cinta, aku tunggu kamu nanti malam. Jangan lupa. Aku punya koleksi lingerie yang kamu suka. Warnanya merah. Jadi jangan sampai nggak datang," ucap Medi dengan nada nakal.
Erdio mengusap wajahnya kasar. Medi benar-benar membuatnya gila. Entah sejak kapan dia terikat dengan adik iparnya itu. Tapi yang jelas, hubungan diantara keduanya terjadi karena sama-sama menginginkan dan bukan karena sebuah paksaan.
TBC
stidak nya kasih epilog lh,spya tau lingga nnggu Mita menerima perasaannya brapa lama,,