Tim gabut generasi delapan dan tim gabut generasi sembilan
Sambungan GD 2, GD 3 dan The Buwono Family.
Tiga sepupu yang satu sekolah dan satu kelas di SMP PRC, dikenal memiliki jiwa kepo tinggi. Seperti hal para ayah mereka, Sheva Sasono, Kenzie Buwono dan Zane Sihasale, sering tidak sengaja terlibat ( melibatkan diri ) dalam kasus kriminal. Bersama tim ayah mereka, ketiganya saling bahu membahu memecahkan misteri.
Generasi ke delapan klan Pratomo
Generasi ke sembilan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elina Buwono
"Astogeeee Dragon Ball! Mbok biasa saja deh Gavan dan Sharivan kurang Shaider!" seru Tole. "Sekian abad kerjasama kok ya masih kaget!"
"Sekian abad ... Baru satu dekade!" cebik AKP Ghafar. "Eh, kok Tole tahu soal itu?"
"Daku itu tuyul milenial. Tontonannya itu sama Goggle Five. Ya kali gue bukan tuyul milenial yang kagak tahu ada The A-Team," cebik Tole judes. Dia pun menghilang membuat kedua sahabat itu langsung mengucapkan hamdalah.
"Gavan dan Sharivan itu apa?" tanya Iptu Cristiano bingung.
Tanpa basa basi Kombes Fariz memperlihatkan apa yang dimaksud Tole.
Karakter Space Sheriff
"Ooohhh macam Power Rangers dan Kamen Rider?" gumam Iptu Cristiano Santoso.
"BEDAAAAA!" seru semua orang di ruangan itu.
"Eh buset!" Iptu Cristiano menepuk dadanya karena kaget.
"Oom, mau bantuin nggak?" Tiba-tiba Sheva menghampiri anggota baru itu.
"Ini Sheva, anaknya Kombes Steven. Ini Zane, putraku, dan ini Kenzie, anaknya dokter Lucky Buwono. Dokter Lucky dan istrinya, dokter Daisy adalah dokter bedah dan dokter forensik di Bhayangkara," ucap Brigjen Victor memperkenalkan ketiga remaja itu.
"Apakah ketiga anak dan keponakan Pak Victor biasa membantu tim kasus dingin?" tanya Iptu Casey.
"Biasa. Mereka bertiga indigo juga, cuma Kenzie yang tidak bisa lihat. Dia bisa mendengar dan berkomunikasi. Oh, disini yang indigo ada AKBP Rosita. Kalian bisa panggil Kak Ros tapi bukan dari kampung dunia runtuh," ujar Kombes Steven.
"Setidaknya aku tidak sendirian deh!" kekeh AKBP Rosita.
"Oom Victor, boleh pinjam Oom Cristiano dan Tante Casey? Idep-idep plonco awal gitu," kerling Kenzie.
"Mau kalian bawa kemana?" tanya Kombes Arief.
"Ke galeri seni yang sudah tutup itu Oom. Aku melihat mobil kemarin yang ada di tempat tanding basket," jawab Kenzie.
"Lha, mobil kan banyak yang kembar, Kenz."
"Tapi ini beneran sama!" eyel Kenzie ke Kombes Arief.
"Begini saja. Benar kata Kenzie. Dua orang ini diplonco saja. Ros, kamu dampingi mereka," ucap Kombes Fariz.
"Oke Mas Fariz. Lumayan jalan-jalan," senyum AKBP Rosita.
***
Sekolah Dasar PRC Jakarta, Ruang Kepala Sekolah
Dokter Lucky dan Daisy hanya bisa menatap gemas ke Elina yang menunduk.
"Jadi Elina menendang anunya Jay?" tanya Daisy dengan wajah dingin menahan amarah ke putrinya. Ya benar kamu buyut, cicit dan cucunya Mafioso tapi kamu baru sepuluh tahun!
"Iya Mom Daisy," jawab Kepala Sekolah.
"Pak Tommy dimana?" tanya dokter Lucky. "Biar aku ketemu Tommy, Jeng."
"Pak Tommy dan Bu Samira di PRC Hospital, Dok Lucky. Ya ... sebenarnya karena kesalahpahaman. Tapi Elina kan memang judes anaknya," senyum Kepala Sekolah maklum.
"El, katakan pada Papa. Kenapa kamu tendang anunya Jay?" tanya dokter Lucky sambil menatap putri bungsunya.
"Mas Jay .... " Elina menatap takut-takut ke ayahnya. "Mas Jay tadi lihat El masih nunggu jemputan. Terus ... Mas Jay nemenin El kan Mas Kenzie pulang duluan bareng Mas Zane dan Mbak Sheva. Kata Papa harus nunggu Oom Hugo. Kita nonton teman-temannya Mas Jay main baseball. Terus ... ada bola nyasar hampir kena El. Ditangkap Mas Jay tapi posisinya malah ... El jatuh sama Mas Jay ...."
Elina menatap kedua orangtuanya dengan perasaan bingung dan takut.
"Cerita saja El ... Papa dan Mama tidak marah," ucap dokter Lucky lembut.
Elina menghela napas panjang berulang kali sebelum bercerita.
"Kan Papa dan Mama selalu bilang kalau harus jaga badan El kan?" Mata hitam Elina warisan dari dokter Lucky tampak takut.
"Iya. Memang Jay kenapa?" tanya Daisy.
Elina menunduk. "Mas Jay jatuh sambil ... lindungi El tapi ... pipi El kena cium bibir Mas Jay."
Mata dokter Lucky melebar sementara Daisy berusaha tetap tenang meskipun tak ayal bingung juga.
"Ini ada CCTV nya, Mom Daisy, Dokter Lucky." Kepala Sekolah memperlihatkan CCTV di lapangan baseball.
SD PRC dan SMP PRC memang dalam satu komplek yang luas jadi tak heran jika banyak orang tua yang punya dua anak, sering menyekolahkan disana supaya bisa dipantau. Tak jarang kakaknya yang sudah SMP menjemput adiknya yang masih SD.
Kedua orangtua Elina itu pun melihat kejadiannya. Meskipun tidak sengaja, tapi karena Elina sudah terbiasa dididik dari kecil agar menjaga dirinya, otomatis dia bereaksi. Jay pun terkejut lalu meminta maaf pada Elina. Namun gadis cilik itu sudah marah dan menendang anu nya Jay dengan dengkulnya.
Dokter Lucky pun meringis dan merasa miliknya ikut ngilu.
"Ya Allah El ...." Daisy memegang pelipisnya.
"Maaf Mama, maaf Papa ...." Elina pun terisak.
"Begini saja. Kita ke rumah sakit, dan biar sama-sama enak serta legowo. Toh Jay tidak ada maksud dan Elina bereaksi akibat ajaran kita." Daisy tersenyum. "Sayang, Mama tahu kamu hanya menjaga diri kamu tapi lain kali, jangan tendang anunya ya. Pukul tempat lain saja."
Elina mengangguk. "Kata Mas Kenzie, paling mantap disitu kalau lawan cowok."
"Eh?" Daisy dan Kepala Sekolah melongo. "Mas Kenzie dikasih tahu siapa?" tanya Daisy.
"Papa."
Dokter Lucky memilih diam daripada kena omel Daisy. Dia pun melirik dan tampak wajah judes Daisy.
"Lho? Benar kan Jeng?" ringis dokter Lucky.
Visual Elina kecil
***
Dua mobil itu pun tiba di galeri seni yang sudah tutup dekat dengan Polda Metro Jaya dan dikabarkan hendak dirubuhkan. Bangunan dua lantai itu pun tampak terbengkalai dan tidak ada tanda-tanda orang disana. Hanya ada sisa-sisa makan dan sampah dari gelandangan.
AKP Rosita pun turun bersama Sheva sementara mobil satunya yang membawa dua saudara kembar Santoso, Kenzie dan Zane, terparkir di mobil istri dokter Juno itu.
Keenamnya pun berjalan ke gedung itu.
"Kita bagi tugas, gimana? Sheva sama aku, Kenzie sama Cristiano, Casey sama Zane. Pada bawa senter kan?" AKBP Rosita melihat ke semua orang.
"Senter selalu bawa. Kan kita detektif Boys!" jawab Kenzie.
"Dikira kita Ayumi, Genta dan Mitsuhiko apa ya?" gumam Zane sambil mengeluarkan senter dari dalam tasnya.
"Hati-hati ya," ucap AKBP Rosita.
"Oke."
Tiga tim itu pun menyebar. Iptu Cristiano dan Kenzie menuju sisi kiri, AKBP Rosita dan Sheva ke arah tengah sementara Iptu Casey bersama Zane ke arah kanan.
Iptu Cristiano dan Kenzie melewati pinggir halaman samping yang terdapat rumput tinggi bahkan ada ilalang disana. Hingga hidung keduanya mencium sesuatu.
"Kenz, ini bau ...."
"Mayat yang membusuk! Aku tahu karena beberapa kali mencium bau begini di kantor Mama."
Iptu Cristiano dan Kenzie lalu mencari sumber bau itu. Betapa terkejutnya mereka saat melihat sosok jenazah yang sudah dalam kondisi mumifikasi.
"Kamu tidak salah Kenz," ucap Iptu Cristiano.
"Syukurlah kami benar."
***
Yuhuuu up Pagi Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
semangat berkarya mbak Hana...jangan lupa istirahat dan healing..
Hajar aja lah Dok Lucky 😄😄
udh kthuan aibnya,msih usaha buat jd pebinor.....cckkk....ga tau malu....🙄🙄🙄
blm tau dia kl mslh aib mh urusn gmpang,tnggal mnta tlong sm kluarganya....wasalam dehhh.....😛😛😛