Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-
Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.
Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.
Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM 03. Frontal
Awan memicingkan mata kala anak-anak sinar matahari mulai menelusup masuk melalui celah jendela. Tubuh yang sebelumnya dipeluk oleh hawa dingin kini berganti dengan rasa hangat yang terasa di permukaan kulitnya. Hingga mata lelaki itu terbuka sempurna dan mulai meraih kesadaran yang sebelumnya dibenamkan dalam buaian mimpinya.
"Astaga jam berapa ini?"
Tubuh Awan terperanjat seketika kala teringat bahwa akan ada meeting di kantor pagi ini. Lelaki itu meraih ponsel yang ada di atas nakas dan segera melihat penunjuk waktu yang ada di layar ponselnya.
"Ya ampun sudah jam setengah tujuh!"
Awan bergegas bangkit dari posisinya. Lelaki itu melangkahkan kaki menuju kasur yang digunakan tidur oleh istri dan anaknya. Nampak keduanya masih terlelap dalam mimpi.
"Bisa-bisanya dia masih tidur." Awan menggerutu seraya berdecak. Ia mengguncang tubuh sang istri mencoba untuk membangunkannya. "Wulan, bangun!"
Suara keras Awan terdengar menggema memenuhi langit-langit kamar dan menyeruak masuk ke dalam indera pendengaran wanita yang tengah tertidur pulas itu. Hal itulah yang membuat alam bawah sadar Wulan sedikit terusik, hingga Wulan pun terbangun dari tidurnya.
"Mas, ada apa teriak-teriak seperti itu?" Wulan menoleh ke arah Bagas yang juga masih terlelap. "Bagas juga tidak bangun ataupun menangis."
"Kamu lupa, semalam aku bilang bahwa pagi ini aku ada meeting? Kenapa kamu tidak membangunkanku? Kamu malah tidur molor seperti ini? Kamu becus tidak sih jadi istri? Kalau seperti ini aku bisa terlambat sampai kantor!"
Awan berkacak pinggang seraya uringan di hadapan Wulan. Air wajah lelaki itu seakan menggambarkan jika ia benar-benar kesal karena sang istri begitu abai dengan kewajibannya.
"Mas, aku benar-benar ngantuk dan capek. Tengah malam ibu ngompol dan juga minta makan. Jadi, aku harus begadang ngurusin ibu dulu."
"Tidak perlu bawa-bawa ibu, Lan. Memang dasarnya kamu ini abai dengan kewajibanmu untuk bangun pagi. Kalau aku sampai terlambat dan gajiku dipotong, awas saja kamu!"
Awan berujar sembari berjalan keluar dari kamar. Namun ketika ia melihat pakaian yang akan ia kenakan masih teronggok di keranjang dan belum disetrika, lelaki itu memungut pakaiannya kemudian ia lempar ke arah sang istri.
"Cepat disetrika! Jangan sampai kemeja dan celana itu terlihat kusut."
"Mas, keterlaluan kamu!"
Wulan seketika bangkit dari posisinya saat pakaian yang dilempar oleh Awan mengenai wajahnya. Wanita itu langsung berjalan ke arah sang suami.
"Apa kamu? Mau protes?"
"Keterlaluan kamu Mas, aku ini bukan pembantumu. Bisa tidak kalau kamu memberikan baju ini dan meminta tolong baik-baik? Tidak dilempar seperti itu?"
Harga diri Wulan sebagai seorang istri seolah dirobek paksa oleh Awan ketika mendapati cara sang suami memberikan perintah begitu tidak manusiawi. Seperti seorang tuan kepada budaknya yang melempar pakaian itu hingga tepat mengenai wajah. Sungguh terlihat begitu rendah.
Awan berdecih seolah meremehkan apa yang diucapkan oleh Wulan. Lelaki itu masih berdiri tegak layaknya seorang majikan yang sedang menampakkan power yang ia miliki.
"Mau baik-baik seperti apa Lan? Kalau aku tidak melempar pakaian itu, kamu pasti akan bersantai ria kan? Tidak segera melakukan pekerjaan itu bahkan mungkin kembali tidur lagi?"
"Bersantai katamu Mas?" tanya Wulan dengan dahi yang berkerut. "Kapan kamu melihatku bersantai-santai sejak aku melahirkan dan sejak ibu sakit?"
"Ya itu buktinya kamu bangun kesiangan."
"Berapa kali aku bangun kesiangan selama menjadi istrimu dan menantu ibumu, Mas?"
Awan bergeming. Tak sedikitpun ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Mungkin memang benar jika Wulan hampir tidak pernah bangun kesiangan.
"Kamu tidak melihat aku selalu bangun paling awal dan mulai tidur paling akhir?" teriak Wulan dengan suara lantang. "Hanya karena hari ini aku bangun kesiangan, kamu selalu menganggapku bersantai-santai? Sungguh sangat picik pemikiranmu terhadapku, Mas!"
Wulan menjeda ucapannya. Mencoba menghela napas dalam untuk bisa mengusir rasa sesak yang membelenggu dada. Semua yang diucapkan oleh Awan benar-benar sudah melukai harga dirinya sebagai seorang istri yang seharusnya diperlakukan mulia.
"Ahhh sudahlah, aku tidak mau berdebat lagi denganmu. Aku mau mandi dan cepat setrika pakaianku!"
Awan berjalan meningalkan Wulan yang masih berdiri termangu di bibir pintu. Wanita itu menatap punggung Awan dengan tatapan nanar. Tubuhnya benar-benar bergetar karena baru kali ini ia berbicara lantang di hadapan sang suami. Ada sedikit rasa bersalah namun sungguh perilaku Awan sudah benar-benar keterlaluan di mata Wulan.
"Wan... Awan!"
Langkah kaki Awan terhenti tepat di depan kamar sang ibu ketika sayup-sayup terdengar namanya dipanggil. Ia mengurungkan niatnya untuk menuju kamar mandi dan memilih masuk ke dalam kamar sang ibu terlebih dahulu.
Awan seketika menutup hidungnya kala tiba-tiba tercium aroma yang sangat tidak mengenakkan menguar di dalam kamar milik sang ibu. Bahkan lelaki itu hampir muntah karena aromanya begitu menyengat.
"Ada apa Bu?"
"Tolong ganti diapers Ibu. Ibu pup, rasanya sudah risih sekali."
Awan sedikit kaget mendengar permintaan sang ibu. Karena sejak Marta sakit, ia sama sekali tidak pernah mengganti diapers yang dipakai oleh Marta sehingga ia sama sekali tidak tahu cara memasang ataupun melepasnya. Ketika Wulan melahirkan, ia sampai rela menyewa jasa pembantu harian untuk mengurus keperluan Marta.
"Aduh, nanti nunggu Wulan saja ya Bu. Aku sedang terburu-buru. Hari ini ada meeting di kantor, takut kalau terlambat jika harus mengganti diapers Ibu dulu."
"Tapi Wan...."
Awan berkilah sembari keluar dari kamar Marta. Belum sempat Marta mengajukan protes, bayang tubuh Awan sudah lebih dulu menghilang di balik pintu. Sehingga tidak ada yang bisa dilakukan oleh Marta selain menunggu sang menantu mengganti diapers juga memandikannya.
"Lan, Ibu pup. Setelah menyetrika, kamu lekas bersihkan tubuh Ibu!" teriak Awan yang terdengar jelas di telinga Marta dan juga Wulan.
***
Awan berdiri berkutat di depan cermin. Nampak bayang tubuhnya yang tegap dan wajahnya yang tampan terpantul di sana. Usai menyemprotkan parfum di tubuhnya, lelaki itu bergegas ke meja makan untuk ngopi pagi. Meski sudah kesiangan, lelaki itu tetap harus ngopi pagi sembari nyemil makanan ringan agar bisa memperbarui semangatnya setiap hari.
"Lan, mana kopi dan cemilanku?" teriak Awan kala melihat meja makan yang masih kosong tanpa makanan ataupun minuman sama sekali.
Wulan yang mendengar teriakan Awan hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia keluar dari dalam kamar sang mertua sembari membawa pakaian kotor juga bekas diapers yang ia masukkan ke dalam kantong plastik hitam.
"Bisa tidak kalau tidak berteriak Mas? Telingaku sungguh sakit mendengar teriakanmu."
Awan mendengus kesal. "Kamu jadi istri bagaimana sih? Aku mau berangkat kerja, mana kopi dan cemilanku!"
"Kamu tidak lihat aku sedang membersihkan kotoran ibu dan memandikannya Mas?" tanya Wulan dengan lantang pula.
"Aku tidak mau tahu Lan. Pokoknya ketika aku sudah siap untuk berangkat, kopi dan juga camilan juga sudah harus siap di meja!"
"Oh seperti itu?" tanya Wulan sembari mengangguk-anggukkan kepala. Ia berjalan mendekat ke arah sang suami dan.... "Makan nih cemilan!"
Emosi Wulan seperti mendidih di ubun-ubun kala melihat Awan yang sama sekali tidak menghargai apa yang telah ia kerjakan. Bahkan lelaki itu cenderung meremehkan semua yang sudah dikerjakannya. Tanpa banyak cakap, Wulan melempar pakaian kotor sang mertua beserta bekas diapers yang sudah penuh dengan kotoran itu tepat mengenai kemeja yang dipakai oleh Awan. Wanita itu lantas melenggang pergi meninggalkan Awan seorang diri.
"Wulan, kurang ajar kamu!"
.
.
.