LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Kemerahan Mawar, Kegelapan Yang Menanti.
Langit kota mulai menerangi langkah Malia saat bus terakhir berhenti di terminal yang penuh suara dan aroma. Udara yang lebih panas menyengat, bercampur bensin, makanan jalanan, dan parfum orang berlalu lalang. Dia erat memegang karung bambu anyaman sendiri dan tas baju baru dari Rania, mata terus mencari papan nama "KELUARGA SKY".
"Sini, Bu Mal!"
Suara itu seperti musik. Allbiru berdiri di tengah kerumunan dengan gaun putih berenda merah pinggang – seperti mawar yang mekar penuh. Di pangkuannya, Sabiru pakai baju biru muda yang cocok dengan Malia, tangannya mengepak riang.
Malia berlari cepat tapi hati-hati, meraih tangan Allbiru dan menyentuh pipi montok Sabiru. Air mata membasahi wajahnya – di mata Allbiru juga ada kilatan kebahagiaan yang bercampur air mata.
"Kamu datang ya Bu Mal! Ayah sudah nunggu di rumah, Bu Rania memasak makanan kesukaan kamu yang aku ceritain!" Allbiru membawanya ke mobil hitam mewah yang sudah menunggu.
Di dalam mobil, Sabiru merangkak ke pangkuan Malia, mencium lehernya dengan bibir sedikit basah dari es krim. Malia menangis sambil mencium dahinya berkali-kali.
"Kamu sudah bisa merangkak cepat ya nak..."
"Dia bahkan bisa berdiri kalau ada yang ditopang! Besok aku tunjukin dia bisa jalan sedikit-sedikit!" Allbiru tertawa riang, memegang tangan Malia yang masih sedikit kasar dari kerja keras di desa.
Mobil melaju melewati gedung tinggi yang seperti pohon kelapa tak berujung, taman penuh bunga warna-warni, dan orang yang berjalan teratur. Sampai di rumah keluarga Sky, Malia terpana – rumah putih dengan atap merah bata berdiri megah, kebunnya penuh mawar merah, melati putih, dan bunga matahari yang menghadap matahari. Kolam kecil dengan ikan koi warna-warni menghiasi halaman depan, airnya jernih seperti sungai desa.
"Selamat datang di rumah kamu, Malia."
Rania datang dengan senyum hangat, pakai baju batik ungu tua elegan. Dia memberikan pelukan erat – sama hangatnya seperti pelukan Bu Soleh.
"Terima kasih Bu Rania... rumah ini sangat cantik."
"Ayo masuk! Makanan sudah siap di meja makan yang penuh bunga mawar merah!" Rania membawanya masuk. Lantai marmer bersih sampai bisa melihat bayangan wajah, dinding penuh lukisan seni indah, dan furnitur kokoh nyaman membuat Malia merasa seperti di dalam mimpi.
Di ruang makan, Aldo Sky – suami Rania – berdiri dengan wajah hangat. Dia memberikan jabat tangan yang penuh rasa hormat.
"Kami sudah menunggu kamu lama. Kamu adalah bagian dari keluarga kami – jangan sungkan tinggal di sini."
Makan malam penuh tawa dan cerita. Mereka makan nasi putih hangat dengan rendang lezat, sayur kangkung segar, dan sambal hijau pas. Allbiru cerita tentang Sabiru – suka bermain bola warna-warni, senang dengar lagu pohon rambutan, dan selalu mencari bayangan Malia di setiap sudut rumah.
Setelah makan, Rania membawanya ke kamar khusus – warna biru muda dengan tempat tidur lembut seperti awan, meja rias penuh bunga mawar merah, dan balkon menghadap kebun belakang. Di atas tempat tidur ada bantal dengan pola pohon rambutan yang dibuat Allbiru sendiri.
"Kamu suka kan Bu Mal? Aku buat pola nya sendiri – karena kamu bilang pohon rambutan selalu ada buat kita kan?"
Malia menangis karena kebahagiaan yang terlalu besar, memeluk Allbiru erat – gadis muda itu sudah seperti saudara kandungnya.
"Terima kasih banyak All... ini kamar paling cantik yang pernah aku miliki."
"Sore ini ada kejutan lagi! Tutup mata dulu ya!"
Malia menutup mata sampai Allbiru bilang "Buka aja!". Di depannya ada meja kecil bertaplak merah muda, penuh alat kerajinan tangan – kain warna-warni, benang berkilau, dan alat jahit baru.
"Aku mau ajarin kamu buat boneka kayak Kalangga yang aku punya! Kita buat untuk Sabiru – warna biru muda dan merah kayak rambutan dan mawar!"
Mereka duduk bersama di karpet lembut, membuat boneka dengan tangan penuh cinta. Allbiru mengajari cara menjahit yang benar, memilih kain cocok, dan memberi wajah agar terlihat hidup. Saat malam larut, boneka kecil terbentuk – badan biru muda, baju merah seperti rambutan matang.
"Sekarang tinggal nama nya aja Bu!"
"Mari kita namainya 'Rambutan Mawar' – untuk mengingat desa kita dan rumah baru yang penuh cinta."
Suara pintu diketuk lembut. Rania masuk membawa teh hangat dan kue tart stroberi, duduk bersamanya sambil melihat boneka dengan senyum bangga.
"Malia, ada sesuatu yang harus kita bicarakan. Kita sudah laporkan kejadian orang yang coba ambil Sabiru ke polisi – mereka menemukan sesuatu yang mengkhawatirkan."
Dia mengambil berkas dan menunjukkan foto pria dengan kacamata hitam. "Nama dia Rio Pratama – pernah bekerja sama dengan ayahmu dulu. Dia mencari kamu dan Sabiru karena ada hutang besar yang ayahmu tinggalkan."
Malia merasa dada kencang. Ayahnya sudah lama meninggal – dia tidak pernah tahu tentang hutang itu.
"Namun ada yang tidak masuk akal – hutang itu sudah dilunasi oleh seseorang, tapi Rio masih terus mencari kamu berdua. Polisi curiga ada sesuatu yang lebih besar di baliknya – mungkin terkait tanah keluarga kamu di desa yang jadi target pembangunan."
Malia menutup wajahnya dengan tangan. Tanah itu adalah satu-satunya warisan ayahnya, ada di belakang pohon rambutan rumah mereka.
"Tapi kamu tidak usah takut ya Malia," ujar Allbiru dengan suara tegas, memegang tangannya kuat. "Kita semua akan melindungi kamu dan Sabiru – ayah sudah sewa pengawal, Bu Lina dari polisi juga mengawasi kasus ini."
Rania mengangguk, memberikan teh hangat. "Kamu bisa tinggal di sini dengan aman. Kita akan bersama menghadapi semua masalah. Jika perlu, kita akan pergi ke desa untuk menyelidiki lebih lanjut."
Malia mengangguk, merasakan lega karena tidak sendirian lagi. Dia melihat boneka "Rambutan Mawar", lalu ke kamar Sabiru yang lampunya masih menyala lembut.
"Aku tidak akan pernah lagi biarkan siapapun membahayakan anakku. Aku akan kuat seperti pohon rambutan yang tidak tumbang meskipun hujan dan angin datang keras."
Malam itu, Malia tidur dengan hati penuh damai. Dia merasakan kehangatan rumah baru, cinta dari Allbiru, Rania, dan Aldo, serta kehadiran Sabiru yang tidur nyenyak di kamar sebelah. Meskipun kegelapan mengintai, dia tahu dia tidak sendirian – itu adalah kekuatan terbesar yang bisa dia miliki.
Langit kota mulai menerangi langkah Malia saat bus terakhir berhenti di terminal yang penuh suara dan aroma. Udara yang lebih panas menyengat, bercampur bensin, makanan jalanan, dan parfum orang berlalu lalang. Dia erat memegang karung bambu anyaman sendiri – di dalamnya ada biji rambutan pilihan dari pohon keluarga dan kain batik tua buatan ibunya – serta tas baju baru dari Rania, mata terus mencari papan nama "KELUARGA SKY" yang dicetak dengan huruf emas elegan.
"Sini, Bu Mal!"
Suara itu seperti musik yang sudah lama dinanti. Allbiru berdiri di tengah kerumunan dengan gaun putih berenda merah pinggang – renda yang dijahitnya sendiri satu per satu, seperti mawar yang mekar penuh di tengah taman kota yang sibuk. Di pangkuannya, Sabiru pakai baju biru muda dengan renda kecil di bagian lengan, warna yang persis cocok dengan kain syal Malia, tangannya mengepak riang sambil menggoyangkan mainan bola warna-warni yang diberikannya.
Malia berlari cepat tapi hati-hati, khawatir karung bambunya terjatuh, meraih tangan Allbiru yang hangat dan menyentuh pipi montok Sabiru yang masih hangat dari panasnya siang hari. Air mata membasahi wajahnya – air mata bahagia yang belum pernah dia rasakan sejak ayahnya meninggal – dan di mata Allbiru juga ada kilatan kebahagiaan yang bercampur air mata, seolah mereka sudah mengenal satu sama lain sejak lama.
"Kamu datang ya Bu Mal! Ayah sudah nunggu di rumah, Bu Rania memasak makanan kesukaan kamu yang aku ceritain – rendang daging sapi yang dimasak selama tiga hari penuh!" Allbiru membawanya ke mobil hitam mewah yang sudah menunggu di depan pintu keluar, dikemudikan oleh pengemudi berpakaian rapi dengan senyum ramah.
Di dalam mobil, jok kulit hitam yang lembut menyambut tubuh Malia yang terbiasa dengan kursi kayu di desa. Sabiru segera merangkak dengan gesit ke pangkuan Malia, mencium lehernya dengan bibir sedikit basah dari es krim coklat yang baru saja dia makan. Malia menangis sambil mencium dahinya berkali-kali, merasakan tekstur kulit lembut anaknya yang tumbuh dengan cepat.
"Kamu sudah bisa merangkak cepat ya nak..." ucap Malia dengan suara lembut, mengusap rambut hitam Sabiru yang keriting.
"Dia bahkan bisa berdiri kalau ada yang ditopang! Besok aku tunjukin dia bisa jalan sedikit-sedikit kalau kamu pegang tangannya, Bu Mal!" Allbiru tertawa riang, suara cerahnya memenuhi ruang mobil, sambil memegang tangan Malia yang masih sedikit kasar dari kerja keras di desa – mencangkul tanah, menjemur padi, dan merawat pohon rambutan keluarga.
Mobil melaju dengan lancar melewati gedung tinggi yang menjulang seperti pohon kelapa tak berujung, taman-taman penuh bunga warna-warni yang diatur dengan rapi, dan orang-orang yang berjalan dengan langkah teratur mengejar waktu. Sampai di sebuah gerbang besi putih yang dihiasi dengan ukiran mawar dan melati, pintu gerbang perlahan terbuka memperlihatkan rumah keluarga Sky yang megah namun elegan – rumah putih bersih dengan atap merah bata yang sesuai warna, kebunnya penuh mawar merah yang mekar subur, melati putih yang harum, dan bunga matahari yang menghadap matahari seperti prajurit yang setia. Kolam kecil dengan ikan koi warna-warni menghiasi halaman depan, airnya jernih seperti sungai desa yang mengalir di balik rumah Malia.
"Selamat datang di rumah kamu, Malia."
Rania datang dengan senyum hangat, mengenakan baju batik ungu tua dengan motif bunga mawar yang elegan, kainnya yang licin bersinar lembut di bawah sinar matahari sore. Dia memberikan pelukan erat – sama hangatnya seperti pelukan Bu Soleh yang selalu menyambutnya setelah bekerja di sawah – dan Malia merasakan kehangatan yang sudah lama hilang dari hidupnya.
"Terima kasih Bu Rania... rumah ini sangat cantik. Seperti istana dalam dongeng yang kubaca untuk Sabiru di desa," ujar Malia dengan mata terpana, melihat setiap sudut halaman yang diatur dengan sempurna.
"Ayo masuk! Makanan sudah siap di meja makan yang penuh bunga mawar merah dari kebun sendiri!" Rania membawanya masuk melalui pintu kayu besar yang diukir dengan motif pohon dan bunga. Lantai marmer putih bersih sampai bisa melihat bayangan wajah, dinding penuh lukisan seni indah yang menggambarkan kehidupan pedesaan, dan furnitur kayu solid yang nyaman membuat Malia merasa seperti di dalam mimpi yang tidak ingin terbangun.
Di ruang makan yang luas, Aldo Sky – suami Rania yang tampan dan berpakaian rapi – berdiri dengan wajah hangat menyambutnya. Dia memberikan jabat tangan yang penuh rasa hormat, tangannya yang kuat menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang bisa dipercaya.
"Kami sudah menunggu kamu lama, Malia. Kamu dan Sabiru adalah bagian dari keluarga kami sekarang – jangan sungkan tinggal di sini dan bilang saja apa yang kamu butuhkan," ucap Aldo dengan suara yang tenang dan meyakinkan.
Makan malam penuh tawa dan cerita yang mengalir seperti air yang jernih. Mereka makan nasi putih hangat dengan rendang lezat yang bumbunya meresap sempurna, sayur kangkung segar yang dimasak dengan bunga pepaya, dan sambal hijau pas yang pedasnya pas di lidah. Allbiru cerita dengan penuh semangat tentang Sabiru selama Malia tidak ada – suka bermain bola warna-warni di taman, senang dengar lagu pohon rambutan yang dia ciptakan sendiri, dan selalu mencari bayangan Malia di setiap sudut rumah dengan berkata "Bu Mal mana?".
Setelah makan, Rania membawanya ke kamar khusus yang disiapkan untuknya – warna dinding biru muda yang lembut seperti langit pagi, tempat tidur dengan kasur lembut seperti awan, meja rias kayu jati yang penuh dengan buket bunga mawar merah segar, dan balkon kecil yang menghadap kebun belakang yang penuh dengan tanaman obat dan bunga-bunga cantik. Di atas tempat tidur ada bantal dengan pola pohon rambutan yang dijahit dengan teliti oleh Allbiru sendiri, setiap helai daun dan buahnya dibuat dengan penuh cinta.
"Kamu suka kan Bu Mal? Aku buat pola nya sendiri – karena kamu bilang pohon rambutan selalu ada buat kita, jadi aku mau kamu selalu merasa ada di desa meskipun tinggal di kota," ujar Allbiru dengan senyum ceria, melihat wajah Malia yang penuh kagum.
Malia menangis karena kebahagiaan yang terlalu besar, memeluk Allbiru erat – gadis muda itu yang berumur dua puluh tahun sudah seperti saudara kandungnya yang selalu ada di sisinya.
"Terima kasih banyak All... ini kamar paling cantik yang pernah aku miliki. Aku tidak bisa membayangkan ada yang bisa begitu peduli padaku dan Sabiru," ucap Malia dengan suara bergetar, menangisi kebahagiaan yang tumpah ruah.
"Sore ini ada kejutan lagi! Tutup mata dulu ya! Jangan dilihat dulu!" Allbiru bersorak penuh semangat, berlari ke arah lemari kecil di sudut kamar lalu kembali dengan langkah hati-hati.
Malia menutup mata sampai Allbiru bilang "Buka aja!" dengan suara riang. Di depannya ada meja kecil bertaplak merah muda dengan renda putih, penuh alat kerajinan tangan yang lengkap – kain warna-warni berkualitas baik, benang berkilau dalam berbagai warna, mesin jahit baru yang masih dalam kotak, dan alat-alat kecil seperti gunting dan jarum yang diatur rapi.
"Aku mau ajarin kamu buat boneka kayak Kalangga yang aku punya! Kita buat untuk Sabiru – warna biru muda kayak baju dia dan merah kayak rambutan matang di desa kita!" Allbiru mengambil kain biru muda yang lembut, menunjukkan cara memotong pola dengan benar.
Mereka duduk bersama di karpet bulu lembut yang menghangatkan tubuh, membuat boneka dengan tangan penuh cinta dan perhatian. Allbiru mengajari cara menjahit yang rapi, memilih kain yang cocok dengan warna kulit boneka, dan memberi wajah dengan mata dan bibir yang dibuat sedemikian rupa agar terlihat hidup. Saat malam larut dan cahaya lampu meja yang lembut menerangi ruangan, boneka kecil yang cantik terbentuk – badan berwarna biru muda yang lembut, baju merah seperti kulit rambutan matang, dan topi kecil berbentuk buah rambutan yang lucu.
"Sekarang tinggal nama nya aja Bu!" ujar Allbiru dengan mata yang bersinar kebahagiaan.
"Mari kita namainya 'Rambutan Mawar' – untuk mengingat desa kita yang penuh kenangan dan rumah baru yang penuh cinta," jawab Malia dengan senyum hangat, menyentuh wajah boneka yang sudah jadi dengan hati-hati.
Suara pintu diketuk lembut tiga kali, kemudian Rania masuk membawa cangkir teh hangat dengan aroma jahe dan madu, serta piring kue tart stroberi yang dibuat oleh juru masaknya. Dia duduk bersamanya di sofa kecil di dekat jendela, melihat boneka dengan senyum bangga yang menunjukkan betapa dia bangga dengan hubungan antara Malia dan Allbiru.
"Malia, ada sesuatu yang harus kita bicarakan dengan tenang. Kita sudah laporkan kejadian orang yang coba ambil Sabiru di pasar desa ke polisi kota – dan mereka menemukan sesuatu yang sangat mengkhawatirkan selama menyelidiki kasus ini," ucap Rania dengan suara yang lebih serius, meletakkan cangkir teh di atas meja sisi.
Dia mengambil berkas putih yang rapi dari tasnya dan menunjukkan foto pria dengan kacamata hitam yang wajahnya terlihat dingin dan tidak ramah. "Nama dia Rio Pratama – dia pernah bekerja sama dengan ayahmu dalam usaha pertanian rambutan dulu, sebelum kamu lahir. Menurut laporan polisi, dia mencari kamu dan Sabiru karena mengklaim ada hutang besar yang ayahmu tinggalkan padanya sebelum meninggal."
Malia merasa dada kencang seperti ditekan batu besar, napasnya menjadi tersengal-sengal. Ayahnya sudah lama meninggal ketika dia masih kecil – dia tidak pernah tahu tentang hutang apa pun, apalagi hutang yang besar.
"Namun ada yang tidak masuk akal dari klaimnya, Malia. Berdasarkan dokumen yang kami dapatkan dari bank dan kantor pajak, hutang itu sudah dilunasi oleh seseorang sekitar lima tahun yang lalu – tapi nama orang yang melunasinya tidak tercantum dengan jelas. Polisi curiga ada sesuatu yang lebih besar di balik pencariannya terhadap kamu berdua – mungkin terkait tanah keluarga kamu di desa yang kini menjadi target pembangunan kawasan perumahan dan pusat bisnis yang bernilai sangat tinggi," jelas Rania dengan lembut, melihat ekspresi wajah Malia yang semakin pucat.
Malia menutup wajahnya dengan tangan, air mata kesedihan dan kekhawatiran mengalir ke antara jari-jarinya. Tanah itu adalah satu-satunya warisan ayahnya yang tersisa, tanah yang penuh dengan pohon rambutan yang telah tumbuh selama puluhan tahun, ada tepat di belakang pohon rambutan tua yang selalu menjadi tempat bermainnya saat kecil.
"Tapi kamu tidak usah takut ya Malia," ujar Allbiru dengan suara tegas dan penuh keyakinan, memegang tangan Malia yang dingin karena kekhawatiran dengan erat. "Kita semua akan melindungi kamu dan Sabiru – ayah sudah menyewa pengawal profesional yang akan berjaga di sekitar rumah, dan Bu Lina dari divisi kejahatan ekonomi polisi juga mengawasi kasus ini secara pribadi. Dia adalah teman baik keluarga kita dan akan membantu kita dengan sepenuh hati."
Rania mengangguk dengan yakin, memberikan cangkir teh hangat ke tangan Malia untuk menghangatkannya. "Kamu bisa tinggal di sini dengan aman, Malia. Rumah ini memiliki sistem keamanan terbaik dan kami akan bersama-sama menghadapi semua masalah yang datang. Jika perlu, minggu depan kita akan pergi ke desa untuk menyelidiki lebih lanjut dan bertemu dengan Pak Soleh serta warga desa lainnya untuk mengumpulkan informasi tentang tanah keluarga kamu."
Malia mengangguk perlahan, merasakan lega karena tidak sendirian lagi menghadapi semua masalah ini. Dia melihat boneka "Rambutan Mawar" yang cantik diletakkan di atas meja, lalu melihat ke arah kamar Sabiru yang lampunya masih menyala lembut melalui celah pintu, bisa dilihat bayangan anaknya yang sedang tidur nyenyak.
"Aku tidak akan pernah lagi biarkan siapapun membahayakan anakku. Aku akan kuat seperti pohon rambutan tua di desa yang tidak tumbang meskipun hujan lebat dan angin kencang datang menerpa," ucap Malia dengan suara yang tenang tapi penuh tekad, matanya yang merah karena menangis kini menunjukkan semangat yang kuat.
Malam itu, Malia tidur dengan hati penuh damai setelah mencuci wajah dan mengenakan piyama baru yang diberikan Rania. Dia merasakan kehangatan tempat tidur yang lembut, kehangatan cinta dari Allbiru, Rania, dan Aldo yang sudah menerima dia sebagai keluarga sendiri, serta kehadiran Sabiru yang tidur nyenyak di kamar sebelah yang sudah dihiasi dengan mainan dan boneka baru. Meskipun bayangan kegelapan dari Rio Pratama masih mengintai di sudut hati nya, dia tahu dia tidak sendirian lagi – cinta keluarga adalah kekuatan terbesar yang bisa dia miliki untuk menghadapi segala tantangan.