Aura, seorang sekretaris teladan, dan Arkan, CEO dingin yang perfeksionis, terpaksa menikah setelah dijebak dalam sebuah skandal memalukan saat perjalanan bisnis di Bali. Pernikahan paksa ini memaksa mereka menjalani peran sebagai atasan-bawahan di kantor sekaligus suami-istri di rumah. Di balik kerumitan perasaan yang mulai tumbuh, keduanya harus bersatu memburu dalang konspirasi yang sengaja menjebak mereka sebelum karier dan nyawa mereka menjadi taruhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Jamuan Makan Malam
Pesawat jet pribadi Mahendra Group mendarat di Bandara Ngurah Rai tepat saat matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, menciptakan semburat warna oranye dan ungu yang memukau di langit Bali. Namun, bagi Aura, keindahan itu hanya latar belakang yang kabur. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada jadwal yang tertera di tabletnya.
Setelah proses check-in yang kilat di The Royal Amarilla—di mana ia mendapati dirinya benar-benar dipindahkan ke kamar suite yang bersebelahan dengan Arkan—Aura hanya memiliki waktu empat puluh menit untuk bersiap.
"Jamuan makan malam pukul tujuh. Restoran L’Océan. Jangan terlambat," suara Arkan terdengar di lorong suite sebelum pintu kamarnya tertutup rapat.
Aura menarik napas dalam. Ia memilih gaun malam berbahan satin berwarna biru navy yang elegan namun tetap sopan. Potongannya mengikuti lekuk tubuhnya dengan pas tanpa terlihat berlebihan. Ia membiarkan rambutnya tergerai dengan gelombang alami di ujungnya, lalu memulaskan lipstik merah yang sempat dikomentari Arkan tempo hari. Kali ini, ia ingin tampil sempurna bukan untuk Arkan, melainkan untuk menjaga wibawa perusahaan di depan Mr. Wong.
Tepat pukul tujuh, Aura sudah berdiri di lobi restoran. Tak lama kemudian, Arkan muncul. Pria itu mengenakan kemeja putih tanpa dasi dengan jas abu-abu terang yang lengannya sedikit digulung—gaya casual chic yang sangat cocok dengan atmosfer Bali namun tetap memancarkan otoritas. Arkan sempat tertegun sesaat melihat penampilan Aura, matanya menyapu dari ujung kepala hingga kaki, sebelum ia kembali ke ekspresi datarnya yang biasa.
"Ayo. Mr. Wong dan istrinya sudah menunggu," ucap Arkan singkat.
Restoran L’Océan telah dikosongkan sebagian atas instruksi Arkan. Meja bundar besar yang mereka tempati terletak di balkon pribadi yang menjorok ke arah pantai. Suara deburan ombak terdengar seperti musik latar yang ritmis, berpadu dengan aroma garam laut dan lilin aroma terapi.
Mr. Wong adalah pria paruh baya dengan kacamata berbingkai emas yang terlihat sangat cerdik. Di sampingnya duduk Mrs. Wong, seorang wanita elegan yang mengenakan perhiasan mutiara yang mencolok. Namun, yang membuat Aura sedikit waspada adalah kehadiran seorang pria muda di samping Mr. Wong yang diperkenalkan sebagai "Kevin", konsultan teknis mereka. Kevin memiliki senyum yang terlalu lebar dan mata yang terus memperhatikan Aura sejak mereka duduk
.
"Arkan, saya sangat terkesan dengan efisiensi sekretarismu," Mr. Wong memulai percakapan setelah hidangan pembuka disajikan. "Asisten istri saya bilang, agenda tur yang disiapkan Miss Aura sangat luar biasa. Detail sekali."
Arkan menyesap air mineralnya, matanya melirik Aura sekilas. "Aura memang aset terbaik saya, Mr. Wong. Dia adalah otak di balik kelancaran operasional Mahendra Group."
Pujian itu, meski diucapkan dengan nada datar, membuat jantung Aura berdegup sedikit lebih kencang. Itu adalah pengakuan paling eksplisit yang pernah Arkan berikan selama dua tahun terakhir.
Percakapan bisnis mulai mengalir deras seiring dengan disajikannya hidangan utama. Arkan dan Mr. Wong terlibat dalam diskusi serius mengenai pembagian saham dan pengelolaan limbah resort. Aura dengan sigap mencatat poin-poin penting di tabletnya, sambil sesekali memberikan data yang diminta Arkan tanpa perlu diperintah.
Di tengah pembicaraan, Kevin tiba-tiba menuangkan minuman ke gelas Aura. "Miss Aura, Anda bekerja terlalu keras. Ini adalah signature cocktail dari bar hotel ini. Sangat segar, tanpa alkohol yang kuat. Anda harus mencobanya."
Aura melirik Arkan. Biasanya, ia tidak meminum apa pun selain air putih atau teh saat sedang bertugas. Namun, Mr. Wong juga mengangkat gelasnya.
"Silakan, Miss Aura. Kita merayakan kemitraan yang akan segera lahir ini," ucap Mr. Wong ramah.
Karena kesopanan diplomatik, Aura tidak punya pilihan. Ia tersenyum kecil dan menyesap minuman berwarna kuning keemasan itu. Rasanya manis, dengan sentuhan rasa buah tropis dan madu yang menenangkan. "Terima kasih, Pak Kevin. Rasanya memang segar."
Tiga puluh menit berlalu. Diskusi semakin teknis dan mendalam. Aura merasa konsentrasinya mulai goyah. Awalnya, ia mengira itu hanya karena kelelahan akibat perjalanan udara. Namun, ada yang aneh.
Ruangan di sekitarnya perlahan mulai terasa lebih hangat dari seharusnya. Suara deburan ombak di bawah sana terdengar semakin jauh, sementara suara Arkan dan Mr. Wong terasa seperti bergema di dalam kepalanya. Aura mencoba memfokuskan matanya pada tablet, namun huruf-huruf di layar tampak mulai berdansa dan kabur.
Ia merasakan sensasi menggelitik yang menjalar dari ujung jarinya menuju ke seluruh lengan. Jantungnya mulai berdetak dengan ritme yang tidak beraturan—cepat, lalu melambat secara tiba-tiba.
Ada yang salah, batin Aura panik. Ia segera meletakkan pulpen digitalnya. Tangannya sedikit gemetar.
Ia melirik ke arah Arkan. Bosnya itu masih terlihat fokus, namun Aura menyadari Arkan juga baru saja menghabiskan minumannya yang dituangkan oleh staf pelayan beberapa saat lalu. Aura memperhatikan dahi Arkan mulai berkeringat halus, padahal AC di balkon itu sangat dingin.
"Bapak... Bapak tidak apa-apa?" bisik Aura lirih, mencoba mendekatkan dirinya ke arah Arkan.
Arkan menoleh. Matanya yang biasanya tajam kini terlihat sedikit berbayang. Ia mengerjapkan matanya berulang kali. "Saya... saya baik-baik saja, Aura. Kenapa?"
Suara Arkan terdengar serak. Aura bisa melihat otot rahang Arkan mengeras, seolah pria itu sedang berjuang menahan sesuatu.
"Saya merasa... sangat mengantuk," bisik Aura lagi. Dunianya mulai berputar. Ia merasakan dorongan hebat untuk menyandarkan kepalanya ke meja. "Minuman itu..."
Aura melirik ke arah Kevin. Pria muda itu masih tersenyum, namun senyumnya kini terlihat sangat berbeda di mata Aura—dingin, penuh kemenangan, dan licik. Mr. Wong dan istrinya tiba-tiba berdiri.
"Sepertinya jetlag mulai menyerang kalian berdua," suara Mr. Wong terdengar sangat jauh, seperti datang dari balik terowongan panjang. "Lebih baik kita akhiri makan malam ini. Miss Aura, Pak Arkan, silakan kembali ke kamar dan beristirahat. Kita lanjutkan besok pagi."
Aura ingin memprotes. Ia ingin mengatakan bahwa mereka belum selesai. Ia ingin berteriak bahwa ia merasa dijebak. Namun, lidahnya terasa kelu. Seluruh otot di tubuhnya terasa seperti jeli.
Ia merasakan sebuah tangan besar mencengkeram lengannya. Itu tangan Arkan. Pegangan itu sangat kuat, hampir menyakitkan, seolah-olah Arkan juga sedang menjadikan Aura sebagai tumpuan agar tidak jatuh.
"Ayo... kita pergi," suara Arkan terdengar sangat berat, seperti orang yang kehabisan napas.
Beberapa pelayan hotel—yang wajahnya tidak dikenali Aura sebagai staf yang melayaninya saat check-in—datang mendekat. Mereka dengan sigap membantu memapah Arkan dan Aura keluar dari restoran. Aura mencoba memberontak, namun penglihatannya perlahan menggelap. Hal terakhir yang ia ingat adalah aroma parfum sandalwood milik Arkan yang menyengat saat pria itu terhuyung-huyung di sampingnya, dan suara langkah kaki yang terburu-buru di lorong hotel yang sunyi.
"Pak Arkan..." Aura bergumam sebelum kesadarannya benar-benar hilang.
Dunia menjadi hitam total.
Ia tidak tahu berapa lama waktu telah berlalu.
Sensasi pertama yang Aura rasakan saat kesadarannya perlahan kembali adalah rasa dingin dari seprai sutra di bawah tubuhnya. Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun kepalanya terasa seperti dihantam palu godam. Rasa pening yang luar biasa membuatnya ingin muntah.
Perlahan, Aura membuka matanya. Langit-langit ruangan itu tinggi, dengan ukiran kayu khas Bali yang sangat familiar. Ini adalah kamar suite. Tapi bukan kamarnya. Kamar ini jauh lebih luas.
Ia merasakan berat di pinggangnya. Aura menoleh dengan kaku, dan jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga.
Di sampingnya, Arkan Mahendra terbaring dalam kondisi setengah telanjang. Kemejanya terbuka sepenuhnya, jasnya entah di mana. Dan yang membuat Aura ingin menjerit adalah kondisi dirinya sendiri; gaun navy-nya telah melorot hingga ke pinggang, hanya menyisakan pakaian dalam yang menutupi tubuhnya.
Sebelum Aura sempat memproses horor di depannya, suara keras hantaman pintu yang didobrak terdengar menggelegar.
"POLISI! JANGAN BERGERAK!"
Cahaya lampu kamera yang menyilaukan mulai meledak-ledak memenuhi ruangan. Aura menutupi wajahnya dengan bantal, gemetar hebat, saat ia menyadari bahwa di ambang pintu, belasan wartawan dengan kamera dan mikrofon sudah berdiri di sana, mengabadikan setiap detik kehancuran hidupnya.
Di sudut ruangan, tersembunyi di balik bayangan, sebuah lampu indikator kecil dari kamera pengintai tersembunyi berkedip warna merah. Sang pemain bayangan sedang menonton, dan pertunjukan baru saja dimulai.