NovelToon NovelToon
Aku Tahu Kamu : New Version

Aku Tahu Kamu : New Version

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Fantasi Timur / Cinta setelah menikah / Roh Supernatural / Iblis
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Novianti

Dia terasa asing, namun tidak asing.
Semua orang memuja nya, tapi aku membenci nya tanpa alasan.
Akut tidak tahu, semua terjadi begitu saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3

Di tempat lain. "Ibu, kau darimana saja? Aku mencarimu sepanjang hari!"

Ujar seorang anak laki-laki berusia tiga tahun dengan suara sedikit bergetar dan mata besar yang penuh khawatir. Rambut merah kemerahan seperti unggun api yang terurai di atas kepalanya—sama persis dengan warna rambut Ayahnya—berantakan karena sering digaruk saat dia berjalan bolak-balik di halaman kediaman yang berdiri di lereng bukit. Sinar matahari sore yang lembut menerpa dedaunan bambu di sekeliling halaman, menciptakan bayangan bergelombang yang menyusuri tubuhnya.

Lin Hua segera berjongkok perlahan, menyamakan tinggi badannya dengan anak itu. Gaun sutra warna hitam yang dikenakannya sedikit terlipat di lututnya, dan aroma teratai segar yang terpancar dari tubuhnya mengelilingi udara. "Aku hanya pergi sebentar ke pasar bawah gunung untuk membeli buah persik matang kesukaanmu, bukan kah aku sudah mengatakan nya pada Ayah mu, untuk menyampaikan nya pada mu?" Ujarnya dengan senyum lembut, sambil mengelus surai anak itu dengan jari-jari yang lembut, menghaluskan helai rambut yang berantakan.

"Ayah tidak mengatakan apapun padaku, maka dari itu aku mencari mu ke mana-mana, bahkan sampai ke kandang kelinci di Paviliun Kakek!" Ujar nya dengan nada yang sedikit mengeluh namun tetap lucu, kedua tangan kecilnya mengepal erat di depan dadanya. Wajahnya yang bulat dengan pipi kemerahan sedikit mengerut, seolah sedang membuktikan bahwa dia benar-benar telah berusaha keras mencari.

"Siapa yang mengajari mu berbohong, Xiao Lin?"

Suara yang dalam dan sedikit mengganggu dari belakang anak itu membuat anak kecil itu terperanjat, tubuhnya sedikit melompat ke depan dan matanya membelalak besar. Xiao Lu Yue berdiri di situ dengan tangan menyilang di dada, jubah merahnya yang menutupi baju dalamnya yang hitam, dan rambut merah tua yang sama dengan anaknya terikat rapi di belakang kepala. Cahaya matahari membuat mahkota tanduk kecil yang terbuat dari batu giok putih di dahinya tampak bersinar lembut.

Anak itu lalu melompat cepat ke arah Lin Hua, menyelipkan tubuhnya di antara tangan dan badan ibunya sambil mencari perlindungan. Dia menyembunyikan sebagian wajahnya di belakang bahu Lin Hua, hanya menunjukkan satu mata yang mengintip ke arah ayahnya. "Ibu, lihatlah Ayah... Rubah tua itu sangat licik, jangan percaya ucapan nya!" Bisik Xiao Lin dengan suara yang coba dibuat pelan namun tetap terdengar jelas, sambil menarik kain gaun ibunya perlahan.

Lin Hua menipis kan bibirnya dengan senyum yang tidak bisa dihentikan—wajahnya yang cantik terlihat sangat sabar menghadapi tingkah keduanya. Anak itu memang sangat pandai berbicara, bahkan bisa dengan cepat memutarbalikkan fakta. "Kau juga siluman rubah, anak kecil nakal..." Ujar Lin Hua, dengan gemas mencubit pipi merah muda Xiao Lin yang lembut, membuat anak itu sedikit mengerang namun tetap tersenyum.

"Aku berbeda dengan Ayah! Aku rubah yang jujur dan selalu menyayangi ibu!" Sahut Xiao Lin dengan penuh semangat, mengangkat dagunya dengan bangga sambil kedua matanya berbinar ceria.

"Hey rubah kecil nakal, sejak kapan kau berani berbohong pada ibu mu? Padahal tadi aku sudah memberitahumu bahwa ibumu pergi membeli buah, tapi kau malah bilang tidak ingat dan ingin mencari kucing liar di hutan!" Ujar Xiao Lu Yue dengan nada yang sedikit menyalahkan namun penuh kasih sayang, langkahnya perlahan mendekati mereka berdua.

Rubah berusia tepat seratus tahun itu terlihat bertolak pinggang, namun ekspresi wajahnya yang tampak jenaka, tidak bisa menyembunyikan senyum kecil yang muncul di sudut bibirnya. Meski usia nya sudah seratus tahun, bagi siluman rubah seperti mereka, wajah maupun usia yang terlihat masih sangatlah muda, bahkan bisa dikatakan sangat tampan.

"Ibu, kau tahu bukan? Aku adalah anak yang manis dan tidak pernah berbohong, jadi, jangan percaya padanya yang suka berdusta!" Ujar Xiao Lin dengan nada yang meyakinkan, lalu mengangkat kedua tangan kecilnya untuk menutup kedua telinga Lin Hua dengan lembut, seolah ingin menghalangi suara ayahnya masuk ke telinga ibunya.

Lin Hua hanya mengangguk dengan penuh kesabaran, sambil membelai punggung anak itu dengan lembut. Xiao Lin lalu menoleh perlahan pada Ayahnya, dengan wajah yang sedikit menunjukkan ekspresi tantangan. "Rubah tua, kau jangan membuat ku jelek di depan ibuku, jika tidak, aku akan langsung mengirim mu bertemu dengan Ibunda, dia pasti sangat merindukanmu!" Ujar Xiao Lin dengan suara yang sedikit menakut-nakuti namun tetap lucu, membuat kedua orang tuanya tidak bisa menahan tawa.

Xiao Lu Yue melihat jelas gurat kelelahan yang menggaris-garis wajah Lin Hua, bahkan di bawah sinar matahari sore yang mulai memudar tidak bisa menyembunyikannya. Ia melangkah mendekat, suaranya terdengar lebih lembut namun tetap tegas, "Xiao Lin, bawa keranjang buah itu masuk ke dalam kediaman." Ujarnya, sambil menunjuk pada keranjang rotan berwarna coklat muda yang terletak di sisi Lin Hua, di mana aroma persik matang yang manis sudah mulai menguap ke udara.

Xiao Lin lalu menoleh perlahan ke arah Lin Hua, matanya yang besar seperti biji kacang merah seolah mampu membaca setiap pikiran ibunya. Dia melihat bagaimana kulit halus wajah Lin Hua sedikit mengerut di sekitar mata dan bibir, serta bagaimana pundaknya tampak sedikit membungkuk karena kelelahan. "Ibu, berikan keranjang buah itu padaku. Nanti aku akan mencuci setiap buahnya dengan air suci di Paviliun Kakek, dan kita bisa memakannya bersama nanti malam!" Ujar anak itu dengan nada penuh perhatian, mengulurkan kedua tangan kecilnya yang masih sedikit kotor akibat bermain tadi, namun mata nya terpancar kesetiaan.

Lin Hua mengangkat keranjang dengan hati-hati, memberikannya pada anak itu sambil dengan lembut menepuk-nepuk kepala Xiao Lin yang penuh dengan rambut merah kemerahan. Senyum kecil muncul di wajahnya, membawa sedikit kehangatan di tengah kesedihan yang mengendap. "Terima kasih, Xiaoxiao... Kamu memang anak yang paling manis buat ibu."

Anak itu kemudian berlari kecil ke arah pintu kediaman yang berdiri kokoh di tengah halaman yang ditanami rumput hijau segar, keranjang persik di tangannya bergoyang-goyang setiap langkahnya. Setelah pintu tertutup rapat dan hanya terdengar suara kecil kaki anak itu menjelajah lorong dalam, kini hanya tersisa Xiao Lu Yue dan Lin Hua di halaman yang mulai dikelilingi hembusan angin malam yang sejuk.

"Apakah ada yang mengincar nyawa Han Rui lagi, Lin Hua?"

Tanya Xiao Lu Yue dengan nada yang serius, berjalan mendekat ke arah wanita yang kini mulai meraih nafas panjang. Ia melihat bagaimana cahaya matahari sore terakhir menyinari rambut hitam Lin Hua yang sedikit kusut akibat perjalanan tadi.

Lin Hua mengangguk perlahan, kemudian berjalan dengan langkah yang sedikit goyah menuju kursi batu besar yang terletak di tengah halaman. Wanita itu duduk perlahan, menyandarkan punggungnya pada batu dingin tersebut. "Musuh semakin bercabang seperti pohon yang tumbuh liar, mereka tidak hanya bertambah banyak, bahkan kini sudah terang-terangan mengincar nyawa Han Rui di dalam istana." Ujar Lin Hua, matanya melihat jauh ke arah arahan gunung yang tertutup kabut tipis. Kemudian, dia perlahan membuka kepalan tangannya yang sudah lama terkepal rapat.

Di tengah telapak tangannya yang sedikit memerah akibat tekanan, terdapat sebuah batu sihir berbentuk bulat dengan permukaan yang penuh dengan bekas retakan seperti jaring laba-laba. Cahaya keemasan yang dulunya menyala terang di dalam batu itu kini hanya tersisa sedikit percikan lemah. Batu itu adalah alat yang bisa membuka portal langsung ke tempat Han Rui berada setiap kali dia dalam bahaya—suatu hadiah dari keluarga Xiao.

Batu sihir itu adalah batu yang dialiri kekuatan Xiao Lu Yue, Xiao Lin dan Xiao Jin Yi, orang-orang yang memiliki sihir teleportasi. Namun kini, batu sihir itu sudah pecah, karena dia sering menggunakan nya.

Xiao Lu Yue menunduk menatap batu sihir itu, wajahnya yang tampan menunjukkan ekspresi cemas namun tetap tenang. Ia menghela nafas pelan, hembusan udaranya membentuk sedikit kabut di udara yang mulai dingin. "Kau tidak perlu khawatir, aku dan Ayah sudah mempersiapkan banyak batu sihir cadangan untukmu—semuanya sudah dialiri kekuatan penuh dan siap digunakan kapan saja."

Namun, Lin Hua masih terlihat sendu, bahu nya sedikit bergoyang ketika dia menghela nafas lagi. "Kapan ini semua akan berakhir? Aku sangat ingin bisa memeluknya dengan erat, dan mendengarnya dengan jelas memanggilku 'ibu' seperti yang Xiao Lin lakukan setiap hari." Ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar, air mata mulai mengumpul di sudut matanya sebelum dia cepat menyeka nya dengan ujung tangan.

Xiao Lu Yue sangat memahami perasaan wanita itu. Selama lima tahun terakhir, Lin Hua terpaksa tinggal di istana iblis yang terletak di alam bawah tanah—bukan tanpa alasan. Saat melahirkan Han Rui, putra sulung nya, kekuatan gelap yang selama ini menjadi bagian dari dirinya tiba-tiba menghilang tanpa sebab jelas, membuat tubuhnya sangat lemah. Selain itu, ada sebuah ramalan buruk yang Lin Hua dengar dari Xiao Jin Yi —suatu hal yang dia sungguh tidak ingin terjadi pada putra nya di masa depan.

"Kembalilah, Lin Hua. Berkumpul lah dengan keluarga mu." Ujar Xiao Lu Yue dengan lembut, menaruh tangannya pada pundak wanita itu. "Aku dan Ayah yang akan melanjutkan ritual nya, dan nanti aku akan datang menemuimu untuk mengambil darahmu."

1
aleena
kenapa semakin rumit
dan tak.mau jujur,
lin hua sangat keras kepala dari dulu
Budi Mulia
Gas Broo
aleena
oh
mungkin Han rui yg .embawa ibunya
dewi
jngan lama2 thor update nya ya....
ditunggu.....
semangat buat author ...💪💪💪💪
aleena
tinggalkan jejak
sebab season 1 belum selesai kubaca
SamdalRi: Makasi kakak😍
total 1 replies
dewi
kenapa lin Hua pergi thor
SamdalRi: Nanti di jelasin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!