Arthur, mantan mafia yang tampan dan keren, masih terjebak dalam kenangan bersama Rose, pacarnya di kelompok mafia yang sama. Setelah putus, Arthur tidak bisa move on dan menjadi dingin terhadap perempuan lain. Namun, pelayan kakaknya, Esme, diam-diam menyukai Arthur dan berharap suatu hari bisa mendapatkan hatinya.
Kehidupan Arthur berubah ketika ia bertemu dengan Maureen, seorang perempuan yang ceria dan penuh semangat. Maureen tidak tahu latar belakang Arthur sebagai mantan mafia, dan Arthur tidak ingin memberitahunya. Apakah Arthur bisa melupakan Rose dan jatuh cinta dengan Maureen? Atau apakah Esme akan mendapatkan kesempatan untuk memenangkan hati Arthur?
Apakah Arthur akan mengikuti hatinya atau tetap terjebak dalam masa lalu? 🤔😊
Novel baru othor menceritakan tentang Arthur adiknya Adelle dari novel 'transmigrasi menjadi ibu muda yang tangguh'.
Jangan lupa mampir dan kasih dukungan ya teman-teman..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si penolong
Arthur mengemudikan mobilnya dengan cepat, menerobos lampu merah dan hampir beberapa kali menabrak mobil lain agar secepatnya tiba di Rumah Sakit.
Setibanya di Rumah Sakit, Maureen segera ditangani oleh Dokter. Ia memutuskan menandatangani surat yang mengharuskan luka di perut Maureen dijahit secepatnya.
"Aku sepertinya pernah bertemu dengan wanita itu," gumam Arthur saat ia menunggu di depan ruang tindakan.
Arthur berpikir keras. Kira-kira kapan dan dimana ia pernah bertemu dengan wanita berambut pirang itu.
"Iya, tidak salah lagi. Itu adalah dia. Wanita yang ku jumpai di rumah duka saat kematian Marline," kata Arthur tersenyum kecil ketika mengingat pertemuannya dengan Maureen beberapa bulan lalu.
"Wanita liar," katanya lagi.
Kemudian ia memutuskan menghubungi nomor dalam kartu nama yang Maureen serahkan tadi. Arthur tidak banyak basa-basi, ia mengatakan jika Maureen sedang terluka dan sedang ditangani oleh Dokter.
Setelah mengatakan itu, Arthur berencana pergi dan menitipkan mobil Maureen pada security.
Arthur tidak menganggap jika pertemuan ini penting dan istimewa. Ia sering bertemu dengan banyak orang dan perlahan akan lupa dengan sendirinya.
...
"Bagaimana keadaan adikku, Dokter ? apa dia baik-baik saja ?" tanya Shane dengan wajah cemasnya.
"Adikmu baik-baik. Kami sudah menjahit lukanya dan akan membaik setelah istirahat beberapa hari. Dia juga kehilangan banyak darah dan sudah mendapatkan donor. Jika sedikit saja ia terlambat mendapatkan pertolongan maka keadaannya bisa kritis," jelas seorang Dokter pria yang menangani Maureen.
"Astaga, memangnya luka seperti apa yang di dapatkannya ?" tanya Shane masih belum tau.
"Dia mendapatkan tusukan yang lumayan dalam di perut sebelah kirinya. Kami belum bertanya lebih lanjut karena dia belum sadar. Jika memang dia mengalami kekerasan dari orang lain, kau bisa melaporkannya pada polisi," jelas Dokter itu lagi.
"Baiklah, aku mengerti. Apa sekarang aku sudah bisa menjenguknya ?"
"Boleh saja. Sebentar lagi dia akan dipindahkan ke ruang perawatan. Aku pergi dulu," pamit sang Dokter.
Shane mengangguk dan menunggu perawat memindahkan Maureen ke ruang perawatan yang bagus sesuai permintaan nya.
Shane memutuskan untuk tidak menghubungi Tuan Adam dan Nyonya Rhea lebih dua. Keduanya sedang berada di luar kota dan baru kembali malam nanti. Jadi ia tidak mau membuat kedua orang tuanya khawatir. Ia rasa, ia bisa menangani Maureen seorang diri.
Shane meninggalkan pekerjaannya hampir seharian dan menunggu Maureen yang belum sadar juga. Barulah saat ia tertidur di samping ranjang Maureen, ia merasa ada yang memegang kepalanya.
"Maureen.. kau sudah bangun ?" tanya Shane dengan senang.
"Iya. Perutku sakit sekali," kata Maureen hampir menangis.
"Ya kau terluka dan Dokter sudah menjahitnya. Mungkin obat biusnya habis jadi kau merasakan sakit. Bersabarlah nanti juga sembuh," kata Shane mengelus perut Maureen dengan perlahan.
"Perawat membawakan mu makanan tapi sepertinya sudah dingin. Tapi tidak apa-apa makanlah setelah itu kau bisa minum obat pereda nyeri," kata Shane lagi sambil membuka makanan milik Maureen.
Maureen mengangguk. Ia setuju untuk makan dan Shane menyuapinya sembari ia bercerita bagaimana mendapatkan luka tusukan itu.
Siang tadi Maureen sedang duduk di restoran menikmati sarapannya yang sudah terlambat. Tiba-tiba ada seorang wanita datang menghampirinya dan memaki-maki dirinya tanpa ia sendiri tau apa sebabnya.
'Kau hanya mantan kekasihnya Jean. Yang menjadi kekasihnya saat ini adalah aku. Kenapa kau masih mencoba mendekati dan merayunya dasar jalang,' maki wanita yang mengaku sebagai kekasih Jean, mantan kekasih Maureen.
'Siapa yang mendekati kekasih mu ? Kekasih mu saja yang tidak bisa melupakan aku karena aku terlalu cantik. Coba lihat dirimu apa sebanding dengan ku ?' balas Maureen.
"Dia langsung marah saat aku mengatakan itu lalu dia menendang ku dan menusuk perutku. Dia memang gila melakukan hal itu di keramaian," kata Maureen dengan mulut yang penuh makanan.
Shane hanya manggut-manggut sambil ikut mencicipi makanan Maureen. Lalu ia ia bertanya apa kelanjutannya.
"Kau tidak membalasnya ?"
"Tentu saja aku membalasnya. Dengan bodohnya aku mencabut pisau di perut ku dan menusuknya di bagian dadanya. Setelah itu aku langsung pergi dan berpikir untuk segera sampai di Rumah Sakit," kata Maureen.
"Kau juga sama gilanya," cibir Shane. Ia sangat paham akan sifat Maureen. Adiknya itu akan membalas perbuatan orang yang berani mengusiknya.
"Minum ini, lalu tidurlah lagi" kata Shane menyerahkan tiga butir obat yang besar-besar. Maureen menatap ngeri pada obat itu. Tapi mau bagaimana pun ia harus meminumnya agar cepat sembuh.
"Baiklah," putusnya.
Setelah minum, Maureen meminta ponselnya. Ia juga bertanya pada Shane tentang seorang pria yang tadi menolongnya. Ia menceritakan pertemuan itu.
"Dia sudah pergi saat aku datang. Mobilmu sudah aku urus," jawab Shane.
"Jadi aku tidak bisa bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih," kata Maureen dengan wajah murung.
Shane menyipitkan matanya menatap Maureen. "Memangnya selama ini kau rajin mengucapkan terima kasih ?" cibir Shane lagi sambil tertawa. Mendengar itu, Maureen semakin menekuk wajahnya hingga terlihat lucu.
"Kau lupa kalau dia menelfon ku. Ini kau coba hubungi dia," Shane menyerahkan ponselnya yang menampilkan nomor ponsel asing. Barulah Maureen menyadari nomor ponsel itu adalah milik pria yang menolongnya tadi.
Maureen mencatat nomor itu dengan wajah sumringah seperti mendapatkan sesuatu yang berharga. Tidak tau saja Shane jika sebenarnya Maureen mengingat pria itu. Dan sekali lagi, pria itu menolongnya lagi.
'Aku pasti bisa menjadikan mu kekasih ku. Kau sangat tampan. Sayang sekali aku tidak tau namamu,' gumam Maureen. Ia seketika mengingat tentang ciumannya dan Arthur pada saat pemakaman Nyonya Marline.
"Hei, apa yang sedang kau pikirkan ? wajahmu memerah," goda Shane. Ia membereskan bekas makan Maureen kemudian pergi ke kamar mandi.
Maureen mengusap kasar wajahnya dan berusaha menahan senyumnya. Jangan sampai Shane mengejeknya gila lagi.
"Aku akan menelfon nya," kata Maureen. Panggilan pertama tidak terjawab. Lalu panggilan kedua pun sama. Sampai akhirnya ia ingin melakukan panggilan yang ketiga tapi ia urungkan karena melihat Shane yang sudah keluar.
"Aku mau pergi dulu. Aku sudah menyuruh pelayan untuk datang menjagamu. Mommy dan Daddy belum ku beri tau. Nanti saja aku bicara dengan mereka," kata Shane kemudian mencium kening Maureen.
"Baiklah. Hati-hati di jalan," kata Maureen.
..
Mana nih suaranya pembaca setia othor...???
😍💪💪👍👍🙏
kerennn
kejutan besar..
pantesan moses langsung ngeklik saat ngurus enzźoo
😍😍👍👍💪
🤣😍😍🙏💪
😍😍🙏💪💪
❤❤❤💪💪😍😍😍
😍😍❤❤💪💪
yg mau ketemu istri ...
😄😄😍😍❤❤💪💪
gak usah ketemulah irang masih ada anak mantan
😍😍❤💪💪💪💪
😄😄😍❤❤💪